
Daniel merebahkan kepalanya dipaha Denisa yang duduk disofa ruang tamu, padahal Denisa hanya beristirahat sejenak untuk minum air putih.
"Awas Kak, ayo kita mulai lagi biar cepet selesai, ini baru kamar Kakak, belum ruangan lainnya." Lihat Denisa rumah Daniel yang cukup berantakan, rumah ini jarang ditempati, banyak debu yang menempel, bahkan catnya harus diganti karena banyak yang mengelupas, bahkan ada yang timbul bintik-bintik dan bagian temboknya ada yang retak.
"Aku capek, mau dipijitin dulu." Bawa Daniel tangan Denisa pada bagian bawah tubuhnya.
"Apa sih Kak, jangan mesum deh." Denisa menarik tanganya.
Daniel tertawa. "Kamu yang mesum, ngapain mau pegang-pegang adik aku, masih kebawa yang tadi ya?" Daniel menjawil ujung dagu Denisa, dia senang menggoda Denisa, mengingat wajah Denisa yang sudah terpancing has rat saat dia menggodanya tadi.
"Siapa yang mesum? Kakak ya yang bawa tangan aku," ralatnya sebal tapi suka, "awas Kak, kita lanjut bersih-bersihnya, ini masih banyak loh yang harus dibersihin, baru kamar Kakak yang selesai. Aku harus pulang cepet, Dara pulang jam dua belas soalnya, aku harus jemput Dara. Dan mama mau datang kerumah kak Delia." Denisa menggerakkan pahanya agar kepala Daniel menyingkir.
Bukannya menyingkirkan kepalanya, Daniel malah menahan kepalanya dan mulai memejamkan matanya, dengan tangan bersedekap didada.
"Kak," Denisa kembali mengguncang pahanya agar Daniel terganggu, "awas ih, jangan nyebelin deh."
Daniel tak bergerak semakin membuat Denisa kesal. "Aku pulang aja kalau Kakak mau tidur."
"Diam Mami, kita jemput Dara sama-sama, aku masih ngantuk, semalam nggak bisa tidur." ujarnya masih memejam.
"Kenapa? Apa karena tempatnya kotor?"
"Hem, otakku yang kotor." Denisa menggetuk kening Daniel dengan telunjuknya. "Sakit Mami." Daniel mengusap keningnya yang bekas diketuk Denisa, matanya terpaksa harus dibuka.
"Dari tadi diajak ngomong nggak pernah serius."
"Ini serius sayang. Kamu suka yang serius-serius ya ternyata. Kalau bikin adik buat Dara sekarang, mau serius nggak?" Daniel menggerakkan alisnya naik turun.
Muka Denisa sudah merah karena memanas, otaknya tertular kotor seperti Daniel, sangat suka membahas yang mèsum-mèsum.
"Apa sih, itumah maunya Kakak." Kembali menunduk menatap wajah menyebalkan mantan suaminya.
"Kamu pasti mau juga, tapi malu-malu meong."
Denisa memalingkan wajahnya kelain arah, menyembunyikan wajahnya yang bersemburat merah karena godaan Daniel.
"Kita kayak anak abege pacaran yang lagi bacstreet tau nggak, Mi. Sembunyi-sembunyi gini."
"Ini nggak sembunyi-sembunyi namanya, biar aku dulu yang jelasin sama mama, nanti baru Kakak yang maju. Ini kita mau ngobrol aja, apa lanjut bersih-bersihnya?"
"Aku sudah panggil tukang bersih-bersih sayang. Buat apa aku panggil kamu buat bersih-bersih, tugas kamu cuma nemenin aku, cuma untuk dikamar memang aku mau kamu yang ngatur, biar kalau lagi tidur sendiri berasa ditemani kamu." Tatap Daniel wajah cantik Denisa dari bawah, "kamu bilang apa sama Abian mau kesini tadi? Pakaian kamu rapih banget, kayak mau ngelamar kerja."
"Hem, aku bilang sama kak Abian kalau aku dapat panggilan dari rumah sakit Umum."
"Abian itu tipe yang curigaan, kamu jangan lama-lama kasih tau mama kamu. Biar aku bisa datang sendiri. Besok aku datang ya setelah kamu bilang sama mama kamu?"
Denisa mengangguk. Ia juga tak mau berlama-lama seperti ini, banyak sekali godaan yang bisa membuat mereka nanti melakukan hal-hal yang kebablasan.
"Denisa, bagaimana kalau kamu buka klinik sendiri disini, mau kan?"
"Iya, tapi biarin aku buka dengan modal tabungan aku sendiri, Kak."
