
Kedua sudut bibir Daniel terus terangkat membentuk lengkungan mengingat kejadian semalam. Memang tidak terjadi apa-apa, karena Denisa sangat menjaga jarak, dan Daniel juga ingin menjaga Denisa seutuhnya hingga waktunya nanti, sampai dia sudah pantas untuk Denisa. Walau sebenarnya setan dalam hatinya merayu untuk menggenggam kedua gunung kembar yang terlihat padat berisi mantan istrinya itu.
Hanya saja, melihat Denisa mengendap-ngendap keluar dari kamarnya di jam empat pagi, dengan wajah kesal sambil menggerutu, memakai kaos miliknya yang kebesaran, itu sangat terlihat lucu dan menggemaskan baginya. Tak pernah Daniel merasakan ini selama hidupnya, dia seperti abege yang sedang jatuh cinta, diusianya yang sudah menginjak 32 tahun, baru kali ini dia merasakan hal seperti ini.
Bagaimana tidak? Sejak remaja dulu, mudah sekali bagi seorang Daniel mendapatkan wanita, bahkan diusianya yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas saja, dia sudah bisa merasakan nikmatnya surga dunia, hanya dengan bermodalkan wajah tampan, motor gede tanpa harus merogoh kocek yang dalam, para wanita sudah menempeli dirinya, bahkan terkadang para wanita yang merupakan adik, teman sekelas, bahkan kakak kelasnya datang menawarkan dirinya demi bisa mendapatkan sentuhan Daniel, jadi diantak pernah merasakan nikmatnya masa pacaran diusianya.
Dan hal itulah yang membuatnya tak pernah merasakan jatuh cinta atau merasakan debaran saat hanya melihat atau bersentuhan dengan wanita, dan semua itu berakhir saat dia melihat Delia, kakak Denisa untuk pertama kali, apalagi saat ia tahu, ia harus bersaing dengan Abian, musuh bebuyutanya.
"Dicariin kemana-mana ternyata mojok disini." Suara Wahyu membuyarkan lamunan Daniel.
Daniel menoleh, Wahyu muncul dari tangga, terlihat wajah Wahyu terlihat kusut karena kurang tidur, bagaimana tidak kurang tidur? Jika dia harus tidur diluar, didepan dapur kapal, tanpa obat nyamuk atau lotion anti nyamuk.
Wahyu meletakkan laporan dimeja dihadapan Daniel.
Daniel hanya tersenyum saja melihat wajah menyediakan Wahyu, lalu mengambil laporan yang Wahyu bawa, memeriksa apa saja kendala dan yang dibutuhkan kapal, sebab kapal harus selalu dalam keadaan baik.
"Amanda hari ini akan tiba di Kupang, dia minta dijemput, katanya dari tadi nelpon ke nomor lo, tapi nggak diangkat-angkat."
"Belum sempat lihat hape," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari laporan ditanganya, walau dia mendengar penjelasan Wahyu, tapi dia tetap bisa berkonsentrasi membaca laporan.
"Dia minta dijemput di Kupang."
"Lo aja yang jemput."
"Nggak ah, kan dia minta lo yang jemput. Kalo kenapa-napa dikapal gimana? Katanya dia takut laut."
"Nggak akan kenapa-napa, itu cuma alasan dia aja. Bolak-balik Singapur memang dia naik apa?" Tahu jika itu hanya alasan Amanda saja.
"Eh, kalian belum mengumumkan kalau kalian sudah bercerai?" Tanya Wahyu tersadar status mereka, mengingat semalam Denisa tidur dikamar Daniel.
Daniel menggeleng. "Biar dia sendiri yang mengumumkan, bukan aku."
"Gue bingung sama cara pikir lo, dulu aja Denisa di cerai, giliran dia udah pergi jauh, dicariin, terus, udah ketemu nikahin Amanda, udah disahkan kan juga, pisah. Biarain aja sih, dokter cantik sama gue, kalo nggak sama cowok lain yang bukan penjahat cinta kayak lo."
"Denisa namanya," ralatnya tak suka jika ada laki-laki lain yang memuji mantan istrinya, yang akan ia ubah menjadi calon istrinya lagi.
