My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Bulan Madu


__ADS_3

Dikamar hotel Dina.


Dina baru saja selesai mandi, duduk di ujung ranjang sambil menggunakan lotion di kakinya.


Ting.


Sebuah notifikasi pesan masuk di hapenya. Dina menyambar hapenya yang tergeletak diatas kasur tak jauh dari tempatnya duduk.


[Hai cantik, selamat pagi.]


Dina mengerutkan kening membaca pesan itu. "Dari siapa?" gumamnya. Dina mengklik foto profil sipengirim pesan tersebut, muncullah gambar seorang laki-laki gagah, rambutnya dipenuhi warna putih, serta misai tebalnya yang juga berwarna putih, tapi tak sedikitpun mengurangi kadar ketampanannya.


Sudut bibir Dina mengambang, berbarengan dengan ribuan bunga yang muncul dari dalam dadanya.



"Astaga, kemarin dia kasih nomor, tapi aku lupa menghubungi dia, dapat dari mana dia nomor ku?" Dina menggigit bibir, mendekap ponselnya dada. Tanpa disadari kaki Dina menghentak-hentak tepi kasur, persis seperti abg yang baru mendapat pesan dari gebetan.


"Bales apa ya?" Ahkkkk Dina memutar-mutar tubuh, dengan kedua tangan masih memeluk hapenya di dada.


Dina melihat ponselnya lagi, membaca kembali pesan yang dikirimkan papa Ricko. Begitu manis, kata-kata sapaan selamat pagi seperti ini entah kapan terakhir dia menerimanya.


Ting.


[Sudah dibaca kok tidak dibalas, cantik?]


Astaga, Dina menggigit ujung jari telunjuk, dia bingung harus membalas apa? Setelah berpikir, ibu jari Dina mengetikkan sesuatu, tapi sejurus kemudian dia menghapusnya, tapi kembali dia mengetikkan pesan balasan.


[Selamat pagi juga.] kirim.


'Ganteng' tapi pujian itu tertinggal di bibirnya, setelah mengirim pesan balasan, Dina merebahkan tubuhnya telentang sambil memeluk hapenya.


[Aku tahu kamu masih menginap di hotel, temani aku sarapan bubur, yuk!] disertai lokasi dimana papa Ricko makan bubur, sebuah warung tenda pinggir jalan yang tak jauh dari lokasi hotel.


"Aduh, mau nggak ya, tapi kasihan juga kalau nggak ditemani." Dina mengetikkan pesan balasan.


[Otewe.] balsnya ala-ala anak muda jaman sekarang.


Setelah memastikan penampilannya yang rapih, Dina menuju kamar Abian untuk mengajak Dara. Tapi saat dia sampai dikamar Abian, ternyata Dara bersama Dina.


Tok tok tok, Dina mengetuk pintu kamar Daniel dan Denisa.


Daniel membukakan pintu.


"Ma ..."


"Dara, ada?"


"Nenek." Dara langsung menghampiri Dina mendengar suara Dina. "Untung Nenek datang. Dara mau ikut Nenek aja, dikamar Mami sama Papi ada sètanya, Nek." Dara mengadu.


"Settàn? Setàn apa?" tanya Dina dengan mata yang membola, lalu berganti menatap Daniel.


"Nggak tahu, tapi semalam ada yang mindahin Dara dari kasur, pas bangun Dara ada di sofa, Dara takut Nek." rengek bocah itu. Dina menatap Daniel yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Dina mendengus, kamu nggak tahu Dara siapa sètanya? Astaga Daniel, bisa-bisanya dia memindahkan anaknya disofa, bukanya dia aja yang di sofa, kasihan sekali cucu Nenek ini.


"Yasudah, Dara ikut Nenek aja sarapan bubur didepan. Kamu udah mandi belum sayang?"


"Sudah, Nek." jawab Dara.


