
Bukan perkara mudah mengobati orang yang mabuk buah kecubùng, harus selalu ditemani dan sabar, diobati hingga mereka benar-benar sadar dan sembuh. Jika tidak, mereka akan mengalami halusinasi cukup lama, hingga tiga hari, dan berakibat fatal lainnya.
Obat alami yang saat ini cukup manjur yaitu dengan diberi minum air kelapa hijau sebanyak mungkin sampai mereka sadar, bila perlu, sampai mereka mengeluarkan isi perutnya, lalu diberi susu murni agar orang tersebut tak mengalami dehidrasi dan mengakibatkan efek yang lebih fatal.
Ada juga dengan cara lain, yaitu dengan diberi minum perasaan jeruk lemon dicampur air soda, sejauh ini, cara itu yang diketahui cepat menyembuhkan orang yang mabuk buah yang membuat orang halusinasi parah tersebut tanpa menunggu sampai tiga hari.
Setelah ketiga laki-laki itu sadar, tiga hari mereka tak diizinkan keluar rumah oleh istri mereka, walau sudah dinyatakan sembuh, ditakutkan masih ada sisa efek yang akan menimbulkan kekacauan kedepannya. Bukan hanya tidak diizinkan keluar rumah, ketiganya juga harus menerima hukuman didiami oleh istri-istri mereka dan juga tidur diluar.
Belum lagi, mereka harus malu melihat video tingkah aneh mereka yang sempat direkam Denisa.
Dirumah Abian dan Delia.
Mereka sedang duduk ditepi kasur, Delia duduk membelakangi istrinya.
"Sayang, kamu belum maafin aku juga? Kan aku udah jelasin, aku benar-benar nggak tahu buah itu, Mahesa yang bawa, katanya dia dikasih klienya." Rayu Abian menjelaskan untuk yang keseratus kalinya.
"Kamu sudah tua, Bi. Harusnya kamu cari tahu dulu buah itu sebelum memakannya, kalau ada orang kasih kamu buah aneh lagi, kamu langsung makan gitu aja, tanpa mencari tahu dulu apa nama buah itu? bahaya atau tidak? beracun apa tidak?"
"Aku nggak kepikiran sampai sana sayang. Kan Mahesa yang bawa, aku pikir aman-aman saja." Abian ingin menjangkau bahu Delia, tapi Delia menepisnya.
"Awas, jangan dekat-dekat aku, aku alergi sama kamu."
"Jangan lama-lama alerginya, aku kangen." rengek Abian, "malam ini, kau udah boleh tidur dikamar kan?"
Bukan jawaban yang Abian dapatkan, ia justru dilempar guling dan selimut tepat didepan wajahnya. Abian menggulung selimut itu, dengan wajah kusut seperti pakaian tak disetrika, Abian keluar kamar menggeret selimut dan gulingnya.
Ia tak berani membantah lagi.
"Oke, aku tidur diluar, kamu jangan lupa mimpiin aku ya. Aku bakal pukul guling aku dan sebut nama kamu tiga kali, biar bisa mimpiin lagi di cium sama kamu," ucapnya sebelum menutup pintu.
Delia berbalik setelah pintu benar-benar tetutup, dia sebenarnya tak tega, tapi harus memeberi pelajaran agar kedepannya suaminya itu lebih berhati-hati lagi dalam memakan apapun yang belum pernah ia ketahui.
* * *
Dirumah Denisa.
Keadaan tak jauh berbeda dengan sang Kakak.
"Sayang, Mi. Papi kangen, pengen tidur dipeluk. Kamu nggak kasihan sama aku, aku kedinginan tidur diluar," rengek Daniel merapatkan tubuhnya pada punggung Denisa yang tidur membelakanginya, dia menjelajahi leher jenjang Denisa, berharap istrinya luluh. "Ini udah tiga hari loh. Kamu nggak kangen dipatok ular aku?"
"Nggak sama sekali, yang aku geli dideketin kamu," sahut Denisa ketus, dia menjauhkan tubuhnya, "awas, tuh selimut kamu dan bantalnya udah aku siapin."
Tak pantang menyerah, Daniel kembali menempelkan tubuhnya, menggesekkan ularnya yang sudah mengeras di b***ng Denisa, Denisa dibuat menelan ludah, dan sesuatu dalam dirinya terpancing oleh gesekan itu, matanya memejam, menikmati gesekan ular milik Daniel.
