
Setelah acara akad selesai, acara resepsi pun digelar, mengingat keluarga besar Denisa yang dari Subang harus pulang petang ini juga, jadi setelah acara akad, Denisa dan Daniel langsung berganti pakaian tanpa jeda istirahat.
Denisa tentu merasa heran, Daniel bilang padanya, jika mereka hanya menggelar acara akad saja tanpa acara resepsi.
"Kak, bukanya kata Kakak kita cuma akad aja?" tanya Denisa pada Daniel saat mereka masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
"Mana mungkin Mami, walau ini pernikahan kedua untuk kita, tapi aku ingin pernikahan ini berkesan, ini untuk menebus kesalahanku yang dulu." Daniel mendorong pintu menutup dengan punggungnya, pandanganya tak lepas dari Denisa yang kini duduk di kursi meja rias, wanita yang kini sudah menyandang istri sahnya itu melepaskan satu persatu kembang goyang dikepalanya.
"Sudah, jangan dibahas lagi. Itu masa lalu, sekarang kita sudah bersama dengan
"Tidak apa-apa, Mi. Beri aku kesempatan menebus kesalahanku," Daniel berjalan menghampiri istrinya. Daniel langsung memeluk Denisa dari belakang, membuat Denisa menghentikan kegiatannya.
"Meski pernikahan kita bukan pernikahan pertama, tapi aku akan membuatnya berkesan, tidak kalah dengan pernikahan pertama." Keduanya saling tatap di pantulan cermin didepanya.
"Bedanya, jika anak orang akan menangis karena tidak ada foto dirinya dalam album pernikahan mereka, tapi Dara tidak, Dara akan senang, karena dia ada dalam album pernikahan orang tuanya, bukanya itu sangat berkesan, Mi. Bukan hanya untuk kita, tapi untuk Dara." Daniel mengecup pipi Denisa lembut.
Kemudian Daniel memutar pundak Denisa untuk menghadapnya. Mereka saling tatap, Denisa menelan salivanya susah payah, wajah tampan Daniel selalu bisa mengalihkan dunianya, mereka sering berdekatan, namun getar aneh itu selalu muncul saat Daniel memandanginya dalam seperti ini. Daniel pun merasakan hal yang sama, tubuhnya meremang setiap bertatap dengan Denisa.
"Aku bantu bukain ini, ya?" itu bukan izin, melainkan tawaran bantuan tanpa ingin ditolak, karena tanpa persetujuan Denisa, tangan Daniel sudah mengarah pada di kancing kebaya Denisa
"Kak-" Denisa ingin menolak, karena mereka sebenarnya harus berganti pakaian di kamar yang terpisah, tapi entah mengapa laki-laki tampan yang sudah sah menjadi suaminya ini malah ikut masuk ke kamarnya. Namun apa daya, kata hati tak selalu sesuai dengan tubuhnya yang malah mengizinkan tanpa berusaha mencegahnya.
Daniel sudah berhasil melepas keseluruhan kancing Denisa berikut brosnya tanpa kesusahan. Dada putih nan mulus itu sudah terpampang didepannya, kemben berwarna hitam yang membungkus pabrik susu itu membuat Denisa terlihat semakin seksi dan menggoda.
Daniel tak bisa melepaskan pandanganya, diapun seolah lupa bernafas.
Ting tong.
Keduanya terlonjak atas suara bel kamar Denisa berbunyi.
"Teh, bukain pintunya, kok dikunci dari dalam sih?" Suara MUA terdengar berteriak dari luar. Dia memiliki kartu akses cadangan, tapi dia kesusahan ingin masuk.
"Hem, iklan." Daniel memdesah frustasi, mengacak rambutnya menjadi berantakan, terpaksa dia harus menutup kembali apa yang sudah dia buka tadi, berharap bisa menyegarkan tenggorokan yang kering akibat suasana tegang, nyatanya belum waktunya dia menyegarkan tenggorokannya.
