
Brugghhh
"Oh my god, Ric!" Amanda syok.
Mobil dari belakang itu mengantam bagian belakang mobilnya cukup keras, Amanda sudah bisa memastikan jika tabrakan itu membuat badan mobil lecet bahkan rusak.
Ricko melihat dari kaca spion.
Amanda dan Ricko bergegas turun, mumpung mobil yang menabraknya tadi masih berhenti, terlebih dahulu Amanda melihat bagian yang ditabrak.
Mulut Amanda menganga, cukup terkejut atas kerusakan yang terjadi, bagian belakang mobilnya lecet dan penyok, bukan hanya sedikit, tapi cukup lebar dan parah, mata Amanda kemudian berpindah pada lampu tailnya yang juga pecah.
Dia menatap nyalang mobil dibelakangnya, sang pemilik mobil bahkan tidak turun untuk meminta maaf.
Amanda pun menghampiri mobil itu dengan amarah yang siap meledak.
"Heh, TURUN!" teriak Amanda seraya mengetuk kaca pintu mobil. Ricko yang melihat itu menghampiri Amanda.
Kaca pintu mobil diturunkan, seorang supir laki-laki berusia hampir setengah abad yang ada didalamnya. "Bapak lihat nggak, kalau saya mau belok? Mobil saya jadi rusak karena ditabrak Bapak?" Teriak Amanda memarahi supir itu.
"Bu, tadi Ibu belok menyalakan lampu sen, kenapa menyalahkan saya?" ucap pak supir membela diri, nada bicaranya santai, tidak ngotot, walau kenyataannya, Amandalah yang salah.
"Tapi pada kenyataannya, Bapak nabrak mobil saya. Jadi jangan ngeles, yang nabrak yang salah." Amanda bertambah ngotot.
"Man, kayaknya emang kamu yang salah deh." Ricko coba menyadarkan Amanda dari kesalahannya. Belakangan Amanda mudah sekali emosi, dan tak menyadari kesalahannya sendiri.
"Nggak Ric. Mobil ini tuh mahal, biaya perbaikinya pasti juga mahal. Dia harus ganti rugi."
"Dia cuma supir, Man. Kamu tega minta ganti sama dia?"
"Bodo amat."
Amanda melongok kedalam, dia melihat laki-laki matang, tampan dan gagah bersetelan jas duduk dibelakang supir itu, dia tampak santai, seperti tak terganggu dengan kegaduhan yang terjadi, Amanda jadi dongkol.
Pandangan laki-laki itu tak beralih sedikitpun dari benda pipih nan lebar ditanganya, seakan teriakan dan amarahnya hanya suara mengkerik jangkrik dimalam hari. Dari penampilannya, Amanda sudah bisa menebak dia pasti orang kaya, angkuh sekali dia, supirnya sedang mengalami kecelakaan, tapi dia berlagak cuek saja.
"Ada tuanya tuh duduk dibelakang," ujar Amanda memberi tahu Ricko, "dia anteng-anteng aja." Entah mengapa, setiap ada orang yang diam saja saat bermasalah denganya, itu membuat Amanda benci dan kesal, orang-orang seperti itu mengingatkannya pada Daniel dan Denisa, yang berbahagia diatas lukanya.
Amanda mengetuk kaca belakang, tepat disamping sang pria duduk.
"Bu, yang bawa mobil saya, jadi tuan saya tidak ada urusannya," teriak supir mengeluarkan kepalanya dari jendela, tak ingin majikannya terganggu dengan hal receh seperti ini.
"Bukain kaca jendelanya, dia harus tanggung jawab atas kesalahan Bapak." Ricko menggaruk kepalanya, melihat keras kepala Amanda.
Dari dalam, lelaki yang sejak tadi diam menoleh melihat Amanda, dia mengerutkan kening, wajah wanita dihadapanya ini nampak tak asing.
Supir itu memutuskan keluar dari dalam mobil, dia harus mencegah Amanda jangan sampai anarkis dan nekat menggores mobil tuanya.
"Pak, tolong temannya dinasehati, kalau sebenarnya dia yang salah." supir itu memutuskan berbicara pada Ricko yang dianggapnya lebih waras.
Amanda tertawa mendengus, dia geram, sehebat apa lelaki yang duduk dibelakang itu? sampai tak mau membuka kaca mobilnya.
Supir itu salah memilih keluar dan berbicara pada Ricko, disitu Amanda menerobos masuk lewat pintu kemudi.
