
Suasana masih sepi, cuacapun masih terlihat gelap pagi ini, semilir hembusan angin laut menusuk tulang membuat bulu kulit berdiri, beberapa dokter, perawat dan staff relawan masih tetap setia berjaga, diantara mereka ada yang menelungkupkan wajah diatas meja, karena mata tak bisa setia, ada yang bermain dino saurus melompat, karena jaringan internet sedang mengalami gangguan, dan ada pula yang sedang mengisi perut karena cacing yang sudah berdemo.
Bukan hanya para relawan yang bertugas yang sudang terjaga, beberapa pasien yang sedang dirawat diruang rawat inap rumah sakit apung Citra Medika Healt pun sudah ada yang terjaga, bercerita ringan, memuji adanya rumah sakit gratis untuk mereka dengan pelayanan yang sangat baik.
Tak hanya mereka saja rupanya yang sudah terjaga, ada dua pria tampan, gagah, mapan idaman semua wanita ini juga sudah terjaga, mereka sedang terlibat perdebatan serius, di buritan kapal yang hening, para Abk masih berada di ruangan istirahat, ada juga yang sedang berada di cafe yang ada didalam kapal. Suara keras Ricko dan Daniel tak lantas mengganggu pendengaran orang lain.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan hah? tiba-tiba menikahi Amanda, dan sekarang datang kesini tanpa Amanda?" teriak Ricko, marah pada Daniel.
Diteriaki oleh Ricko, Daniel terlihat santai saja, dia menyalakan rokoknya, tangannya sedikit menutup agar api tak padam oleh tiupan angin, perlahan Daniel menghisap rokoknya, lalu membuang asapnya keudara. Dia menoleh, melihat Ricko yang berdiri tak jauh darinya itu sedang bertolak pinggang, menatap nyalang padanya, Daniel hanya tertawa kecil, kembali menghisap batang tembakaunya, masih diam menatap hamparan laut yang beriak.
Tak lama Daniel menggerus puntung rokoknya, melemparnya ke tong sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri, kemudian menghembuskan sisa asap ke udara melalui mulutnya.
"Aku senang dengan sikap anda Pak Dokter, tak bertele-tele. Kenapa, apa kedatangan ku membuat posisi mu terancam?" Daniel tersenyum mendengus, "takut Denisa kembali padaku?" Daniel menaikkan sebelah alisnya, melihat reaksi Ricko.
"Cukup berbasa-basi, apa anda hanya mempermainkan Amanda?" Ricko kembali bertanya, suaranya mulai meninggi, dan wajahnya sudah memerah, terlihat jekas dia marah.
"Kamu mengkhawatirkannya?" tanya Daniel masih dengan santai.
Daniel menyandarkan pantattnya di sandaran besi pembatas, memasukkan kedua tanganya kedalam kantong celana, menghalau dingin yang mulai ia rasakan, sebenarnya dia cukup lelah, tak ada istirahat sama sekali selama dua minggu ini, banyak yang dia urusi dan harus segera ia selesaikan dalam waktu dekat, belum lagi dia harus mengurus kematian mertuanya, mencari donatur untuk Citra Medika Healt, semua itu membuat kepalanya hampir pecah.
"Amanda baru saja kehilangan papanya, tapi kenapa anda malah meninggalkannya seorang diri, apa yang anda rencanakan sebenarnya?" Ricko mulai emosi.
Cukup Ricko menahan diri selama ini membiarkan Daniel bertindak seenaknya, mengajak Denisa rujuk disaat masih bertunangan dengan Amanda, dan Daniel melakukan itu saat dia menyatakan perasaanya pada Denisa. Kesabaran Ricko sudah mulai menipis, dia tak akan tinggal diam lagi dengan tindakan Daniel.
Daniel hanya tersenyum miring, tak berniat menjawab perkataan Ricko.
"Tidak akan aku biarkan kamu mendekati Denisa sedikitpun setelah ini, kamu hanya memberikan banyak luka untuk Denisa."
"Aku juga tidak akan membiarkan mu mendapatkan Denisa, aku mencintainya, aku harus memilikinya, walau aku tahu kamu laki-laki baik dan bisa membahagiakannya, tapi aku akan terus memperjuangkannya, walau nyawa ku taruhanya."
__ADS_1
Ricko semakin kesal mendengar itu. "Tak ada satupun wanita yang mau berbagi, kurasa Denisa wanita yang cukup pintar, dia tidak akan menghabiskan sisa waktunya bersama orang yang tidak berperasaan seperti mu."
"Oh ya? hem baiklah Pak Dokter," Daniel mengusap ujung hidung dua kali, cukup gugup dengan ancaman Ricko, cepat ia menutupi itu.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan Denisa pilih, tapi sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih banyak-banyak karena telah menjaga dan melindungi jodohku, aku sangat percaya pada mu Pak Dokter, makanya aku berani meninggalkan Denisa pada anda, ahh lebih tepatnya aku hanya menitipkan Denisa, tapi aku lupa izin padamu." lanjut Daniel santai, cukup memancing emosi Ricko.
Ricko tak lagi menanggapi Daniel, bisa mengeluarkan segala unek-unek yang selama ini ditahan sudah membuatnya lega.