"Memangnya kenapa kalau pakai uang ku? Sama aja, uang ku, uang kamu juga. Jangan keras kepala, buang jauh-jauh rasa gengsi, kamu pikir buka klinik tidak pakai uang banyak? Bukan aku meremehkan sayang, aku tahu cita-cita kamu buka klinik sendiri, dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Berapa tahun kamu harus nabung? Keburu kita pakai tongkat."
Denisa diam menatap Daniel, dia tak dapat berkata-kata lagi, memang benar, jika dia harus mengandalkan tabungannya sampai kapan? Terkadang Daniel tahu apa yang dia mau tanpa bertanya, dan bertindak melebihi ekspektasinya, walau terkadang melebihi batas, seperti menikahi Amanda contohnya, itu adalah keputusan yang salah, walau tujuannya melindungi dirinya.
"Aku tuh nggak ada kelebihan apa-apa ya Kak. Selalu bergantung sama orang."
"Namanya juga hidup, mana ada yang bisa melakukan apa-apa sendiri. Kita tuh sebenarnya kayak kancing dan baju, saling membutuhkan."
"Nggak terlalu penting donk Kak. Kan ada yang pakai reseleting."
"Itu pribahasa, Mami."
"Aku kadang iri sama wanita mandiri, yang bisa melakukan apa-apa sendiri."
"Nggak ada yang begitu, Sayang. Bikin anak mana bisa sendiri."
"Ish, aku serius, Kak." Denisa mengusap-usap alis Daniel yang tebal, dia suka bentuk alis Daniel.
"Aku juga serius sayang, bener kan, bikin anak mana bisa sendiri?" Denisa mencebik. "Jangan pernah membandingkan diri sendiri sama orang lain, manusia didunia ini nggak ada yang bisa hidup sendiri. Kamu pikir pengusaha sukses bisa sukses sama usahanya sendiri. Mereka juga harus banyak menjalin kerja sama dengan banyak perusahaan lain. Menarik banyak investor. Privilege juga mempengaruhi."
__ADS_1
"Manfaatin aja aku kalau itu bisa, aku rela kamu manfaain, Mami. Sekarang uang ku banyak, aku bingung mau dikemanain uang ku. Makanya anggap aku sedekah ke kamu, dan kamu menyalurkan uang ku ke hal yang lebih bermanfaat."
"Kok Kakak jadi sombong dan narsis sih?"
"Itu salah satu cara aku buat memikat wanita, apalagi janda mantan istri sendiri."
Denisa menarik bibir Daniel gemas. Daniel mengaduh seraya memegangi bibirnya. "Bisa nggak sih jangan ngomong janda-janda, nggak enak banget didengernya."
"Kamu tanggung jawab, bibir aku lecet, perih ini. Kuku kamu tajam, Mi."
"Masa sih? Coba aku lihat. "Denisa menunduk, melihat bibir Daniel lebih dekat.
Jarak wajah yang begitu dekat, aroma manis parfum Denisa menyeruak menyapa indra penciuman Daniel membuat Daniel tak tahan, dengan mudah Daniel menarik tengkuk Denisa, dan membuat bibir mereka bertemu untuk kesekian kalinya.
Mata Denisa terbelalak karena terkejut, ini padahal bukan hal pertama dan baru untuknya. Untuk sesaat mata mereka saling pandang, kemudian Daniel memejamkan matanya terlebih dahulu, mulai menggerakkan bibirnya, menggigit kecil bibir bawah Denisa, membuat Denisa membuka bibirnya, membiarkan lidah Daniel masuk kedalam mulutnya, mengabsebsi giginya, Denisa awalnya ingin menolak karena takut dia akan dikerjai lagi, tapi tubuhnya merespon lain, terkadang suara hati tak senada dengan tubuh, hingga akhirnya dia memejam, membalas belitan lidah Daniel didalam mulutnya.
Entah bagaimana caranya kini mereka sudah berpindah posisi, sehingga Denisa sudah berada dibawah tubuh Daniel yang mengungkung diatasnya. Sungguh sensasi ciuman ini begitu memabukkan, Denisa selalu tak bisa menolak apa yang Daniel lakukan. Ya, pantas jika dia dijuluki murahañ.
Denisa bisa menolak siapa saja yang dekat denganya, tapi tak pernah bisa menolak Daniel dengan sejuta pesonanya.
Bucin dari dulu.
Suara lenguhan dari mulut Denisa mulai terdengar lirih tapi begitu seksi di telinga Daniel. Tangannya kini sudah terangkat menggenggam satu buah daging kenyal milik Denisa, membuat tubuh Denisa menggelinjang, tangannya pun mencengkram lengan kokoh Daniel.
Daniel membuka mata, tersenyum disela ciumanya melihat wajah Denisa yang sudah mulai ter angsang. Daniel segera melepas ciumanya, dan bangkit dari atas Denisa. Dia kemudian terkekeh.
