My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Bencana Untuk Daniel


__ADS_3

Bali.


Tempat yang dijuluki sebagai The island of gods ini, menjadi pilihan utama tujuan wisata baik lokal maupun mancanegara.


Kebanyakan orang memilih Bali untuk menenangkan diri, bukan sekedar menjadi tempat untuk berlibur, tak sedikit juga orang yang memutuskan untuk pindah ke pulau tersebut karena ketenangan, keindahan, serta keramahan, yang dimilikinya.


Seperti Amanda, yang juga memilih Bali untuk menenangkan diri, sudah terhitung tiga hari ia disini, selama itu juga ia tak pernah kemana-mana, berdiam diri ditempat ia menginap. Tapi malam ini, karena merasa suntuk dan tak bisa tidur, Amanda memilih keluar kamar dan berjalan ditepi pantai.


Suara deburan ombak yang saling bekejaran, dan syahdunya suara daun kelapa yang saling bergesekan, dan terpaan angin pantai yang membelai wajahnya membuat hati Amanda menjadi damai, kakinya yang sengaja tak memakai alas merasakan lembutnya pasir putih.


Amanda menarik nafas, disaat seperti ini, dia rindu dengan papanya. Andai saja dulu dia mendengarkan nasihat papa, meninggalkan laki-laki yang tak mencintainya, pasti Amanda tak akan merasakan sakit hati seperti ini.


Amanda membuka ponselnya, melihat aplikasi kencan yang disarankan oleh seseorang yang tak ia kenal beberapa hari lalu. Sebuah aplikasi untuk mencari jodoh, berkencan, dan melakukan hubungan badan dengan orang yang tidak kita kenal, hanya untuk sekali saja, setelah itu kita tidak akan bertemu lagi dengan pengguna aplikasi tersebut.


Amanda menghela nafas, apakah dia akan mengikuti ide gila ini? Kencan buta, apa seputus asa itu dia harus melakukan kencan buta dan melakukan one nigt stand dengan laki-laki yang tidak ia kenal?


Amanda mencari nomor Ricko, meminta pendapat sahabat terbaiknya itu.


"Halo Ric!"


"Iya, Man."


"Aku ... aku mau tanya."


"Apa?"


"Kalau aku ikut kencan buta, apa pendapat kamu?"


"Apa? Kencan buta? Jangan konyol kamu Amanda."


"Hanya sekedar iseng-iseng saja."


"Tetap saja itu konyol Amanda, kamu akan menyerahkan mahkota mu dengan orang yang tidak kamu kenal?"


Amanda diam.


"Kamu ke Bali cuma untuk menenangkan diri, bukan mencari masalah baru." ucap Ricko tegas diseberang sana.


"Oke, makanya aku minta pendapat kamu."


"Saran ku jangan pernah-peenah mencoba atau sekedar iseng, kalau memang kamu mau menenangkan diri, tenangkan diri sampai kamu benar-benar merasa tenang. Setelah itu kembalilah, kita sama-sama pulang ke Batam memulai aktivitas kita seperti dulu. Masa depan mu masih panjang, Amanda. Jangan kau rusak karena kebodohan mu."


"Oke, terima kasih masukannya Ric."


Setelah panggilan berakhir, Amanda membuka menu di hapenya ingin menghapus aplikasi yang tak sengaja ia download karena saran seseorang yang tak ia kenal. Disaat bersamaan, ada notifikasi masuk yang mengajaknya untuk bertemu, penasaran, Amanda mengklik profil sipengirim.


Jantung Amanda berdegup kencang saat akan membuka prodil laki-laki tersebut. Tak ada nama yang spesifik, hanya sebuah nama Johan, foto profilnya pun hanya foto laki-laki berjas tanpa wajah.


"Sok misterius," cibirnya.

__ADS_1


Ping.


"Hai, Delima. Jika kamu bersedia bertemu dengannya, klik 'ya' di pojok kiri bawah."


Kembali notifikasi itu masuk ke ponselnya. Delima merupakan nama yang Amanda gunakan saat mendaftar di aplikasi itu, Amanda menjadi bimbang.


"Apa aku coba saja ya, kalau aku tidak suka aku bisa langsung pergi aja kan?" Merasa penasaran, Amanda pun mengklik iya.


"Terima kasih, anda akan menerima pesan pribadi dari pasangan anda, semoga cocok."


"Kirim alamat mu, aku akan mengirim gaun, sepatu, serta perhiasan yang harus kau pakai saat bertemu dengan ku." Amanda mengernyit, royal sekali orang ini? Siapa dia? Apa dia dari golongan orang-orang konglomerat? Entahlah, Amanda akan mencobanya besok.


* * *


Terkadang kita menbutuhkan saran seseorang jika ingin melakukan sesuatu, namun terkadang saran itu hanya sebuah angin lalu yang tak berguna. Nyatanya, setelah meminta pendapat dari sahabatnya, hari ini Amanda mempersiapkan dirinya untuk melakukan kencan buta yang malah akan membuat hidupnya semakin kacau.


Melakukan perawatan, dari ujung kaki sampai ujung rambut, Amanda ingin pengalaman pertamanya tentang kencan buta ini berkesan, padahal hanya untuk sekali pertemuan, dan dia tak bersungguh-sungguh dalam pertemuan ini, tapi Amanda mempersiapkan ini sebaik mungkin.


Amanda membuka kotak yang dikirim lewat kurir pagi tadi, sebuah gaun berbahan satin berwarna hitam dari brand lingerie internasional yang cukup terkenal, dengan tali spaghetti yang sangat kecil. Lalu Amanda membuka kotak satunya lagi, sepasang high-heels berwarna senada dari merek ternama juga.


