My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Eksekusi


__ADS_3

"Ma, Denisa boleh minta tolong nggak, jangan tinggalkan Mahesa sendirian? Denisa mau keatas lihat Kak Daniel." pinta Denisa pada Dina.


Setelah mendengar penjelasan ibu mertuanya tadi, Denisa bisa menebak jika Mahesa mabuk buah kecubùng, walau Dina belum mengatakan apa-apa. Dulu dia pernah mendapat pasien dengan gejala yang sama.


"Tapi Dara!" ucap Dina memelas, dia juga tak mau meninggalkan cucu kesayangannya. Sekarang, dia tak mau sedikitpun berjauhan dengan Dara, pokoknya, kalau bisa, dia ke kamar mandi pun, Dara ikut bersamanya.


Pandangan Denisa beralih ke Dara yang tak lepas dari genggaman tangan Dina.


"Dara ada PR nggak sayang?" menghampiri dan mengèlus rambut Dara.


"Ada ,Mi."


Denisa tersenyum tipis pada anaknya. "Om Mahesa lagi sakit, Nenek harus jagain Om Mahesa dulu, Dara belajar sendiri dulu ya dikamar." pintanya berkata selembut mungkin, dia tak mau Dara melihat ke absurtan tingkah om dan papinya nanti, walau sebenarnya Dara sudah melihat terlebih dahulu.


"Emang Om Mahesa lagi sakit?" Denisa mengangguk. "Om Mahesa sehat, Mi. Om Mahesa, papi, om Abian itu lagi main. Dara juga mau ikutan main." ucapnya merengek.


"Nggak boleh sayang, Om Mahesa itu lagi sakit."


"Mami sama Nenek nggak asik, Dara nggak bolehin main sama papi dan om Mahesa." potong Dara mulai merajuk, dia berpikir jika tiga lelaki tampan itu, sedang bermain permainan yang lucu dan seru menurutnya.


Dimana saat dia sampai rumah bersama Dina, Dara melihat Abian ditaman depan sedang duduk didalam lubang yang Abian gali sendiri sebatas tumit, lalu ia masuk kedalam lubang tersebut seraya duduk. Dan saat Dina bertanya, jika dirinya sedang menjadi jamur.


Dara dan Dina tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya, jawaban Abian sangat lucu.


"Kamu itu ada-ada aja, Abian." Abian diam merespon.


"Nek, Dara ikut main om Abian, ya?" pinta Dara mendongak menatap Dina.


Dina melihat Abian, tak ada respon Abian Dara yang ingin ikut bermain bersamanya, yang Dina pernah dengar, jika Abian sangat menyayangi Dara, mana mungkin Abian diam saja mendengar permintaan Dara


"Boleh nggak, Nek?" tanya Dara ulang.


"Nanti saja ya sayang, kita masuk dulu." rupanya Dina cukup peka, jika sedang ada yang tidak beres pada Abian, mana mungkin seorang Abian Philips Hamzah melakukan hal konyol seperti ini, jika sedang tidak terjadi sesuatu.


Dan saat mereka masuk kedalam rumah, mereka melihat kejadian lebih absurt lagi. Daniel sedang berendam didalam bak mandi dapur, dan saat Dina tanya, Daniel menjawab, jika dia adalah raja laut. Bertambah senang saja Dara mendengarnya, dan dia ingin ikut bermain bersama papinya.


Dina kembali melarang Dara, dia membiarkan Daniel bermain air seperti anak kecil, sampai menciprat ke bajunya. Dina mengajak Dara masuk ke kamar nya saja berharap Abian dan Daniel sudah selesai dengan permainan mereka.


Sampai dia selesai mandi, tapi Abian dan Daniel masih ditempatnya, ia masih belum menyadari keberadaan Mahesa yang setengah berdiri dibawah tangga.


"Ada apa mereka ini?" gumam Dina, cukup heran dengan tingkah Abian dan Daniel. Sungguh tidak lucu mereka bermain-main terlalu lama seperti anak kecil seperti ini.

__ADS_1


Tak tega, karena hari mulai gelap, Dina meminta Abian masuk, dan menyuruh Daniel keluar dari bak mandi, karena dia takut Daniel menjadi sakit. Namun semua sia-sia, mereka tak ingin beranjak dari tempat itu.


Sedikit panik melihat tingkah keduanya, Dina meminta pertolongan pada satpam komplek dan tetangga untuk membopong Abian masuk, dan mengangkat Daniel dari bak mandi. Setelah itu baru Dina teringat untuk menghubungi Denisa.


"Bu, dari gelagatnya anak-anak ibu ini mabuk buah kecubùng," ujar salah seoarang satpam memberi tahu Dina.


"Hah? Apa itu buah kecubung?" Dina merasa aneh dengan nama buah tersebut, karena dia tak pernah mendengar nama buah itu seumur hidupnya.


Satpam itu merogo ponsel, lalu mengetikkan jarinya diatas layar ponsel itu, menunjukkan gambar buah kecubung pada Dina.


"Ini efek dari buah itu, Bu." Bahu Dina melemas setelah membacanya.


"Apa iya mereka sedang halusinasi."


* * *


Setelah Dara bisa dibujuk dengan diberikan ponsel dan bermain game, Denisa melihat keadaan Abian yang diamankan dikamar tamu.


Sebelum masuk, Denisa menyiapkan kamera, ingin merekam momen yang bisa membuat mereka malu jika melihatnya nanti. Pintu kamar terbuka, Denisa mencari keberadaan Abian. Kakak iparnya itu sedang berdiri disamping pintu sedikit membungkukkan badan.


