
Setelah mengetahui apa yang terjadi, Daniel naik ke kamar menemui istrinya. Di bingung ingin menceritakan hal ini atau tidak, jujur dia malu bercampur kesal menjadi satu, tapi tak tahu harus dilampiaskan seperti apa?
"Kak, ada apa?" tanya Denisa melihat raut gusar suaminya, Denisa keluar dari kamar anak-anaknya dan duduk disamping suaminya di tepi ranjang.
Daniel diam, menatap wajah Denisa kemudian menarik nafas.
"Mama, sayang."
"Mama Dina? Kenapa?"
"Hem, entahlah, aku harus cerita atau tidak, kamu pasti akan mentertawakan aku."
"Apa apa sih?" Denisa jadi semakin penasaran.
"Menurut kamu, wanita seusia mama aman nggak untuk hamil lagi?" Daniel memperhatikan ekspresi wajah Denisa setelah mengatakan itu, istrinya terlihat santai dan biasa saja.
"Semua tergantung dari fisik masing-masing sih," jawab Denisa juga menatap wajah suaminya, tiba-tiba mata Denisa membelalak. "Kak, apa mama?"
"Aku pikir kamu akan biasa aja."
"Gimana harus biasa aja? Ini kabar meng-" Denisa menghentikan ucapannya melihat perubahan raut wajah suaminya yang menatapnya sebal.
"Ya, ya alhamdulillah. Mama masih dikasih kepercayaan." Denisa jadi bingung sendiri.
"Tertawa aja kalo kamu mentertawakan aku, jangan ditahan, nanti ginjal kamu bergetar."
Denisa memeluk tubuh suaminya diiringi derai tawa yang tak bisa ia tahan lagi, dia sangat tahu apa yang dirasakan suaminya, pasti malu dan kesal, antara marah dan menerima kehadiran adiknya diusianya yang sudah menginjak usia 33 tahun. Daniel terlihat sangat menggemaskan jika sedang kesal seperti ini, ia yakin, Daniel tak ingin sampai Abian dan Mahesa tahu hal ini.
"Apa kabar bahagia ini harus aku umumkan di grup." Denisa menunduk untuk melihat wajah Daniel yang menempel didadanya.
"Sayang," rengek Daniel manja, lalu mengusap-usapkan wajahnya di dada sang istri yang kini semakin terlihat seksi. Denisa semakin terbahak.
"Nggak papa Kak mama hamil lagi, itu rejeki loh." Denisa mengusap rambut tebal suaminya.
"Tapi apa mereka nggak mikirin perasaan aku?"
"Aku yakin mereka tidak sengaja."
"Alasannya ki-kinan apa, aku lupa."
"Kirain aman nggak taunya jadi?" Daniel mengangguk. "Kita support mama, jangan membuat dia merasa bersalah atas rejeki yang dia dapat, buat mama selalu happy, itu yang akan membuatnya aman. Mama bukan wanita satu-satunya yang dikasih rejeki saat usia senja. Banyak diluaran sana yang sama seperti mama, nggak sedikit kok yang bisa lahiran normal, asal orang terdekatnya mendukung dan selalu memberikan suppor positif, pasti mama bahagia."
Pandangan Denisa beralih ke paperbag disamping suaminya. "Ini apa?" diambilnya peper bag itu, lalu membukanya, dengan tak sabar dia melihat isi dalamnya. "Hadiah dari siapa?" Denisa menjembreng tiga stel kaos dan celana jeans berwarna biru, kuning dan hijau untuk anak laki-laki yang lengkap dengan topi, dan sepatunya.
"Ih lucu." puji Denisa, "ada huruf D-nya juga."
Daniel mendengus kesal. "Kamu seneng banget kayaknya dapet kado itu, padahal norak."
Denisa menyipitkan mata sambil mengerucutkan bibirnya. "Ini lucu tau Kak, lihat tuh ada huruf D nya, niat banget deh nih yang ngasih buat Danish. Dari siapa sih?" Denisa kembali mengacak isi dalamnya, mencari nama si pemberi.
"Ih ada lagi," Denisa mengangakat sebuah kotak perhiasan, Denisa membuka kotak itu dan tercengang melihat isinya. "Kalung? liontin inisial D?"
Daniel cepat mengambil kalung itu dari tangan Denisa, dia tak kalah terkejut melihat liontin kalung emas putih berinisial nama istrinya.