Denisa terkekeh melihat itu, memandang punggung Daniel yang menjauh membukakan pintu.
"Iklanya lama ya, Mi. Sampai nanti malam." ujar Daniel lemas sebelum membuka pintu, Denisa menggeleng, Daniel persis seperti anak kecil yang gagal memainkan mainan barunya.
__ADS_1
"Loh, si Aa teh ada disini?" MUA itu terkejut mendapati Daniel keluar dari kamar Denisa. "Pantesan pintunya di kunci, sabar atuh A, tar malam lebih puas." Ucap sang MUA tersenyum menggoda, Daniel tak menghiraukan itu, ia berlalu ke kamarnya.
* * *
Acara resepsi begitu meriah, Denisa dibuat terkejut, Daniel mengundang teman sejawatnya dari rumah sakit Citra Medika Healt, mereka mengucapkan selamat pada Denisa.
Dan yang membuat Denisa terharu, Sisi datang bersama Bu Nani.
"Dokter Nisa, selamat ya." Sisi dan Denisa saling berpelukan, kemudian saling menempelkan pipinya. "Ya ampun, ikut senang, Dok." Sisi terlihat begitu bahagia.
"Si!" mata Denisa berkaca-kaca, tak menyangka Daniel juga mengundang orang terdekatnya.
"Nggak usah sok sedih deh, Dok. Aku selalu dilupakan, Dokter nggak ngundang saya, kalau bukan pak CEO yang ganteng yang ngundang." Sisi mencebikkan bibirnya pura-pura merajuk.
"Aku juga nggak tahu, Si. Ini semua bukan rencana aku."
"Udah-udah, jangan berdebat," bu Nani mendorong lengan anaknya agar bergeser, dia juga ingin mengucapkan selamat untuk Denisa.
"Nak, selamat ya. Ibu ikut senang, semoga kamu selalu bahagia, langgeng sampai maut yang memisahkan." bu Nani juga memeluk Denisa, menyatukan pipi kiri kanan mereka, matanya kini basah karena bahagia. "Dara mana, Nak?"
"Itu." Denisa menunjuk Dara yang selalu bersama Dina. "Terima kasih, Bu. Maaf, bukan aku tidak mau mengundang, tapi ini benar-benar bukan rencana saya."
"Oh ya? Kita senasib Si."
"Jangan menyamakan nasib kita, Dok. Saya tidak akan terhibur. Dokter udah laku, lah saya?"
"Jangan mikirin jodoh, kecilin dulu tuh badan, kebaya tidak ada ukuran size XXXXL." Wahyu ikut nimbrung.
"Oh god, kayak bensin, datang-datang main nyamber saja." Sisi memutar bola malas. Daniel dan Denisa tergelak.
"Mereka ini, sejak dijalan, sampai, dan sekarang masih saja berantem, pusing kepala ibu." Nani menarik Sisi untuk menyingkir, Sisi jika sudah bertemu Wahyu, seperti tom and Jerry yang tidak pernah akur.
"Selamat ya, Dokter cantik,
Setelah bertemu dengan para temanya, Denisa juga diperkenalkan dengan para kolega Daniel, tidak banyak, Daniel hanya mengundang yang terdekat dengannya saja, Daniel begitu bangga memperkenalkan Denisa sebagai mantan istri sekaligus kini kembali menjadi istrinya lagi, tidak lupa dia juga memanggil Dara untuk diperkenalkan dengan para koleganya.
Acara resepsi tidak lengkap rasanya jika tidak mengadakan pesta dansa, seharusnya pesta dansa akan lebih meriah jika dilakukan dengan berputar, dan bertukar pasangan, namun keposesifan Abian, Daniel dan juga suami Dania yang bernama Mahesa, mereka tidak menyetujui itu.
__ADS_1
Daniel berdansa sambil menggendong Dara, namun tangan yang satunya tak lepas juga dari pinggang ramping Denisa.