Sejurus kemudian dia membuka mata, nggak boleh, nggak boleh luluh sekarang. Ucapnya dalam hati, meneguhkan pendirian.
"Awas, aku nggak tertarik sama ular kamu." bohongnya, mendorong tubuh Daniel menggunakan siku. Sekuat tenaga dia melawan gejolak dalam dirinya yang ingin melihat dan merasakan ular milik suaminya memasuki dirinya, tapi gengsinya jauh lebih tinggi, dia tak boleh luluh sekarang.
"Sayang, kamu harus menyalahkan Mahesa, dia yang bawa buah itu, katanya untuk meningkatkan stamina, karena kita pengantin baru, biar makin hot diranjang."
Denisa membalikkan badan berhadapan dengan suaminya. "Jangan nyalain orang lain, kan Kakak bisa cari tahu dulu sebelum memakannya. Makanya, otaknya jangan mesum terus, kalah sama otak gugel yang pintar dan tahu segalanya."
"Kok otak aku disamain sama otak gugel, gugel bukan makhluk hidup, mana ada nafsu dia," sangkalnya membela diri. "Sayang tolonglah, kasihani ular aku yang lagi banyak-banyaknya menghasilkan bisa. Biar cepet jadi dedek bayi." ujarnya lagi memelas, mengharapkan belas kasihan sang istri.
"Kalau punya Kakak produk unggul, sekali sembur bisa juga udah jadi, lain lagi kalau punya Kakak-" Denisa mengatupkan bibir menyadari ucapannya yang salah.
"Sayang kamu meragukan milik ku? lupa kejadian lima tahun lalu?" Daniel mengingatkan, "itu aku dalam keadaan nggak sadar loh, apalagi ini kita sama-sama menikmati."
"STOP! jangan diungkit yang lalu, pokoknya aku nggak mau tidur dulu sama Kakak, aku sebel." Denisa menutup wajah Daniel dengan bantalnya.
Daniel bangun dan mengambil bantal itu. "Sayang, sampai berapa lama? Please aku lagi pengen banget ini, kata Mahesa buat meningkatkan stamina itu bener sayang, ular aku kenceng dari kemaren."
Denisa bimbang, tapi dia tak mau semudah itu memaafkan.
"Terus, kalo aku nggak kasih sekarang? Kakak mau nyari pelampiasan di luar, gitu?"
"Ya enggak, aku nggak akan berani, tapi tolonglah, kepala ku pusing ini kalo nggak disalurkan."
"Tahan sampe aku mau maafin Kakak, kalo Kakak benar-benar sayang aku. Sekarang Kakak keluar, aku ngantuk, mau tidur."
Daniel melihat wajah lelah Denisa, kasihan, dia juga tak mau memaksakan sang istri. Menarik nafas panjang, akhirnya Daniel keluar kamar membawa selimut dan bantal yang sudah disediakan Denisa.
* * *
Hal seperti Ini juga terjadi pada keluarga Dania. Sama, diapun menghukum sang suami yang ceroboh dengan membuatnya tidur diluar, ketiga saudari ini nampak kompak menghukum suaminya.
"Tayang, plesase, maafin aku. Aku tatut tidur diluar, suka ada suara-suara aneh dari dapur." Ucap Mahesa manja, merayu istrinya agar diizinkan tidur dikamar.
__ADS_1
"Bodoh amat, lagian kamu tuh sembarangan aja terima sesuatu dari klien. Masa seumur hidup nggak tahu yang namanya buah kecubùng?"
"Iya bener, aku emang gak pernah tahu buah itu, saat dikasih ya aku terima aja. Namanya juga usaha sayang, biar ranjang kita bergoyang terus."
"Goyang aja pake tangan, susah amat. Heran deh, kalo iming-iming masalah ranjang cowok itu gak mikir-mikir lagi ya? Gak cari tahu dulu gitu minimal. Ini untung kamu masih selamat, dikampung aku ada yang mabuk itu, nggak selamat loh. Gimana kalo itu terjadi sama kamu?"
"Anak kita masih bayi, aku masih muda, masih kinyis-kinyis masa udah jadi janda. Kamu tega aku jadi janda?" ucap Dania berapi-api, meluapkan kekhawatirannya beberapa hari lalu.