"Gìla ya! ada manusia seperti anda? diam saja saat ada keributan seperti ini?" Amanda berteriak, dia geram pada orang yang tak perduli.
Laki-laki itu dibuat terkejut, Amanda masuk begitu saja. Matanya mencelos ingin keluar dari tempatnya, refleks dia menarik mundur tubuhnya, sudah lama sekali dia tak memandang wanita selain ibu dan kakaknya, bulu kuduknya merinding seketika, ada getaran hebat dalam dadanya.
Ricko dan supir itu pun terkejut dengan tindakan Amanda.
"Nona! Apa yang anda lakukan?" sigap supir itu berlari, dan menarik paksa Amanda. "Ayo Nona, keluar jika tidak ingin terjadi sesuatu sama Nona." ucapnya, sekuat tenaga dia menarik agar Amanda keluar.
"Lepas! Tuan kamu harus tanggung jawab, jangan pura-pura budek padahal dia tahu jika sedang ada keributan." Amanda mendorong tangan pak supir yang memeganginya.
"Jangan mentang-mentang dia kaya, dia bisa cuek." Sambung Amanda menuding pada lelaki itu, sungguh dia kesal sekali, lagi-lagi orang-orang seperti ini mengingatkannya pada Daniel dan Denisa.
"Amanda, kontrol emosi kamu." Ricko ikut menarik Amanda yang seperti kesetanan, dia menarik kedua sisi pundak Amanda, agar Amanda keluar dari mbil, takut-takut Amanda menyerang laki-laki itu. Dia tak tahu lagi, Amanda yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Amanda yang dulu, Amanda begitu agresif, Ricko sedih, sedalam itu luka Amanda, hingga merubah karakternya 360 derajat.
__ADS_1
Dan akhirnya Amanda bisa dibawa keluar oleh Ricko dan supir itu.
Laki-laki itu hanya menggeleng seraya menahan nafas melihat kelakuan Amanda yang persis pasien rumah sakit jiwa yang kabur, keringat sudah bercucuran dipelipsnya, matanya melebar, terlihat jika dia begitu takut pada Amanda.
Dengan tubuh gemetar dia meletakan tablet yang ia pegang disampingnya. Dengan cepat dia menulis sesuatu diatas kertas yang ia ambil dari saku dalam jasnya.
"Ini Pak Sam, ambil ini!" dia menyodorkan sebuah cek pada supirnya yang ia panggil Sam, supir itu mengambilnya, "ini kan yang dia mau? Aku beri lebih untuk dia berobat sekalian."
"I-iya Pak. Maaf." Pak Sam mengambil cek yang diberikan tuanya, dan memberikan pada Ricko, tapi Amanda menyerobotnya.
Amanda merobek cek tersebut. "Aku nggak butuh cek seperti ini!" lalu ia masuk kembali kedalam mobil, melempar kertas-kertas tak bersalah yang telah ia bagi menjadi serpihan itu ke wajah si lelaki. Si lelaki memundurkan wajahnya seraya memejamkan mata.
Setelah melemparnya, Amanda menatap nyalang lelaki itu dengan dada naik turun, dia begitu emosi, sebab laki-laki didalam mobil itu yang tak ingin keluar sama sekali.
"Dasar, manusia-manusia seperti kalian ini menganggap semua masalah beres dengan memberi uang. Dan apa tadi? Kamu bilang buat berobat? kamu pikir aku sakit? yang sakit itu kalian, tak tahu cara berterima kasih dan meminta maaf dengan baik."
Lagi-lagi hal itu mengingatkannya kembali pada perbuatan Daniel yang memberinya dokter Anita. Kesal, hanya kesal yang Amanda rasakan jika mengingat semua itu.
Amanda menarik kepalanya keluar dari mobil, dan ...
Bum
Membanting pintu mobil dengan keras, sehingga laki-laki didalam mobil itu berjengit kaget. Dia tertawa, aneh sekali wanita ini, tadi minta ganti, sekarang dia menolak dan merobek cek pemberianya, benar-benar wanita sakit jiwa.
Tapi dia juga tak pantang menyerah, jiwanya merasa tercoreng dengan penolakan wanita tersebut, entah mengapa dia tetiba tak mau kalah. Dia kembali menggores tinta diatas cek miliknya, kemudian membuka jendela mobilnya.