"Daniel, biar Dara ikut Mama, kamu kalau mau lanjut kerja rodi, kerja rodi aja sampai puas." Ucap Dina menggandeng tangan Dara berlalu meninggalkan kamar Daniel dan Denisa.


* * *


Pukul sembilan pagi, Daniel dan Denisa baru turun untuk bergabung bersama keluarga mereka. Semua mata tertuju pada kedua pasangan pengantin baru yang terlihat sangat bahagia itu.


"Kelihatan seger tuh muka." ledek Abian, "kamu bisa jalan, Denisa?" kekehnya menggoda Denisa, namun diakhir dia mendapat cubitan dari sang istri.


"Makasih ya A', ide Aa malah bikin sensasi olahraga malam kita berbeda," balas Daniel seraya menarikkan kursi untuk Denisa duduk.


"Jam sembilan," ucap Dania, mengangkat arloji ditanganya. "Kita nungguin dari jam setengah delapan loh, Kak. Kasihan cacing-cacing diperut kita udah pada demo, emang Kakak nggak laper apa?"


Mahesa menyenggol Dania, istrinya. Sebagai ipar dia tak enak atas perkataan Dania. "Sayang, kamu kayak nggak pernah jadi pengantin baru saja." bisik Mahesa.

__ADS_1


"Kita sudah sarapan bakpau pake susu, Dania. Lagian kenapa kalian nggak makan duluan aja." jawab Daniel, mendengar ucapan suaminya yang frontal, Denisa menunduk malu, dia jadi teringat aktifitas panas mereka setelah Dara dijemput Dina tadi.


"Astaga, bakpau pake susu," gumam Abian, "kita sarapan piscok pake susu ya sayang." Abian merangkul pundak Delia yang duduk disampingnya.


"Ih apa sih, Bi. Nggak ada ya." sangkal Delia, dia tahu Abian tak ingin kalah saing dengan Daniel.


"Kalo kita pake apa sayang?" Mahesa bertanya pada Dania, tak mau kalah dengan kakak-kakak iparnya itu.


"Kita belum sarapan, Hes. Kamu nggak denger dari tadi perut aku udah demo, kita nungguin pengantin expired dari tadi."


Daniel dan Abian menahan tawa atas jawaban polos Dania, sedang Mahesa menghela nafas lemah, istrinya tak bisa diajak bekerja sama.


"Kamu emang udah sarapan? sama siapa? Kamu selingkuhin aku?" Dania terlihat kesal.


"Enggak sayang, bukan itu. Ah sudahlah, kamu nggak ngerti."


"Kok kamu jawabnya gitu?"


"Terus aku harus jawab apa? Kamu yang nggak ngerti."


"Mahesa, kok kamu malah gitu ke aku."


Mahesa mengacak rambutnya frustasi, susah menjelaskan pada Dania, dia pintar dalam wawasan, tapi polos soal ranjang.


Abian dan Daniel tak dapat menahan tawa melihat pertengkaran adik ipar bungsu mereka, baru tahu, jika rumah tangga Mahesa dan Dania lebih banyak dramanya.


"Sabar ya Mahesa." ledek Daniel, "kamu harus sering ajak Dania kursus kalo begitu."


"Udah-udah," Delia menengahi, "Dania, Mahesa sama kayak kamu belum sarapan, nanti Kakak jelasin maksud perkataan Kak Abian dan Kak-"


"Kuda Nil." potong Abian. Delia tersenyum, Daniel sudah menjadi adik iparnya, tapi Abian masih tak rela dia menyebut nama Daniel.


"Kuda nil, itu gue." tunjuk Daniel dirinya sendiri.


"Siapa lagi?" sahut Abian, "salah sendiri dulu punya kelakuan ngeselin."


"Udah deh," Delia kembali menengahi. "Denisa, kamu ajak suami kamu ambil makanan gih, mau makan aja berantem dulu, kalian nggak boleh ya ngumpul."


"Kakak bisa bawa piring dua?"


"Bisa." Sebelum berlalu, Daniel mengecup pucuk kepala Denisa.


