My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Gara-gara Buah Aneh


__ADS_3

Suara alarm nengusik tidur Denisa. Denisa bangun untuk mematikanya, saat melihat jam, matanya terbelalak karena terkejut.


"Astaga, jam setengah sembilan."


Buru-buru Denisa mengikat rambutnya keatas. Dia bergegas ingin mandi, ini sudah terlambat untuk ke klinik. Saat turun dari tempat tidur, baru disadarinya jika dia tidak mengenakan apa-apa. Denisa melilitkan selimut putih untuk menutupi tubuhnya.


Baru ia rasakan, jika tubuhnya serasa remuk saat berjalan menuju kamar mandi, entah berapa kali semalam dia dan Daniel bercinta? Sampai dia begitu merasakan kelelahan, tak puas hanya diranjang, suaminya itu juga mengajaknya merasakan sensasi bermain di sofa. Denisa tersenyum geli mengingat itu, dia juga malu jika harus bertemu Daniel. Malu, karena semalam dia terlihat lebih dominan dalam permainan mereka semalam.


Daniel?


Ahh, ia baru teringat, kemana suaminya?


"Apa Kakak sudah berangkat ke kantor? Tapi kenapa dia nggak bangunin aku?" Bahu Denisa melemah, mungkin saja Daniel sudah berangkat kerja? Tak tega membangunkanya, seharusnya dia tak boleh kesiangan, dan menyiapkan semua keperluan dan sarapan untuk Daniel sebelum suaminya berangkat.


"Aku telepon aja nanti, lebih baik aku mandi dulu."


Masuk ke kamar mandi, Denisa berdiri didepan cermin. Ia memperhatikan tubuhnya yang kini dipenuhi tatto maha karya bibir sang suami.


"Ya Tuhan, aku lebih mirip macan tutul, rata." Denisa memutar-mutar tubuhnya, tubuhnya ingin tahu bagian mana saja maha karya cinta sang suami, sejurus kemudian Denisa dibuat menggeleng kagum, bisa-bisanya Daniel membuat mahakaryanya itu dari atas hingga bagian bawah pusarnya, bagian punggungnya juga tak luput dari mahakarya suaminya itu.


Sungguh sangat kreatif.


Tiga puluh menit Denisa keluar dari kamar mandi, suaminya masih belum kembali, lalu ia langsung berjalan menuju lemari, mengambil pakaiannya. Setelah sudah siap dengan pakaian ke klinik, dia mengeringkan rambutnya.


Ceklek.


Pintu kamarnya terbuka, Daniel datang dengan tubuh penuh keringat, handuk kecil melingkar di lehernya. Sepertinya Daniel habis lari pagi.


"Kak." Denisa berdiri menghampiri Daniel. "Aku pikir Kakak sudah berangkat kerja."


"Aku dan Dara lari pagi. Mau ajakin Mami, tapi kayaknya Mami kelelahan banget?" Daniel tersenyum menggoda istrinya, mengingat aktifitas mereka semalam. Daniel senang, Denisa tanpa malu lagi mendominasi permainan mereka.


"Mami emang jago ya urusan begituan." dijawilnya dagu Denisa.


Denisa mencebik. "Ck, apa sih Kak. Kenapa nggak bangunin aku, sebagai seorang dokter yang selalu meng-kam-pan-nye-kan pola hidup sehat, aku merasa jadi dokter yang nggak profesional."


"Mami mau?"


"Ya mau, masa Dara sama Kakak aja yang sehat."


"Oke, besok kita lari pagi sama-sama." Daniel ingin beranjak ke kamar mandi, tiba-tiba dia ingat sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Denisa.


"Oh ya sayang. Kemarin Abian telepon, katanya, dia ingin aku bekerja sama lagi denganya, bagaimana menurut kamu?"


"Kerja sama lagi dibandara maksudnya?" Daniel mengangguk. "Kenapa Kakak tanya aku?"


"Kamu lupa kalau kamu istri aku, jadi apapun yang mau aku lakukan, sudah pasti aku harus izin dan meminta pendapat istriku terlebih dahulu," ucapnya menghampiri Denisa, lalu berdiri dibelakangnya, melingkarkan tangan dipinggang Denisa, meletakkan dagunya di pundak sang istri.


"Akku ingin melibatkan kamu dalam setiap proyek ku. Proses keberhasilan ku. Kita maju bersama." Memiringkan kepala, mencium pipi Denisa mesra.


