
Akibat ulah Daniel yang seenaknya, jam empat subuh Denisa baru bisa terpejam, dan berakibat dia bangun kesiangan.
Jika Denisa pikir Daniel sudah pergi dari kamarnya saat dia terbangun seperti yang laki-laki itu lakukan sebelumnya, kali ini dia salah. Laki-laki itu justru masih berada dikamarnya namun sudah berganti pakaian dan rapih.
"Selamat siang Mami." Daniel tersenyum manis, tapi terlihat menyebalkan.
Denisa langsung mengangkat tubuhnya. "Kenapa kamu masih ada disini?" menyadari sapaan Daniel Denisa mengambil jam tangannya yang tak jauh dari tempat tidurnya. Denisa terbelalak, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, itu berarti dua jam lagi sudah pertukaran jadwalnya.
"Mau sarapan bareng istri aku." ucap Daniel santai, membawa nampan sarapan ke tempat tidur.
"Daniel ini sudah siang, keluarlah, ini sangat bahaya buat aku," ujar Denisa mulai kesal. "Kamu ngerti nggak sih posisi aku kayak gimana? Kalo orang liat kamu disini, bukan kamu yang akan disalahkan, tapi aku," omel Denisa, "aku mohon mengertilah." pintanya memelas.
"Kamu tenang aja, kita aman kok." Daniel mendudukkan pantattnya diatas kasur Denisa.
"Kita katamu? Enggak buat aku, didepan sana ruang aula tempat para dokter dan staff lainnya berkumpul dan istirahat, dan cuma itu jalan satu-satunya buat aku turun, atau lewat, kamu bilang aman?" Denisa menyugar rambutnya panik.
Aaaaaaa
Daniel sama sekali tak menghiraukan ketakutan Denisa, dan malah mengulurkan sendok, menyuapi Denisa dengan sop cream daging campur jagung untuk Denisa.
"Aku bisa sarapan sendiri diluar nanti bareng teman-teman aku." tolak Denisa memalingkan wajahnya.
"Bukan bareng dokter jelek itukan?" tatapnya mata Denisa tak suka. "Cukup kemarin-kemarin aku memberi mu kebebasan dekat sama dia, tapi tidak untuk sekarang, aku sudah kembali, dan kamu cuma boleh dekat sama aku."
"Apa hak kamu? Aku bukan siapa-siapa kamu, aku mau dekat sama siapapun kamu nggak ada hak buat larang aku," balas Denisa berani.
"Makan Denisa, kamu jelek kalau lagi marah-marah."
"Aku nggak mau, keluarlah Daniel, kamu bisa buat aku mati ketakutan, ini bahaya."
"Makan dulu, kalau aku sudah memastikan perut kamu terisi, baru aku keluar."
Denisa mendesah, akhirnya dua mengalah, tak ingin terlalu lama berdebat, sumpah demi apapun dia begitu takut, jika-jika ada yang melihat Daniel dikamarnya, siapa yang tidak tahu jika Daniel merupakan suami dari pemilik rumah sakit Citra Medika Healt.
Apalagi Amanda yang terkenal baik dan dermawan, Denisa bisa habis menjadi bulan-bulanan orang-orang, karena telah menjadi pelakor. Setelah menghabiskan makannya, tak serta merta Daniel langsung keluar, laki-laki itu masih menginginkan sesuatu kepada Denisa.
"Sudah habis, keluarlah, aku juga mau mandi."
"Aku keluar kalau kamu mau mengabulkan permintaan ku, Mami." pintanya, diikuti senyum penuh kemenangan.
Denisa memejamkan matanya, meredam amarah yang hampir meledak. "Apalagi?" ucapnya akhirnya, merendahkan suaranya.
Daniel mendekatkan wajahnya dengan wajah Denisa. Denisa otomatis memundurkan wajahnya. Daniel tersenyum, senang sekali rasanya melihat wajah gugup dan panik Denisa.
"Panggil aku kakak, seperti dulu lagi." Pintanya menatap dalam mata Denisa. Denisa diam, tak langsung menaggapi permintaan Daniel, untuk beberapa saat keduanya saling tatap dalam diam. Jantung keduanya berdebar seirama yang sama, hingga Denisa memutuskan pandangan mereka karena dia tak ingin terbawa suasana, dan berakhir dia yang akan menyesal pada akhirnya.
"Baik, Kak." jawabnya mengalah.
