My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Usaha Daniel dan Ricko


__ADS_3

"Siapa Dek?" tanya Delia saat Denisa membuka separuh pintu kamarnya. Delia sampai memanjangkan lehernya melongok kedalam kamar adiknya.


"Nggak ada, Kak" ujar Denisa menggelengkan kepalanya. "Emang Kakak denger suara apa?" sebisa mungkin Denisa menyembunyikan kegugupannya karena berbohong.


"Tadi Kakak kayak denger kamu ngobrol sama orang, siapa?" Delia masih kekeh ingin tahu, memang cuma sekelebat dia mendengar suara laki-laki.


"Kakak salah denger mungkin, emang siapa yang aku ajak ngobrol. Kakak ini udah malem, jangan bikin aku takut." Denisa meraba tengkuknya merinding.


"Iya kali ya," walau demikian mata Delia masih menelisik ke dalam kamar ." Delia yang sehabis dari dapur mengambil botol minum Aira pun kembali ke kamarnya.


Denisa mengelus dada lega setelah memastikan kakaknya sudah naik ke kamarnya. Kemudian dia kembali menutup pintu dan menguncinya, ingin melihat Daniel yang ia sembunyikan disamping tempat tidur. Namun saat berbalik Denisa dibuat terkejut karena Daniel sudah berada tepat dibelakangnya.


"Astagfirullah, Kakak hampir bikin aku jantungan." Untuk kedua kalinya Denisa mengelus dadanya, kali ini karena terkejut.


"Sttttt," Daniel meletakkan telunjuknya di bibir Denisa, "pelan-pelan, nanti kakak kamu dengar lagi."


"Sebelum kamu jantungan kamu aku bikin hamil dulu, gimana?" Seringai Daniel merapatkan tubuhnya pada Denisa, membuat tubuh Denisa menempel ke pintu.


"Jangan macam-macam, Kak." Denisa memelototkan matanya dan tangannya mendorong dada Daniel, tapi percuma, Daniel semakin merapatkan tubuhnya.


"Dari pada kita begini, mau sampai kapan?" Tanpa ba-bi-bu seketika Daniel mengangkat tubuh Denisa dan membawanya ke tempat tidur. Hampir saja Denisa kelepasan berteriak.


"Kakak nekat ih, hampir aja bikin aku teriak." ujarnya sambil mengalungkan tanganya dileher Daniel.


"Aku bisa lebih nekat kalau keluarga kamu nolak aku terus." Perlahan Daniel merebahkan tubuh Denisa, Denisa menarik kaos yang dikenakan Daniel untuk berpegangan. "Waktu aku nggak banyak Denisa, aku harus segera keluar sebelum para satpam itu kembali lagi," Denisa mengerutkan dahi, iya dia lupa bertanya bagaimana Daniel bisa masuk?


"Aku jelasin besok bagaimana aku bisa masuk," ujarnya tahu yang dipikirkan Denisa, "aku begini karena tidak kuat jauh dari kamu. Aku tidak mau hubungan kita berakhir, aku mau berakhir tapi harus berakhir di pelaminan," ditatapnya manik kecoklatan Denisa yang berada dibawahnya. Mereka saling menyelami mata satu sama lain.


"Hubungi nomor ku, besok siang aku tunggu di minimarket tempat kita bertemu kemarin, ajak Dara juga."


"Kita mau kemana?"


"Ikut saja kalau kamu sayang sama aku, aku ada rencana agar hubungan kita bisa direstui."


"Rencana apa, Kak?"


"Ikut saja, sayang. Tapi kalau kamu tidak datang, berarti kamu memang ingin hubungan kita berakhir. Aku ikhlas jika itu sudah menjadi pilihan kamu, asal kamu dan Dara bahagia."


Hati Denisa mencelus atas ucapan Daniel, ada rasa tak rela jika Daniel menyerah begitu saja, tapi membiarkan Daniel berjuang sendiri itu juga tidak mungkin.


Daniel sendiri tanpa menunggu jawaban Denisa langsung bangkit dan keluar dari jendela tadi dia masuk. Dia tak bisa berlama-lama, Daniel merasa kesempatannya tinggal sekali ini saja.


Saat dia sampai depan, tepat tiga puluh menit dia didalam, dan saat dia akan keluar, terlihat kedua satpam Abian kembali sambil berlari kecil dengan nafas tersengal, Daniel segera keluar dan masuk kedalam mobilnya, segera menjalankan mobilnya menjauh dari rumah Abian, menuju tempat dia dan kedua pemuda tadi berjanji.


"Dasar anak-anak jaman sekarang, nggak ada kerjaan, iseng aja," ujar salah satu satpam rumah Abian.


"Iya, saya sampe ngos-ngosan ngejar mereka," sahut temannya, "kita emang harus sering olahraga seperti yang dianjurkan pak Abian, biar kalau ada maling bisa ngejar mereka." Lanjutnya sembari berjalan kembali ke pos jaga.


"Eh ini kita tinggal, nggak papa kan? nggak ada yang masuk?"


"Kalau ada yang masuk juga pasti pak Abian sudah keluar."


