My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Masalah Gawat


__ADS_3

Sore menjelang.


Denisa mengulum senyum, membaca pesan yang dikirim Daniel, tak menyangka Daniel bisa selucu ini. Denisa baru saja selesai mandi, bahkan handuk bekas mengelap tubuhnya saja masih tergulung diatas kepala. Denisa baru sempat mentalakan san memeriksa ponselnya, lupa jika harus ada yang ia kabari segera.


Baru saja Denisa akan menghubungi Daniel, nama kontak 'My lup handsom' sudah muncul memenuhi layar ponselnya.


Denisa tidak lantas menjawab, dia biarkan sejenak, dan menatap ponselnya yang terus mengudarakan deringan yang cukup kencang, sampai kemudian panggilan itu terputus, dan tak lama nama laki-laki itu kembali muncul. Denisa tertawa, masih mendiami panggilan itu, sengaja, ingin tahu apa yang akan Daniel katakan saat dia baru mengangkat dipanggilan yang ketiga.


"Iya, Kak."


"Denisa, kamu menguji kesabaran ku dan mau buat aku marah? Kenapa baru angkat telepon ku? padahal kamu sedang online!"


Denisa malah tertawa. "Aku sibuk, maaf aku lupa kabari Kakak."


"Sibuk? Sibuk apa? Apa Abian membuat kamu sibuk? kasih tahu kalau dia jadikan kamu pembantu disana."


"Hahaha Kakak pikir kak Delia akan tega? Tadi kak Abian bawa teman, jadi aku harus temani kak Delia temui tamu kak Abian." Denisa menutup mulut atas kebohongan yang dia buat.


"Tamu siapa? Apa laki-laki?"


"Iya, teman pilot, dia ganteng dan ting-"


"Mami, STOP! jangan memuji laki-laki lain, siapa namanya? Aku pasti kenal siapa saja teman pilot Abian, aku pernah bekerja sama dengan Abian. Setahu ku nggak ada teman Abian yang ganteng, semua jelek."


Denisa kembali menutup mulut agar tawanya tak pecah.

__ADS_1


"Kakak nggak akan kenal, dia orang baru." terdengar makian dari Daniel, sebisa mungkin Denisa menahan tawanya. Kemudian Daniel mengganti panggilan video. Denisa mengangkatnya tapi tak ia arahkan pada wajahnya, melainkan langit-langit kamar.


"Denisa, mana muka kamu? arahin ke muka kamu, Denisa."


"Aku habis mandi, Kak. Lagi pakai baju." sengaja Denisa mengatakan itu, kembali ingin mengerjai Daniel. Dan benar, Daniel yang sedang diruang kerja sementaranya disana tampak tersiksa dengan yang Denisa ucapkan.


Ucapan Denisa menbuat Daniel diseberang sana semakin frustasi. "Aku mau lihat, Denisa."


"Apa? Kakak mau mesum." Denisa kembali menutup mulut, benar-benar ingin tertawa.


"Denisa, kamu buat aku nggak tahan, cepat arahin kameranya ke kamu, udah sudah rindu Denisa, jangan coba mengerjaiku, kamu harus tanggung akibatnya saat aku datang nanti."


"Emang apa yang bisa Kakak lakuin?"


"Kamu menantang ku Denisa? Walau kamu tinggal dirumah Abian, aku bisa menemui kamu."


"Aku sedang banyak pekerjaan, Mi. Masalah ku disini belum selesai. Oh ya, bagaimana kabar Dara? Apa dia baik? Apa dia menanyakan aku?"


"Dara bahagia tinggal disini. Entahlah, kayaknya Dara nggak akan ingat, dia sibuk main dengan Awan dan Angkasa."


"Kamu jangan lupa, ceritakan tentang aku padanya, Denisa. Ajarkan dia untuk ingat papinya."


"Hmm kalau tidak lupa." jawab Denisa enteng.


"Denisa!"

__ADS_1


"Hahaha apa sih, Kak. Dari tadi Kakak marah terus."


Diseberang sana, Daniel memijit pangkal hidungnya. "Aku bukan marah, Mi. Aku hanya rindu." Daniel merendahkan suaranya, menyandarkan tubuhnya dikepala kursi kebesaranya, dia tidak berbohong, hampir seharian dia tersiksa karena tak ada kabar dari Denisa, pekerjaanya hampir terbengkakai, dan saat dia meminta Denisa memperlihatkan wajahnya, tapi Denisa malah mengerjainya, rindu itu berat, cuyyy.


"Benar Kakak rindu? Tapi aku nggak percaya! udah dulu ya, Kak. Aku mau pergi dulu, nanti kita sambung lagi. Mau ajak Dara jalan-jalan."


"Mau kemana? Kamu baru sampai Denisa, lebih baik istirahat dulu."


"Hem aku nggak papa, cuma mau cuci mata, janjian sama cowok yang tadi kenalan dipesawat." Denisa kembali menjadi-jadi mengerjai Daniel.


"Denisa jangan main-main, aku nggak ijinin."


"Udah dulu ya, Kak. Aku mau jalan dulu, nanti aku telat, nggak enak kesan pertama sudah kasih kesan buruk."


Tut tut tut.


Diseberang sana Daniel nampak begitu kesal Denisa mematikan panggilan secara sepihak, cinta yang menyerangnya membuat logikanya tak berjalan, mana mungkin Denisa melakukan itu, dan memberi tahunya, tapi Daniel saat ini telah berhasil dikerjainya.


"Denisa, jangan main-main, aku bisa membunuh laki-laki itu kalau sampai kamu menemuinya."


Pesan itu akhirnya Daniel kirim pada Denisa, berharap Denisa tidak melakukan yang diucapkanya.


"WAHYU!" Panggil Daniel berteriak.


Wahyu yang berada diluar ruangan sedang membahas tentang kebakaran yang terjadi pada armada mereka langsung masuk.

__ADS_1


"Aku minta tolong handle semua dulu pekerjaan, aku mau ke Jakarta sekarang. Ini gawat. Sangat gawat, Yu." ucapnya pada Wahyu.


__ADS_2