__ADS_1
"Iya, iya, tapi emang cantik kok," ucap Wahyu menghalangi wajahnya dengan kedua siku saat Daniel ingin menimpuknya dengan map laporan yang ia lipat. Lalu Wahyu nyengir, melihat mata Daniel yang ingin keluar dari kelopaknya.
Wahyu mendesah, dia sudah berdiri di area jemputan bersama segerombolan orang yang juga menjemput sanak family, kerabat atau orang terkasih mereka. Ia kembali dijadikan tumbal oleh sahabatnya untuk menjemput Amanda di bandara El tari, Kupang. Matanya menelisik dengan leher yang terus memanjang mencari sosok wanita cantik diantara ratusan penumpang yang baru turun dari pesawat.
Dan matanya langsung menangkap sosok cantik bertubuh indah bak putri indonesia itu, dengan kaca mata hitam membingkai wajahnya yang memang sudah cantik dari lahir, tas branded di lengan kanannya, dengan rambut diikat tinggi memperlihatkan leher putih jenjangnya.
"Kamu sendirian?" tanya Amanda ketus saat sudah dihadapan Wahyu, karena tak melihat sosok Daniel disekitar Wahyu.
"Kelihatannya?" jawab Wahyu mengangkat bahu.
"Kan aku minta Daniel yang jemput," ujarnya kesal. "Kamu nggak kasih tahu dia."
"Dia nggak sempat, sibuk."
"Sibuk apa? Dia nggak ada kerjaan kan sebenarnya."
"Duhhh, komplain sendirilah nanti kalau sudah ketemu orangnya, jangan pula komplain sama aku." Sahut Wahyu mengambil koper milik Amanda.
Amanda memasang wajah horornya, tak ada ucapan terima kasih atau senyum yang ia berikan kepada Wahyu, walau itu hanya sedikit.
Kabar dan kedatangan anak pendiri rumah sakit apung sudah pasti terdengat oleh para dokter, dan kedatangan Amanda sudah sangat ditunggu, Denisa cukup terkejut dengan kabar kedatangan Amanda, dimana dia semalam baru saja tidur dikamar laki-laki itu, dan laki-laki itu tak memgatakan apapun padanya perihal kedatangan Amanda.
"Selamat datang, Dokter kita tercinta," ucap Dokter Gabriel, selaku wakil Direktur rumah sakit Citra Medika Healt, mengalungkan rangkaian bunga ke leher Amanda. Keduanya berpelukan.
"Terima kasih Dok, saya terharu, maaf baru bisa ikut bergabung kesini."
"Tidak apa-apa, kami mengerti," ujarnya dengan suara serak, menepuk pundak Amanda sebagai ungkapan sayang, dia ikut merasakan sedih atas berpulangnya papa Amanda.
"Entah apa yang harus saya ucapkan terlebih dahulu Dok. Ucapan bela sungkawa atau ucapan selamat atas pernikahan anda," dia melerai pelukanya, "yang pasti, saya ikut berbahagia atas pernikahan anda, semoga pernikahan anda langgeng sampai kakek nenek, cepat dipercaya mendapat momongan, percayalah Tuhan maha baik, dibalik kesedihan, ada kebahagiaan, setelah kehilangan, semoga segera diganti dengan kedatangan anggota baru."
Amanda hanya menanggapi dengan senyuman tipis ucapan dokter Gabriel, dalam hatinya menahan perih atas kenyataan yang terjadi dalam rumah tangganya, apalagi Daniel tak sama sekali menyambut kedatangannya, menambah kekesalan dalam dirinya, pasti banyak yang bertanya-tanya dalam hati, dilihat dai tatapan mereka. Namun dia sudah mengatasi sedikit masalah yang mungkin terjadi sebelum sampai disini.
Amanda kemudian, menyalami teman sejawatnya yang lain, mengucapkan terima kasih atas dedikasi mereka yang telah rela menyukseskan impianya, walau tanpa dirinya, para temanya mau menjalankan tugas mulia ini. Tapi satu yang menjadi sorotan para sejawat yang lain, dan tanpa disadari Amanda, jika dia melewati Denisa, mengabaikan tangan Denisa yang sudah terulur ingin bersalaman dengannya.