Sebenarnya, hal itu juga yang membuat Delia dan Denisa belum memaafkan kesalahan para suaminya, hanya untuk membuat mereka agar berhati-hati lagi, dan lebih ke mencari tahu dulu sebelum memakan sesuatu yang belum mereka ketahui.
Mahesa menggeleng cepat.
"Enggak, aku nggak mau kamu jadi janda. Tapi kan aku udah minta maaf dari kemaren sayang. Ini udah tiga hari masa belum dimaafin juga?"
"Ini nggak sebanding sama rasa khawatir aku, Mahesa Putra," geram Dania, "aku panik, saat telepon kamu nggak ada kabar, terus kata Kak Denisa kamu mabuk kecubùng. Untung Kakak aku dokter, bisa nenangin aku, dan tahu cara ngobatinya biar nggak berlanjut sampai tiga hari. Aku tuh bener-bener takut kalau kamu sampai lewat."
"Aku kemaren cuma makan sedikit, Kak Abian dan Kak Daniel juga makan dikit. Soalnya rasanya pahit sama kelat-kelat gitu." Jawab Mahesa enteng.
"Iya, kalo makan banyak mungkin kamu udah nggak disini, udah dialam lain, nggak bisa ngeliat kita, aku nangis sendiri, kamu tega biarin aku hidup sendiri, nggak ada yang nafkahi aku sama anak ku sebaik kamu," hiks hiks Dania menangis, membayangkan hal itu.
"Jadi kamu takut kehilangan aku cuma gara-gara nafkah?"
"Kamu pikir apa?" Dania sedikit membentak, sambil menangis. "Masih harus dijelasin juga? Kamu nggak peka, kamu pikir aja sendiri."
Brugghhh
Dania menutup pintu kamar dengan keras, membuat Mahesa terkejut.
"Sayang, kamu jangan nangis lagi. Iya aku percaya, kamu takut kehilangan aku bukan karena nafkah, tapi juga sayang sama aku, cuma aku kan yang ada dihati kamu?"
"Nggak tau, pikir aja sendiri." teriak Dania dari dalam kamar.
"Yaudah, kamu jangan nangis lagi, kamu tidur ya. Tapi besok kita baikan ya." Mahesa menempelkan telinganya ke daun pintu.
Hiks hiks hiks "Iya."
Mahesa tersenyum, jika seperti ini, berarti besok Dania akan memaafkannya, begitulah Dania, dia sudah paham betul, setelah menangis, melampiaskan kekesalannya, Dania pasti akan memaafkan kesalahannya dan berbaikan lagi.
* * *
Keesokan harinya, Mahesa sudah lebih lega, karena Dania benar-benar memaafkannya. Berbeda lagi dengan Abian dan Daniel. Kedua Kakak iparnya itu masih galau karena belum mendapatkan maaf dari istrinya.
"Gara-gara kamu yang nawarin kita, dan bawa buah l*knat itu, kita mengalami hal memalukan itu," ucapnya lagi. "Kamu enak udah baikan. Lah, gimana nasib kita berdua, mana efek buah itu sudah bereaksi, ular ku udah nggak sabar buat matok sarangnya," ujarnya menuntut.
Mereka janjian makan siang diluar, setelah tiga hari tak bertemu semenjak kejadian itu karena belum diperbolehkan keluar rumah, hari ini mereka mulai beraktivitas seperti biasa.
"Kok jadi aku yang tangguh jawab? Itumah pinter-pinter jentik nyamuk sama jamur aja," Mahesa tersenyum meledek, "ternyata jadi jentik nyamuk dan jamur bikin Kakak ipar jadi oòn." Mahesa tertawa senang bisa membalas kedua kakak iparnya.
"Assù," umpat Daniel.
"Aku sebenarnya ada ide sih, tapi aku nggak tahu ide ini berhasil apa enggak?" Daniel dan Mahesa memajukan duduknya mendengar usul Abian.
"Apa itu, aa jamur?" tanya Daniel tak sabaran.
Abian memutar bola mata jengah. "Biasanya, cewek itu luluh, kalau dikasih hadiah sama dikasih bunga yang mereka suka, kasih surprise gitu." ujar Abian menaik turunkan kedua alisnya, merasa idenya cukup cemerlang.
