My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Aa Abian


__ADS_3

Belum juga Daniel sempat mendudukkan pantattnya di sofa, Abian dan mama keluar dengan wajah tidak bersahabatnya.


Daniel tiba-tiba saja gemetar, keberanian yang ia kumpulkan menguap entah kemana melihat wajah mama yang terlihat suram, dia manusia biasa, laki-laki yang masih memiliki rasa hormat terhadap orang tua, sudah pasti dia takut menghadapi mama.


"Delia, bawa Dara ke kamar," perintah mama pada Delia, Delia mengangguk, memanggil Dara dan mengajaknya masuk ke kamar.


Sebelum menurut ucapan neneknya, Dara mendongak melihat Denisa dan Daniel bergantian, Daniel dan Denisa sama-sama mengangguk. Kemudian Dara menatap neneknya.


"Nenek nggak mau tanya kita dari mana?" kata Dara tersenyum polos sebelum ke kamar mengikuti Delia, karena neneknya tak juga bertanya, dia menceritakannya.


"Semalam Dara nginep di villa loh Nek, kata Papi kita simulasi keluarga bahagia, seneng deh Nek, Dara bisa ngerasain yang temen-temen rasain, nginep di villa bareng papi mami. Villanya besar Nek. Kapan-kapan Dara mau ajak Nenek kesana, kata Papi villa itu milik Dara, kado buat Dara," Dara bercerita begitu antusias.


Villa? Simulasi keluarga bahagia?


Ya Allah, anakku benar telah melakukan dosa lagi?


Jerit tangis mama dalam hati, rasanya dia ingin limbung saat ini juga.


Mama memejamkan mata, menghalau rasa sesak didadanya, sesak karena Denisa mengkhianatinya, juga sesak melihat Dara terlihat begitu bahagia.


Denisa dan Daniel saling pandang, Daniel tersenyum senang, anaknya iti sangat pintar, dia seakan berjalan di jalan tol, lancar tanpa hambatan dengan adanya bantuan Dara.


Abian dan Delia juga saling pandang mendengar cerita Dara, Delia kemudian menatap nanar adik keduanya itu, prihatin dengan jalan kehidupan Denisa, diapun saat ini dilanda kebingungan, harus mendukung hubungan Denisa dan Daniel atau tidak, ada Dara yang mengharapkan kehidupan keluarga yang utuh.


Mama memaksakan tersenyum. "Nanti saja kita ceritanya ya, Dara pasti kecapean, Dara istirahat dulu. Nenek mau ngobrol sama papi mami, Dara." mama mengusak rambut cucunya sayang.


"Siap Nek," Dara menyambut uluran tangan Delia, mengikuti langkah Delia menuju kamarnya.


Mama duduk di sofa panjang, bersebrangan dengan Denisa dan Daniel, Abian ikut duduk disebelah mama. Daniel dan Denisa yang masih berdiri ikut duduk.


Denisa menunduk saat pandangannya beradu pandang dengan mama, dia bisa menangkap ada banyak luka di mata mama. Daniel tahu itu, dia menggenggam tangan Denisa menguatkan, seakan berkata, kita akan menghadapi ini bersama-sama, dan semua akan baik-baik saja.


Mama melihat kemesraan keduanya, membuang muka, anaknya terlihat bahagia, tapi dia tidak bisa menutup rasa kecewa dihatinya.


"Mama harus apa Denisa? Kamu benar-benar sudah membuat mama kecewa, menikahlah jika kamu mau menikah. Tapi jangan berharap mama akan datang."


"Ma," Denisa memberanikan diri mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Padahal Mama ingin melihat seberapa perjuangan laki-laki ini untuk kamu Denisa. Tapi kamu salah mengartikan restu mama. Mama ingin kamu menjadi wanita yang benar-benar diperjuangkan, agar dia akan berpikir sepuluh kali jika harus melepaskan mu, bukan denganudah melepaskan kamu, kamu tidak trauma dengan masa lalu kamu? Kamu dulu didapatkan dengan mudah, makanya kamu dibuang dengan mudah." ucap mama mengingatkan kesalahanya dulu, tidak salah sebenarnya yang mama katakan.


"Seharusnya kamu yang bisa membuat dirimu berharga dimata laki-laki, tapi kamu telah merendahkan diri kamu sendiri, percuma mama berusaha mengangkat derajat kamu, kalau kamu justru merendahkan harga diri kamu."


Denisa kembali menunduk dengan air mata yang sudah berderai, perkataan mama begitu menohok, cukup menembus hatinya. Tapi itu memang benar, dia yang membuat dirinya sendiri terlihat rendahan, dan kali ini dia menyakiti mama untuk kedua kalinya.


"Maafin Denisa, Ma."


Tak tega melihat sang kekasih menangis karena ulahnya, Daniel ingin sekali rasanya mengatakan yang sebenarnya, tapi dia takut jika mama akan berubah pikiran. Untuk sementara, biarlah mama pada prasangkanya dulu, sampai dia dan Denisa telah meresmikan hubungan mereka. Yang dapat Daniel lakukan saat ini, tetap bersama Dara dan Denisa. Daniel kembali mengeratkan genggamannya, memberi kekuatan untuk Denisa.


Rahang Abian mengetat melihat Daniel yang tampak tak berdosa itu, sejak tadi dia menahan diri untuk tidak memberi bògeman diwajah menyebalkan Daniel, nengingat pesan mertuanya, tak perlu main fisik, karena itu akan menunjukkan kualitas keluarga mereka. Dia cukup menemani mamanya, dan menyimak yang mamanya katakan.


