My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Permusuhan Dua Keluarga


__ADS_3

Sendiri, tak ada teman berbagi, membuat Amanda ingin mengakhiri hidupnya. Apalagi yang dia harapkan saat ini? Papanya sudah tiada, kerabat baik dari mama ataupun papanya hanya menginginkan hartanya, satu-satunya orang yang bisa dipercaya, yaitu neneknya, tapi sudah terlebih dahulu menghadap sang pencipta sebelum sang papa juga menutup usia.


Dan sekarang, dia diceraikan disaat dia sedang butuh-butuhnya dukungan moril. Apa itu tidak kejam namanya?


Bahkan dia belum mereguh nikmatnya ibadah sebuah pernikahan, dan tidak diberi kesempatan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri, walau itu hanya mengambilkan air putih, itu karena suaminya memiliki wanita lain yang ia cintai. Ibarat kata, sudah jatuh, tertimpa tangga, dan juga mendapat hadiah kotoran burung yang lewat, lengkap sudah penderitaan Amanda.


Belum lagi, dia pernah sesumbar ingin merasakan menjadi Denisa. Ya, tapi bukan benar-benar yang dirasakan Denisa, berpisah disaat sudah ada sebagian dari diri Daniel dalam dirinya, sehingga membuat Daniel tak bisa lepas begitu saja padanya, setidaknya ada tanggung jawab yang membuat mereka bisa selalu berhubungan.


Tapi, Amanda lupa jika perkataan adalah doa, dan itu tak sesuai dengan ekspektasinya. Setiap hari merenung, mengurung dan menghukum diri, tak makan, tak melakukan apa-apa, membuat Amanda tersadar, jika tak akan ada perubahan jika dia hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun, jika dunia kejam padanya, dia harus berani melakukan hal yang lebih kejam lagi. Tak mungkin dia membiarkan orang-orang yang menyakitinya, berbahagia diatas penderitaannya.


Diambilnya ponsel yang tergeletak diatas nakas, yang tak ia sentuh selama beberapa hari ini, ternyata ada puluhan panggilan dari Dina, dan pesan dari Dina. Terlihat jika Dina menyayanginya, dan mengkhawatirkanya. Sempat takut dengan ancaman Daniel yang akan melaporkan atas pesan yang ia kirim pada Denisa, tapi rasa sakit hatinya mendorong Amanda untuk membalas itu.


Amanda mengabaikan pesan-pesan dari para dokter di rumah sakit, dan rumah sakit apung.


Amanda mendial nomor Dina, mengadukan semuanya pada Dina, hanya Dina tempatnya mengadu saat ini.


"Amanda, ya Tuhan. Tante khawatir banget sama kamu, kamu nggak balas pesan dan jawab telepon tante. Kamu apa kabar sayang?" Suara Dina terdengar sangat khawatir bercampur senang mendapat telepon darinya.


Amanda menarik nafas terlebih dahulu, memantapkan hatinya.


"Maaf Mah," ujarnya sambil menahan tangis, dan itu bisa ditangkap oleh Dina.


"Apa yang terjadi sayang? Kenapa kamu kedengeranya sedih."


"Apa Daniel nggak cerita apa-apa sama Mama?"


"Cerita apa sayang? Apa yang terjadi?"


Amanda diam sesaat, kembali menyakinkan hati dengan keputusannya.


"Daniel ... menceraikan Amanda Mah."


Bagai disambar geledek Amanda mendengar kabar itu, anaknya kembali berbuat ulah, kembali menceraikan wanita yang baru dinikahinya.


"A-apa Amanda? apa kamu tidak salah bicara?"


Amanda seksekan karena manangis dan benar-benar sedih. Dan membuat Dina tahu jika ini benar adanya. Dina menghela nafas panjang.


"Daniel lebih memilih Denisa daripada Amanda, karena ada Dara." Jelas Amanda penuh kedustaan.


"Kapan Daniel melakukan itu, Amanda?"


"Malam kematian papa, dan belum 24 jam dari pernikahan kami, Ma."


Dina diseberang sana memekan pelipisnya demi menghalau rasa pusing yang tiba-tiba mendera. "Kenapa kamu nggak cerita sama Mama, Amanda."

__ADS_1


"Amanda takut dituduh Daniel tukang ngadu tante, makanya Amanda nggak bisa jawab telepon tante, Amanda takut keceplosan. Tapi sebenarnya Daniel tidak mencintai Denisa, itu karena Denisa meminta pertanggungjawaban Daniel untuk Dara, karena Dara sering dibully disekolah, hadi terpaksa Daniel harus menceraikan Amanda, semua atas permintaan Denisa tante."


"Astaga Amanda, terus kamu sekarang dimana? Dimana Daniel?"


"Amanda masih di Singapur, Daniel sudah terbang ke Kupang, menyusul Denisa, karena Denisa takut kami akan melakukan malam pertama, jika kami terus sama-sama."


