
Daniel kembali ke kamar membawa teh hangat dan bubur. Saat dia masuk, ternyata Denisa sudah tidur lagi, lalu dia meletakkan nampan yang ia bawa diatas nakas. Dan menekuk lutut untuk melihat wajah istrinya dari dekat, Denisa sudah lelap, nafasnya pun terdengar teratur.
Disingirkanya perlahan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Dilamatinya wajah Denisa sudah terlihat sedikit kurus, lingkaran matanya pun mulai terlihat. Jika memang sakit Denisa karena hamil, kenapa Denisa tak memberi tahunya? Dia pasti akan sangat senang, apa yang membuat Denisa tak ingin jujur?
Daniel bangkit sambil berpegangan lututnya, tak berniat membangunkan sang istri, dia berjalan menuju tempat Denisa menyimpan tas kerjanya, pasti ada sesuatu yang Denisa simpan didalam sana.
"Maaf sayang, bukan aku tidak sopan, aku hanya ingin memastikan sesuatu." Daniel mulai membongkar isi tas Denisa.
Bamm, dia menemukan plastik kecil berisi dua macam obat, ada juga kapsul vitamin didalam botol kecil. Ini kesempatan untuknya, sebentar lagi dokter kandungan yang dipanggilnya akan datang, semoga Denisa tidak cepat bangun.
Daniel turun membawa obat milik Denisa, dan disaat bersamaan dokter kandungan yang ia hubungi datang.
"Dokter mau periksa, Mami ya Nek?" Dara yang melihat Daniel mengobrol dengan wanita yang mengenakan jas putih bertanya pada Dina.
"Iya, semoga diperut Mami ada dedek bayinya, kamu senang nggak, kalau punya dedek bayi?"
"Senang donk Nek, kalau begitu Dara tidak usah sekolah ya. Mau jagain Mami sama dedek bayinya aja." celotehnya polos.
"No, kamu tetap sekolah sayang, Mami ada Papi yang jagain, tugas Dara hanya sekolah. Abis sekolah baru jagain Mami sama dedek bayi kalau sudah mengerjakan PR-nya, yuk abisin sarapanya."
Daniel dan dokter duduk di ruang tamu.
"Dok, saya menemukan obat ini didalam tas istri saya, obat apa ini kira-kira?" Daniel meletakkan obat yang dia ambil dari tas Denisa.
Dokter mengambil obat itu, dan membaca merek obat tersebut. "Ini obat anti mual ibu hamil, ini vitamin, dan ini obat penguat," jelas dokter itu menjelaskan satu persatu obat yang Daniel berikan.
"Apa? Berarti benar istri saya sedang hamil?" Daniel begitu senang mendengar kabar baik ini, tapi sedih kenapa Denisa tidak mengatakanya, sudah sejak kapan Denisa tahu tentang kehamilannya? Kenapa dia menyembunyikanya?
"Bapak tidak tahu?"
Daniel menggeleng cepat. "Istri saya belum memberi tahu."
Dokter itu mengangguk. "Pasti ada alasan yang tepat, kenapa istri anda tidak memberi tahu."
Daniel terdiam.
"Jadi? Apa saya harus tetap memeriksa istri anda, atau bagaimana?"
"Saran Mama, sebaiknya coba kamu pancing dulu," saran Dina, datang dari arah dapur dan duduk disebelah Daniel.
"Dara mana, Ma?" tanya Daniel karena Dina meninggalkan Dara seorang diri.
"Lagi ngambil tasnya dikamar," jawab Dina. "Mama sudah bilang, Denisa pasti memiliki alasan yang kuat kenapa belum memberi tahu kamu, coba kamu pancing-pancing dulu, kamu yang tahu bagaimana mana dia." Lanjutnya.
Daniel kembali teringat perkataan Denisa semalam.
Astaga, apa masa lalu kami yang membuatnya takut jujur.
"Daniel tahu apa yang harus Daniel lakukan, Ma."
