
"Dokter Nisa kemana?" Ricko bertanya pada dokter yang sedang berjaga di UGD, "dijadwal seharusnya kan dokter Nisa yang jaga," ujarnya lagi, Ricko sudah berkeliling mencari Denisa dan menghubungi ponselnya juga, tapi tak aktif.
"Dokter Nisa tadi disuruh ke Kupang, ada yang urgent katanya." jawab dokter laki-laki tersebut yang usianya dibawah Ricko.
Ricko mengernyit, sedikit aneh jika Denisa harus dikirim ke Kupang, disana sudah pasti banyak dokter, bahkan yang lebih handal atau lebih senior, apalagi Denisa merupakan dokter umum, bukan dokter spesialis. Jadi ... tak mungkin jika ada hal sangat mendesak harus mengirim Denisa kesana.
"Memang ada apa, kok bisa dokter Nisa dikirim kesana? Disana sudah pasti tidak kekurangan dokter?" tanya Ricko lagi, tak puas dengan jawaban pertama.
"Saya kurang tahu, Dok. Cuma ketua tadi bilang seperti itu, jika ada yang mencari dan menanyakan dokter Nisa."
"Dokter Nisa, sama siapa?"
"Sepaket sama suster Sisi."
Ricko nampak berpikir, merasa ada yang tidak beres, tapi dia harus mencari tahu dulu kebenarannya. Sambil berjalan Ricko coba menghubungi nomor Denisa, tetap sama seperti awal dia menghubungi, nomor Denisa tidak aktif.
"Rick!" Ricko yang masih sibuk dengan ponselnya, mendongak mendengar namanya dipanggil, kaki yang sudah menaiki satu pijakan anak tangga ia tahan, tak jadi menaiki kaki yang satu lagi. Amanda turun, menghampirinya.
"Man, kamu tahu Denisa dan Sisi dikirim ke Kupang?" tanya Ricko saat Amanda sudah sampai bawah.
Ekspresi yang Amanda berikan justru membuat Ricko semakin menduga, jika memang ada yang tidak beres.
"Nisa sama Sisi ke Kupang? Ada apa? Aku nggak tahu," jawab Amanda kembali bertanya jika dia juga tidak tahu.
Sebagai seorang direktur Citra Medika Healt, tidak mungkin jika Amanda tidak diberi tahu jika anak buahnya ada yang keluar. Amanda berjalan cepat, menuju ruang dokter Gabriel, yang menjadi wakilnya.
Tanpa mengetuk pintu Amanda membuka ruangan dokter Gabriel. Dokter Gabriel yang berada didepan komputer langsung menoleh kearah pintu, dia berdiri mengetahui jika Amanda yang masuk.
"Dokter-."
"Jelaskan padaku, kenapa ada tim kita yang keluar tanpa ada yang memberi tahu aku. Apa kalian tidak menganggap keberadaan ku lagi?"
Dokter Gabriel tampak menarik nafas dalam. "Saya minta maaf," Dokter Gabriel menundukkan tubuhnya sebagai bentuk hormatnya pada Amanda, kemudian dia menegakkan lagi tubuhnya, sebelumnya dia melirik Ricko yang berdiri dibelakang Amanda.
"Maaf katamu? Dokter Gabriel, aku memberi kepercayaan penuh kepadamu, bukan berarti kamu bisa bertindak semaumu."
Dokter Gabriel hanya bosa menunuduk kepala, membiarkan Amanda mengeluarkan semua amarahnya, baru dia akan bertindak, dia diam, mencerna apa semua yang Daniel ceritakan benar atau tidak.
__ADS_1
Ricko yang melihat Amanda mulai meledak-ledak, dan melihat dokter Gabriel yang merasa bersalah, mendekati Amanda, memegang kedua bahu Amanda dari samping kiri. "Amanda, kamu tenang dulu, dengarkan dulu apa yang akan dijelaskan dokter Gabriel, beliau pasti punya alasan." Ricko berhasil membawa Amanda duduk dikursi didepan meja dokter
Dokter Gabriel membasahi bibirnya sebelum menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan, dan beruntungnya, disaat yanh bersamaan, dokter Evan datang memanggil Ricko.
Tok Tok Tok
"Maaf, Dok. Dokter Ricko ada pasien."
Sebelum keluar, Ricko terlebih dahulu pamit kepada Amanda, membisikkan sesuatu yang entah itu apa. Kemudian Ricko keluar diikuti dokter Evan.
"Emmm, Dokter Ricko, maaf. Sebelumnya, ada yang ingin saya sampaikan pada Dokter Ricko. Mari kita ke ruang saya," ajak dokter Evan. Ricko semakin curiga jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh para dokter ini.
Dan karena ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, Ricko pun mengikuti dokter Evan keruangannya.
"Begini Dok. Saya ingin menyampaikan yang sebenarnya terjadi, maaf jika kami terlambat menyampaikannya." Dokter Evan terlihat begitu hati-hati mengatakan itu pada Ricko. Ricko diam, menunggu dokter Evan menyampaikan apa yang akan disampaikan dokter Evan selanjutnya.
"Dokter Nisa dan suster Sisi sebenarnya pulang ke Batam, ini atas permintaan pak Daniel, beliau menceritakan apa yang terjadi pada dokter Nisa dan dokter Amanda dan diantara mereka bertiga. Dan beliau tidak ingin membuat masalah ini menjadi panjang dan berlarut, jadi beliau meminta kami untuk membantu menyelesaikan masalah ini." Ricko masih diam, tapi tangannya yang berada dibawah meja sudah mengepal menahan gejolak amarah, wanita yang ia cintai telah dibawa pergi oleh laki-laki lain.