"Iya juga sih."


"Besok saja kita lihat cctv, kalau ada apa-apa kan pasti kelihatan," usulnya dan diangguki oleh temannya.


* * *


Keesokan harinya.


Setelah semalaman berpikir keras atas tawaran Daniel, dan mempertimbangkan sebab akibatnya, Denisa pun memutuskan menemui Daniel. Denisa berpamitan pada Delia untuk ke mini market bersama Dara. Delia mengizinkan tanpa menaruh kecurigaan apapun. Dengan menaiki ojek online Denisa dan Dara sampai ke mini market tempat kemarin mereka bertemu.


"Mi, kita ketemu Papi lagi?" tanya Dara antusias saat melihat Daniel berdiri di punggung mobilnya.

__ADS_1


Daniel yang sedang menunggu kedatangan mantan istri dan anaknya itu tersenyum senang, akhirnya Denisa mau datang menemuinya. Diapun berjalan menghampiri keduanya. Dan langsung menyambut Dara dalam pelukanya.


"Aku aja yang bayarin sayang," ujar Daniel saat Denisa turun dari ojek.


"Udah aku bayar pake aplikasi, Kak."


"Aku ganti uangnya."


"Nggak usah, yang Kakak kirimin juga masih utuh."


"Kok utuh sih?" ujarnya sambil berjalan menuju mobil, membukakan pintu belakang untuk Dara, setelah itu membukakan pintu depan untuk Denisa.


"Buat beli apa, bingung juga." Daniel hanya mengangguk, setelah memastikan Denisa duduk dengan nyaman dan memasangkan sabuk pengaman, dia menutup pintu, kemudian memutar bagian depan mobil untuk duduk dibelakang kemudi.


"Gimana, anak Papi, siap untuk vacation kita?"


"Siap, Pi." jawab Dara antusias, Daniel dan Denisa saling pandang dan saling melempar senyum melihat kebahagiaan Dara.


"Terima kasih," ucap Daniel saat sudah mengarahkan mobilnya keluar dari area mini market.


"Untuk?" ujar Denisa melipat dahinya.


"Kamu sudah mau datang memenuhi permintaan aku."


"Kakak harus bayar mahal, aku sering bohong gara-gara Kakak. Mama dan kak Delia pasti marah banget sama aku kalau tahu pergi sama Kakak."


"Aku bertanggung jawab sayang." Jawabnya kemudian melihat kebelakang. "Sayang, Papi udah siapin kamu camilan, buka aja didalam kantong itu."


Dara yang mendengar instruksi dari Daniel mengambil paper bag coklat dengan lebel mini market. "Banyak banget Pi, ini semua buat Dara?"


"Iya donk, kamu kan anak kesayangan Papi." menoleh kebelakang sejenak, lalu kembali fokus pada jalanan.


"Terima kasih banyak, Pi."


Dara bisa langsung dekat dan menerima Daniel, karena dia tak pernah menjelekkan Daniel, setiap Dara bertanya dulu, dia hanya bilang jika papinya sudah berada disurga, dan kini papinya sudah kembali dari surga.


"Sama-sama anak pintar. Oh ya, Papi juga punya sesuatu buat kamu, coba kamu lihat dibelakang." Dara yang sedang asik memilih cemilan yang akan dia makan pun langsung meletakkannya kembali, dan memutar tubuh mengambil sesuatu yang dimaksud Daniel.


Ternyata dibelakang sana, Daniel membelikan banyak boneka, dari kuda poni berwarna pink, boneka boba berwarna sama, barbie, dan boneka beruang berukuran besar.


"Pi, banyak banget bonekanya."


"Papi nggak tau kamu sukanya boneka apa, jadi papi beliin semua." Daniel mengintip wajah Dara dari spion tengah.


"Semua Dara suka yang Papi beli."


"Ambil semua untuk Dara."


Dara bersorak senang, dia mengambil kuda poni dan diletakkan duduk disampingnya. "Kok kita kalau ketemu Papi harus di mini market sih, Pi. Kenapa nggak kayak om Abian dan tante Delia yang satu rumah."


Denisa memandang Daniel, dia bingung harus menjawab apa, sedangkan Daniel tersenyum santai, dia mengambil tangan Denisa dan menelusupkan jemarinya di sela jemari Denisa.


"Nanti juga kita bisa serumah kayak om Abian dan tante Delia kok sayang."


"Bener, Pi?"


"Iya, Papi janji." Jawab Daniel, Denisa memandang Daniel lirih, Daniel menyelamatkannya dari pertanyaan Dara yang sulit untuk dia jawab.


"Mulai saat ini, aku tidak akan membuat kamu sendiri lagi dalam kesulitan, dan sepulang kita dari jalan-jalan, aku akan menghadapi mama dan Abian tanpa sembunyi-sembunyi lagi." Daniel makin mengeratkan genggamannya.


"Kamu menghadapi ini sendiri sayang, maaf. Ternyata kesulitan yang aku hadapi dulu nggak sebanding dengan yang kamu hadapi."


