
"Daniel, kamu tidak perlu menikahi Amanda kalau memang kamu tidak memiliki rasa padanya, biarkan dia sakit sekarang, daripada dia terluka nanti, dan aku sudah tidak ada disampingnya. Papa hanya ingin kamu menjaganya, jaga dia dari apapun itu."
Sebutir air mata jatuh dari dari pelupuk mata indah wanita bernama Amanda Saputri Baskoro, mengingat pesan terakhir papanya pada Daniel, papanya tau apa yang terjadi, tapi Daniel tetap menikahinya. Amanda mengusap batu nisan papanya, dia menunduk, kembali mengingat pesan papa sebelum ijab kabulnya dengan Daniel.
"Daniel ingin menikahimu, tapi Papa yakin dia tidak mencintaimu, nak. Jangan dipaksakan, kamu akan menderita sendiri nantinya, dan Papa sudah tidak ada disamping kamu lagi, siapa yang akan menjadi sandaran kamu? Jangan diteruskan ya, Papa takut kamu menangis sendirian, Papa tidak bisa melakukan apa-apa untuk menenangkan kamu."
Pundak Amanda bergetar, benar pesan papanya, kini dia menangis seorang diri, laki-laki yang ia harapkan bisa hidup bersamanya, menemaninya disaat suka maupun duka, nyatanya Daniel meninggalkannya saat malam pertama, kata talak pun langsung terlontar dari bibir laki-laki yang sempat menikahinya dua jam sebelum papanya menghembuskan nafas terakhir. Kedua tangan Amanda kembali mengusap nisan mama dan papanya yang bersebelahan.
"Papa benar Pa, sekarang Amanda sendiri, Daniel menceraikan Amanda dimalam pertama kami, Amanda tidak punya siapa-siapa, Daniel mencintai wanita lain, tapi Ma, Pa. Izinkan Amanda merebut cintanya, Amanda akan berjuang agar Daniel bisa mencintai Amanda, doakan Amanda ya Ma, Pa. Ini bukan jahat, tapi cinta memang butuh perjuangan dan pengorbanan kan? Amanda akan melakukan itu." Curhatnya disamping pusara kedua orang tuanya, arena sesuai keinginan papanya yang ingin dimakamkan disamping makam sang istri.
Amanda berdiri, membasahi ukiran nama papa dan mamanya diatas marmer berwarna hitam dengan air kembang yang ia beli di toko bunga khusus sebelum memasuki pemakaman.
...Malam setelah Amanda dan Daniel resmi menjadi suami istri, keduanya baru saja masuk kedalam kamar hotel yang dipesankan Dina, keduanya baru selesai menemui para tamu yang datang mengucapkan bela sungkawa, dan akan beristirahat. ...
...Amanda menggerakkan otot lehernya ke kiri ke kanan, duduk diujung ranjang, sedikit gugup karena ini merupakan malam pertamanya satu kamar dengan Daniel. Dia tahu malam ini pasti tidak akan terjadi apa-apa, namun ini pengalaman pertamanya sekamar berdua dengan lawan jenis. Daniel masuk dan menutup pintu, itu semakin membuat dadanya berdebar....
..."Amanda dengarkan aku, mulai malam ini, dan detik ini, kamu aku talak."...
...Amanda yang akan melepaskan flat shoesnya dibuat terkejut, dan tangan yang akan membuka sepatunya tadi diurungkan, dia merasakan bak disambar petir di malam terang bertabur bintang. ...
..."Kamu bilang apa mas?" tanyanya memastikan, padahal jika ucapan itu kembali terucap, itu akan sangat membuat hatinya bertambah sakit....
..."Kita bercerai, aku menalak kamu malam ini." Ulang Daniel tanpa keraguan sedikitpun....
..."Apa aku nggak salah dengar, mas?" Daniel menggeleng. Amanda menelan ludah, tak menyangka Daniel dengan mudah mengatakan itu. "Kamu ngelakuin ini sama aku mas, kamu tega, apa salah aku?"...