Denisa tercekat, Daniel ingin melibatkanya dalam segala urusannya, Denisa merasa dia begitu berharga untuk Daniel.


"Kakak keringetan, mandi dulu gih."


"Mandi bareng yuk."


"Aku udah kesiangan, nanti makin lama."


"Hem, aku maunya kita dirumah terus, bulan madu dirumah. Sayang banget bulan madu kemarin lebih banyak jalan-jalan dari pada main kuda-kudaan."


Denisa merasa geli, Daniel senang sekali membahas masalah ranjang.


"Kira-kira kecebong aku cepat jadi nggak ya, Mi? Aku nggak sabar pengen punya baby boy, biar rumah makin rame." Daniel mengusap perut Denisa.


"Semoga, waktu kita nikah, aku lagi masa subur."


"Kalau tiga bulan belum jadi juga, kita harus cepat-cepat program ya, Mi. Nggak masalah kan?"


"Iya, itu lebih bagus malah. Udah sana mandi, kalau kita dirumah terus, siapa yang cari uang? Kita makan pakai apa?" Denisa membalikkan badan, menangkup wajah Daniel, lalu mengecup bibirnya.


"Tunggu aku, kita sarapan sama-sama, terus aku antar kamu ke klinik. Sekalian aku mau ke kantor Abian."


"Aku turun duluan ya Kak, mau lihat Dara, mau siapin keperkuan sekolah Dara."


"Dara sudah rapih sama mama, kamu serahin aja semua sama mama."


"Aku nggak enak, takut merepotkan mama."


"Nggak sayang, biarin mama melakukan semua ya, mama senang bisa menjaga Dara, biarlah kami menebus kesalahan kami yang lalu."


"Kak, aku sudah bilang, jangan suka seperti itu, semua masa lalu, bukan hanya salah Kakak atau mama, aku juga salah."


"Iya, maaf. Maksud ku, mama kan tidak ada kesibukan apa-apa. Jadi biarlah dia yang merawat dan menjaga Dara. Apalagi sekarang mama sedang ada maunya sama kita, dia pasti melakukan semua itu dengan senang hati."


"Sedang ada maunya?" Denisa mengerutkan keningnya.


"Hem."


"Apa?"

__ADS_1


"Nanti juga kamu tahu."


"Kak, apa memang mama dan Dokter Rudi ..." Daniel mengangkat bahunya.


"Kakak nggak masalah?"


"Yang penting mama bahagia, aku juga tidak bisa sepenuhnya bisa menjaga mama dua puluh empat jam. Kita sudah memiliki kesibukan sendiri, mama butuh seseorang yang bisa bersamanya di sisa hidupnya."


Denisa senang mendengar jawaban Daniel, pemikirannya begitu dewasa, sesuatu yang baru ia ketahui, Denisa pikir, Daniel sosok lelaki egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri, nyatanya itu terbantahkan, dia salah.


"Yaudah, Kakak mandi dulu gih."


"S**un dulu." Daniel memajukan bibinya, membuat Denisa terkekeh.


"Manja ih."


"Biarin, manja sama istri sendiri." Kembali memajukan bibinya.


Cup.


Cup.


Cup.


Bukan hanya bibir, Denisa menghadiahi banyak kecupan di wajah suaminya yang kini berubah sangat manja itu.


* * *


Denisa dan Daniel turun kebawah, Dina dan Dara sudah menunggunya di meja makan.


"Anak Mami udah cantik aja, tadi mandi sama siapa?" Denisa mengusap rambut Dara, mencium pucuk kepalanya, lalu memutar meja makan duduk bersebrangan dengan Dina dan Dara.


"Mandi sama nenek." jawab Dara ceria.


"Sudah bilang terima kasih sama Nenek?"


Dara mengangguk. "Sudah."


"Pinter anak Papi." Daniel yang menyahut. "Jika Dara sudah dibantu sama Nenek, Dara jangan lupa bilang terima kasih ke Nenek ya sayang."


"Siap, Pi. Kemarin juga aku dibeliin boneka besar dari Kakek ganteng juga nggak lupa bilang terima kasih."


Daniel dan Denisa saling lirik mendengar cerita Dara. Dina berdehem.


"Kalian nanti kalau mau berangkat kerja, berangkat saja, Dara biar Mama yang antar jemput." Cepat-cepat Dina mengalihkan, dia gugup, tau apa yang ada dipikiran anak dan menantunya ini.


