
Daniel dibuat sibuk, saat dia mencari keberadaan Denisa, dia mendapat telepon, satu armada miliknya yang berada dibatam dikabarkan terbakar. Untung armada itu dalam keadaan bersandar di dermaga, dan sedang tidak membawa penumpang, dan beruntung timnya cepat tanggap, sehingga peristiwa itu tidak merembet ke armada lain, sehingga tidak merugikan banyak pihak dan yang pasti tidak memakan korban.
"Bagaimana bisa terbakar? Apa kalian tidak memperhatikan perawatannya?" ucap Daniel marah pada managernya melalui sambungan telepon.
"Maaf, Pak. Ini kelalaian saya."
"Kumpulkan semua pegawai, dan suruh rapat virtual saat ini juga, siapkan laporan keuangan dua bulan lalu," perintahnya tak ingin dibantah. "Dan satu lagi, jangan sampai media menyebarkan berita buruk mengenai perusahaan." Daniel meletakkan ponselnya diatas meja, memijit kepala yang terasa berdenyut.
Peristiwa ini bisa membuatnya rugi, dan yang pasti kelalaian seperti tidak bisa dianggap remeh, dia selalu mengingatkan seluruh pegawainya untuk selalu memperhatikan perawatan dan keamanan armada laut miliknya itu, jika sampai hal ini terjadi, berarti ada pegawainya yang tak jujur. Karena Daniel selalu memberikan uang perawatan setiap bulannya, dan jika armadanya sudah tak layak pakai, Daniel segera mengganti yang baru.
Tak lama ponselnya kembali berdering, tak ada nama penelepon, Daniel pikir nomor dari salah satu pegawainya, tanpa pikir panjang dia mendial tombol hijau untuk menjawabnya.
"Iya." Jawabnya dengan suara keras dan kembali siap menyemprot jika pegawainya kembali melakukan kesalahan.
"Urus keluarga mu, dan jauhi Denisa," ujar suara itu tanpa basa basi. Daniel mengerutkan keningnya. "Aku peringatkan sekali lagi Daniel, jangan pernah mentransfer uang untuk Dara. Denisa dan Dara tidak butuh sosok laki-laki b4jingan seperti mu."
"Abian?"
"Iya, ini aku. Kamu masih ingat suara ku kan? Di dunia memang hanya aku pemilik suara bagus seperti ini, Captain terbaik Airlangga Airlines." akunya jumawah. "Aku kasih padamu ya Daniel, aku memang bukan wali yang kuat untuk Denisa dan Dara, tapi aku punya hak penuh melindungi mereka. Oh apakah kamu belum tahu, jika ingin kembali dengan Denisa, langkahi dulu 20 ekor buaya, baru kamu bisa menjadi papi untuk Dara." Hahaha tawa mengejek Abian menggema.
"Bisa-bisanya ibumu datang menghina adik ipar, tapi dia tidak tahu kebusukan anaknya sendiri." Lanjutnya, dan kembali Abian mentertawakan Daniel.
"Aku pikir semut diseberang lautan terlihat, sedang gajah dipelupuk mata tidak kelihatan itu hanyalah pribahasa semata, nayatanya memang ada orang seperti itu." Abian berdecih, "perbaiki dulu akhlak mu, jika ingin menjadi papi yang baik untuk Dara. Tapi jangan harap kamu bisa kembali, aku tidak akan me
"Apa maksud kamu, enggak mungkin mama ngelakuin itu?"
"Terserah, kalau kamu nggak percaya. Berarti kamu dan mama kamu sama saja, aku kirim video cctv kalau tidak percaya, tapi kalau kamu dan mama mj belum datang meminta maaf, jangan harap kamu bisa bertemu Dara, dan bisa memberi Dara nafkah, apalagi sampai bisa menikahi Denisa. Ingat 20 buaya menunggu untuk kamu lewati jika mau kembali bersama Denisa."
Setelah mengatakan itu, Abian langsung mematikan teleponnya begitu saja. Daniel hanya dapat menarik nafas, kesal Dina malah menambah masalah baru untuknya.
Daniel segera menghubungi Dina.
__ADS_1
"Iya, Daniel. Ada apa sayang."
"Apa Mama datang kerumah Abian, Ma?"
"Iya. Kamu nelpon Mama cuma mau nanya itu? Mama pikir kamu mau menanyakan masalah kamu."
"Kenapa Mama kesana, apa yang Mama katakan sama Abian?" Suara Daniel terdekat meninggi, dan itu membuat Dina merasa sakit hati.
"Kamu sudah berani sama Mama Daniel? Rendahkan suara kamu saat bicara sama Mama. Mama nggak ngomong apa-apa, cuma menyampaikan sama mereka supaya Denisa tidak mengganggu hubungan kamu sama Amanda, Mama pusing Abian, kasihan sama Amanda. Mama nggak habis pikir kamu menceraikan Amanda saat malam pertama, Mama benar-benar gagal mendidik kamu, kalau kamu nggak suka, kenapa kamu harus menikahi dia?"