..."Karena memang ini yang harus aku lakukan." Kembali jawaban Daniel terdengar begitu enteng, seolah ungkapanya itu melepaskan Daniel dari beban yang sangat berat, tapi memang benar itu adanya....
..."Aku baru saja kehilangan papa, dan kamu sekarang menceraikan aku?" Daniel mengangguk, Amanda menggeleng tak percaya, air matanyapun mulai berjatuhan....
..."Kamu nggak punya perasaan, kamu ngelakuin ini sama aku, apa salah aku? Kamu sendiri yang mau menikahi aku, bukan aku yang minta," teriak Amanda dengan air mata yang semakin deras....
..."Oh ya?" Daniel yang masih mengenakan kemeja hitam polos dan celana jeans berwarna senada itu bersedekap, mengamati wajah cantik Amanda yang sudah merah karena menangis, tak ada rasa kasihan atau iba, sama seperti dia menceraikan Denisa dulu, tapi saat itu Denisa tak menangis, mungkin dia sudah mempersiapkan diri, karena perjanjian yang mereka buat sebelum pernikahan. ...
..."Kan aku sudah bilang sama kamu mas, kalau kamu menikahi aku karena terpaksa atau kasihan, kamu nggak harus ngelakuin itu, tapi kenapa kamu malah ngelakuin itu, memaksa aku dan menyakinkan papa, seolah kamu benar-benar sayang sama aku. Kamu tahu mas? kamu itu ingkar sama janji kamu ke papa, kamu berdosa sudah ingkar terhadap orang yang sudah nggak ada."...
..."Itu yang kamu ucapkan padaku, bukan yang kamu katakan pada Denisa."...
...Amanda membelalakkan mata, terkejut dengan yang dikatakan Daniel. "Apa maksud kamu, mas?"...
...Daniel tersenyum menyeringai, dia kemudian mengambil hapenya disaku celana depan, tangannya membuka kunci layar hape. Disana, wajah Dara Denisa memenuhi walpaper layar hapenya. Daniel menunjukkan layar ponselnya pada Amanda, dan Amanda kembali dibuat sakit tatkala wajah Denisa dan Dara menjadi background pesan milik Daniel....
..."Denisa mengirimnya sama kamu mas? Dia mengadu?" tubuh Amanda gemetar takut tapi juga bercampur kesal. Daniel menggeleng....
..."No, bukan. Tapi karena hape Denisa sudah aku sadap, jadi apapun yang masuk ke hapenya, masuk juga ke hape ku." Jawab Daniel tersenyum puas. ...
...Apa? Cinta macam apa ini? Amanda sungguh tak percaya, apa Denisa mengetahui ini? kedua tangan Amanda terkepal, sakit sekali rasanya mengetahui cinta Daniel terhadap Denisa begitu besar....
..."Aku nggak mau bercerai mas, aku cinta sama kamu."...
..."Tapi keputusan ku sudah bulat, talak sudah aku katakan, dan kita sudah resmi bercerai, kita juga belum melaporkan pernikahan kita secara sah ke negara, jadi kita sudah tidak memiliki hubungan apapun."...
__ADS_1
...Plakkk...
...Tangan Amanda mendarat keras dipipi Daniel, meninggalkan bekas kemerahan, dan menjalarkan rasa panas disana, Amanda yang sejak tadi duduk agar tak emosi, kini ganti berdiri....
..."Kamu benar-benar jahat Daniel, manusia tidak berperasaan." Amanda begitu marah....
..."Dan memang itu sifat asliku. Aku melindungi orang-orang yang aku sayang, kamu sudah menyeret Dara dan Denisa terlalu jauh. Jadi yang aku lakukan mempermudah Denisa lepas dari jerat kebaikan yang sudah kamu berikan padanya. Aku tidak ingin Denisa dalam kesulitan, dan kamu harus tau, sengaja aku mengirimnya menjadi relawan, agar dia tidak terlalu terpikirkan mendengar berita pernikahan kita."...