"Bagus, Mama percaya sama kamu." Dina menepuk pundak Daniel, kini dia hanya tinggal mendukung apapun yang terjadi pada anaknya, hidupnya sudah sangat sempurna, Daniel mempunyai pasangan yang baik, karier yang mapan, cucu yang cantik, dan ... pacar yang tampan.
"Nek, Dara sudah siap." teriak Dara dari arah kamar Dina.
"Pi, Dara sekolah dulu." Ia menyalami papinya, dan juga dokter itu.
"Hati-hati ya sayang, nanti kapan-kapan Papi yang antar."
"Iya, Pi. Papi jagain Mami sama dedek Dara aja."
"Dara tahu dari mana kalau Dara mau punya adik?" Usap Daniel rambut anaknya.
"Nenek."
"Mama cuma menduga, tapi dugaan Mama benar, kan?" sergah Dina seraya berdiri. "Maaf ya bu Dokter, saya permisi dulu, mau antar cucu sekolah."
Dokter ikut berdiri. "Kalau begitu saya juga pamit dulu, jika nanti Pak Daniel butuh bantuan saya, hubungi saja."
"Terima kasih, Dok," mereka berjabatan tangan.
Daniel mengantar ibu dan dokter sampai ke depan, saat mereka tak terlihat lagi, Daniel naik ke kamarnya.
Denisa masih tidur saat Daniel masuk ke kamar, ia kembali meletakkan obat yang tadi dia ambil ke dalam tas Denisa.
Kemudian ia kembali ke tempat tidur, terlebih dahulu ia berdiri dihadapan Denisa. Daniel memperhatikan wajah Denisa sambil berdiri. Sungguh sangat senang ternyata Denisa telah mengandung buah hatinya, ia tak akan marah Denisa menyembunyikan itu, hanya tinggal memancing bagaimana caranya Denisa jujur dari bibirnya sendiri.
Daniel menunduk, mencium kening istrinya lama. "Terima kasih sayang, kamu telah mengandung anak kita.
__ADS_1
Karena jarak tubuhnya yang dekat, membuat Denisa dapat mencium aroma tubuhnya.
Huwek
Huwek
Denisa nembuka mata, dan mengangkat badan seraya menutup mulut.
"Maaf sayang, aku ganggu kamu?" Denisa menggeleng, Daniel duduk disebelahnya, ya Tuhaaan ini ujian untuk Denisa, tak suka mencium baunya, tapi orangnya mendekat terus.
"Muntahnya nggak jadi?" Denisa menggeleng.
Akan lebih parah kalau kamu dekat-dekat.
"Kamu jangan tidur lagi, aku buatin yang baru." pintanya lebih ke perintah. Daniel bangkit, membawa lagi nampan yang tadi ia bawa, untuk diganti yang baru.
"Kakak nggak kerja?" tanyanya sebelum suaminya keluar. Walau malas untuk membuka mulut, tapi Denisa harus tetap bertanya.
"Aku ambil cuti sampai kamu sembuh."
Apa? Itu artinya kami akan selalu berdekatan? Ini tidak akan membuatku sembuh, tapi akan lebih parah.
"Kakak kerja aja, aku nggak apa." Mengusir secara halus.
"Tapi aku terlanjur bilang begitu. Tenang, walau aku anak baru, Abian tidak akan memecatku." Daniel mengedipkan matanya, lalu menghilang dibalik pintu.
Hufft, Denisa menjadi bingung sendiri, harus katakan sekarang atau tidak tentang kehamilannya. Jujur dia takut, tapi melihat kekhawatiran Daniel tadi, Denisa jadi tahu jika Daniel menyayanginya.
Kemudian Denisa melihat jam, ternyata jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Astaga ternyata dia tidur sudah sangat lama, Denisa merutuki diri, jika dia bermalas-malasan seperti ini, wajar jika Daniel suatu saat akan meninggalkannya.
"Mau kemana?"
Baru saja dia akan menurunkan kakinya, Daniel sudah kembali, Denisa tersentak kaget.