Hati Dina terasa mendidih mendengar penuturan Amanda tentang Denisa, dia pikir Denisa sudah berubah menjadi wanita baik dan lebih dewasa, nyatanya Denisa masih bersikap murahan seperti dulu demi mendapatkan Daniel.


"Yasudah, kamu terbang ke Kupang menyusul Daniel, jangan biarkan mereka dekat Amanda, kamu harus agresif, karena wanita murahan itu punya banyak cara untuk bisa mendapatkan Daniel kembali, jadi kamu juga harus lebih berusaha lagi. Pertahankan rumah tangga kamu, jangan biarkan orang lain menghancurkan rumah tangga kalian, apa kamu sudah membuat pengumuman perceraian kalian Amanda?"


"Belum Mah, Daniel melarang Amanda melakukan itu, takut jika hubungan kami masih bisa berlanjut."


"Bagus, urusan Daniel dan Denisa urusan Mama, yang harus kamu lakukan adalah mencegah Daniel terus menemui wanita murahan itu. Biar Mama juga yang urus agar kalian bisa melangsungkan pernikahan lagi."


"Apa ini nggak papa Ma? Apa aku tidak terdengar egois?"


"Ya tidaklah Amanda, ini hak kamu, kamu istri sahnya, maaf jika anak Mama menyakiti perasaan kamu. Kamu wajib mempertahankan rumah tangga kamu dan memperjuangkannya."


"Maksih Ma."


"Tidak usah terima kasih sayang, Mama yang merasa gagal mendidik Daniel menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Sudah kamu jangan sedih-sedih lagi, nanti kamu jadi kucel, tambah diatas angin wanita uler itu, kamu dandan yang cantik, lakukan perawatan dan susul Daniel kesana."


Amanda mengiyakan nasihat Dina, dia bak mendapat energi baru, apalagi Dina terang-terangan menjadi tidak menyukai Denisa.


*


*


*


Dia berbalik saat mendengar langkah kaki yang mendekat kearahnya. Wanita cantik yang usianya dibawah dua tahun lebih mudah darinya datang dengan senyum manis, senyum yang terpancar itu senyum tulus dari dalam hatinya.


"Hai Nis, apa kabar?" Amanda langsung menyambut Denisa dengan pelukan hangat, keduanya terlihat seperti adik kakak yang melepas rindu karena lama tak bertemu.


"Baik, Dok. Dokter Amanda apa kabar?" Amanda melerai pelukanya.


"Kamu maunya denger kabar apa dari aku? Yang pasti kamu senangkan mendengar begitu banyak kabar buruk tentang aku, Nis?" tanyanya menyindir.


Kening Denisa membentuk garisan halus mendengar ucapan Amanda yang tak ia pahami maksudnya. Tapi dia memilih diam.


"Aku nggak nyangka kalau keinginan aku cepat terkabul, ingin merasakan posisi seperti yang kamu rasakan dulu, Nis. Semua tinggal menunggu waktu saja." Kening Denisa makin berlipat dalam, tak paham arah ucapan Amanda.


"Tapi yang terjadi padaku, lebih elegan dari yang kamu lakukan dulu, kamu sampai harus menyerahkan mahkota kamu untuk mendapatkan cinta Daniel, tapi aku tidak! Daniel menikahi ku karena keinginannya sendiri. Dan aku yakin, dia akan mengejar aku karena salah melepaskan aku yang batu berlian, dan kamu ..." Amanda memandang Denisa dari atas hingga bawah, dengan tatapan meremehkan. Tanpa sadar telah membongkar aib rumah tangganya sendiri. "Ya kamu nilai sendiri siapa kamu." ujarnya menunjuk tubuh Denisa meremehkan.


Denisa mengepalkan tangannya mendengar ucapan Amanda, dan dia bisa menangkap maksud perkataan Amanda, jika dia dan Daniel sudah bercerai. Denisa membuang nafas meredam amarah yang ingin meledak.

__ADS_1


"Oh, jadi Dokter Amanda sudah diceraikan toh? Pantas Daniel begitu buas saat melakukan itu sama aku, dia bahkan mintak nambah, sampai lima kali, untung aku kuat mengimbanginya, tadinya aku pikir aku salah melakukan itu dengan suami orang, tapi aku tidak salah, karena kami sama-sama single, jadi nanti malam, tidak apa-apa jika kami melakukannya lagi."


Plakkkk


Nafas Amanda memburu setelah melayangkan tangannya ke pipi Denisa, sampai pipi Denisa tertoleh, meninggalkan bekas memerah dan menjalarkan rasa panas disana.


"Kamu memang murahan Denisa, harusnya kamu sadar kamu siapa? Kamu bukan apa-apa kalau bukan aku yang mungut kamu. Harusnya kamu tahu rasa terima kasih, udah ditolongin itu bisa balas budi, bukan malah jadi pagar makan tanaman. DASAR CEWEK FREAK, nggak tau diuntung, sebelum kamu datang Daniel itu selalu hangat sama aku, tapi semenjak kamu datang, dan kamu merayu dia dengan menggunakan Dara, Daniel jadi laki-laki yang kejam. Dia ceraiin aku setelah papa aku meninggal."