"Maaf, Ma. Sayalah yang seharusnya disalahkan disini, saya yang membawa Denisa, saya akan mempertanggung jawabkan apa yang sudah saya lakukan pada Denisa, kali ini saya berjanji akan membahagiakan Denisa dan Dara. Restuilah kami." Daniel tak bisa diam, dia


"Percuma kalian minta maaf, tidak akan bisa mengembalikan keadaan, semua sudah terjadi, mungkin sudah ada adik Dara yang akan tumbuh didalam perut Denisa, jalani kehidupan yang menurut kalian benar. Jangan pernah meminta maaf, karena yang salah bukan kalian, tapi Mama yang membuat semua ini menjadi rumit," ucap mama dengan suara bergetar menahan emosi dan berusaha untuk tidak manangis, meski dadanya begitu terasa sakit, luka hatinya sudah begitu dalam.


Denisa bangkit dari duduknya, bersimpuh dihadapan mama, mengambil kedua tangan mama, meletakkan dikeningnya.


Daniel dan Abian terkejut dengan yang dilakukan Denisa.


"Kamu berkata demikian seolah mama membandingkan kamu dengan saudara kamu yang lain Denisa? Kenapa kamu jadi begini?" mama menghempas tangan Denisa, membuat hati Denisa mencelus, "Mama tidak pernah membanding-bandingkan anak Mama, Mama sayang kepada semua anak Mama. Mama hanya kecewa sama kamu, bisakah kamu bersabar bagaimana merebut hati Mama dengan cara lain? Kamu sudah menjadi seorang ibu Denisa, kamu pasti tau keresahan setiap ibu itu sama, tidak ingin anaknya salah jalan. Sekarang semua sudah terjadi, pergilah jika kamu mau, cari wak kamu untuk menjadi walinya."


Mama berdiri, memutar badan, meninggalkan ruang tamu yang luas tapi terasa sesak untuknya. Namun Daniel segera menyusul dan menghadang langkah Mama.


Ditatapnya dalam mata mama yang penuh kekecewaan karenanya.


"Ma, maaf kalau saya lancang, sekali lagi jangan salahkan Denisa dalam masalah ini, saya yang salah, seratus persen saya yang salah. Saya yang mengajaknya pergi dan memberi ide ini. Tolong jangan marah pada Denisa, maralah pada saya." Dengan besar hati, Daniel juga bersimpuh dihadapan mama.


"Ma, izinkan saya meminang Denisa dengan atas izin dan restu Mama, saya berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik serta membahagiakan Denisa dan Dara. Menebus semua kesalahan dimasa lalu, Dara butuh kaki berdua Ma."


"Ma, kami saling mencintai, dan diwaktu ini, dikesempatan ini, saya meminta maaf atas kesalahan saya yang dulu-dulu, pada Abian, maupun Delia." Lanjut Daniel melirik Abian yang masih duduk ditempatnya, laki-laki itu tampak membalas tatapannya dengan tatapan sengit.


Mama diam dan menarik nafas dalam sebelum menjawab ucapan Daniel.


"Pertanggungjawabkan perbuatan kalian, buktikan semua ucapan mu."


Daniel mendongakkan kepalanya atas jawaban Daniel. Denisa dan Abian pun terkejut atas jawaban mamanya. "Ma, apa artinya Mama merestui hubungan kami?"

__ADS_1


"Kamu mau Mama berubah pikiran?" Mama kemudian berlalu meninggalkanya, tak memberi kesempatan pada Daniel untuk mengucapkan terima kasih.


Dengan hati lega dan berbunga-bunga Daniel menghampiri Denisa. "Mi, Mama merestui kita." Daniel memeluk Denisa, tangis Denisa pun pecah didalam pelukan Daniel.


"Maafkan aku sayang, maaf atas semua yang aku lakukan." Daniel menghujani pucuk kepala Denisa dengan banyak kecupan sayang.


"Ehem, apa aku harus mengucapkan selamat atas drama yang kalian buat?" Daniel melepaskan pelukanya. Daniel refleks menghampiri Abian dan ingin memeluknya.


"STOP, mau ngapain lo?" Abian mundur menyilangkan tangan didepan dada.


"Cuma mau peluk, kita sekarang iparan. Dan mau ngucapin terima kasih udah mau maafin semua kesalahan gue."


"Jìjìk, nggak usah." Daniel tak mengindahkan itu, dia tetap memeluk Abian. Abian pun meronta merasa risih.


"Terima kasih Aa Abian, terima aku jadi ipar mu dengan lapang dada." Denisa terkekeh, menghapus air matanya melihat tingkah lucu keduanya.


"Denisa, aku tahu kamu nggak ngapa-ngapain di sana, tapi aku mau kamu berpikir-pikir lagi, jangan-jangan dia mau nikah sama kamu cuma buat menutupi aibnya yang belok." Teriak Abian yang merasa engap karena dekapan Daniel yang begitu erat.


"Iya sayang, kamu tahu saja kalau aku suka jeruk." dengan sengaja Daniel mengecupi pucuk kepala Abian.


"Delia Sayanggggg, siapin aku kembang tujuh rupa biar nggak ketularan penyakit berbahaya ini, ini demi kedamaian rumah tangga kita." Teriaknya lagi, wajahnya sudah memerah menahan dekapan Daniel.


Seorang salah satu art dirumah Abian datang tergopoh-gopoh.


"Pak Abian maaf, didepan ada tamu, namanya Ricko." ujarnya memberi tahu.


Mendengar nama Ricko Daniel melepaskan pelukanya pada Abian.


Senyum seringai pun terbit dibibir Abian. "Aku tahu drama yang kalian buat agar mama merestui kalian," ucapnya "aku juga mau punya villa didekat kalian."


"Kamu coba memeras."


"Uang tak sebanding dengan restu kan?"


"Temui dia, awas aja kalau sampai lo menerima lamaran dia."


"Belum jadi ipar udah sombong."

__ADS_1


__ADS_2