Iya, mulai saat ini, Daniel berjanji pada dirinya sendiri, untuk selalu memanjakan Denisa, menebus kesalahannya yang lalu.


"Denisa, ini hadiah dari Kakak dan Dania. Smoga kamu suka ya." Delia mengulurkan sebuah amplop dihadapan Denisa setelah Daniel pergi. Denisa mengambilnya.


"Apa ini, Kak?" Denisa membolak balikan amplop tersebut.


"Buka aja." jawab Delia seraya tersenyum.


Mata Denisa terbelalak melihat isi amplop tersebut. "Tiket bulan madu ke Sumba, Nusa Tenggara Timur?"


Dania dan Delia mengangguk. "Itu sebenarnya kado dari suami-suami kita, kalau dari kita, beda lagi." jawab Delia.


"Apa?"


"Surprise, nanti kasih taunya, sepulang kamu dari bulan madu." Delia dan Dania berdiri dan menghampiri Denisa. Keduanya memeluk Denisa dari belakang.


"Selamat ya, Dek. Semoga cepat dapat momongan."


"Selamat ya, Kak. Selamat bersenang-senang, pulang Kakak harus kasih adik buat Dara."


Denisa langsung mengharu atas perhatian saudaranya, mereka masih ingat tempat yang Denisa ingin kunjungi, padahal ini hanya ucapan saat mereka masih bersama dulu.


"Aku nggak mau nangis pagi-pagi. Aku nggak suka nangis pagi, itu nggak baik dan nggak bagus buat kesehatan." lirih Denisa dengan suara bergetar, dia menunduk dengan air mata yang sudah menganak sungai.


Lima menit Daniel sudah kembali dengan sepiring nasi yang menggunung. "Sayang, kamu kenapa?" Daniel langsung meletakkan piringnya ke atas meja, menarik Denisa kedalam dadanya.


Denisa memberikan kertas tiket bulan madu pada Daniel. "Tiket bulan madu ke Sumba."


"Iti dari kita." jawab Abian.


"Kok bukan luar negeri? wah parah, pelit banget sih?"

__ADS_1


"Nggak tahu sejarahnya dia, kemaren-kemaren kamu ngapain aja? tahu gitu-" Delia langsung menyenggol Abian agar dapat mengerem ucapanya, Abian jika dengan Daniel suka berkata sesuka hatinya.


"Jadi dulu Kak Denisa itu pernah bilang, kalau Kakak pengen bulan madu ke Sumba, tempat Cris Hemswort nikah sama Elsa pataky." Dania yang menjawab. "Kita juga dadakan ya Kak pesenya, abis kita ngobrol bertiga malam itu, kita baru inget, kalau dulu Kak Denisa pernah bilang, mau bulan madu disana."


"Padahal aku sendiri udah lupa," ujar Denisa.


"Yuk ah, dari tadi kita ngobrol terus, aku nggak bawa promag soalnya, nanti mag aku kambuh lagi." Dania benar-benar sudah tak dapat menahan laparnya.


Mereka semua makan dalam keheningan, tapi Abian sendiri yang sibuk dengan ponselnya. "Bi, nggak baik loh makan sambil main hape, untung nggak ada anak-anak, kalau ada anak-anak nanti mereka lakuin hal yang sama." tegur Delia pada suaminya.


"Aku baru ingat sayang, kalau ada yang janji sama aku mau beliin villa," jawab Abian masih fokus pada layar ponselnya, "mumpung aku inget, jadi aku milih villa di daerah Bandung, kalau ditunda nanti lupa, terus yang punya janji, pura-pura lupa. Nih, aku udah pilihin yang kira-kira bagus, tar kamu yang nentuin yang mana yang mau kamu mau."


"Villa? Siapa yang mau kasih kamu villa."


"Seseorang." jawab Abian, Daniel yang sedang makan menghentikan kunyahanya, melirik Abian yang juga meliriknya, Abian menyunggingkan senyum smirk menyebalkannya.