"Hei kamu," lambainya pada Ricko, "ambil ini," ujarnya, Ricko diammenatap cek itu, Ricko memeluk tubuh Amanda erat, agar Amanda tak berulah lagi.
"Aku beri jumlah yang lebih banyak dari yang tadi, ajak teman mu itu berobat, aku kasihan padanya, dia masih muda, masa depannya masih panjang." jelasnya karena Ricko hanya diam.
"Tidak perlu, Pak." tolak Ricko cepat, "teman saya cukup sehat. Mungkin yang dia inginkan hanya permintaan maaf anda." Ricko ikut tersinggung dengan yang laki-laki itu ucapkan, seburuk apapun Amanda, jika ada yang merendahkan Amanda, dia tak terima.
Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya. "Apa aku tidak salah dengar? Sepertinya orang seperti teman anda tidak terlalu bodòh untuk bisa menilai mana yang benar, dan mana yang salah?" Dia berkata demikian karena melihat pakaian yang dikenakan Amanda semua branded, tak mungkin Amanda bukan wanita berpendidikan.
"Kecuali dia memiliki masalah pada kejiwaanya, saya sarankan jika sedang ada masalah diam di rumah lebih baik dari pada keluar, dan akan menimbulkan banyak masalah."
"Simpan kembali saja cek anda, Pak. Jika anda lebih baik dari teman saya, bukankah meminta maaf walau tak bersalah tidak akan merendahkan diri anda."
Alis laki-laki itu terangkat, ada-ada saja. Apa, meminta maaf atas sesuatu kesalahan yang bukan ia lakukan?
Ahhhh pekerjaannya sangat banyak, entah wanita aneh ini turun dari planet mana? Tapi dia tidak ingin berurusan dengan wanita aneh ini terlalu lama, bibir yang tak pernah meminta maaf pada siapapun kecuali pada Abdi dan Indah itu akhirnya memutuskan untuk minta maaf.
"Oke, hanya minta maaf bukan?" Dia menarik nafas, sebelum mengucapkan kata keramat yang sangat sulit untuk diucapkan itu, apalagi ini bukan kesalahannya.
"Aku minta maaf."
Semua terdiam.
Pak Sam cukup terkejut.
Amanda memutar bola mata malas, permintaan maaf laki-laki itu sangat tidak tulus, dia sangat tidak puas.
"Ayo, Pak Sam. Kita jalan, kita sudah terlambat," perintahnya pada sang supir, lalu menutup jendela mobil.
Amanda meronta dari pelukan Ricko, ingin sekali dia menonjok wajah menyebalkan lelaki itu, tapi Ricko menahannya.
"Sudah Man, sudah."
Setelah supir itu masuk, dia segera menjalankan mobilnya, meninggalkan Amanda dan Ricko.
Ricko yang mengambil alih menyetir. Didalam mobil, tak ada yang membuka suara, suasana menjadi senyap, Amanda mendadak diam seribu bahasa, entah apa yang gadis itu pikirkan, Ricko membiarkan itu, sampai Amanda tenang dan membuka mulut sendiri.
Tak lama Amanda memandang keluar jendela, air matanya jatuh, dadanya sesak, kenapa sulit sekali melupakan rasa sakit hatinya, hingga dia tak bisa menahan emosinya sendiri.
"Kapan aku bangga sama diriku sendiri Ric? Aku nggak bisa menangani diriku sendiri, aku berjuang sendiri, sampai aku merasa merendahkan diriku sendiri, melawan rasa sakit dan menghapus air mataku sendiri." Amanda bicara dengan suara bergetar, menyeka air matanya sendiri.
"Seribu kebaikan ku tak mereka anggap aku malaikat, tak ada kata maaf sama sekali, seolah aku ini iblis yang harus dijauhkan dari istrinya. Hukum alam begitu kejam." Amanda tergugu, dia menarik kaki dan menekuk lutut, menenggelamkan kepalanya disana.
__ADS_1
"Salah aku apa sih Ric? Kenapa aku dihukum sebegininya? Kamu pikir jadi aku itu mudah? Pura-pura baik-baik aja tuh aku nggak bisa Ric." Amanda semakin tergugu. Ricko memandang kasihan pada Amanda.
Lampu lalu lintas berganti warna merah. Ricko mengusap rambut Amanda.
"Dari kemarin aku bilang sama kamu, Man. Belajar menerima kenyataan, jangan memaksakan sesuatu yang bukan seharusnya menjadi milik kamu, take care of your mental healt."