"Apa Dara sudah berangkat?"
"Sudah," jawabnya, "kamu diam disitu, Dara sudah menjadi urusan Mama, kamu jangan khawatirkan dia."
"Semenjak kita menikah, aku seperti mengabaikan Dara," lirihnya. Denisa memundurkan badan saat Daniel duduk di hadapanya, dia menutup hidung.
"Minum dulu tehnya, ini buatan ku sendiri, khusus untuk istri ku tercinta, tersayang, san yang paling cantik."
"Kakak jangan gombal, aku jadi ingin muntah lagi." Setelah meneguk tah hangat entah mengapa perutnya kembali bergejolak, dan ini lebih parah dari yang tadi.
Belum sempat sampai ke kamar mandi tapi Denisa sudah sempoyongan, dan alhasil di menembakkan isi perutnya di lantai.
"Nggak papa, disini saja," Daniel menekan tengkuk Denisa, membantu mengeluarkan seluruh isi perutnya, Denisa benar-benar mengeluarkan apa yang ingin ia keluarkan diatas lantai
Dia sampai terbatuk-batuk, dengan mata yang memerah, Daniel begitu tak tega melihat keadaan Denisa seperti ini.
"Kamu belum makan apa-apa, tapi semuanya keluar." Daniel membersihkan mulut Denisa menggunakan tissu. Kemudian membantu Denisa kembali ke tempat tidur.
Daniel memanggil art-nya untuk membersihkan lantai.
"Maaf Kak, aku juga nggak tahu kenapa begini?"
"Yakin kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari ku?"
Degh.
Pandangan mereka bertemu, mereka saling tatap dalam diam, Daniel menggenggam tangan Denisa.
"Jujur saja, apa ada yang kamu rahasiakan dari ku?"
"Kak!"
"Aku baca gejala yang kamu alami ini, adalah gejala ibu hamil," dustanya, "sayang, apa kamu hamil?"
"Aku."
Daniel menyusuri wajah Denisa dengan jari telunjuknya. "Aku sangat senang kalau kamu hamil, Denisa. Aku akan menerima keadaan kamu, mau kamu seperti apa, aku akan menerimanya."
Denisa diam, dia dapat merasakan ketulusan dari ucapan Daniel, dari tatapan Daniel, dia juga menemukan tatapan penuh cinta dan sayang. Bukan tatapan lima tahun yang lalu, tatapan dingin tak suka.
"Jangan pernah menyembunyikan apapun dari ku. Anak yang kamu kandung, anak ku. Jadi kamu jangan menyembunyikannya, jangan siksa diri kamu sendiri, apa yang membuat kamu tidak mau mengatakanya padaku? Apa seluruh kasih sayang ku masih membuat mu ragu? Apa yang aku lakukan masih kurang menyakinkanmu, kalau aku sangat menyayangimu? Katakan!"
"Kak, aku."
__ADS_1
"Kamu hamil, iya kan?"
Tanpa terasa bulir bening mengalir diujung matanya.
"Maaf, Kak."
Daniel mengapus air matanya. "Sayang, kamu benar hamil?"
Denisa tak dapat berkata-kata, lidahnya keluh.
"Aku merasa jadi suami yang jahat jika sampai membiarkan istriku tersiksa sendiri karena sedang mengandung anakku, kamu tahu, aku menantikan kehadiran anak kita, jadi tolong jangan sampai kamu menyembunyikan itu."
Daniel semakin dalam menatap mata Denisa, membuat Denisa seperti merasa trhipnotis sam kepalanya mengangguk seraya menjawab iya.
"Kamu tahu aku sangat senang mendengarnya, Denisa. Aku senang sayang." Daniel ikut menitikkan air matanya, mengeratkan pelukanya, dan mengecup ranbut Denisa dengan penuh sayang.
"Maaf jika aku pernah membuat mu takut untuk mengatakannya, tapi percayalah, aku sangat senang, jangan takut apapun lagi, aku tidak akan pernah meninggalkan mu, bagaimana pun keadaan mu, Denisa."
