
Di parkiran hotel. Ricko dan Amanda duduk didalam mobil, kedua orang yang bersahabat itu tak jelas apa maksud kedatangan mereka, ini terjadi sebelum acara ijab kabul dimulai.
"Jadi ini kita cuma duduk didalam mobil tanpa ngelakuin apa-apa?" tanya Amanda mulai kesal, dia mengangkat arloji yang melingkar manis di pergelangan tanganya.
"Kita duduk disini hampir setengah jam loh, Ric. Aku nggak mau mati konyol kehabisan nafas karena nahan emosi, waktu ku terbuang percuma nemenin kamu dari tadi. Mending aku keluar, gagalin sendiri pernikahan mereka, aku nggak perduli dianggap gila oleh orang." Amanda melihat Ricko yang hanya diam menatap kosong kedepan.
"Kalau cuma mau bengong dan diam, mending kamu nongkrong di Wc." Amanda membuka mobil, namun tangannya dicegal oleh Ricko.
"Oke, kita pulang saja. Kita habiskan waktu kita minum wiski, bagaimana?" tawarnya.
Amanda tersenyum mendengkus. "Terus! Kita mabuk, dan tanpa sadar kita melakukan hubungan terlaraang gitu, enggak ya Ric! aku nggak mau, kita bakal diketawain, dua orang patah hati saling menghibur diri, gitu?"
"Itu tidak mungkin terjadi, Man. Kita hanya minum, tapi untuk melakukan hal konyol dengan cara kamu, itu juga tidak mungkin, dengan menghancurkan pernikahan mereka, sana saja kita bunuh diri, bukan hanya nama baik kita yang tercoreng, tapi karir kita juga akan hancur, lisensi kedokteran kita akan dicabut, dan kita tidak akan bisa melakukan apa-apa. Kita tidak tahu kedepannya, mungkin saja kita akan diberikan jodoh yang lebih baik, ini hanya jalan sementara yang harus kita jalani, anak-anak kita dan pasangan kita yang akan menanggung akibatnya."
"Bullshìt kamu, Ric." Amanda menyentak tangan Ricko kasar. "Enggak usah sok nyeramahin aku, aku bisa dengar ceramah lewat streaming yuojub kalau mau, bukan dari kamu. Heran deh sama kamu, gimana mau dapat wanita yang kamu mau kalau kamunya lembek seperti ini."
"Tutup pintunya, Man. Kita pergi saja." perintah Ricko tegas.
"Ricko!" Amanda berteriak.
"Man!" Ricko berucap lembut, penuh penekan, dan itu cukup membuat Amanda menutup kembali pintu mobilnya.
"Aku bersumpah acara mereka gagal dengan sendirinya, Ric. Demi Tuhan aku tidak ikhlas mereka bahagia, mereka sudah membuat aku sakit." Amanda tergugu, dia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan, rambutnya menutupi seluruh wajah Amanda.
__ADS_1
Ricko sudah mengubah posisi duduknya menghadap Amanda, walau tak melihat itu, namun Amanda tahu dari pergerakan Ricko.
"Diam Ric, jangan bicara apapun, biarkan aku mengeluarkan sumpah serapah ku pada mereka berdua, biarkan aku mengeluarkan semua kekesalan ku. Aku benci mereka Ric. Kalaupun mereka jadi menikah, aku bersumpah mereka tidak bahagia dan akan bercerai, agar mereka tahu apa yang aku rasakan." Suara Amanda teredam dalam tangannya.
"Amanda aku tahu kamu sedang emosi, tapi cobalah berucap yang baik-baik, doa baik akan berbalik pada kita."
Amanda mengangkat kepalanya, dan seketika memeluk Ricko. Dia menumpahkan semua emosinya, Amanda manangis didada Ricko, membuat kemeja yang Ricko kenakan basah.
"Tenangkan dirimu kamu, Man. Maaf sudah mengajak kamu kesini," Ricko menepuk pundak Amanda menenangkan, membelai surau Amanda lembut, Ricko membiarkan Amanda melepaskan semua bebannya.
* * *
Kembali lagi keruang ijab kabul.