"Kakak lagi apa disini." tanya Denisa dengan kamera yang sudah stand by.


"Aku lagi jadi rak sepatu." jawab Abian random.


Denisa menutup mulut menahan tawa mendengar jawaban Abian, tadi kata Dina Abian jadi jamur, kini dia sudah berubah jadi rak sepatu. Apalagi letak Abian berdiri tepat disamping pintu, persis seperti ibu-ibu biasa meletakkan rak sepatu.


Hahahaha


Sungguh ajaib halusinasi yang Abian rasakan, Denisa tak dapat lagi menahan tawanya, ada-ada saja, dia sampai harus menyusut air di sudut matanya, saking lepasnya dia tertawa.


Apa tidak ada benda yang lebih keren lagi cara mereka berhalusinasi? Tadi Mahesa jadi galon, sekarang Abian jadi rak sepatu, astaga, Denisa dibuat geleng-geleng sendiri.


"Yaudah deh, Kakak nikmatin aja jadi rak sepatu, sampe Kak Delia datang. Eh ingat nggak sama Kak Delia?" sengaja memancing, ingin tahu jawaban Abian.


"Delia si rak sepatu?" Hahahaha. jawab Abian dengan tawa menggema, Denisa jadi ikut tertawa. "Ingatlah, dia rak sepatu cantik."


Oh masih inget, palingan juga abis ini dimarahi sama Kak Delia, nyamain sama rak sepatu. Hihihi Denisa terkikik sendiri. Denisa tak sabar menunggu kedatangan Delia dan Dania.


"Jadi kamu tahu, Denisa. Penyebab mereka seperti itu?" tanya Dina saat Denisa melewati ruang keluarga, disana dia bisa menjaga kamar Dara, sekaligus Mahesa.


"Iya, Ma. Mereka sepertinya mabuk buah kecubùng, Mama tahu?"

__ADS_1


"Tadi Mama dikasih tau sama satpam depan, tapi Mama belum tahu pasti, jadi Mama nunggu kamu. Apa ini nggak bahaya?"


"Sepertinya yang mereka makan cuma sedikit, Ma. Jadi ini nggak terlalu berbahaya. Tadi Denisa nggak sengaja lihat bekas mereka makan ditempat sampah, cuma sedikit yang mereka gigit," jelas Denisa.


"Terus kita harus apa?"


"Kita biarin aja dulu, Ma. Denisa sudah pesan kelapa hijau, sama susu murni sebagai penawarnya."


"Bisa?" tanya Dina dengan wajah berbinar, jujur dia khawatir dengan keadaan Daniel.


"Mudah-mudahan bisa, Ma. Denisa keatas dulu ya, Ma. Lihat Kak Daniel." izinya.


"Iya, iya, iya." Jawab Dina seraya mengangguk. Dina melihat raut tenang Denisa, berarti ini tak begitu mengkhawatirkan, mungkin menantunya ini pernah mendapat pasien yang sama dengan yang dialami anaknya ini.


"Kak!" panggil Denisa, mencari keberadaan Daniel dikamar. Suaminya tak terlihat di tempat tidur, Denisa menuju kamar mandi, benar saja, Daniel ada disana, berendam didalam buthtup.


"Kakak lagi mandi?" tanya Denisa menghampiri sang suami, ingin tahu, suaminya ini jadi apa?


"Stttt, aku lagi jentik nyamuk." jawab Daniel tanpa menoleh kearahnya, suaminya itu diam, kemudian berenang menirukan gaya jentik nyamuk saat di dalam air. Dengan menggerakkan pantattnya naik turun.


Ingin rasanya Denisa tertawa, tapi kesal muncul disaat bersamaan, apakah ketiga laki-laki ini tak ada yang tahu efek dari buah yang mereka makan?


Awas saja, setelah ini Denisa akan memarahi suaminya habis-habisan.


Denisa bersedekap, memperhatikan tingkah Daniel yang persis seperti orang gila. Wajah tampanya tak sedikitpun menarik lagi.


Tak lama Delia dan Dania, datang bersamaan dengan kelapa hijau dan susu murni pesanan Denisa.


Denisa langsung menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


Antara kesal, marah, namun juga lucu itulah yang saat ini dirasakan Delia, dan Dania melihat tingkah suaminya.


"Terus, apa yang harus kita lakukan sekarang, Dek." tanya Delia saat sudah mengamankan anak-anak mereka dikamar Dina. Dia pernah mendengar orang mabuk buah kecubùng, tapi menangani secara langsung, dia tak pernah.


"Kita kumpulin aja mereka bertiga dikamar tamu. Kakak bantu aku nurunin kak Daniel. Kita suruh mereka minum air kelapa sampai mereka mùntah, baru kita kasih susu murni biar nggak lemes."


"Kita ikut saran Kakak aja. Yuk kita eksekusi sekarang, Dania udah gemes soalnya. Pengen sekali jejalin itu air kelapa sampai dia muntah-muntah, masa nggak tahu efek buah kecubùng."


Denisa dan Delia terkekeh melihat Dania yang begitu semangat.


"Abis ini mau dikasih puasa berapa lama suami kamu, Dek." Delia menggoda.

__ADS_1


"Sebulan, setahun bila perlu, merepotkan." sungut Dania kesal.


Ketiganya memulai eksekusi, dengan menyeret paksa Daniel turun dari kamar, dikumpulkan di kamar tamu.


__ADS_2