My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Akan Mencari Tahu


__ADS_3

"Sayang, kamu nggak papa?" tanya Daniel panik, ia meletakkan tas kerjanya diatas nakas, duduk disisi Denisa, Denisa duduk menyandar di kepala ranjang. Tanganya memeriksa kening, leher, hingga seluruh tubuh istrinya, raut khawatir begitu kentara diwajah Daniel melihat tubuh lemah istrinya.


"Kok Kakak udah pulang?" tanya Denisa heran, masih siang suaminya sudah pulang, suaranya terdengar sangat lemah.


"Tadi aku telepon kamu, tapi nggak diangkat-angkat. Aku telepon Mama, kata Mama kamu sakit, makanya aku langsung pulang."


"Aku nggak Papa, Kak. Tadi sudah berobat, Kakak nggak perlu khawatir." Denisa masih enggan memberi tahu perihal kehamilannya, dia takut.


"Bagaimana aku nggak khawatir, sayang. Kamu lagi sakit, bikin aku nggak bisa konsentrasi bekerja, aku nggak perduli seberapa banyak pekerjaan dikantor, prioritas aku kamu dan Dara sekarang," pandangan Daniel berpindah pada Dara yang tidur memeluk paha Denisa.


Dari sorot mata Daniel, Denisa dapat merasakan jika Daniel begitu mengkhawatirkannya, apa mungkin Daniel tidak mempermasalahkan jika nanti tubuhnya berubah seiring membesarnya kehamilannya.


"Anak kita temenin kamu?" tanyanya mengusap rambut depan Dara.


"Iya, pas aku bangun dia udah tidur disini."


"Katanya dia sayang sama maminya, makanya dia temani kamu disini." Suara Dina membuat Daniel memutar tubuhnya.


"Eh ada Mama?"


"Bukan, hantu." sahut Dina ketus.


Daniel terkekeh. "Maaf Ma, gitu aja ngambek."


"Ah lupakan, kedatangan kamu menganggu acara Mama."


"Ganggu acara Mama?" tanya Daniel mengerutkan keningnya, "keberadaan Mama kayaknya yang bikin aku terganggu, Mama nggak bisa keluar dulu, gitu? Aku mau berduaan sama istri aku, mau obrol masalah rumah tangga. Mama balik ke kamar aja, nonton sinetron kesayangan Mama."


"Sombong sekali anda anak muda, mentang-mentang sudah punya istri. Dasar anak nakal," omel Dina, dia bangkit dari duduknya, memukuli punggung Daniel yang masih terbungkus jas kerjanya.


Denisa tersenyum melihat pertengkaran antara ibu dan anak ini, tak menyangka jika suami dan ibunya sedekat ini, setahu Denisa, Dina itu wanita serius dan mudah marah.


"Makanya Mama cari pasangan, jadi nggak curhat sama pasangan orang, kan ganggu jadinya," ledeknya, mendudukkan pantat dikursi yang tadi di duduki Dina.


Mata Dina membola, dia semakin murka saja "Dasar anak durhakim, kamu nguping pembicaraan Mama tadi? awas kuping kamu bintìtan, tahu begitu nggak Mama restui kamu menikah, biar jomblo seumur hidup, Denisa mama kas8h jodoh yang lebih sempurna."


"Nyatanya kan nggak ada yang bisa sempurna menjadi papi Dara, cuma aku," tangan Dina berpindah menjewer telinga Daniel.


"Aduh sakit, Ma," rintihnya memegangi telinga sebelah kanannya.


"Makanya jangan suka nguping."


"Bukan nguping, cuma nggak sengaja denger," ralatnya ngeles, "Mama lepas, Ma. Nanti kuping aku putus, nggak akan aku restui Mama nikah lagi."


"Mama nggak butuh restu kamu, Mama cuma minta pendapat menantu Mama yang pintar dan cantik ini, bukan anak bodòh kayak kamu." Dina belum melepaskan jeweranya.


"Nggak boleh gitu, Ma. Restu anak itu penting."


"Iya tapi bukan restu kamu, tapi restu menantu Mama."


Perut Denisa sampai sakit mentertawakan kelucuan keduanya, sebenarnya tadi dia merasa sedikit mual saat Daniel duduk didekatnya, tapi rasa itu menguap dengan sendirinya, melihat kekonyolan ibu dan anak yanh terlihat saling menyayangi itu.


Keributan Daniel dan Dina mengusik tidur Dara, Dara membuka mata, melihat neneknya sedang menjewer telinga papinya.