Kemudian Daniel melirik Mahesa, apa dulu Mahesa juga sama? Sungguh aji mumpung.


* * *


Keesokan harinya, Daniel dan Denisa bersiap untuk terbang ke Sumba, Dara pun ikut bersama mereka.


Setelah melakukan penerbangan yang panjang, mereka memijakkan kakinya di hotel Nihiwatu, tempat dulu digelarnya pernikahan Cris Hemswort dan Elsa. Sebelum berangkat, Daniel sudah memerintahkan Wahyu untuk mengurus pembayaran villa untuk Abian.


Tiga hari bulan di Sumba, mereka kembali mendapat kejutan dari para saudaranya, yaitu berbulan madu ke Paris dan Turki, ini hadiah untuk Denisa yang telah melewati perjalanan pahit dalam hidupnya.


Hari terakhir perjalanan bulan madu mereka berakhir di Turki, Daniel dan Denisa mengunjungi Cappadocia. Menaiki balon udara, ketiganya berpelukan bersama melihat indahnya balon udara yang berwarna warni.


Daniel memeluk Dara dan Denisa dari belakang, Daniel meletakkan dagunya di pundak Denisa.


"Ini tuh sama kayak yang di pulau Sàbu Raijua, Kak."


"Oh ya?"


"Emang Kakak nggak tahu?"


"Sayangnya kita nggak sempat jalan-jalan waktu disana, kamu selalu menghindar dari ku, Mi." mengecup pipi Denisa.


"Kakak lupa kalau Kakak sudah menikah sama dokter Amanda."


"Pulang kita kesana." Daniel mengalihkan.


"Kita mau kemana lagi, Mi?" tanya Dara mendongak, melihat wajah kedua orang tuanya.


"Emm, ke tempat Mami dinas waktu itu, saat Dara mami tinggal." jawab Denisa.


"Asikk, kita jalan-jalan lagi, Mi?" Denisa mengangguk.


"Dara senang?"


"Senang, Pi. Dara senang jalan-jalan bareng Mami dan Papi."


Daniel mencubit pipi Dara gemas. Mengajak bulan madu bersama Dara, Daniel semakin tahu, jika Dara tak pernah jalan-jalan seperti anak lain, Denisa menghabiskan waktunya untuk sekolah dan bekerja.


Untuk itu, dia menjadikan bulan madu mereka bukan hanya untuk sekedar urusan kepuasan batin, dia mengesampingkan itu, dia menikmati setiap canda tawa Dara.


Dara terlihat sangat senang, cepat menerima kehadirannya, semua yang terbentuk dalam diri Dara, berkat didikan Denisa yang tak pernah menjelekkan dirinya.


Denisalah wanita berhati malaikat yang sesungguhnya untuknya, pernah disakiti, tapi tak membalas dengan menjelekkan dia.


"Aku juga punya salah, Kak. Tidak mungkin aku menjelekkan Kakak. Karena aku tidak tahu jalan ku kedepannya. Aku tidak tahu, dengan siapa aku berjodoh lagi."


Lamunan Daniel terputus saat gadged di saku jaketnya bergetar, pesan dari Wahyu, dia mengirimkan Dina sedang bertemu dengan papa Ricko di cafe, keduanya terlihat sangat mencolok diantara sekumpulan anak muda.


Daniel terkekeh melihat itu, selama berbulan madu, Daniel meminta Wahyu memantau mamanya yang sedang puber kembali. Daniel tak tahu sejak kapan mereka dekat, tapi dilihat dari foto yang Wahyu kirimkan, papa Ricko seperti menyematkan sesuatu ke jari Dina.


"Sepertinya pulang dari sini kita akan ada acara lagi." Daniel memasukkan ponselnya kedalam saku jaket yang ia kenakan. Memeluk anak dan istrinya, bersama menatap kedepan, melihat ribuan balon udara yang mewarnai langit kota.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2