"Mama bukan anak muda lagi, ajak dia kesini kalau ingin serius sama mama." ungkap Daniel jujur.


Pertemanan till jannah? Denisa sampai harus menunduk menyembunyikan wajahnya, menahan agar tawanya tak pecah, ada-ada saja pertemanan till jannah.


Selama sarapan mereka membahas rencana Daniel yang ingin kembali bekerja sama dengan Abian, bukan tidak menghargai makanan, hanya saja sekarang mereka sibuk dengan urusan masing-masing, jadi waktu untuk bersama sangat terbatas, Dina kini lebih sering mengunjungi klinik milik papa Ricko.


Dina menyetujui rencana Daniel untuk bergabung lagi brrsama Abian, dia tak masalah, karena dulu, saminya lah yang bersalah hingga mereka didepak dari Airlangga Airlines.


* * *


Setelah mengantar Denisa, Daniel bertolak ke kantor pusat Airlangga Airlines, kedatangan Daniel masih disambut baik disana, meeting kali ini tak berlangsung lama, entah sejak kapan Abian menyiapkan semuanya, hingga dia langsung menjabat sebagai wakil direktur disana, mendampingi Abian sebagai direktur utama.


"Pak Daniel masih kami anggap sebagai keluarga di Airlangga Airlines. Jadi kami tak masalah pak Daniel kembali ke sini." ucap seorang direktur keuangan.


"Selamat bergabung kembali pak Daniel, semoga Airlangga Airlines semakin maju dan jaya dengan kembalinya Pak Daniel ke sini."


"Terima kasih, Pak. Terimakasih semuanya yang sudah menerima saya dengan baik. Saya berusaha tidak akan melakukan kesalahan yang sama." Daniel tak bisa berkata-kata lagi, dia senang, keberadaannya disambut baik oleh rekan-rekan kerja lamanya.


Daniel manatap Abian, Kakak iparnya itu hanya mengendikkan bahu tak acuh.


Daniel yakin, semua itu pasti tak luput dari campur tangan Abian, Daniel tak menyangka saja, ia mengira kakak iparnya itu akan membencinya, memanfaatkan kesalahanya, dan mengambil banyak keuntungan demi keperluan pribadinya, nyatanya Abian tak seburuk yang ia pikirkan.


Abian benar-benar menjadi sosok kakak ipar tertua yang bisa menjadi panutan baginya walau terkadang dia bersikap sangat menyebalkan. Wajar saja jika mama Denisa mempercayakan dia sebagai wali yang bertanggung jawab menjaga adik-adik iparnya.


"Kita pesta dirumah kakak kedua yuk." ajak Mahesa yang tiba-tiba masuk keruang meeting, saat setelah seluruh anggota direksi sudah keluar dari ruang meeting.


"Pesta apa?" tanya Abian seraya merapikan dokumen diatas meja.


"Aku tadi di beri klien buah aneh. Dia bilang pasti masa muda ku nggak bahagia tanpa makan buah ini." Mahesa menunjukkan buah perdu berduri itu.


"Buah apaan tuh?" sambar Abian penasaran, "aku baru lihat buah ini."


"Nggak tahu, tapi katanya buah ini bisa bikin stamina kelakian kita meningkat, apalagi buat Kakak ipar kedua, kakak kan pengantin baru, jadi pas lah."


"Kamu pikir aku lelaki macam apa


"Makin penasaran." ujar Daniel menimpali ia melihat jam, masih jam dua siang, masih ada waktu untuk menjemput istrinya.


"Oke, kita makan siang dirumah aku aja." tawar Daniel akhirnya mempersingkat waktu, karena jarak dari ruang ke klinik tidak lah jauh, dia rasa dia tak akan terlambat menjemput Denisa.


* * *


Awan sudah bertukar warna, senja pun telah usai, sudah keberapa kali Denisa melihat jam ditanganya, tak ada tanda-tanda mobil Daniel akan datang. Denisa semakin risau saat menghubungi ponsel Daniel tapi tak kunjung diangkat.

__ADS_1


Denisa kemudian menghubungi Delia, menanyakan apakah Abian ada dirumah atau tidak. Jawaban dari kakaknya membuat Denisa semakin heran, Abian pun tak ada dirumah, dan saat nomornya di telepon, ia pun tak merespon.