"Batalkan niat kamu ingin menyaingi Denisa, kamu tetap wanita hebat dengan apa adanya kamu, kembalilah menjadi Amanda yang seperti dulu, hebat dan baik."
Amanda mengangkat kepalanya. "Aku sudah mengubur di baik itu Ric, susah untuk ku menggalinya lagi, aku mau menjadi orang jahat aja."
"Percayalah Man. Apa yang kamu tanam tidak ada yang sia-sia, suatu saat, kamu pasti bisa menemukan seseorang yang bisa mengobati luka mu. Jauh dari yang kamu harapkan."
Lampu lalu lintas berganti warna, Ricko kembali menjalankan mobilnya.
* * *
Kembali ke pasangan pengantin baru, double D.
Daniel dan Denisa dalam perjalanan pulang kerumah, Daniel menyetir dengan serius.
"Kenapa sih, liatin aku terus?" Daniel meraup wajah mungil istrinya yang sejak masuk mobil terus menatapnya tanpa berkedip.
"Kakak ganteng." Denisa menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan suaminya, Denisa menyangggah kepalanya dengan tangan di dashboard mobil. Setelah apa yang Daniel lakukan terhadapnya, rasa cintanya kepada Daniel bertambah tiga kali lipat.
"Aku tahu." jawab Daniel mengulum senyum, menatap Denisa sekilas yang masih memandanginya, dia jadi salah tingkah. Daniel pura-pura tak melihat istrinya. Tapi dari ekor matanya dia menangkap, jika Denisa masih saja menatapnya.
Semenit.
Dua menit.
Tiga menit.
Daniel tak tahan.
"Mi, udah. Jangan liatin aku terus," ucapnya dengan sudut bibir yang tertarik keatas, konsentrasi mengendarainya jadi terganggu.
Denisa terkekeh, sedikit membetulkan tangannya, kemudian kembali menatap suaminya yang benar-benar sangat tampan. Daniel masih menangkap istrinya itu lewat ekor matanya.
"Sayang, ini bahaya loh, aku benar-benar nggak bisa konsen ini."
"Apa sih, Kak. Dilihatin aku aja Kakak salting, biasa aja kali."
"Tapi kamu bikin aku nggak konsentrasi, sayang."
"Kakak kok makin tua makin ganteng sih? aku curiga Kakak ini bukan manusia, tapi vampir." ucapnya terkekeh kecil. "Hai vampir, gigit leher aku donk." Denisa semakin menggoda suaminya, sumpah ya, melihat Daniel salting seperti ini, Denisa semakin gemas.
Daniel melipat bibirnya jadi segaris, menahan bibi yang tak ingin berhenti melengkung.
"Ya ampun istri ku ini, kalau nggak lagi sama Dara, sudah aku bawa kamu belok ke hotel, aku hisap daŕah kamu sampai habis."
Daniel memajukan letak duduknya, melihat lampu lalu lintas berganti warna merah.
Dia mencondongkan tubuhnya kearah Denisa. Denisa langsung menyilangkan tangan didada. "Jangan mesum ya dijalan." Daniel hanya tersenyum.
"Lebih baik kamu tidur deh, Mi. Biar dunia aman tenteram." Daniel merebahkan kursi yang diduduki Denisa. Denisa memanyunkan bibirnya.
"Aku kan cuma mau liat wajah ganteng suami aku."
"Tar aja dirumah, di puas-puasin ya." mengecup bibir Denisa sekilas, "ini bakal aku buat bengkak nanti, awas aja kamu." Mengusap bibir istrinya, "dulu aku belum berani hukum kamu, sekarang aku bakal hukum kamu beneran."
Denisa jadi bergidik ngeri, membayangkan hukuman yang akan Daniel berikan.
Hingga mereka sampai dirumah, tepat pukul enam sore.
Tak ada Dina dirumah, Daniel sudah menebak jika mamanya itu pasti keluar bersama papa Ricko.
Setelah meletakan Dara dikamar Dina. Daniel benar-benar memberikan hukuman pada Denisa, Denisa ia buat tak sempat memakai baju sama sekali sehabis mandi, entah apa yang terjadi, tapi bentuk kamar mereka begitu berantakan. Seprei kasur mereka sudah jatuh teronggok kelantai, tersisa kini, mereka berselimut si sofa dengan tubuh yang tak terhalang apapun.
__ADS_1