* * *
Berkali-kali hidung Denisa mengendus bau diselimutnya, semakin ia menajamkan penciumanya, ia semakin yakin jika itu wangi parfum Daniel, wangi kayu-kayuan yang begitu maskulin itu sangat ia kenal, dan itu kembali mengingatkannya akan malam lima tahun silam.
"Nggak mungkin, ini nggak mungkin?" Denisa menggeleng cepat, kedua tanganya mencengkram rambutnya kuat, ini pasti hanya mimpi, tapi kenapa wanginya tidak hilang?
Pandangan Denisa langsung berpindah ke pintu kamarnya, dadanya naik turun dengan detak jantung bekejaran seperti habis meraton, Denisa memandang lekat kunci kamarnya yang masih menggantung ditempatnya, dia ragu, kakinya gemetar, takut jika pintunya sudah tak terkunci lagi, dan membuat posisinya terancam.
Denisa memaksakan menurunkan kakinya, menyeretnya, berharap jika pintu itu masih terkunci.
Ceklek, ceklek ceklek.
Masih terkunci, tangan kanan Denisa turun berganti mencengkram baju bagian dadanya, tubuhnya merosot dibalik pintu, lega bercampur tenang, tapi kenapa penciumanya begitu jelas membaui wangi laki-laki yang merupakan ayah dari Dara itu?
Jika ini hanya mimpi tapi kenapa terasa sangat jelas, Denisa berdiri ke tempat tidur, mengambil ponsel yang tergeletak diatas kasur, ternyata sudah jam empat subuh. Faktor kelelahan membuatnya semalam tidur pulas, dan merasa masih kurang.
Denisa kembali merebahkan tubuhnya di ranjang kecil yang begitu pas ditubuhnya, kembali ia menarik selimut yang tadi dia gunakan, wangi parfum itu bahkan masih begitu menempel.
Denisa jadi mener-nerka, apa mungkin laki-laki itu ada disini? Dan diam-diam masuk ke kamarnya? Tapi itu tidak mungkin, Daniel sudah menikah dengan Amanda, wanita yang begitu sempurna, tidak mungkin Daniel akan menghianati Amanda, apalagi keputusan menikahi Amanda karena keinginan sendiri.
Otak yang terus dipaksa untuk berpikir, tanpa terasa telah menghabiskan waktu untuk mata Denisa kembali beristirahat. Dari luar sudah terdengar teman sejawatnya melantunkan seruan panggilan untuk menunaikan ibadah, Denisa bangun untuk ikut melakukan kewajibannya yang tak boleh tertinggal dimanapun ia berada.
__ADS_1
"Baru ini aku lihat suami dokter Amanda dari dekat, asli ganteng banget ya," ujar suara wanita dari kamar yang dia lewati setelah selesai melaksanakan kewajibannya.
Suami Amanda?
Degh
Daniel ternyata ada disini? Denisa membelalakkan mata, apa ini hanya kebetulan? Tapi pintu kamarnya tadi masih terkunci rapat, tidak mungkin Daniel bisa masuk kamarnya yang dikunci, tak mungkin Daniel bisa masuk, kecuali jika Daniel berubah menjadi makhluk tak kasat mata.
Tok tok tok.
"Masuk," sahut Denisa yang sedang merapikan jas putihnya saat pintunya diketuk dari luar, dan tersenyum saat tau Sisi yang muncul dari balik pintu yang dibuka.
Sisi nyengir, kepalanya nyebut menunjukkan deretan giginya yang rata. "Udah siap Dok?" sambil melangkahkan kakinya masuk.
"Udah, yuk." Denisa mengambil tasnya yang berada diatas kasur.
"Sebenarnya dari awal aku penasaran mau tanya tapi lupa terus, kok Dokter Nisa dapat kamarnya sendiri, dan paling belakang pula?" Tanya Sisi, keduanya menuruni anak tangga bersisian.
"Aku juga juga enggak tau Sus, kamu tau sendiri waktu aku minta gabung sama kamu, tapi nggak dibolehin sama pak Wiryanto (kerua tim mereka)."
"Atas mandat dokter Amanda kan katanya?" Denisa mengangguk. "Dokter Amanda sayang banget kayaknya sama Dokter Nisa, ampe kamarnya dipisahkan sendiri."
"Tapi nggak ada gosip kan Si?"
"Nggak ada sih Dok untungnya." ujar Sisi "eh, Dokter Nisa udah denger kalau suami dokter Amanda sudah sampai sini? tapi nggak sama dokter Amanda, tapi sama wanita lain."
Denisa menghentikan langkahnya seketika, menatap Sisi serius, pikiranya kembali teringat dengan parfum yang menempel di selimutnya. "Wanita lain?" dia malah bertanya yang lain.
Sisi mengangguk. "Cantik banget, tapi udah punya anak, soalnya dia bawa bayi."
__ADS_1
Mereka kembali berjalan menuju ruang UGD, Denisa mengintip diruang pendaftaran, banyak pasien yang sudah mengantri. Saat akan masuk matanya menangkap sosok Daniel sedang berbincang ramah dengan seorang wanita cantik sambil menggendong bayi.
Tanpa sengaja tatapan mata Denisa dan Daniel bertubrukan, tapi Daniel langsung membuang muka, terlihat seperti tak mengenal Denisa.