"Dara senang?" tanya Daniel.
"Senang, Pi. Terima kasih Pi, Papi sudah buat Mami senang." Ucapan polos Dara selalu membuat hati Daniel perih, dia tidak mengetahui apa saja yang dilalui Denisa selama lima tahun yang lalu, Dara seakan tak ingin membuat maminya menangis. Daniel melirik Denisa yang menunduk menyembunyikan wajahnya. Dia menarik Denisa, mengecup kening istrinya penuh sayang.
Biarlah dia akan mencari tahu sendiri nanti, ini hari bahagia mereka, Daniel tak mau melihat gurat kesedihan Denisa.
Mama Denisa melihat kebahagiaan anak dan cucunya dari jauh, dia mengusap matanya yang berair, tugasnya sudah selesai, anak-anaknya sudah bahagia dan menemukan pasangan mereka masing-masing. Dia ikut bahagia atas kebahagiaan anaknya, satu hal yang sudah membuatnya tenang, anak-anaknya mendapatkan pasangan yang baik dan terlihat sangat menyayangi anaknya.
Jatuh cinta tidak hanya dirasakan anak muda saja, cinta bisa datang pada siapa saja, di sudut ruangan, diremangnya penerangan, diantara para pasangan yang berdansa lainnya, entah sejak kapan papa Ricko datang, kini dia dan Dina tengah berdansa bersama, seperti yang lain. Dina terus menunduk, dia takut Daniel tahu.
"Selamat atas pernikahan putra mu, aku awalnya berharap Dokter Nisa menjadi menantuku, ternyata dia menjadi menantumu kembali."
"Terima kasih," lirih Dina masih menunduk, dia tak kuasa jika harus menatap wajah tampan yang tak lekang oleh usia itu.
Papa Ricko sampai menengleng untuk mencari wajah Dina.
"Coba lihat aku," Papa Ricko meraih dagu Dina untuk mendongak, Dina menggigit bibir bawahnya saat beradu pandang dengan papa Ricko. "Kamu sangat cantik hari ini."
Dina kembali menunduk malu, papa Ricko tersenyum, sambil berdansa, dia menuliskan angka di tangan Dina.
"Apa?" Dina menatap tangan dan wajah papa Ricko bergantian, pura-pura tak mengerti deretan angka berjumlah sepuluh itu.
"Kurasa kita harus sering bertemu, aku tidak ingin ini merupakan pertemuan terakhir kita." Papa Ricko memberanikan diri untuk mencoba mendekati Dina secara terang-terangan, dia mendapat sinyal lampu hijau dari Dina.
Setelah acara dansa, kini masuk pada lempar bunga, banyak para jomblowan, dan jomblowati antusias berbaris dibelakang Denisa dan Daniel.
Ketika hitungan ke tiga, Daniel dan Denisa kompak melempar kebelakang, Denisa tadinya ingin memberi bucket bunga itu pada Sisi, tapi ia mengurungkamya, ia penasaran pada siapa bunga itu akan jatuh.
Dan ternyata, Daniel harus dibuat ternganga ketika berbalik, ternyata bucket bunga itu jatuh pada Dina, mamanya. Dinapun sama terkejutnya, dia sampai menutup mulut tak percaya, karena tangannya bersamaan dengan tangan papa Ricko menangkap bunga itu.
Tadi Daniel melihat sepintas jika mamanya berdansa dengan seseorang, tapi dia tak tahu jika itu papa Ricko.
"Apa baiknya mama ada tujuan tertentu?" tanya Daniel dalam hati, dia jadi menduga-duga, dibalik kebaikan mamanya yang begitu antusias menyiapkan semuanya, ada timbal balik yang harus ia bayar.
Edit : Ini tuh sebenarnya untuk bab 66 ya. Aku terjebak fitur baru entun, maafken 🙏
__ADS_1
Banyak bab loncat di cerita Daniel dan Denisa.