"Kamu nggak tahu kan gimana Daniel dulu, dia hancur gara-gara LO. Aku dan papa yang bantu dia bangkit dari keterpurukan. Dan LO, LO datang saat dia sudah kembali bangkit. Mati aja kamu Denisa, kamu itu keong racun buat orang-orang disekitar kamu."


Amanda begitu murkanya mendengar pengakuan Denisa, dia mendorong tubuh Denisa mengarah kelaut, Denisa yang tak siap jatuh, dan belum sempat bangkit, Amanda kembali menyerangnya dengan menjambak rambut Denisa, hingga kepala Denisa terdorong kebelakang, dan dengan tiada rasa kasihanya, Amanda terus menyerang wajah Denisa. Denisa yang lemah, tak bisa melawan, sampai dia tersedak saat ombak besar datang dan menggulung tubuhnya, Amanda yang dalam keadaan siap, bisa bertahan terhadap terjangan ombak.


Dia hanya melihat saja saat tangan Denisa melambai-lambai dalam gulungan air laut, dengan nafas yang terengah dia harap Denisa bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Namun Amanda tersentak saat ada seoarang laki-laki berlari dengan cepat, mengejar Denisa yang sudah jauh terombang ambing bersama arus laut.


*


*


*


Tak berbeda dengan Amanda, Dina yang memang sedang berada di Jakarta, datang mengunjungi rumah Delia dan Abian.


"Silahkan diminum Bu tehnya." Tawar Delia pada Dina.


Dina hanya memandang tak minat cangkir teh yang masih mengepulkan asap itu.


"Saya nggak mau berlama-lama ya Delia, langsung saja keintinya."


Delia menegakkan badan, sepertinya Dina akan mengatakan hal yang cukup serius. Dia diam, tak menyela, menunggu Dina melanjutkan ucapannya.


"Kamu kasih tahu sama adik kamu, jangan merebut laki-laki yang sudah menjadi istri orang. Kalau memang Dara butuh sosok papi, kami bisa mengurusnya, tanpa harus meminta Daniel menceraikan istrinya, jujur saya bingung sama sifat adik kamu, kenapa dia berbeda sekali dengan kamu dan adiknya yang memiliki harga diri yang tinggi."


"Maaf, Bu. Apa maksud perkataan Ibu?"


"Daniel sudah menikah, dan wanita yang dinikahi itu jauh lebih berkelas dari adik kamu, dia pemilik rumah sakit tempat adik kamu bekerja selama ini. Dan dialah yang memungut Denisa dari lumpur hitam, rapi apa balasan adik kamu, dia malah meminta Daniel menceraikan istrinya demi kebahagiaan Dara."


"Maaf Bu. Saya pikir anda salah menilai adik saya. Dia memang pernah melakukan kesalahan, tapi dia tak seburuk itu. Seharusnya Ibu berkaca dan tahu sifat asli anak Ibu sendiri sebelum menilai anak orang lain. Ibu pikir Ibu bicara dengan siapa merendahkan adik saya seperti itu? Anak Ibu sudah sejak dulu suka mempermainkan hati perempuan. Jadi anda jangan menyalahkan adik saya." Itu suara Abian yang baru datang bersama Dara dan kedua anak kembarnya.


Abian baru saja menjemput mereka dari sekolah, dan sangat marah saat mendengar perkataan Dina. Abian memang tahu betul bagaimana sepak terjang Daniel diwaktu masih muda dulu. Itulah sebabnya dia dulu begitu benci saat Daniel mendekati


"Seharusya anda berterima kasih pada keluarga istri saya, karena kehadiran merekalah anak Ibu bisa lepas dari lumpur hitam seperti yang Ibu maksud. Kalau tidak? Mungkin anak Ibu sudah mengalami banyak penyakit kelaminn." Lanjut Abian.


Dina berdiri, mengangkat kepalanya. "Aku ibunya, aku begitu tahu bagaimana anakku, bukan kamu yang justru mendorongnya kedalam dunia kehancuran," ucap Dina. "Padahal kedatangan ku sebenarnya bertujuan baik, untuk menyadarkan adik kalian dari jalan yang salah, tapi ya, kalian keluarganya, sudah pasti membela adik kalian walau dia salah besar."


Dina berlalu, dan berhenti saat melihat wajah Dara, wajah Dara yang mengingatkannya pada wajah Daniel saat masih kecil. Ingin dia memeluk Dara, tapi rasa marahnya membuatnya melangkah begitu saja.

__ADS_1


Notes : Untuk bab 42 itu kebalik ya, seharusnya bab 43. Dan bab 43 itu bab 42


__ADS_2