Denisa menunduk, dia mendadak melow mendapat perhatian Daniel. Sekuat tenaga dia menahan agar tangisnya tak pecah.

__ADS_1


* * *


Disisi lain, Ricko yang berhasil mendapat identitas Abian sebagai pemilik Airlangga Airlines akhirnya menemui Abian ke kantornya.


Ternyata menemui Abian tak semudah itu, dia harus menunjukkan kartu identitasnya, dan dia sudah menunggu selama satu jam diruang tunggu agar bisa menemui Abian.


"Dokter Ricko?" Ricko yang sedang menunduk melihat ponselnya pun mengangkat kepalanya.


Dia berdiri mengetahui Abian yang datang, dan menjabat tanganya. "Kak, eh Pak Abian." Ricko bingung harus memanggil Abian apa saking gugupnya.


"Santai aja, nggak usah gugup gitu." seloroh Abian meledek Ricko. "Sudah lama menunggu?"


"Belum, Kak."


Hahahaha Abian tertawa. "Satu jam lewat lima menit itu tidak lama ternyata, kalau aku, aku sudah pulang sejak tadi."


Ricko meringis, apa Abian sengaja membuatnya menunggu? Nasib sekali jika kita yang butuh. Kalau tidak karena sesuatu yang sangat penting, dia juga tidak mau menunggu seperti orang bodòh.


"Aku bukan sengaja, tadi ada meeting mendadak."


"Saya tahu, orang seperti Kak Abian pasti sangat sibuk."


"Ada apa? Pasti ada sesuatu yang penting." tebak Abian langsung tanpa menawarkan minum untuk Ricko.


Keduanya duduk bersebrangan di sofa single rotan, dengan meja bulat didepannya, Abian yang gagah menyilngkan kakinya dengan tangan yang dilipat didada. Melihat itu Ricko mendadak ciut, padahal dia sudah mengumpulkan keberanian full sebelum menemui Abian.


"Maaf, Kak. Sebenarnya kedatangan saya kesini ingin menanyakan keberadaan Denisa."


Abian mengangkat kedua alisnya. "Untuk?" tanyanya pura-pura tidak tahu.


"Langsung saja ya Kak," ucap Ricko memberanikan diri. "Jujur saya memang memiliki rasa dengan Denisa sejak lama, saya pernah mengutarakan perasaan saya, tapi Denisa menolak saya. Tapi saya rasa tidak ada salahnya jika saya mengutarakan niat baik saya pada Kak Abian selaku yang dipercaya sebagai walinya, saya ingin meminta Denisa jika memang dia belum ada yang memiliki."


Abian sungguh merasa specles dengan keberanian Ricko, tak menyangka kedatangan Ricko meminta Denisa langsung padanya. Seribu satu laki-laki yang memiliki keberanian seperti Ricko.


"Kamu yakin dengan perasaan kamu, Ricko?" tanya Abian memastikan.


"Sangat yakin." Jawab Ricko tanpa keraguan, itu semakin membuat Abian kagum, dia sebagai laki-laki dia mengacungkan jempol dengan keseriusan Ricko.


"Sebenarnya bukan aku yang harus kamu takuti Ricko, tapi Denisa lah. Kamu tahu sendiri siapa saingan kamu," Ricko mengangguk, tahu Daniel yang dia maksud. "Aku sebagai wali yang dipercaya menjaga adik-adik istri saya, ingin yang terbaik untuk mereka, dan sangat mendukung keberanian kamu. Aku yakin kamu laki-laki yang baik juga, tapi semua keputusan ada ditangan Denisa dan keluarganya."


"Saya tahu itu risikonya, Kak. Tapi perasaan saya pada Denisa sangat tulus, maka dari itu saya memberanikan diri untuk menemui Kakak, mencari keberadaan Denisa."


Abian berharap Denisa bisa membuka mata hatinya, tahu mana yang baik dan tidak baik untuknya, laki-laki yang sedang menghadapnya ini benar-benar laki-laki baik yang nyaris sempurna tidak memiliki celah sedikitpun. Karena sebelumnya juga dia sudah mencari tahu tentang Ricko, dan tak ada keburukan yang ia temukan pada diri Ricko.


.


.


.


.


*Hai semuanya, apa kabar? Aku ucapin terima kasih banyak yang sudah mendukung cerita Daniel dan Denisa.


Maaf kalau ceritanya kurang greget dan kurang memuaskan. Walau begitu aku bangga dengan cerita hasil pemikiran ku sendiri, karena di luar sana banyak cerita hasil mencuri karya orang lain.


Sombong sedikit ya, hehehe


Dan maaf juga karena jarang up, karena aku memang tidak sepintar itu membuat cerita. Satu bab itu sebenarnya bisa hasil ngetik dua hari, hehehe. Maaf jadi banyak curhat.


Jika masih tersedia vote nya, boleh disumbangkan untuk Denisa dan Daniel, dan juga gifnya, hihihi 😁


Cuma Tuhan yang bisa membalas kebaikan kalian semua.

__ADS_1


Love you all 😍 😍 ❤ ♥*


__ADS_2