"Nenek kenapa jewer, Papi?" tanya Dara bangun seraya mengucek mata, Dina langsung menghentikan aksinya.


"Eh, cucu cantik Nenek sudah bangun. Papi kamu nakal, makanya Nenek jewer," ujar Dina melepaskan jeweranya, memutar ranjang dan duduk disamping Dara. Dina merapikan rambut Dara yang acak-acakan seperti singa bangun tidur, lalu mencium rambut cucunya sayang. "Maaf ya, suara Nenek berisik, kamu jadi kegannggu."


"Papi pulang cepat?" tanyanya menoleh kearah Daniel.


"Iya, kan Mami lagi sakit, jadi Papi pulang cepat."


"Iya Pi. Makanya Dara temani Mami, nggak mau tinggali Mami sendirian, kan kalau Dara sakit, Mami selalu temani Dara." Denisa tersenyum bangga, dan Dara langsung memeluknya.


"Kalau gitu, kita jagain maminya bareng-bareng, sini, peluk Papi juga donk, masa Mami doank yang dipeluk." Daniel merentangkan tangannya, meminta Dara juga memeluknya.


"Sama istri aja cemburu," Dian mencebik.


"Biarin."


"Makasih ya anak Papi, udah mau jagain Mami." dikecupnya seluruh wajah Dara.


"Iya, kan Dara udah besar, nanti mau dapat dedek bayi, makanya Dara harus jagain Mami."


"Wahhj, semoga sakitnya Mami karena ada dedek bayinya." Sahut Daniel semringah.


"Iya, Mi?" Dara menatap Denisa bertanya. "Mami kan dokter, pasti tahu kalau didalam perut Mami ada dedek bayinya."


Degh.


"Nggak sayang, Mami cuma kecapean."


"Oh ya sayang, kamu terakhir dapat tamu bulanan kapan?" kini Dina ikut menyelidik, dia sebenarnya sudah menduga sesuatu, melihat tadi pagi Denisa muntah-muntah, seperti gejala orang sedang ngidam.


"Denisa lupa, Ma." kilahnya.

__ADS_1


"Coba kamu tespack, siapa tahu memang benar."


Denisa menunduk sedih. "Sebenarnya pagi tadi Denisa sudah tes, Ma."


"Terus?" tanya Daniel tak sabaran, Denisa menggeleng.


"Yasudah, nggak papa sayang. Aku akan bekerja keras lagi."


.


.


.


Malam hari.


Setelah makan malam, Denisa dan Daniel kembali ke tempat tidur. Denisa sebenarnya tak jadi makan, sebab dia terus merasa mual. Jika begini, seberapa lama dia bisa menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya, jika perutnya tak bisa diajak kompromi.


"Kamu kelihatan pucat banget, tadi nggak jadi makan, apa aku pesankan makanan. Ada yang kamu pengen?" Denisa menggeleng.


"Sudah malam, Kak. Aku pengen tidur aja." Denisa menarik selimut, membelakangi suaminya. "Kakak jangan ganggu aku dulu ya? perut aku lagi nggak enak banget."


Daniel menarik nafas melihat Denisa membelakanginya. "Iya, kamu tidur saja." Ingin dia marah, tapi tak tega melihat wajah lemah istrinya. Akhirnya Daniel ikut masuk kedalam selimut, memiringkan badan, memperhatikan punggung Denisa yang terlihat kuyuh.


Denisa tiba-tiba membalikkan badan. "Aku minta maaf ya Kak."


Daniel tersenyum, memperhatikan wajah cantik istrinya, Daniel baru menyadari, jika wajah Denisa terlihat lebih bersinar dan bercahaya, meski sedikit pucat, pokoknya wajah Denisa berbeda dari kemarin-kemarin.


"Kak, jika aku hamil, terus aku jelek. Apa Kakak nggak akan selingkuhin aku?"


"Sepertinya pertanyaan kamu nggak perlu aku jawab, ada pertanyaan lain, mungkin."


"Aku serius, Kak." Denisa menatap serius wajah Daniel didepanya, berjarak sedikit jauh, dia tak mau mencium bau badan Daniel. "Wanita hamil cenderung berubah, badanya berubah, wajahnya juga berubah, sikapnya juga berubah, meski aku dandan, tapi tetap jelek. Apa Kakak tetap sayang sama aku."


Tangan Daniel menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Denisa yang menghalanginya untuk menatap wajah cantik itu.