Denisa semakin terisak, merasa bersalah karena telah membohongi suaminya, tapi jujur saja, bukan niatnya untuk berbohong.
"Maaf."
"Bukan salahmu." Semakin deras saja air mata Denisa, dia memeluk erat leher Daniel, jujur dia rindu suaminya, rindu berpelukan seperti ini. Tapi lagi, perutnya tak bisa sedikit saja mencium aroma tubuh Daniel, membuat Denisa harus kembali mengeluarkan isi perutnya ke lantai.
Hingga Denisa merasakan tenaganya terkuras habis, kepalanya terasa tujuh keliling, dan akhirnya dia kembali menghempaskan kepalanya ke bantal.
"Astaga, kamu ingin menyembunyikan ini? Kamu membuatku semakin bersalah kalau aku tidak cepat mencari tahu."
"Aku nggak papa, Kak."
"Apanya yang tidak apa-apa? Kamu sudah tak bertenaga lagi, darah juga seakan tidak mengalir didalam tubuh kamu," marah Daniel.
"Den, buburnya sudah datang." ujar sang art, membawakan bubur ayam kepada Daniel.
"Terima kasih, Bi. Maaf jika lantainya kotor lagi."
"Tidak apa-apa Den, ini tugas saya." Denisa sudah tak bisa lagi membuka mulut, bibirnya terasa kaku, tenaganya benar-benar habis.
"Sepertinya anak kita nggak suka didekat Kakak, makanya aku selalu mùntah jika Kakak dekat-dekat aku." dengan suara pelan dan terbata Denisa mengatakan itu.
"Sayang, jangan bercanda. Apa ini artinya kamu ngidam seperti itu?" Denisa mengangguk lemah. "Tolong pilih ngidam yang lain, aku nggak bisa berjauhan dengan kamu." Sedikit demi sedikit Daniel meyuapi Denisa bubur, Denisa menerima saja, karena ia ingat didalam ada buah hatinya, walaupun setelahnya, dia kembali mengeluarkan lagi makanan yang masuk kedalam mulutnya.
.
.
.
Dikediaman Ricko.
Ricko baru saja pulang dari bandara dan memakirkan mobilnya di garasi. Dia bertemu papanya didepan pintu.
"Papa mau kemana?"
"Jemput bidadari Papa."
Ricko mengerutkan keningnya. "Bidadari?"
"Iya, bidadari Papa. Kemarin Papa tidak bertemu dengannya, Papa sudah sangat rindu," ujarnya tersenyum lebar. "Papa nungguin kamu untuk meminang bidadari kamu, tapi kamu nggak bawa-bawa juga, makanya Papa duluin aja, Papa mau bawa bidadari Papa kesini, mau Papa kenalin sama kamu. Ingat ya, kenalin, bukan meminta restu." ucapnya menjelaskan makna ucapanya.
"Siapa dia, Pa?"
"Ah lihat saja nanti, tapi ingat, kamu jangan naksir ya, dia sangat cantik."
"Apa dia seusia ku, Pa?" papa Ricko mengendikkan bahu. "Pa, kalau dia daun muda Ricko nggak restui, mana ada daun muda yang mau sama Papa kecuali dia menginginkan harta Papa."
"Ciee syirik tanda tak mampu." Goda Papa Ricko berlalu masuk kedalam mobilnya, dan menjalankan mobil tanpa menghiraukan lagi perkataan Ricko.
"Pa, awas ya kalau sampai mama tiri aku daun muda, aku kasih dia sianìda."
Tin
Tin
Papa Ricko menjawab dengan membunyikan suara klaksonya, membuat Ricko kesal bukan kepalang.
"Awas ya aki-aki kalau wanita itu masih muda. Aku akan melakukan apapun untuk menggagalkan pernikahan kalian. Jika papa udah nggak waras, aku yang waras yang akan menyadarkanya."
__ADS_1