My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Memberi Hukuman


__ADS_3

"Wahyu, kamu lagi dimana?"


"Dikantor, Tan."


"Daniel mana, ditelpon kok nggak di angkat-angkat?" tanya Dina mulai terdengar kesal, sudah malam, dia sudah masak banyak, tapi yang dia masakin tidak ada kabarnya.


"Ke Jakarta, katanya ada masalah gawat."


"Masalah apa?"


"Saya nggak tahu, Tan."


"Kamu tahu Denisa dimana?" Insting Dina langsung mengarah ke sana.


"Tadi siang diantar pulang ke Jakarta." Dan setelah mengatakan itu, Wahyu menggelembungkan mulutnya seraya memukul bibirnya yang terlalu jujur, dia baru menyadari keadaan yang sedang terjadi, banyaknya pekerjaan membuatnya tak berpikir jika Daniel ke Jakarta menyusul Denisa.


Mati aku


Terdengar sentaan nafas dari Dina. "Terima kasih atas informasi kamu, Wahyu. Jadi semua pekerjaan dilimpahkan ke kamu?" dengan bodòhnya Wahyu mengangguk yang tak akan dilihat Dina. "Yasudah, kalau pekerjaan kamu sudah selesai, pulang ke apartemen, tante masak banyak. Sekarang kamu yang anak tante, anak tente udah nggak nurut lagi. Dan satu lagi, kamu jangan lupa minta naik gaji sama Daniel."


Wahyu diam tak mengatakan apa-apa, masih merutuki dirinya sendiri, hingga Dina memutuskan panggilannya.


"Kamu sampai meninggalkan pekerjaan kamu Daniel?" Dina mendengus, "Mama nggak tahu harus bagaimana?" Dina memandangi masakan yang ia siapkan untuk anak semata wayangnya itu.


Tak lama ponsel Dina yang baru ia letakkan dimeja makan berdering, nama Amanda muncul dilayar ponsel miliknya. Cepat Dina menggeser tombol hijau keatas.


"Iya sayang, Amanda."


"Mah, Mama apa kabar?"


"Baik, sayang. Ma aku besok pulang. Mama dimana?"


"Mama sekarang di Batam, sayang. Kamu naik apa, biar Mama jemput, sekalian, kamu mau Mama masakin apa?"


"Naik pesawat, Ma. Amanda pulang sama Ricko, Nggak usah dimasakin Ma. Nanti Mama kecapean."


"Nggak masalah sayang, hm yaudah kamu hati-hati dijalan. Kabari Mama kalau sudah sampai ya."


"Iya Ma. Bye."


Dina meletakkan ponselnya diatas meja, memijit keningnya, dia tak tahu harus berbuat apa besok saat bertemu Amanda, anaknya sudah menyakiti Amanda, tapi dia masih bertanggung jawab karena papa Amanda menitipkan Amanda padanya. Biarlah semua seperti ini, mungkin memang mereka tidak berjodoh, lihatlah tingkah anaknya, walau dia memaksakan juga, tetap Daniel mengejar-ngejar mantan istri yang sudah ia ceraikan.


*


*


*


Denisa berhasil mengajak Dara keluar rumah, beruntung tadi Dara belum bertemu Awan, jadi Dara belum mengatakan apa-apa perihal Daniel pada Awan. Denisa berpamitan pada Abian dan Delia jika ingin membeli pembàlut di mini market yang jaraknya lumayan jauh dari rumah kakaknya itu. Denisa sudah menghubungi Daniel untuk tidak singgah dirumah Abian, dia takut Abian marah.


Menaiki ojek online Denisa dan Dara tiba dimini market, Daniel sudah sampai terlebih dahulu dan berdiri didepan mini market menunggu kedatangan anak dan mantan istrinya.


"Mi, itu papi?" tunjuk Dara Daniel yang melambaikan tangan padanya, bocah yang menggunakan piyama hello kitty dilapisi sweater hallo kitty berwarna pink itu langsung berlari menghampiri Daniel, Daniel merendahkan tubuhnya, menyambut Dara dalam pelukanya.


"Papi kangen banget sama kamu." ujar Daniel menghujani pipi Dara banyak ciuman. Dara sampai kegelian.


"Dara juga." Dara memeluk leher Daniel, menjalarkan rasa hangat dihati Daniel.

__ADS_1


Denisa berjalan menghampiri keduanya, jujur saja dia merasa berdebar dan gugup sekali bertemu Daniel malam ini, entah karena kebohongannya, atau apa? Jantungnya bertalu tak karuan, ada rasa senang yang tak bisa dia jabarkan rasanya. Apalagi saat Daniel terus menatapnya intens membuat Denisa makin salah tingkah.


"Papi udah dari tadi?" Dara bertanya, Dara sepertinya begitu perhatian pada Daniel.