"Aku rasa pertanyaan itu juga nggak perlu dijawab, aku mau pertanyaan lain." Daniel menatap dalam-dalam bola mata coklat Denisa yang tak membuatnya bosan memandanginya.


"Kak, aku serius. Jawab dulu pertanyaan ku." ujar Denisa manja, dan itu membuat Daniel semakin gemas, sebenarnya Denisa bicara biasa saja. Tapi ditelinga Daniel, itu terdengar seksi, membangkitkan sesuatu dari dirinya.


"Harus ya?" Denisa mengangguk.


Biar aku nggak perlu menyembunyikan kehamilan ku.


"Kalau kamu jelek, aku tinggal bawa kamu ke salon." Denisa mengerucutkan bibirnya kesal, jawaban Daniel tak membuatnya puas.


"Pertanyaan apa?"


Daniel sedikit berpikir. "Kak, kamu pengen gak? gitu."


"Ish, nggak mau. Kan aku udah bilang, aku nggak mau dekat-dekat Kakak dulu."


"Hmmm yaudah, jawabnya nanti, kalo si juniòr udah dikasih jatah."


"Kakak nggak fair." Denisa kembali membalikkan badannya membelakangi Daniel.


"Kalau kamu tidur belakangi aku, aku bakal peluk kamu dari belakang loh, Mi." ucap Daniel sedikit mengancam.


Terpaksa Denisa membalikkan badannya. "Tapi jangan dekat-dekat." titahnya memperingati, Daniel terkekeh.


"Baik tuan putri."


Awalnya Denisa pura-pura memejam, dia merasa jika Daniel memperhatikanya, hal itu membuat jantungnya berdebar hebat. Perlahan dia mengubah posisi tidurnya terlentang, untuk menghindari Daniel. Kemudian tak lama dia mengubah menjadi membelakangi Daniel.


.


.


.


"Kamu nggak tidur?" Dina menghampiri Daniel yang sedang menghembuskan asap rokok dari mulutnya, Dina duduk disamping Daniel.


Jam sudah menunjukkan pukul dua, Dina tadinya mau minum, mendapati pintu depan terbuka, dia penasaran, dan dilihatnya Daniel duduk seorang diri sambil menikmati batang tambakaunya.


Daniel menggreus puntung rokoknya, ada Dina, tak ingin mamanya terpapar penyakit, dan menjadi perokok pasif.


"Aku takut, Denisa sakit apa ya, Ma?"


Dina diam sejenak. "Dari gejalanya, Mama rasa Denisa hamil."


"Tapi tadi siang dia bilang sudah tes."


"Kamu nggak ngerasa Denisa seperti menyembunyikan sesuatu?" Daniel menggeleng menatap mamanya. "Mungkin saja dia sengaja menyembunyikan itu, karena ada yang dia takuti."


"Maksud Mama?"

__ADS_1


"Mungkin jika dia hamil, dia takut kasih sayang kamu terhadap dia berubah."


Daniel mengingat obrolanya bersama Denisa barusan, dia segera masuk kerumah dan naik ke lantai dua dimana letak kamarnya berada.


Dina menggeleng melihat itu. "Selamat ya, Nak. Kamu akan kembali menjadi ayah. Semoga kamu menjadi ayah yang bertanggung jawab." Dina pun bangkit dari duduknya masuk ke rumah, udara malam itu terasa dingin, sampai menusuk kedalam tulangnya.


Baru saja Dina akan menarik selimut, ponselnya berdering. Dina tersenyum mendengar suara deringnya, itu suara dering yang ia khususkan orang terspesialnya.


"Halo, cantik. Kamu belum tidur?"


Dina memelintir rambutnya sambil tersenyum genit, meski lawan telponya tak melihat itu. "Belum, kalau aku sudah tidur, terus siapa yang angkat teleponnya." Dina menggigit bibirnya, tersenyum-senyum sendiri.


"Eh iya ya. Hari ini kita nggak bertemu, aku sudah rindu berat."


Hati Dina langsung berbunga-bunga mendengar gombalan receh dari kekasihnya. "Ah masa sih?"


"Benar, makanya aku pulang dari klinik larut malam. Mencari kesibukan, biar nggak terpikirkan kamu terus."


"Menantu kesayangan ku sakit, jadi aku harus menjaganya."


"Hmm mungkin kita akan segera dapat cucu baru."


Ihiww, bukan hanya hati Dina yang berubah menjadi kebun bunga, tapi, kamarnya juga seolah dipenuhi kelopak bunga mawar merah bertebrangan diudara. Kata kita yang disebutkan kekasihnya membuat hatinya tak bisa menampung lagi rasa bahagianya.