"Si k****t, punya nyawa kucing dia ternyata."
"Ini dari siapa sih sebenarnya?"
"Sini semuanya, jangan diterima! Si dokter itu masih aja mau deketin kamu." Daniel mengambil pakaian dari Ricko, memasukkannya kedalam kotak dan paperbagnya lagi.
"Ini dari dokter Ricko?"
Daniel tak menyahut, dia sibuk mengemasi pakaian itu. "Kenapa dipulangin? Dia kasih buat anak kita loh Kak."
"Buat anak kita bagaimana? Jelas-jelas dia masih mau rebut kamu dari aku dengan kalung ini."
"Itu bukan buat aku, tapi buat Dara. Kalung itu kecil, bukan besar."
Daniel menghentikan kegiatannya mengemasi.
"Apa dia salah?"
"Terserah, lagian ngapain dia kasih hadiah kayak gitu? Apa nggak ada yang lain? Kenapa harus kalung berliontin nama kamu."
"D itu DARA bukan Denisa."
"Tetap saja, aku tidak suka. Jangan dipakai, aku bisa membelikan untuk anak ku."
__ADS_1
Denisa memilih mengalah dari pada menimbulkan masalah, suaminya masih saja cemburu pada dokter Ricko padahal dia sudah menjadi istrinya, padahal Denisa tak mungkin tergoda oleh laki-laki manapun, suaminya paket sempurna yang Tuhan kirim untuknya.
"Cintanya memang toxic, tapi aku senang diposesifin, diatur, bahkan dibatasi. Aku rasa memang begitu cara dia mencintai ku."
Denisa Anggraini.
"Aku tidak akan mengalah, yang namanya cinta memang harus diperjuangkan. Salah atau benar caraku, tergantung orang memandangnya seperti apa? Aku hanya memperjuangkan yang seharusnya menjadi milik ku. Bukan melepaskan seraya berkata, mungkin aku bukan yang terbaik untuk mu."
Daniel Danuarta.
.
.
.
.
Dua tahun berlalu.
Usia Dara sudah memasuki tujuh tahun, ia sudah masuk sekolah dasar bertaraf internasional, bukan hanya pada Denisa ia posesif, tapi Daniel juga sangat posesif pada Dara, jangan sampai ada yang mengganggu anak perempuannya, jika tidak, tamatlah riwayat mereka.
Danish juga sudah memasuki usia dua tahun, bicaranya memang belum lancar, tapi anak laki-laki menggemaskan itu sudah bisa berjalan sejak usia sepuluh bulan.
Hari ini mereka kembali ke Batam menghadiri pesta pernikahan Sisi dan Wahyu. Sungguh berita bahagia yang sangat mengejutkan Denisa, dia memang berencana menjodohkan keduanya, namun kesibukannya sebagai seorang ibu baru, istri dari seorang pengusaha, dan harus mengurus kliniknya yang semakin ramai, membuatnya lupa akan hal itu.
Denisa tak menyadari jika berhentinya Sisi dari kliniknya ternyata karena permintaan Wahyu.
"Padahal aku berencana menjodohkan kalian, tapi tanpa campur tangan ku, Tuhan mempersatukan kalian berdua."
"Alah, basi deh Dok," cibir Sisi jutek. Denisa tertawa.
"Maaf-maaf." Denisa masih tertawa, "berarti yang suka jemput di klinik itu kamu, Wahyu?"
"Hah? Siapa?" Wahyu terkejut, lalu memandang Sisi meminta penjelasan.
Hehehe "Itu hanya sekilas info Dok, cuma iklan yang numpang lewat, dia nggak tulus, maunya punya cewek cantik, putih, tinggi, langsing. Sudah aku buang jauh-jauh ke laut ancol biar dimakan ikan pari penunggu laut sana."
Wahyu bernafas lega.
"Jadi Wahyu menerima kamu apa adanya?" timpal Daniel ingin tahu, melirik Wahyu dan Sisi.
"Cubitnya nanti malam saja."
"Eh, ini adik Dara yang keberapa? Kok aku nggak dengar Dokter Nisa hamilnya?" Sisi mencubit pipi bocah laki-laki berusia satu tahun lebih yang digendong babysitter dibelakang Denisa.
"Titipan anak tetangga," jawab Daniel asal.