"Wah, bagus tuh." celetuk Mahesa.
"Tapi, lebih bagus lagi, kalau kasih hadiah itu, kamu yang bayar, gimana? Itung-itung kamu menebus kesalahan kamu lah, galon." Hahaha, mereka tertawa sendiri atas julukan baru mereka, dan terkadang malu, jika mengingat kekonyolan mereka saat tak sadar, ya Tuhan, kenapa tidak jadi pengaeran atau raja yang kerenan dikit.
Abian tersenyum sendiri mengingat itu.
"Yaa ... nggak bisa gitu." ujar Mahesa lemah, kembali menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Terserah sih, tapi yah, kota bakal sebarin video itu ke sosmed, karena nggak kooperatif setelah melakukan kesalahan." Abian sedikit mengancam. Daniel mengangguk setuju, soal kecurangan, Abian jagonya, bukan kaefci. Hehehe
Ancaman itu cukup mematikan buat Mahesa, sial sekali ada video aib itu.
"Yaudah, tas lima puluh ribuan ya, sama bunga kantil," ucap Mahesa menyetujui.
"Wah, songong," Daniel tak terima, "kayaknya video itu harus disebarin." Daniel mengompori.
Lagi-lagi ancaman video membuat Mahesa tak berkutik, padahal, jika video aib itu disebarkan, bukan hanya dia yang malu, namun, sebagai ipar paling muda, dia mengalah.
"Iya-iya, dasar ipar la***t, maen ngamcem aja, nasib jadi ipar bungsu, kenapa Dania nggak jadi anak pertama aja sih?" ujarnya akhirnya mengalah, hal ini membuat mereka lebih dekat satu sama lain. Dia juga menyadari, semua peristiwa ini terjadi karena ajakanya, meski sepenuhnya bukan kesalahannya.
* * *
__ADS_1
Perkara ngambek-ngambekan selesai, Delia luluh saat Abian pulang membawa sebucket bunga dari uang kertas berwarna merah, dan sebuah tas cantik yang memang ia inginkan, rasa lelah menjadi ibu rumah tangga, seharian mengurus anak hilang begitu saja.
Bukan hadiah yang membuatnya luluh, tapi lebih ke usaha sang suami yang tak pantang menyerah meminta maaf padanya.
Sebenarnya, bukan saat dia ngambek saja Abian memberinya hadiah, hari-hari biasa pun, suaminya begitu royal, memberikannya brand branded, sebagai ungkapan terima kasih suaminya, karena dia telah menjaga dan mengurus anak mereka.
Sementara di klinik Denisa.
Daniel datang tepat saat jam prakteknya selesai.
"Hai, selamat sore, my beautyful wife," sapanya langsung memasuki ruang kerja Denisa.
"Maaf Dok, tadi saya udah ngelarang Pak Daniel, tapi Pak Daniel memaksa masuk." ujar Sisi dari belakang Daniel.
"Nggak papa Si, kamu boleh keluar." Sisi mengangguk. Denisa kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Sayang, aku ggak telat, kan?" Daniel berdiri tepat dibelakang Denisa, seizin istrinya, dia memijit pundak Denisa. Darah Denisa berdesir menerima pijatan lembut suaminya, sudah beberapa mendiami suaminya, detak jantungnya berdebar cepat disentuh lembut penuh perhatian seperti ini.
Dalam diam dia menikmati pijatan Daniel yang begitu lembut itu, jujur dia merindukan suami nakal dan menyebalkan ini.
"Aku tahu kamu menikmatinya, Mi. Kamu pasti merindukan sentuhan aku 'kan?" Daniel sedikit menunduk, berbisik tepat dibelakang telinga Denisa, membuat sekujur Denisa meremang. Denisa sampai memejamkan mata, ia, dia menikmatinya.
"Kak." Tapi tanganya ingin menyingkirkan tangan Daniel dari pundaknya, masih ada sisa gengsi jika dia harus luluh begitu saja.
Daniel memutar kursi yang di duduki Denisa, membuat Denisa menghadapnya, pandangan keduanya bertemu, terpancar rasa rindu yang sama dalamnya dari tatapan mereka.
"Aku kangen banget, please, jangan tolak aku lagi."