Ricko hanya diam melihat itu, dia sudah tahu permasalahan yang sebenarnya, seharusnya Amanda tidak boleh bersikap demikian, karena apapun yang terjadi padanya dan Daniel, Denisa tak tahu menahu.
__ADS_1
Amanda lalu mengunjungi para pasien yang sedang dirawat, dan para pengunjung yang sedang berobat, menanyakan kepuasan mereka atas kehadiran rumah sakit Citra Medika Healt ditempat mereka.
"Bagaimana, Pak. Apakah keberadaan rumah sakit kami menolong anda?"
"Sangat menolong Bu, saya sangat berterima kasih, kami bisa berobat gratis, diberi kemudahan tanpa harus ke Kupang, kalau mau operasi besar, karena fasilitas disini sangat lengkap."
"Alhamdulilah, saya senang mendengarnya. Selamat beristirahat, semoga cepat sembuh."
Kemudian Amanda kembali berjalan, mengunjungi pasien yang lain, terlihat sangat jika Amanda sosok yang ramah, berhati mulia, dari caranya bicara dan menyapa para pasien.
"Dokter Amanda nggak lihat apa gimana sih Dok? Bisa-bisanya dia melewati Dokter Nisa, katanya menganggap Dokter Nisa adik sendiri, masa dia melewati tangan Dokter Nisa yang mau salaman." Ujar Sisi sedikit kesal. Denisa yang sedang mencuci tangan hanya menoleh tanpa menjawab ucapan Sisi, dia juga tak tahu mengapa Amanda seperti itu padanya.
"Mungkin emang nggak lihat kali Si, biasa kan begitu kalau sedang ramai, apalagi Dokter Amanda baru sampai, dia pasti pusing dan kecapean, belum istirahat, tapi sudah menyapa pasien dan dokter lainnya, belum lagi dia harus keliling melihat rumah sakit ini."
Sisi tampak mengangguk, membenarkan ucapan Denisa, tanpa menaruh curiga.
Dan sisi lain, Daniel sedang menerima telepon dari mamanya.
"Daniel, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menceraikan Amanda?" Suara Dina terdengar kesal dan sangat marah.
"Memang itu kemaunya Ma."
"Kemauan dia bagaimana? Mana ada wanita yang mau diceraikan? Apalagi kamu melakukannya setelah papanya meninggal. Mama benar-benar nggak ngerti sama pikiran kamu Daniel, kamu buat Mama malu."
"Ini urusan Daniel Ma, Mama nggak perlu mikirin ini."
Terdengar sentaan kasar dari sebrang sana. "Mama nggak ngerti lagi sama yang kamu pikirin Daniel. Sebelum kamu ketemu Denisa, kamu nggak begini, tapi setelah kamu ketemu dia lagi, kamu berubah, kamu menyakiti Amanda, sama saja kamu menyakiti Mama Daniel."
"Ma."
"Dengar ya Daniel, sampai kamu balikan sama wanita murahan itu, Mama nggak akan merestui, dan Mama akan ambil anak kamu, cuma Dara kan yang menjadi alasan kamu ingin balikan sama dia."
"Mama, jangan sampai Mama melakukan itu, bukan Dara penyebabnya, tapi Daniel cinta sama Denisa. Mama jangan ikut campur apa yang Daniel lakukan."
Dina semakin emosi mendengar pembelaan Daniel. "Kamu lupa peristiwa lima tahun lalu, DANIEL? Siapa yang membuat kamu berada dijeruji besi? Keluarga wanita itu kan? Apa dia ada disaat kamu jatuh? Apa wanita itu ada disisi kamu?" Dina menggeleng diseberang sana.
__ADS_1
"Tidak, bukan dia, bahkan dia menghilang. Kamu harus ingat siapa yang membuat kamu bangkit dari keterpurukan kamu? Keluarga Amanda, bukan keluarga wanita itu, kamu harusnya ingat itu semua DANIEL." Dina begitu murka diseberang sana, apalagi saat Amanda mengatakan padanya, alasan Daniel menceraikannya.
Dina awalnya menerima kehadiran Denisa, dan kasihan pada Dara, berencana akan menemui Denisa dan Dara, tapi mendengar cerita Amanda, dia menjadi berubah pikiran menjadi kesal dan tak suka pada Denisa.