* * *
Akkkkkhhhhh
Amanda murka jika kembali mengingat perlakuan Daniel malam itu, dia membuang semua yang ada diatas meja riasnya, membuat barang-barang itu pecah behamburan. Amanda terduduk menyandar dibawah tempat tidur, kepalanya ia sembunyikan diantara kedua lututnya yang menekuk, Amanda menjerit, menangis meluapkan semua rasa didalam hatinya.
Kini dia benar-benar sendiri.
"Kenapa harus malam itu juga mas? Setidaknya kamu menunggu sampai empat puluh hari setelah kepergian papa, saat itu bahkan belum dua puluh empat jam papa pergi ninggalin aku, dan kamu juga ninggalin aku begitu saja."
Kembali Amanda menjerit, dadanya terasa semakin sesak, tak ada yang menemaninya, tak ada yang mengerti keadaannya, mama Dina belum mengetahui ini, namun jika dia mengadu pada Dina, maka Daniel akan membocorkan isi pesanya kepada Denisa.
Dua jam lamanya Amanda menangis, melepaskan semua beban dikepalanya, kini setelah meluapkan kemarahan dan kekesalanya, dia sudah kembali lebih baik.
Menangis bukan berarti dia wanita yang lemah, tapi dengan menangis dia bisa melepaskan segala beban dan masalah yang menimpanya.
"Enggak Amanda, ini bukan kamu, Denisa juga melakukan hal yang sama, Daniel dulu juga tidak mencintainya, ikuti permainan Daniel, dan kamu akan menjadi seperti Denisa, dicintai tanpa batas."
* * *
Di Raijua.
Saat ini, wanita yang selalu berpenampilan glamour dan senang bermain sosial media itu sedang berfoto dengan para relawan, baik dokter, perawat, staf, maupun warga yang sedang berobat.
"Ingat ya, kalian harus memposting di instagram kalian, atau sosial media milik kalian, kalau aku menjadi donatur paling besar disini," ucapnya tersenyum bangga.
"Siap Bu Marsha, beres." Wahyu yang menjawab.
"Jangan panggil Bu ya, kesannya aku tua banget, panggil Miss Marsha, oke, Mi-ss Mar-sha." tekanya ejaan namanya. Para dokter dan yang lainnya tertawa, menurut mereka sifat Marsha itu lebih ke lucu, bukan sombong.
Denisa mengingat-ingat, dia seperti pernah bertemu dengan wanita cantik dihadapanya ini.
"Kok aku kayak pernah lihat ya, Si? tapi aku lupa dimana?"
"Iyalah Dok, dia kan pengusaha kaya, mukanya wara-wiri di tivi, pemilik televisi swasta juga."
"Oh gitu ya? Aku salut sama wanita-wanita hebat seperti ini, dia sama kayak dokter Amanda, masih muda, tapi sudah banyak yang dia lakukan untuk negeri ini."
"Nggak usah minder Dokter Nisa, yang kita lakukan sekarang juga, bentuk sumbangsi kita untuk negara," jawab Sisi, "eh tapi rumah tangganya lagi kena gosip Dok, katanya suaminya sekarang mantan sekretaris dia dulu, nah gosipnya, suaminya lagi selingkuh sama wanita lain."
"Oh ya, gila suaminya, istri sesempurna itu diselingkuhi?" Sisi mengangguk cepat.
"Dokter Nisa tau nggak suaminya?" Denisa menggeleng, "ck dokter Nisa taunya apa sih? Suaminya itu, beeuhhhh ganteng banget." puji Sisi, mimik wajahnya pun dibuat berlebihan, "wajarlah kalo dia banyak disukai banyak cewek, ganteng, kaya lagi."