Denisa melotot. "Adik dokter Ricko dan ... adik suamiku."
"Apa?" Sisi dan Wahyu terkejut.
Hehe "Dokter Rudi dan mama hanya titip salam, mama sedang tidak enak badan."
Sisi dan Wahyu saling pandang, apa yang ada dalam pikiran mereka sama?
"Sayang, kita jangan kalah sama yang tua, ya. Tante Dina mau nambah lagi," ringis Wahyu.
"Sembarangan." Daniel menyomot bibir Wahyu. Takut jika ucapannya akan menjadi doa yang terkabul. "Satu saja sudah membuat ku malu setengah mati, jika menambah lagi, aku tidak akan mengakuinya adik." Sengit Daniel marah.
Bukan takut, Wahyu malah mentertawakan kemalangan Daniel mendapat adik diusianya yang tak muda lagi.
Dara yang sedang mengambil kudapan di stan buah dan kue, terdiam saat bertemu dengan anak laki-laki yang dulu suka membulinya dan mengatainya tak punya papa, dia juga bersama bocah perempuan yang seumuran denganya.
"Apa lihat-lihat? Kalian mau ngatain aku lagi? Aku kesini bareng papi aku." tunjuknya Daniel yang masih berbincang dengan Wahyu. Tada lagi rasa takut pada Dara akan dikatai temanya, dia menantang keduanya yang tersenyum miring, masih kecil saja mereka sudah sangat antagonis, ck.
* * *
Setelah kembali dari pesta pernikahan Wahyu dan Sisi. Denisa mengajak Daniel singgah kerumah lamanya yang ada di Batam.
Berdiri didepan pagar rumahnya, mata Denisa berkaca-kaca, lima tahun ia tinggal disini bersama Dara, banyak kenangan indah yang ia lalui bersama Dara, dimana ia mengurus Dara tanpa adanya drama air mata.
Dia dan Dara yang sering bertengkar karena Dara yang menginginkan waktu untuknya, Dara yang suka sakit jika tidak sengaja minum susu kotak, tapi tidak alergi dengan es krim, memang sedikit aneh.
Denisa melipat bibirnya, menahan air yang akan jatuh dari pelupuk matanya. Tak menyangka jika akan kembali bertemu mantan suaminya disini, dan kini menjadi suaminya kembali dengan jalan yang berliku, menyakiti orang-orang disekitar mereka tanpa mereka sadari.
"Daraaa ayo bangun sayang, Mami sudah telat."
__ADS_1
"Daraaa kok PR-nya nggak dikerjain? Ayo cepat kerjakan sekarang, Mami sudah telat."
"Daraa nggak sayang Mami lagi? Kok makanya nggak dihabisin? nanti kamu sakit, Mami sekarang lagi nggak bisa jagain Dara, Mami harus kerja."
"Dara, jangan main hape terus ya, nanti matanya sakit, nanti dibawah matanya hitam-hitam kayak mata panda, terus keluar darah, mau?"
Sungguh itu kenanganya bersama Dara yang tak akan ia lupakan.
"Sudah mengenang masa lalunya?" Daniel melingkarkan tangannya di perut Denisa, meletakkan dagunya dipundak istrinya. "Ini hanya masa lalu, jangan diingat jika itu membuat kamu sedih." Daniel memutar tubuh Denisa, mengapus air yang menggenang dipelupuk matanya.
"Makasih Kakak sudah hadir lagi dalam hidup kami."
"Stttt, aku yang seharusnya berterima kasih, kamu sudah memberi ku kesempatan kedua." Daniel menarik kepala Denisa, mencium kening Denisa lama.
"Rumah ini mau diapakan?"
"Dijual saja, sayang tidak ada yang menempati."
"Hem, aku akan menyuruh Wahyu menjualnya nanti."
Tak ingin membuat istrinya larut dalam kesedihan, Daniel memboyong keluarganya liburan bersama. Mobil mewah Daniel mengantar mereka ke pelabuhan.
"Kita mau kemana, Pi. Kok naik kapal?" Dara mendongak menatap papinya yang menggandengnya.
"Kita liburan naik kapal pesiar baru. Hadiah Papi buat Mami karena sudah menjadi ibu yang baik dan hebat untuk kalian." Daniel menarik pinggang Denisa yang menggendong Danish menggunakan kain jarik, meggecup pundak istrinya yang sedikit terekpos.