Daniel memajukan wajahnya, semakin dekat, dia ingin melihat reaksi istrinya terlebih dahulu, Denisa tak coba menghindar, dia mendapat kesempatan ini, Daniel mulai memiringkan kepalanya, dan menempelkan bibirnya yang hangat ke bibir Denisa yang terasa dingin.
Denisa tak menolak, padahal tadi dia masih ingin mempertahankan gengsinya, nyatanya itu tak bisa, pesona ketampanan suaminya mengalahkan semua gengsi yang coba ia pertahankan.
Ciuman mereka begitu lembut, menyalurkan rasa rindu yang di tahanya. Namun tiba-tiba perut Denisa terasa mual, dia tak suka bau mulut Daniel, tapi tak ingin ciuman rindu ini terlepaskan begitu saja, ia coba memejam, menikmati ciumanya, tapi ... gejolak didalam perutnya sudah tak tertahan lagi.
Denisa menarik bibirnya, dan berlari menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangannya.
Howekkk
Howekkk
Daniel terkejut, dan berlari menghampiri Denisa. "Sayang, kamu kenapa?" Daniel membantu memijat tengkuk Denisa.
Denisa menggeleng. "Aku nggak tahu, mungkin karena telat makan siang." Denisa mengangkat kepalanya, dan mengelap mulutnya dengan tissu.
"Kamu keliatan pucat sayang, kamu sakit?" Daniel meraba kening Denisa.
"Nggak, mungkin pengaruh aku telat makan aja."
"Yaudah, yuk kita pulang." Daniel menuntun Denisa keluar dari kamar mandi, mengambil tas Denisa yang ada di atas meja.
"Si, kamu rapihin meja aku ya, aku tiba-tiba pusing." Pamit Denisa pada Sisi sebelum keluar klinik.
"Iya Dok. Jangan lupa perjanjian kita waktu lalu ya." sahut Sisi masih berusaha.
"Iya."
"Mi, kita makan dulu, ya. Biar perut kamu nggak mual. Macet ini kayaknya, kalau makan dirumah, takut kelamaan, perut kamu makin sakit nanti."
"Terserah Kakak saja." Jawab Denisa menyandarkantubuhnya di sandaran kursi, suaranya terdengar lemah, mengeluarkan isi perutnya sedikit, membuat tenaganya berkurang.
Daniel tersenyum, dia kemudian mengambil sesuatu dari belakang jok belakang.
"Sayang, untuk kecerobohan aku, aku minta maaf ya." ungkap Daniel memberikan bucket bunga dari uang kertas sama seperti Abian, dan sebuah paper bag berisi tas seharga satu unit mobil dipangkuan Denisa.
"Apaan sih Kak." Denisa menegakkan tubuhnya, tersenyum melihat bucket bunga dari uang kertas, kemudian membuka paper bag pemberian suaminya. "Kamu kenapa harus repot-repot sih, Kak. Aku diamin Kakak, karena sebenarnya aku takut terjadi sesuatu yang nggak aku inginkan sama Kakak. Buat yang tidak kuat, makan buah itu berdampak buruk."
"Iya, aku tahu. Makasih ya udah, khawatirin aku." Di genggamannya tangan Denisa.
"Terima kasih, Kak." Denisa mendekatkan tubuhnya ingin memeluk Daniel, tapi lagi-lagi, wangi parfum Daniel membuatnya terasa mual, Denisa kembali menarik badannya menjauh.
"Kamu mual lagi?" Denisa mengangguk, tangannya mencari sesuatu dari dalam tas, dan menemukan minyak kayu putih yang ia cari. menghirup aroma dari minyak tersebut, itu sedikit bisa meredam gejolak dalam perutnya.
"Sabar ya, sebentar lagi kita sampai di rumah makan sunda kesukaan kamu." Denisa tak menyahut lagi, dia menenangkan diri agar tak merasakan mual.
Tak lama mobilnya memasuki rumah makan yang ia sebutkan tadi.
Berjalan bergandengan tangan, keduanya memasuki rumah makan itu, kedatangan mereka disambut ramah oleh pelayan.
__ADS_1
Namun tak Denisa sangka, jika disana ada dua orang yang sudah lama tak bertemu dengannya, mereka sama-sama terkejut, ini momen pertemuan mereka setelah pernikahan Daniel dan Denisa.