__ADS_1
"Cowok emang dimana-mana sama ya Si? Nggak puas sama satu perempuan." Sisi mengangguk membenarkan.
"Tapi nggak semua cowok begitu kali, drum air." Wahyu datang-datang ikut nimbrung.
"Nyamber aja kayak bensin." Cebik Sisi.
"Itu cuma gosip, kamu jangan nyebar gosip sembarangan." tegur Wahyu, karena dia tahu yang terjadi sebenarnya, "kamu bisa dituntut menyebar gosip hoax."
"Aku kan cuma nyeritain gosip yang tersebar aja."
"Tetap aja, kamu bakal kena pasal berlapis-lapis." Jawab Wahyu tak mau kalah.
"Kue lapis kali ahh."
"Udah-usah ihh kalian itu ribut terus kayak anak kecil, awas nanti jodoh loh."
"Ihhh amit-amit Dok." Sisi mengetuk keningnya.
"Sok kecantikan, ngaca drum air," ejek Wahyu, "eh nggak ada kaca besar ya? badanya kegedeaan sih." Wahyu tergelak, lalu lari saat Sisi akan menimpuknya dengan map tebal laporannya.
Denisa menggeleng, kemudian dia izin ke toilet. Saat menaiki tangga menuju lantai tiga, tak sengaja Denisa menabrak tubuh seseorang, membuatnya hampir jatuh, untung tangan orang tersebut cepat menariknya, membuat Denisa kini jatuh kedalam pelukanya.
Denisa diam sesaat karena masih syok, kemudian cepat menjauhkan diri saat telah sadar.
"Maaf," ujarnya menunduk.
"Lain kali hati-hati mbak, lihat karena kecerobohan anda, lipstik anda menempel di kemeja saya." omel orang tersebut.
Denisa langsung mengangkat kepalanya saat menyadari suara yang tak asing ditelinganya. Denisa menahan nafas persekian detik saat tahu jika orang itu adalah Daniel.
"Nanti istri saya marah kalau lihat ada noda lipstik dikemeja saya, nanti dikiranya saya selingkuh lagi." Omelnya lagi.
"Ba-baik, maaf," Denisa menjadi gugup, "kalau begitu saya bersihkan." Denisa berucap formal, karena sifat Daniel seperti tak mengenalnya.
"Baiklah, mbak, kita keatas." Denisa mengangguk, dan mengikuti langkah Daniel.
"Bukakan kemeja saya," Daniel merentangkan tanganya, meminta Denisa membukakan kancing kemejanya.
Mata Denisa membola dan seperti ingin lepas dari tempatnya mendengar permintaan Daniel.
"Ta-tapi-"
Daniel menarik tangan Denisa, membuat jarak mereka begitu dekat, jantung Denisa seketika berdebar cepat, dia jadi begitu takut, takut jika ada yang melihat mereka, dan menuduh Denisa yang tidak-tidak.
Daniel tersenyum puas, selalu senang melihat wajah takut Denisa. Mengerjai Denisa adalah hal yang sangat menyenangkan.
"Ayo mbak, katanya mau bersihin kemeja saya, kalau nggak dibersihin nanti istri saya lihat, dan saya dituduh selingkuh, saya takut saya sangat mencintai istri saya soalnya."
Denisa yang tak tahu harus berbuat apa, kedua tangannya diambil Daniel, dan meletakkan didadanya, Daniel menggerakkan tangan Denisa untuk membukakan kemejanya, Denisa ingin menarik tangannya, namun Daniel menahanannya.
"Hei, sedang apa kalian?"
__ADS_1
Suara seseorang mengejutkan keduanya, Daniel menjatuhkan tubuhnya disofa panjang ruang aula, dan menarik punggung Denisa, membuat Denisa jatuh diatas tubuhnya.
"Kamu mencoba menggoda saya mbak?" Daniel tersenyum, melihat wajah panik Denisa.