Denisa membuka mata dan terkejut Daniel yang tertawa.
Sial.
"Ini hukuman kedua, Mi." ucap Daniel.
Sadar maksud Daniel, Denisa malu bukan kepalang.
"Hukuman ketiga, temani aku mandi."
"Nggak mau!"
"Harus mau."
Denisa langsung bangkit dari duduknya dengan wajah yang ditekuk, menyambar tas miliknya ingin pergi. Tapi Daniel langsung membopongnya seperti karung beras, membawanya naik keatas tangga.
"Lepasin Kak." Denisa memukuli punggung Daniel yang dilapisi kaos hitam polos.
"Aku gemes kalau kamu ngambek begini. Makanya jangan suka ngambek."
"Kakak nyebelin, ngeselin, turunin aku." Denisa terus memukuli punggung Daniel, Daniel tak menghiraukan itu, dia langsung membawa Denisa masuk ke kamar, dan membaringkannya diatas kasur.
"Jangan pergi, aku mandi sebentar. Kalau pergi, aku perkaos kamu." Denisa memalingkan wajahnya karena Daniel yang mengungkungnya membuat jarak wajah mereka kembali begitu dekat.
"Denger nggak, Mi?" ulang Daniel karena Denisa tak menjawab ucapannya. Denisa masih diam. "Nggak jawab aku-."
"Iya," jawab Denisa cepat dan terdengar ketus, "dasar pemaksa." ucapnya kesal.
Daniel hanya tertawa dan berlalu masuk kekamar mandi.
*
*
*
Sesuai jajinya Daniel ikut menjemput Dara. Tapi Daniel hanya mengantar Denisa sampai ke sekolah Dara saja, terpaksa dia melakukan ini, karena ada anak Abian dan Delia, padahal dalam hatinya tersiksa ingin ikut menjemput anaknya itu pulang sekolah, pasti menyenangkan rasanya, pikirnya.
Tapi Denisa tak ingin Abian dan mamanya tahu dulu jika mereka sudah bertemu di Jakarta. Namun Daniel tetap membuntuti taksi yang membawa Denisa pulang dari belakang hingga Denisa sampai dirumah Abian.
Saat turun dari taksi, Denisa menoleh kebelakang dan tersenyum pada Daniel. Daniel menbunyikan klaksonya sebagai balasan.
Sakit sekali rasanya hanya bisa melihat dari jauj seperti ini. Andai waktu bisa diputar, Daniel dulu tak akan menceraikan Denisa, tak akan ada yang namanya perjuangan kembali mendapat restu, Dara tak akan pernah mendapat buliying, dan tak ada drama dengan Amanda. Dina juga pasti tak akan marah, dan dia tak akan bersembunyi-sembunyi seperti ini.
Tak ada trauma dirinya tentang rumah sakit yang pada akhirnya dia harus bertemu papa Amanda dan membalas budi pada keluarga Amanda, andai saja dulu dia tak ceroboh.
__ADS_1
Tapi tak apa, hidup memang butuh proses, dia memang harus menempuh jalan yang seperti ini, terjal, berkelok, berlubang, untuk mencapai tujuan yang bahagia. Dia juga tak menyangka bisa mencintai Denisa pada akhirnya.
* * *
Wahyu dan Dina menunggu kedatangan Amanda dibandara. Dan tak lama terlihat sosok yang mereka tunggu itu.
"Makasih Mah, sudah repot-repot banget jemput kita." Ucap Amanda mencium punggung tangan Dina.
"Nggak papa sayang." Dina memandangi wajah Ricko, dia ingat Ricko ini yang dekat dengan Denisa.
"Ini dokter Ricko, teman aku yang waktu itu, Ma." Jelas Amanda tahu maksud tatapan Amanda.
"Hai tante." Ricko dengan sopan mengambil tangan Dina, mencium punggung tangannya.
Mereka langsung berjalan menuju parkiran, disana sudah ada papa Ricko yang baru sampai.
"Pa, kan kata Ricko nggak usah dijemput, nanti Papa capek."
"Dasar anak nggak bersyukur," ucap Papa Ricko." Kamu nggak tahu, rasa rindu seoarang ayah." Papa Ricko langsung memeluk putra semata wayangnya.
"Aku berasa kayak anak Tk."
"Kalau bisa Papa maunya kamu Tk, terus. Biar bisa dekat sama Papa, temani Papa kemanapun Papa pergi."
Amanda dan Wahyu juga menyalami papa Ricko. Dan saat pandangannya bertemu dengan Dina, keduanya sama-sama saling pandang, ada tanda love-love yang muncul dari atas kepala mereka.
"Ehem," Wahyu berdehem membuat pandangan keduanya terputus. "Aduh, apa aku yang muda nggak normal ya?" Ujarnya random, membuat Dina dan Papa Ricko jadi kikuk.