"Tenang, habis ini boleh langsung dibawa ke kamar kok istrinya, sabar saja, tidak keluar kamar seminggu juga tidak akan ada yang marah," kelakar sang penghulu tersenyum, mencoba mencairkan suasana, agar Daniel tak begitu grogi, hal itu mengundang gelak tawa para tamu undangan dan keluarga, namun Daniel hanya menganggapi dengan lengkungan tipis dibibirnya, dia malu bukan kepalang.
Masa cowok seganteng dan sehebat dia gagal menikah hanya karena gagal mengucapkan ijab kabul.
Laki-laki tampan nan gagah yang mengenakan beskap berwarna senada dengan kebaya yang dikenakan Denisa itu sudah berkeringat dingin, peluh sebesar jagung sudah memenuhi keningnya. Dia tersentak saat merasakan tangan lembut Denisa dibawah meja mengusap punggung tangannya.
Daniel yang sejak tadi menahan diri untuk tak menoleh kearah calon istrinya pun dibuat menoleh, wajah cantik nan teduh Denisa kembali membuatnya semakin berdebar tak karuan.
Denisa tersenyum memberikan semangat pada laki-laki yang telah memberinya seorang putri cantik itu.
__ADS_1
"Ini, dibaca ulang, cuma sembilan kata, kita persingkat saja." Seruan penghulu membuat Denisa dan Daniel melihat padanya. Daniel mengambil kertas tersebut.
Dibacanya berkali-kali kalimat demi kalimat yang tertulis disana.
"Aku lihat, pak dokter Ricko ada diparkiran bawah, aku bisa memanggilnya jika kamu tidak bisa mengucapkan dengan baik kalimat sakral itu," bisik Abian dibelakang telinga Daniel.
Ingin Daniel mengumpat Abian, jika saja posisinya tidak terjepit seperti ini, ucapan Abian bukan memberikan semangat untuknya, malah membuatnya semakin grogi saja.
Setelah dirasa cukup, Daniel kembali menjabat tangan paman Denisa, dia menarik nafas panjang, berharap sekali ini dia tidak salah lagi. Suasana seketika menjadi hening, semua terlihat serius menunggu Daniel mengucapkan kalimat ijab kabul dengan benar.
Dengan satu tarikan nafas, kali ini Daniel berhasil mengucapkan kalimat sakral dengan lancar tanpa kesalahan sedikitpun. Semua kompak dan serempak mengucapkan 'Sah' dan kemudian terdengar kata 'Alhamdulillah' diucapkan serempak, Daniel specles langsung memeluk Denisa dan menangis haru.
"Akhirnya kamu sah jadi milik aku, Mi." Itulah yang dikatakan Daniel, air matanya langsung luruh, Daniel menciumi pelipis Denisa. Sungguh dia sangat bahagia, hatinya terasa plong, seolah batu besar yang menyumbat hatinya keluar.
Denisapun menangis haru, dia juga merasakan bahagia, tak menyangka dia dan Daniel kembali dipersatukan dalam ikatan yang sah.
Dina yang melihat itu pun menyusut air mata yang jatuh disudut matanya, dia langsung menghampiri Dara yang duduk bersama Delia, dia bersimpuh dihadapan Dara, menarik tubuh kecil Dara dan membawa dalam pelukanya, Dina menangis, menyesal telah mengabaikan keberadaan Dara karena rasa bencinya terhadap Denisa, padahal anak kecil yang tak berdosa ini tak tahu apa-apa.
"Maafkan Nenek, Sayang. Maaf Nenek pernah mengabaikan mu." ucap Dina mencium rambut Dara.
"Nenek kenapa nangis? Nenek jangan nangis ya, Nek." ucap Dara membuat Dina melepas pelukanya. "Nanti Nenek aku kasih brosur yang cantik lagi. Aku sekarang udah nggak dibully teman aku lagi, Nek."
Sungguh siapapun yang mendengar perkataan polos Dara akan merasakan teiris hatinya, mereka tak pernah tahu selama ini apa yang dialami Dara dan Denisa.
__ADS_1
Mama Denisa pun menelan ludahnya kasar, rasanya sangat sulit menelan ludahnya sendiri, dia ikut merasa bersalah telah mempersulit hubungan Daniel dan Denisa, tanpa tahu penderitaan Dara selama ini, dia disibukkan mengurus anak Dara, tapi dia abai dengan perasaan cucunya yang lain.