__ADS_1
Daniel merasakan desiran hebat dalam darahnya mendengar panggilan itu lagi. Tubuhnya seolah melemas, pandangannya kemudian jatuh ke bibir tipis Denisa yang terlihat begitu menggoda. Daniel menarik dagu Denisa untuk menghadapnya, kembali mereka saling tatap, Denisa yang gugup, membuat bibirnya berkedut dan sedikit terbuka memancing sesuatu didalam diri Daniel.
Daniel sudah memiringkan wajahnya ingin mendaratkan bibirnya ke bibir Denisa. Dia ingin kembali merasai manisnya bibir tipis itu yang selalu membuatnya rindu. Beruntung sepertinya setan disekitar mereka merupakan setan alim, hingga cepat menyadarkan Denisa, Denisa mengalihkan wajahnya, membuat bibir yang akan mendarat dibibirnya harus beradu dengan angin, Daniel tertawa, mentertawakan dirinya sendiri, dia menipiskan bibir menjadi segaris, malu rasanya pada tembok yang seolah mentertawakannya.
* * *
Setelah senam jantung yang membuatnya tak bisa bernafas, Denisa kembali melakukan aktivitasnya. Pasien pertamanya siang ini seoarang bapak-bapak yang mengalami batuk-batuk.
Sebelumnya Denisa dengan pasiennya melakukan salaman ciuman hidung, ciuman hidung ini merupakan adat penghormatan warga S4bu, Raijua. Awalnya Denisa merasa risih melakukan ini, namun dia sadar saling menghormati budaya itu sangat penting, dan kini dia sudah terbiasa dan luwes.
"Apa yang dirasa Pak?" tanya Denisa dengan senyum lembut.
"Leher saya sangat gatal Bu Dokter," ujarnya sambil mengelus lehernya, "sudah hampir satu minggu. Saya mau berobat ke puskesmas lumayan jauh dari rumah saya." Sisi datang memberi hasil pemeriksaan darah sang bapak.
Denisa tersenyum, meminta sang bapak membuka mulut, memeriksa dengan senter kecil khusus miliknya. "Bapak radang tenggorokan, saya kasih obat, vitamin dan antibiotik, bapak ngerokok?" tanyanya lagi.
"Hehehe ita Dok."
"Kalau bisa berhenti dulu ya Pak ngerokoknya, biar cepat sembuh." Sarannya. Si bapak mengangguk.
"Dok, boleh saya bertanya?"
"Boleh Pak, silahkan." Jawab Denisa ramah.
"Istri saya sedang hamil, sebentar lagi akan melahirkan, apa disini bisa menerima persalinan juga?"
"Bisa Pak, bisa banget. Bawa saja istri Bapak kesini, kami melayani 24 jam, dan gratis."
"Bisa, siapa yang sakit, Pak?"
"Tetangga saya, tapi sepertinya dia tidak bisa datang kesini, kami tak ada kendaraan untuk membawanya, luka dikakinya sudah sangat parah, dia tak bisa lagi berjalan."
"Dimana rumah Bapak, kalau begitu akan saya laporkan pada ketua saya, kami akan menjemputnya."
"Saya petani bawang yang tinggal di Barat Sabu." Denisa kembali mengangguk.
"Bapak tunggu disini, saya akan membicarakan ini dengan tim kami, oh ya, obat ini bisa bapak tebus dulu di apotek, nanti bapak kembali kesini lagi, ya." Pinta Denisa, bapak itu mengangguk menerima resep yang Denisa berikan.
"Dok, saya tahu jika berobat kesini itu gratis, tapi saya ingin memberi sesuatu sebagai hadiah untuk Bu Dokter dan teman-teman disini. Saya ada sedikit tv4k untuk sarapan pagi dan malam, saya harap Dokter mau menerimanya ya, hanya ini yang saya punya, karena bawang kami belum panen."
Denisa terdiam, menatap haru wajah tulus bapak itu, matanya mulai berkaca-kaca, setitik rasa dalam hatinya tercubit, masyarakat yang tergolong tidak mampu ini tidak ingin menerima sesuatu dengan percuma, dan memberikan yang mereka miliki sebagai ucapan terima kasih mereka.
Sangat bertolak belakang dengan warga diperkotaan pada umumnya, mereka yang tergolong sebagai warga mampu, terkadang bangga dan tidak malu menerima bantuan dari pemerintah, bahkan tidak memberikan itu pada masyarakat yang pantas menerimanya, sunguh ironis memang, tapi inilah kenyataannya.
Bisa saja mungkin orang mampu tersebut menerima bantuan itu, tapi dia memberikannya pada tetangga atau warga sekitar mereka yang memang pantas menerimanya, bukan memakannya sendiri. Denisa merasa malu sendiri.