"Apa, Kak?"
"Kapal pesiar, happy two years anniversary for wedding."
"Horeee kita liburan." Dara jadi selalu suka jika diajak jalan-jalan, tanpa menghiraukan obrolan orang tuanya karena dia belum paham apa yang mereka bicarakan.
"Kak." Mata Denisa berkaca-kaca, haru.
"Yuk," Daniel mengajak sang istri berkeliling kapal itu, kedatangan mereka langsung disambut oleh petugas kapal, kapten, dan para kru lainnya.
"Kita akan mengelilingi benua Asia."
Belum selesai dibuat takjub oleh hadiah Daniel, Denisa dibuat terkejut dengan pernyataan suaminya.
"Apa?" Daniel hanya mengulas senyum lebar, dia akan selalu memberikan kejutan untuk Denisa.
Setelah mengelilingi lantai satu, Daniel mengajak Denisa untuk menaiki tangga menuju lantai dua, dimana kamar yang akan mereka gunakan untuk beristirahat. Kapal pesiar milik Daniel memang tidak terlalu besar dan mewah. Kapal ini ia pesan khusus untuk keluarga, jadi hanya memiliki lima kamar, tapi memiliki fasilitas yang lengkap.
Ada kolam renang berada di deck atas, tempat bermain anak dengan wahananya, tempat karaoke dan ruang bioskop pribadi. Denisa dibuat takjub oleh kemewahan yang diberikan suaminya.
Dara yang baru pertama kalinya naik kapal pesiar tak henti-hentinya berlari kesana kemari, ditambah ada wahana bermain prosotan, jungkat jungkit, dan istana baloon berukuran kecil, makin senang saja Dara. Danish yang baru berusia dua tahun pun tak mau ketinggalan. Dia kadang tertawa girang mengejar Dara, sedangkan Rado, anak Dina, bermain dengan pengasuhnya.
Daniel dan Denisa berdiri ditepian kapal, menyandar di pembatas besi bercat putih memperhatikan anak mereka. Tangan Daniel terus merangkul pinggang istrinya posesif.
"Satu persatu impian ku membahagiakan kalian tercapai, teruslah sehat sayang. Karena aku akan mengajak mu keliling dunia sampai kita menua. Jangan pernah bosan dengan ku." Daniel mengubah posisi mengurung tubuh Denisa diantara kedua tangannya yang berpegang pada besi pembatas. Menyelami manik coklat istrinya, ada banyak cinta dan ketulusan yang ia temukan.
"Terima kasih atas semua usaha Kakak, aku nggak akan bosan. Karena impian ku hidup bersama Kakak."
Denisa mengalungkan tanganya di leher Daniel, Daniel merapikan rambut panjang Denisa yang tertiup angin laut, wajah istrinya semakin hari semakin terlihat sangat cantik, pandanganya berpindah ke bibir tipis Denisa, Daniel mengulum bibir, ada gejolak dalam dirinya yang meronta-ronta.
"Sayang aku kangen ini," diusapnya pelan bibir Denisa, Denisa menguluum bibir malu, mukanya pun memerah. Padahal mereka sudah lama menikah, tapi Denisa masih suka malu-malu membuat Daniel gemas.
Daniel menoleh le belakang.
"Mba, titip anak-anak sebentar ya. Lima belas menit, kalau mereka rewel kasih hape." Bicaranya pada pengasuh anak-anaknya dan Rado
"Iya, Pak." sahut pengasuhnya berbarengan.
"Emang kalian mau kemana?"
Suara yang sangat familiar ditelinga Daniel membuat mereka menoleh.
"Aa Bian, Mahesa!" gumamnya terkejut, "Kok kalian ada disini?"
Abian muncul dari tangga bersama istri dan anaknya, disusul Mahesa dan Dania beserta anak-anaknya juga.
"Astaga, kenapa jadi rombongan."
"Kita juga mau liburan, nyobain kapal pesiar baru, sayang kan kalau kapal sebesar nggak ada isinya."
Daniel hanya menghela nafas, bahunya melemah, hari-harinya yang sudah ia rancang sebaik mungkin menghabiskan waktu berdua dengan Denisa akan menjadi kacau.
__ADS_1
"Dasar pengacau." gerutuknya.
"Sabar ya." Denisa terkekeh menepuk punggung suaminya, menyambut kedatangan saudara-saudaranya.