"Cantik, apa kamu sudah ngobrol sama menantu kita perihal niatan aku ingin membuat kita bisa satu rumah?"


"Belum, tadi sudah mengarah kesana, tapi keburu Daniel pulang."


"Apa kamu sudah memantapkan hati kamu cantik?"


Dina diam sejenak. "Tapi ... apa hubungan kita ini tidak akan menjadi bahan gunjingan orang. Mengingat umur kita yang sudah kadaluarsa ini?"


"Siapa bilang cantik? Kita belum kadaluarsa, justru seumuran kita lagi lucu-lucunya. Aku akan membuat pesta pernikahan kita lebih meriah dari pernikahan Raffi Ahmad kalau kamu mau, biar kita viral kayak orang-orang."


Sungguh jika dibilang puber, papa Ricko ini bisa dibilang puber ketiga, bukan kedua lagi. Entah sampai jam berapa obrolan mereka berlanjut, seperti tak ada kata bosan, sehari tak bertemu, membuat keduanya saling merindu berat. Hingga panggilan itu terputus sendiri, karena daya baterai keduanya sama-sama habis.


*


*


*


Perut Denisa kembali terasa bergejolak, dia membuka mata, dilihatnya tangan Daniel sudah melingkar diatas perutnya, dengan wajah Daniel menempel diceruk lehernya. Pantas saja perutnya terasa sangat mual, jarak mereka sangat dekat.


Tak bisa ditahan lagi, Denisa segera turun dari tempat tidur, dan berlari ke kamar mandi.


Howekkk


Howekkk


Daniel yang sedang memeluk Denisa sudah pasti tersentak, ditambah suara Denisa dari dalam kamar mandi yang terdengar sangat keras. Daniel segera melompat dari tempat tidur, ingin melihat keadaan istrinya.


"Sayang, kamu muntah lagi." Daniel memijit-mijit tengkuk Denisa. Denisa masih terus mengeluarkan isi perutnya, sampai isi perutnya terasa kosong.


Denisa tak sanggup lagi menjawab, dia berpegangan pada wastafel untuk menopang bobot tubuhnya, dia merasa sangat lemas.


Daniel yang melihat itu langsung membopong tubuh Denisa, dan merebahkannya dikasur.


Daniel membuka lagi nakas mencari minyak kayu putih. Setelah mendapatkannya, ia menyingkap piyama Denisa dan membalurkan minyak itu diatas perut sang istri.


"Gimana? Enakan?" Denisa mengangguk, memang wangi minyak itu membuatnya sedikit rileks.


"Makasih, Kak."


"Hem, kamu tunggu disini, aku buatkan teh hangat."


Sesampainya dibawah, Daniel menceritakan itu pada Dina, dan diam-diam dia menelepon dokter tanpa sepengetahuan Denisa.


.


.


.


Disisi lain. Ricko sedang mengantarkan Amanda ke bandara. Amanda ingin pergi liburan ke bali seoarang diri, untuk menenangkan hatinya. Entahlah, Amanda tak tahu apakah langkah yang diambilnya ini bisa menghibur dirinya apa tidak.


Tapi ia ingin mencoba saran dari Ricko.


"Kamu hati-hati disana. Jangan bergaul dengan sembarang orang, disana kamu cuma sendiri, jangan sekali-kali pergi ke klub." pesan Ricko pada sahabatnya.


"Iya, aku tau. Kamu ngingetin aku sama papa aku aja Ric, ngasih wejangan anaknya yang mau pergi sendiri."


"Nggak papa, kamu anggap aku papa kamu juga nggak papa. Yang penting setelah pulang dari sana, kamu harus udah dengan pikiran yang fresh. Sudah dengan Amanda yang dulu."


Amanda menarik travel bag mini miliknya, ia semoga saja dia sudah kembali dengan hati yang lebih baik. Semoga hanya dia yang menjadi bodoh karena cinta, semoga tak ada yang mengalami seperti dirinya.

__ADS_1


Karena pada akhirnya, akulah pengobat hati ku sendiri, akulah penyembuh atas penyakit hati ku. Aku pemilik seluruh kebahagiaan diriku sendiri, tak ada satupun yang bisa memberikan kebahagiaan itu, kecuali diriku sendiri, walau ini sulit dan sakit, aku akan mengobatinya, akan kutahan perih dan sakitnya, hingga luka itu benar-benar sembuh.


Jika boleh meminta, dari awal aku tak ingin dipertemukan denganya.


__ADS_2