Tak hanya memberikan tv4k, bapak tadi juga membawakan gula cair (gula yang dihasilkan air tV4k yang sudah dimasak) untuk para relawan disini.
__ADS_1
Oh ya, sebagai informasi, jika warga S4bv ini biasanya hanya makan nasi satu kali dalam sehari, yaitu hanya siang hari. Untuk pagi dan malam mereka hanya minum air tV4k sebagi pengganjal perut mereka. Air tv4k ini tidak beralkohol dan tidak memabukkan ya, jadi aman, rasanya juga seperti tape, nah air tv4k yang sudah dimasak ini menghasilkan gula cair 🏃 kecoklatan seperti gula merah.
Warga S4bv biasanya memakan air gula ini bersama jagung, kacang, atau mangga, sesuai selera, maka dari itu, tim rumah sakit Citra Medika Healt, juga membagikan nasi kotak kepada warga yang berobat, atau siapapun warga yang kebetulan lewat.
Denisa kembali keruangan dengan hati begitu senang, membantu orang lain memang memberikan kepuasan tersendiri. Tanpa terasa jam tugas Denisa sudah berakhir, dia pun kembali keatas untuk melempengkan tulang punggung bersama Sisi dan Ricko di aula.
Tak ada hal yang berlebih yang Ricko lakukan, bisa memantau dan menjaga Denisa agar tak bertemu dengan Daniel saja dia sudah merasa lega. Karena dia sendiri sudah berencana untuk melamar Denisa setelah pulang bertugas.
Tepat pukul dua belas malam, setelah bercanda dan bercerita tentang aktivitas mereka hari ini, mereka kembali ke kamar masing-masing. Denisa sendiri takut untuk masuk ke kamarnya, dia merasa tak aman lagi dikamarnya sendiri.
"Si, dokter Jenny tugas malam kan ya?"
"Iya, Dok, kenapa?"
"Aku boleh tidur sama kamu?"
Sisi dan Ricko mengernyit. "Tumben Dok?" tanya Sisi. Ricko mulai curiga.
"Ini kan malam jumat Si, aku tiba-tiba ngerasa merinding aja," dustanya meraba tengkuknya, Denisa meringis dia malu karena akan dicap menjadi dokter yang penakut, dan benar, Sisi tertawa terbahak. Tapi Ricko tetap masih curiga.
"Bener karena itu, kayaknya kamu bukan tipe penakut begitu Nis. Kita juga udah hampir sebulan lebih disini."
"Nggak tahu mas, malam ini rasanya beda," kembali Denisa meringis.
"Yaudah, bisa kan Si?" Ricko bertanya pada Sisi.
"Bisa banget lah Dok, lagian malam ini juga aku sendirian, hehehe," Sisi nyengir, membuat Ricko menggeleng, "lagian dokter Jenny dan suster Aisyah jadwal bareng."
Dan benar dugaan Denisa, saat dia masuk ke kamarnya, predator menakutkan itu sudah rebahan santai dikamarnya sambil memainkan hape, dia mengangkat kepalanya, saat pintunya terbuka, dan tersenyum saat tahu yang masuk adalah pujaan hatinya.
"Mamiii," sumringahnya seperti anak kecil yang seharian ditinggal kerja oleh ibunya. Daniel turun dari tempat tidur kecil Denisa dan langsung memeluk Denisa, tapi Denisa menahanannya.
"Daniel."
"Kakak sayang, kamu lupa?" ujarnya meralat.
"Kak, kenapa disini lagi? Kan aku bilang semalam aja."
"Ini kamar kita sayang, kalau aku nggak tidur disini, aku tidur dimana?"
"Kak, please, jangan begini," pintanya dengan wajah yang benar-benar memelas. "Oke, Kakak boleh tidur disini, aku yang akan tidur diluar." Denisa mengancam, tapi tak berpengaruh untuk Daniel.
"Kalau kamu tidur diluar, aku ikut."
Denisa mendesah lelah. "Kak, Kakak sadar nggak sih, ini tuh salah, salah besar, aku nggak mau dituduh jadi orang ketiga diantara Kakak dan Amanda, tolong mengertilah posisi aku."
"Aku akan kasih tahu kamu yang sebenarnya Mami, kalau Mami izinin aku tidur disini."
__ADS_1
"Yaudah, aku mau mandi dulu." Denisa akhirnya mengalah, karena dia sudah mengantuk,berjalan menuju lemari kecilnya, mengambil pakaian yang akan dia pakai, lalu keluar kamar, Daniel kembali tersenyum senang.
Tapi, setelah satu jam dia menunggu, Denisa tak ada kembali lagi. Daniel mulai curiga.