Amanda sampai mengkalkulsikan harganya, sungguh harga yang tidak main-main jika diberikan kepada orang yang tak dikenal, ini terlalu royal, padahal Amanda memasang foto profil palsu, seekor kucing nan menggemaskan, dan laki-laki itu tidak meminta live foto darinya. Amanda pun melakukan hal yang sama, dia juga tak meminta foto live laki-laki tersebut, jika nanti Amanda tak suka, dia tinggal menghubungi nomor polisi terdekat.


Tapi nilai seratus dari Amanda untuk laki-laki yang mengajaknya berkencan, dia sangat menghargai wanita, tanpa melihat dari fisiknya, dia mau mengeluarkan budget yang tak sedikit untuk hanya sebuah perempuan satu kali.


* * *


Dikediaman Daniel dan Denisa.


Denisa tertawa, dia sampai memegangi prutnya melihat bedak Dara yang baru selesai dipakaikan baju dan dibedaki oleh Daniel.


"Kenapa, Mi. Apa ada yang salah?" Daniel menjadi risau.


Denisa mengibaskan tanganya masih dengan tertawa. "Enggak, nggak ada."


Melihat maminya yang tertawa geli, Dara langsung berkaca. "Ih, Papi. Aku kayak ondel-ondel." Dara bertolak pinggang, menghentakkan kakinya kesal pada Daniel.


Daniel menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf sayang, Papi nggak biasa," Daniel melampirkan wajah memelasnya. "Tapi kamu cantik kok, lucu loh anak kecil bedakan seperti itu, Iya kan Mi?" Daniel meminta dukungan dari Denisa, Denisa mengangguk sambil menahan tawa.


"Papi bohong." Dara ganti melipat tanganya didada dengan wajah kesal.


"Mana ada, kalau Dara tidak percaya, ayo ikut Papi ke mini market, pasti banyak yang bilang Dara lucu."


Denisa geleng kepala dengan jawaban suaminya, ada-ada saja alasannya karena tidak ingin disalahkan. Daniel pun mengajak Dara ke mini market.


Dan benar saja apa yang dikatakan Daniel, saat dimini market banyak yang menyapa Dara karena kelucuanya, ditambah lagi pipi Dara yang tembem, membuat Dara terlihat semakin menggemaskan. Tapi diantara para ibu-ibu atau para gadis yang menyapanya, mereka ada yang mencuri-curi pandang dan mencari perhatian karena ketampanan yang Daniel miliki. Daniel menjadi hot Daddy yang banyak dikagumi oleh para wanita.


Dara sampai cemburu saat menyadari dari sekian banyak yang menyapanya, mata mereka tertuju pada papinya.


Tak sampai tiga puluh menit, mereka kembali dengan membawa banyak jajanan.

__ADS_1


Dara langsung melompat keatas tempat tidur.


"Pelan-pelan sayang, nanti dedek yang diperut Mami nangis. Eh kamu cuci kaki dulu." perintah Daniel. Dara menurut, lali turun dari ranjang.


Sebelum ke kamar mandi, dia terlebih dahulu menghampiri Denisa.


"Maaf ya Dek, nanti Kakak nggak ulangi lagi." Dara mengelus perut Denisa yang masih rata, lalu mencium perutnya maminya.


"Lain kali, kalau dari mana-mana, Dara langsung cuci kaki dulu, baru naik ke tempat tidur." Usap Daniel rambut Dara, lalu menggandengnya untuk mencuci kaki. Sebuah kebiasaan yang akan Daniel terapkan pada Dara jika pulang dari manapun.


Setelah mencuci kaki, Dara menceritakan saat dimini market tadi.


"Kesal deh, Mi. Nanti Dara nggak mau lagi ke mini market kalau nggak sama Mami." curhatnya sambil membuka bungkussan camilanya.


"Loh, memangnya kenapa?"


"Banyak yang cari perhatian ke Papi." Mata Daniel membola, tak menyangka Dara akan mengadukan hal itu pada Denisa. Daniel menjadi melemah tatkala Denisa meliriknya tajam.


"Aku nggak tahu kalo itu sayang, suer" Daniel mengangkat jari telunjuk dan jari tengah yang disatukan dengan menunjukkan wajah simpati yang dibuat-buat.


"Dasar modus, sengaja kan ajak Dara ke mini market buat tebar-tebar pesona." cebik Denisa.


Daniel ingin menghampiri Denisa, meminta maaf.


"Nggak usah deket-deket."


"Sayang, bukan begitu, mereka aja yang sok kenal. Bener deh."


"Papi juga diem aja waktu tante tadi bilang kalau aku adik Papi," ujar Dara lagi dengan polosnya, tanpa mengetahui, jika laporannya akan menimbulkan bencana untuk papinya.


"Ihhh adiknya lucu banget." Dara menye-menye menirukan ucapan wanita yang menyapanya tadi. Denisa semakin menatap sinis suaminya yang kini wajahnya terlihat menciut.


"Mi, tadi aku mau kasih tau, tapi cewek tadi-"


"Ngajak Papi kenalan kan?" potong Dara ucapannya.


"Oh no! DARAAAA."


.


.


.


.


Hai semuanya, memasuki bulan desember aku belum sempat menyapa. Semoga dibulan yang baru ini kita semua semakin sukses, dan lebih baik dari bulan sebelumnya, dan segala urusan kita diberi kelancaran. Amiin 🤲


Enjoy reading, makasih yang masih setia, dan yang udah kasih vote dan hadiahnya. Semoga kalian sehat selalu dimanapun berada, dan yang anaknya mengikuti ulangan semester, semoga ulanganya lancar.

__ADS_1


Love you all 😘 😘


__ADS_2