"Pak Daniel meminta kami untuk membuat dokter Amanda kembali seperti dulu lagi. Awalnya kami marah pada beliau atas perbuatannya terhadap dokter Amanda, apalagi secara tidak langsung beliau telah menyakiti hati dokter Agung (papa Amanda), itu juga membuat hati kami para dokter merasakan sakit. Tapi karena rasa sayang dan cinta kami kepada dokter Amanda dan Citra Medika Healt, kami mengabulkan keinginan baik pak Daniel yang ingin dokter Amanda kembali seperti dulu lagi. Beliau menyadari kesalahannya, dan meminta maaf kepada kami semuanya, jadi kami juga memohon bantuan pada anda Dokter Ricko."
Ricko diam, memang benar langkah yang diambil Daniel untuk membuat Amanda kembali seperti dulu, tapi kini dia juga harus kehilangan Denisa.
*
*
*
Batam.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam 20 menit melalui udara, Denisa dan Daniel telah sampai dirumah Denisa menaiki taksi konvensional. Tak ada barang bawaan, karena Daniel menggunakan jasa kurir ekspedisi untuk mengirim barang Denisa yang tertinggal.
"Kenapa Kakak ikut turun?" Denisa membalikkan badan sebelum membuka pagar.
"Ini kan rumah calon istri aku, sudah pasti akan jadi rumah aku juga." Daniel mendorong pintu pagar yang sudah dibuka kuncinya oleh Denisa. Denisa melongok atas ucapan Daniel. Memandang Daniel yang sudah lebih dahulu masuk.
"Mi, kunci rumahnya mana, Papi mau mandi, udah gerah," teriak Daniel dan mendapatkan lirikan tajam dari Denisa, Daniel malah terkekeh.
__ADS_1
Denisa melangkah sambil merogoh isi tasnya, mencari kunci rumahnya yang mungkin saja terbawa, tapi feelingnya mengatakan jika kunci itu tak ada, karena dia lupa dimana terakhir dia menyimpan kunci rumahnya itu. Sampai isi tasnya keluar semua, rapi benda kecil bernama kunci itu tak ada.
"Kayaknya nggak ada deh Kak," Denisa sudah terlihat panik, "Kakak sih nggak bilang kalau mau pulang, aku juga lupa dimana terakhir naroknya."
"Jangan panik, cari dulu yang tenang, kalo nyarinya sambil panik, tidak akan ketemu." Daniel merendahkan tubuhnya membantu mencari. Lebih dari lima belas menit mereka mencari, tapi tak diketemeukan juga.
"Aku dobrak aja boleh?" izin Daniel, Denisa mengangguk mengiyakan.
"Emang Kakak bisa?"
"Kalau aku nggak bisa dobrak pintu ini, jangan izinkan aku nanti mendobrak pertahanan kamu," ujarnya usil. Denisa memajukan bibirnya sebal.
Daniel mengambil aba-aba sebelum menubrukkan tubuhnya ke daun pintu, dorongan pertamanya gagal, dan dorongan kedua kalinya, pintu rumah Denisa berhasil terbuka. Denisa bertepuk tangan atas usaha Daniel.
"Ini tandanya pintu rumah kamu sudah nggak layak Mi, udah nggak aman. Bukan aku yang hebat atau kuat," ucap Daniel memandang Denisa, "seharusnya ini nggak bisa di dobrak, cuma dua kali aku dobrak sudah kebuka, padahal aku tidak terlalu keras mendobraknya."
Denisa mengangguk, melangkah masuk lebih dulu. "Nanti aku akan panggil orang buat perbaiki."
"Punya aku, kenapa harus panggil orang." Daniel membuka bajunya, Denisa refleks membalik badan membelakangi Daniel, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kakak kenapa buka baju disini?"
"Mau mandi, kamu buatin aku kopi hitam ya."
"Nggak ada apa-apa dirumah." Jawab Denisa masih membelakangi Daniel. "Nanti aku pesanin di warung aja."
"Nggak usah, aku aja yang pesan habis mandi." Daniel mendekati Denisa, "aku nggak mau kamu dilihat banyak lelaki, diwarung biasanya banyak lelaki hidung belang," bisiknya tepat dibalik telinga Denisa, Denisa merinding dibuatnya. Daniel malah menambahkan meniup daun telinga Denisa, tambah membuat Denisa meremang. Lalu dia berlalu ke kamar mandi, setelah berhasil mengerjai Denisa.
* * *
Daniel pulang membawa dua kantong kresek, satu kantong berisi makan untuk mereka, dan satu kantong paperbag berisi camilan dan kopi yang ia beli di mini market.
Daniel meletakkannya di meja depan, lalu menghampiri Denisa dikamar untuk mengajaknya makan bersama. Tanpa mengetuk pintu, Daniel membuka pintu kamar Denisa. Saat pintu sudah terbuka, Daniel mematung didepan pintu melihat pemandangan didepanya.
Denisa sedang memakai br4nya tanpa mengenakan handukpun dibuat menoleh, pandangan keduanya bertubrukan, dan keduanya sama-sama dibuat diam mematung. Hingga detik kemudian ...
AAAAAAAA
__ADS_1
Teriak Denisa panik.