"Mama nggak tahu permasalahan aku, Ma. Pokoknya Mama jangan pernah ikut campur masalah Daniel lagi."
"Daniel, kamu sadar apa yang kamu katakan sama Mama. Seharusnya kamu sadar diri Daniel, kebakaran armada kamu, itu akibat kesalahan kamu, mungkin saja papa Amanda marah sama kamu, karena kamu menyakiti anaknya." Daniel langsung mematikan panggilannya dengan Dina begitu saja, membuat Dina kesal bukan main.
Daniel diam, dia menarik nafas dalam meredakan emosi, semua datang secara bersamaan, jika memang ini kesalahan yang harus ia tebus, dia akan menerimanya.
Saat sedang merenung, dari atas Daniel bisa melihat Denisa datang bersama Ricko entah dari mana, Denisa nampak dipapa oleh Ricko, dan dibelakang mereka, ada Amanda.
"Mereka siapa?" tanya Wahyu yang tak tahu menahu, dia sedang makan siang di aula, berbarengan dengan Sisi.
"Denisa dan dokter jelek itu."
"Aku lagi makan siang, sebelum rapat mulai." Jawabnya, dan tak lama, Denisa muncul bersama Ricko dari arah tangga, "eh mereka datang, aku matiin dulu." Wahyu memperhatikan keduanya.
Ricko mengantar Denisa sampai ke kamar. Saat itu, Wahyu tak sadar jika lauknya diambil oleh Sisi.
"Drum, kamu tahu mereka dari mana?" Wahyu memutar tubuhnya menghadap Sisi.
"Mana saya tahu." Padahal dalam hati Sisi juga bertanya, melihat rambut Denisa basah, dengan pakaian yang dia kenakan, "tapi tadi dokter Nisa bilang, diajak ketemuan sama dokter Amanda." Dia menggigit bibirnya keceplosan, ngapain juga jujur sama Wahyu.
Wahyu diam, memikirkan kemungkinan yang terjadi, disaat dia akan mengambil makan lagi, dia mencari lauk dipiringnya yang telah hilang, dan saat akan memarahi Sisi, Sisi sudah tak berada ditempatnya.
__ADS_1
"Sial, si drum pasti pelakunya." Wahyu mendesah, "apa ini karma karena aku ninggalin Daniel yang lagi pusing sendiri ya?" ujarnya pada diri sendiri.
"Pak Wahyu makanya bareng suster Sisi terus kalau saya perhatikan." Dokter Jenny datang, duduk disamping Wahyu.
"Ahh, masa sih Bu Dokter. Cuma kebetulan saja kali."
Bisa rugi gue punya bini doyan makan kayak sih drum.
"Suster Sisi itu cantik aslinya, bukan cuma cantik, dia juga baik," ujar dokter Jenny lagi, seolah mempromosikan Sisi.
"Semua wanita memang cantik kan Bu. Apalagi jika mereka jatuh pada laki-laki yang tepat." Sahutnya sok bijak. "Saya duluan ya Bu, lagi banyak urusan." Pamitnya, tak ingin menjadi bulan-bulanan dokter Jenny lagi.
* * *
Daniel menyusul Denisa ke kamarnya setelah mendapat laporan dari Wahyu. Dia tak mempedulikan lagi keberadaan orang-orang di aula saking mengkhawatirkan pujaan hati, tapi bukan Denisa yang dia dapat, melainkan Amanda.
"Kenapa kamu yang disini?"
"Pelanin suara kamu, Mas. Nanti orang salah kira, masak aku baru sampai kita udah berantem."
"Aku tidak perduli Amanda. Dimana Denisa?"
Amanda yang sedang mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, terpaksa harus menegakkan tulang-tulangnya yang terasa remuk. Suara keras Daniel juga memancing para dokter lain yang sedang beristirahat di aula.
"Bisa anda pelankan suara anda, Pak Daniel." Kebetulan Ricko yang sedang berada di aula menghampiri Daniel. "Lihat, disana sedang banyak orang, anda bisa ikut saya jika memang ingin tahu dimana Denisa."
Tatapan tajam Daniel berikan pada Amanda sebelum mengikuti langkah Ricko. Memang dia yang menyediakan kamar itu khusus untuk Denisa. Karena memang sesuai rencananya, dia akan menyusul Denisa, dan tidur berdua dikamar itu.
"Aku harap anda jauhi Denisa jika anda memang benar mencintainya, karena keberadaan anda dan semua yang anda lakukan sangat merugikan Denisa." Jelas Ricko, dia mengajak Daniel ke tepian dermaga, untuk berbicara berdua.
"Apa maksud kamu merugikan Denisa." tanya Daniel tak terima.
__ADS_1
"Amanda, anda telah merubah Amanda dari sosok wanita berhati malaikat, menjadi wanita berhati iblis. Aku mengenalnya cukup lama, dia tak sebringas ini, walaupun dia terbilang wanita banyak uang," jelas Ricko, "tapi setelah semua yang anda lakukan padanya, dia menjadi wanita yang menakutkan. Jika anda tidak menjaga sikap anda didepan Amanda, maka Denisa yang akan menjadi korban."