Daniel mengalihkan pandangannya dari Denisa. "Belum sayang, baru saja." Daniel kembali menatap Denisa, dia berdiri. "Nggak ada lain lagi yang kamu pakai selain baju ini?" tanyanya memperhatikan baju Denisa. Denisa menunduk melihat penampilannya. Dia memakai set piama selutut, dan jaket denim untuk menghalau dingin.


"Ada apa?" tanya Denisa bingung, menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kamu masuk ke taksi yang aku naiki tadi, aku ajak Dara beli jajanan dulu." perintahnya, tapi kemudian Daniel menepuk jidatnya. Kalau menyuruh Denisa menunggu di taksi, Denisa hanya berdua dengan supir taksi itu. Dia makin tak rela.


"Nggak jadi, kamu ikut masuk aja," katanya kemudian, Denisa mencebikkan bibirnya sebal.


Saat menemani Dara mengambil berbagai camilan, Daniel selalu berada dibelakang Denisa, tubuhnya sampai menempel dipunggung Denisa, menbuat Denisa risih.


"Kakak kenapa sih, nggak enak dilihat orang."


"Bodo amat, lebih nggak enak lagi paha kamu dilihatin banyak orang," jawabnya ketus.


O jadi dari tadi kak Daniel nutupin paha aku?


"Ini biasa kali, Kak. Banyak yang lebih seksi."


Tak menjawab, Daniel buru-buru membantu Dara mengambil banyak camilan dengan wajah yang terlihat masam, bukan hanya untuk Dara, tapi untuk anak-anak Delia juga. Saat dikasirpun, sebisa mungkin Daniel menutupi kaki Denisa, dengan Dara yang ia suruh berdiri di sebelah Denisa.


Denisa hanya mengulum senyum.


"Lain kali kalau keluar rumah pakai celana panjang, aku nggak mau paha kamu dilihatin banyak orang, apa kamu nggak sadar dari tadi banyak yang liatin kamu?" kesal Daniel saat sudah didalam taksi. Dia duduk ditengah-tengah antara Dara dan Denisa.


Denisa mengerucutkan bibirnya. "Kan tadi buru-buru, Kakak kenapa ke Jakarta, bukannya kata Kakak, Kakak banyak kerjaan?"


Daniel melihat Dara yang duduk disampingnya, dia mengacak rambut Dara yang sedang asik menghitung jumlah jajananya. "Karena calon istri ku yang nakal," Daniel menarik hidung Denisa, "sudah aku pesan jangan nakal."


Denisa memutar kepala menoleh pada Daniel, tak sengaja bibirnya menyentuh bibir Daniel. Denisa jadi malu, Daniel melihat itu tersenyum sendiri.


"Aku nggak mau lama-lama lagi, walau banyak yang menentang, aku pastikan kita akan tetap bersama. Dara butuh kita." Daniel memajukan wajahnya ingin menyentuh bibir yang tadinya sengaja menyentuh bibirnya, dan itu membuat setruman ditubuhnya. Tapi Denisa menahan telunjuknya dibibir Daniel.


"Ada Dara dan pak supir," ujarnya, "biar aku kasih tahu mama dulu, nanti kalau mama tak merestui, baru kita ambil keputusan." Daniel mau tak mau menarik kepalanya lagi menjauh.


"Oke."


Hingga tanpa terasa taksi yang mereka naiki sudah sampai didepan rumah Abian, Daniel menuruti apa kata Denisa untuk tak menemui Abian sebelum dia menceritakan pada mamanya.


"Sayang, Dara jangan cerita-cerita dulu ya kalau ada Papi." pesan Daniel pada Dara sebelum Dara turun.


"Kenapa Pi?"


"Papi mau buat surprise, kalau ada yang tanya, siapa yang belikan jajanan, bilang mami yang belikan ya?" Dara mengangguk patuh.


"Masuklah," suruhnya pada Denisa agar Denisa segera masuk, "aku tunggu besok dirumah ku. Awas kalau kamu tidak datang."


Denisa berlalu masuk kerumah Abian dengan menggandeng Dara dan dua paper bag besar berisi camilan. Setelah memastikan Denisa masuk, barulah taksi mengantar Daniel kerumahnya yang ada di Jakarta.


* * *


Keesokan paginya, Denisa mematut dirinya didepan cermin, dia memutar tubuhnya melihat penampilannya pagi ini. Cukup sopan dan tertutup, Daniel tak akan marah, ini baju kelima yang dia coba.


"Ya ampun Denisa, sejak kapan sih kamu ngurusin penampilan begini? biasanya juga cuek aja." Denisa bicara sendiri. Denisa menggeleng, melihat diatas tempat tidurnya berantakan bekas pakaiannya.

__ADS_1


Setelah membereskan kembali kekacauan yang dibuat, Denisa keluar dan bergabung bersama Kakak dan Kakak iparnya sarapan. Dara dan anak-anak Delia juga sudah disana.


"Kamu mau kemana, Dek?" tanya Delia melihat penampilan Denisa.