"Udah kenalan, jangan cuma saling pandang." Ujar Wahyu menggoda, dasar nggak sopan meledek orang tua.
Amanda dan Ricko saling padahal, entahlah, mereka harus menaggapi apa?
Sampai akhirnya mereka masuk kedalam mobil masing-masing, papa Ricko sekali-kali melirik arah mobil Dina, dia yang awalnya mau mengajak berjabat tangan, tak jadi, kakinya terasa berat untuk melangkah.
Begitu juga Dina, dia jadi diam seribu bahasa, entahlah, dia sudah lama tak merasakan getaran aneh yang timbul dalam hatinya. Ingin sekali rasanya dia menoleh pada mobil papa Ricko, tapi untuk menggerakkan lehernya terasa berat, karena merasa Wahyu dan Amanda seperti memperhatikannya.
* * *
Malam hari, Mama Denisa baru tiba dikediaman Delia, dia terlambat karena suami Dania memaksa mengajak jalan-jalan terlebih dahulu.
Anak-anak Denisa dan Delia sudah tidur. Kini Denisa, mamanya sedang berdua.
"Mama sudah dengar tentang kamu dan Daniel, Denisa. Apa benar kamu mau kembali sama dia?" ucap mama Denisa langsung, dari cara bicaranya sudah dipastikan mama tak setuju.
Seorang anak sudah pasti takut jika seorang ibu bicara dengan nada tak suka dan sedikit meninggi. Sama halnya dengan Denisa, dia yang awalnya sangat percaya diri, kini jadi ciut.
Denisa hanya bisa menunduk.
"Sebenarnya jika dulu tak ada kasus dia ingin berbuat yang macam-macam sama kakak kamu, Mama tak masalah kalian bersama. Tapi ini beda Denisa, pikirkan perasaan kamu, perasaan kakak kamu."
"Jangan melakukan apa-apa karena nama cinta, kamu harus pahami laki-laki yang akan kamu jadikan pasangan, latar belakangnya, jangan asal dia ganteng, kalian suka sama suka, demi Dara, kamu langsung mengambil keputusan. Mama cuma nggak mau kamu dapat laki-laki yang nggak baik, apalagi Daniel itu mantan cassanova, mantan pecàndu juga. Mama takut dia belum berubah sepenuhnya.
"Bukan Mama nggak sayang sama kamu, Nak. Diantara anak mama tinggal kamu yang belum mendapat pasangan, Dania sudah mendapatkan suami yang baik, Kakak kamu. Mama sudah lega, tinggal kamu yang masih menjadi pikiran Mama. Mama tuh takut kamu dapat suami yang nggak bertanggung jawab."
"Tapi aku yakin Kak Daniel sudah berubah, Ma." Uajr Denisa pada akhirnya membuka suara.
Mama Denisa menarik nafas. "Mama melepaskan kamu jauh, membiarkan kamu mandiri, mama berharap kamu dapat pengalaman hidup. Mama senang saat dengar kamu ikut misi kemanusiaan, tapi Mama kecewa kamu tidak menyelesaikan itu."
"Kamu terlibat kasus sama pemilik rumah sakit itu?" Denisa diam dan menunduk. Mama sudah tahu jawabannya. "Mama sudah dengar cerita Daniel menikahinya, Denisa." Denisa mengangkat kepalanya terkejut.
Mama tahu dari mana?
"Kamu heran kan, mama tahu dari mana?" Mama Denisa tersenyum masam. "Bagaimana bisa mama melepaskan kamu sama laki-laki yang dengan mudah memutuskan kawin-cerai, kawin-cerai. Mama takut dia akan melakukan hal yang sama lagi. Apa kamu tidak trauma? kenapa cinta kamu sama laki-laki itu jadi begitu bòdoh dan buta?" tanya Mama.
"Seoarang ibu sangat takut anaknya mendapat suami yang salah Denisa, cuma itu. Anak Mama perempuan semua, Mama ingin hidup mereka bahagia, mendapat laki-laki yang bertanggung jawab, nggak lebih Denisa, hanya itu keinginan Mama. Kata Abian ada dokter laki-laki yang suka sama kamu, kenapa kamu tidak memilih dia saja?" Mama kembali bertanya,
"Denisa nggak ada perasaan apa-apa Ma sama dia."
"Tapi dia baik, kan?" Denisa mengangguk. "Jika bibit, bobot, bebetnya baik. Kamu terima saja, soal perasaan akan tumbuh setelah kalian menikah. Banyak kok yang menikah tanpa cinta, pada akhirnya rumah tangga mereka bahagia dan harmonis. Tapi banyak juga yang menikah atas dasar cinta sama cinta tapi berakhir berantakan."
*
__ADS_1
*
*