Tak lama ponselnya berdering, panggilan dari Dania, adiknya juga menanyakan keberadaan suaminya, karena kabar yang Dania dapat dari kantor Abian, jika mereka bertiga pergi bersama.


"Ck, dimana sih? kok bisa ngilangnya bareng gini." Denisa memutuskan pulang naik ojol saja, dia ingin cepat sampai rumah.


Saat akan naik ke atas motor, ponselnya kembali berdering, kali ini panggilan dari Dina.


"Iya Ma."


"Denisa, kamu cepat pulang. Daniel sama Abian dan Mahesa bertingkat aneh."


"Aneh bagaimana Ma?"


"Kamu lihat saja sayang, cepat pulang. Mama nggak tahan sama kelakuan mereka. Aneh."


"I-iya, iya Ma. Ini Denisa mau naik ojol."


"Kamu hati-hati sayang, harus sampai rumah dengan selamat pokoknya."


"Iya Ma." Setelah panggilan berakhir, Denisa naik keatas motor.


"Pak, agak cepat sedikit ya, saya harus cepat sampai rumah."


"Nggak bisa Bu. Keselamatan itu nomor satu." tukas pak ojol.


"Terserah Bapak saja deh, yang penting sampai rumah dengan cepat."


Tiga puluh menit Denisa sampai dirumahnya, buru-buru dia masuk ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ada mobil Abian dan Mahesa terparkir didepan rumahnya.


"Denisa." Dina sambil menggandeng Dara menyambut kepulangan Denisa.


"Untung tadi Mama minta bantuan warga buat gotong Abian masuk kerumah, kalau enggak, dia pasti masih diluar didalam lubang itu," ujar Dina memberi tahu. Berdebar saja dada Denisa mendengar ucapan mertuanya. Ada apa ini?


"Daniel juga, bisa mati kaku dia kalau nggak cepat-cepat diangkat dari dalam bak mandi."


Jantung Denisa semakin berlomba saja mendengarnya. "Ada apa ini, Ma?" Denisa khawatir, tapi tak ada raut sedih dari mertuanya.


Setelah diberi tahu keberadaan suaminya yang dikurung didalam kamar, Denisa bergegas naik. Dia ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi?


"Blub ... blub ...."


"Blub .... blubb."


"Aku adalah sebuah galon. Kalau mau minum, tuang saja aku." Kaki yang sudah menapak, harus Denisa hentikan saat mendengar suara itu.


Denisa memutar tubuh, mencari dimana asal suara, Denisa melongok bawah tangga, dia melihat Mahesa berdiri setengah jongkok dibawah galon.


"Mahesa, kamu ngapain disitu?"


"Blub ... blubb ... aku sebuah galon."


"Kamu ngapain sih Hes?" Denisa menghampiri Mahesa, memegang bahu Mahesa.


"Aku sebuah galon, kalau mau minum, ambil saja aku."


"Mahesa!" Denisa jadi membentak Mahesa karena tingkah anehnya. "Dania nyariin kamu, kamu malah main petak umpet disini."


Blub ... Blubbb ... "Aku adalah galon." Bukan merespon ucapan Denisa, Mahesa malah menjadi dengan tingkah absurtnya, membuat Denisa menggeleng bingung.


"Apaan sih Hes?"


"Percuma kamu ajak ngomong Mahesa," Dina menghampiri Denisa masih menggandeng Dara, "lebih baik telepon saja istrinya suruh kesini. Sekalian kamu telepon Delia, biar mereka tahu kelakuan suaminya ." perintah Dina.


"Mereka kenapa, Ma?"


"Mereka lagi cosplay jadi benda-benda, tuh suami kamu diatas lagi cosplay jadi raja laut, Abian lagi cosplay jadi jamur."


"Hah!" Denisa makin tak paham dengan penjelasan mertuanya yang terdengar sangat random.


"Udah kamu nggak usah pusing, telepon saja Delia dan Dania, duh kepala mama sakit dari tadi menghadapi mereka bertiga."


Buru-buru Denisa menghubungi kedua saudarinya memberi tahu keberadaan dan keadaan para suami mereka.


.


.


.


Kira" mereka bertiga pesta apa ya sampai aneh begitu?


.


.


.


Teman" Jaga kesehatan selalu dimanapun berada.

__ADS_1


Dan saya mengucapkan bela sungkawa atas musibah yang terjadi di Cianjur, semoga teman" disana diberi ketabahan, dan tak ada gempa susulan lagi.


__ADS_2