"Aku mau melamar kerumah sakit, Kak. Sisi kasih tahu dia punya kenalan disini, semalam sudah kirim e-mail, tapi pagi ini disuruh datang." Bohongnya.


"Dimana?" Abian yang bertanya.


Hanya pertanyaan biasa dan lumrah, tapi bagi orang yang berbohong, pertanyaan itu cukup membuat orang tersebut seperti mati kutu, sama seperti Denisa, rasanya dia sulit menelan makanan yang sedang dia kunyah.


Abian dapat menangkap perubahan raut wajah Denisa yang gugup.


Denisa berdehem "Rumah sakit Umum, Kak."


"Kalau kamu mau, kamu bisa melamar jadi dokter di bandara."


"Iya, nanti kalau seumpama di sini ditolak. Biar aku aja, Kak yang antar anak-anak kesekolah, sekalian aku mau tahu sekolah anak-anak." ucapnya mengalihkan, tak ingin membahas lebih jauh dirinya mau kemana.


"Iya diantar supir, ya." Sahut Abian.


"Naik taksi aja, Kak. Soalnya nanti mau mampir-mampir." Denisa beralasan, bisa ketahuan dia kalau mau kerumah Daniel.


Delia dan Abian tak mempermasalahkan lagi, tapi diam-diam Abian memperhatikan gelagat aneh Denisa.


"Pulangnya jangan lama ya, nanti Mama datang." pesan Delia, Denisa mengangguk.


Setelah mengantarkan Dara dan anak Delia kesekolah, taksi yang membawa Denisa langsung meluncur kerumah Daniel. Denisa gugup, sudah berbohong pada kakaknya, dia seperti mengulang kejadian lima tahun silam, dimana dia diam-diam menemui Daniel.


Taksi yang dikendarai Denisa sudah sampai di depan rumah Daniel, rumah lamanya. Denisa melangkahkan kakinya, hatinya berdenyut, menatap rumah itu, kenangan dulu yang ia coba lupakan kini seolah terlintas lagi dikepalanya. Denisa mendorong pagar besi yang terlihat usang itu, sangat terlihat jika rumah ini jarang ditempati dan tidak dirawat.


Denisa melangkah semakin masuk, sampai ia berdiri didepan pintu besar rumah itu. Tanganya mengetuk pintu, tapi tak ada sahutan. Denisa menyakinkan diri untuk mendorong pintu itu, ternyata tidak dikunci.


"Kak." panggilnya. Sunyi, tak ada suara apapun. "Apa belum bangun."


Baru Denisa ingin menutup pintu, tangannya langsung ditarik dari samping.


"Auuu."


"Kamu lama banget, aku nungguin kamu dari tadi." Daniel mendorong pintu, mengurung tubuh Denisa, bibirnya langsung menjelajah leher Denisa tanpa permisi. Daniel terus mengendus leher Denisa menghirup dalam-dalam aroma manis dileher Denisa.


"Aku kangen Denisa." Ucapnya, menjalarkan hawa panas ditengkuk Denisa. Tubuh Denisa mengelinjang, bagai disengat ribuan watt listrik.


Padahal hanya sentuhan-sentuhan kecil dileher, rapi sudah membuat sekujur tubuhnya Denisa bagai terbakar, ditambah kini bibir Daniel semakin turun ke dadanya.


"Kak!" Lengùh Denisa parau, mudah sekali dia terpancing oleh Daniel.


Daniel semakin menurunkan bibirnya, tapi dia tak membuka kancing kemeja Denisa, bibirnya berhenti disana, Daniel mendongak, menatap wajah Denisa yang sudah terbakar gàirah, Daniel menyeringai, tahu jika Denisa minta disentuh lebih.


Sejurus kemudian Daniel menegakkan tubuhnya. "Hukuman kamu bukan ini, baby. Tapi bantu aku bersihin rumah ini."


"Hah!"


"Kenapa? Aku kan udah bilang, kamu berani membohongi ku, aku kasih kamu hukuman. Bantu aku bersih-bersih." Daniel terkekeh, meninggalkan Denisa yang masih terdiam, sumpah demi apapun, dia malu sekali. Daniel mengerjainya, dan bodòhnya dia mudah sekali terbawa suasana dan terpancing, berharap Daniel menghukumnya dengan cara yang manis.


Dasar murahan.


"Kita nanti akan tinggal disini, sayang. Rumah kita nggak jauh dari kawasan kumuh, nanti kamu buka praktek sendiri disini. Bantu orang-orang yang kurang mampu, itu cita-cita kamu kan?" ucap Daniel menaiki anak tangga menuju lantai dua.

__ADS_1


Rasa yang tadinya kesal, kini berubah menjadi mengharu, tak disangka jika Daniel berpikir sampai sejauh ini, dan tahu jika Denisa berkeinginan memiliki klinik sendiri, bisa membantu orang-orang yang kurang mampu.


__ADS_2