
Daniel memeluk erat tubuh Denisa, dia seakan tak ingin berpisah, berat rasanya melakukan ini.
"Kabari aku jika sudah sampai ya?" Denisa mengangguk didalam pelukan tubuh besar Daniel. "Jangan nakal, jaga diri dan anak kita. Sering-sering kirim foto Dara." Denisa kembali mengangguk, Daniel mengantarnya ke bandara untuk pulang ke Jakarta.
"Kakak nggak mau lepasi aku? Udah dari tadi Kakak peluk aku." Denisa mendongak, wajah imutnnya membuat Daniel gemas, ditangkupnya wajah Denisa dengan kedua tangan, membuat bibir milik Denisa maju, Daniel mengecupnya sekilas.
"Aku akan cepat menyelesaikan masalah ku, dan akan datang menemui keluarga mu."
Denisa jadi mengharu atas ucapan Daniel, tak percaya Daniel kali ini memintanya, dan dalam rasa yang sama.
"Tapi, bagaimana dengan mama Dina?"
"Mama biar menjadi urusan ku."
"Tapi Kakak nggak boleh melawan, jangan buat masalah lagi." Daniel mengusap kening Denisa, merapikan rambutnya.
"Aku pasti kangen banget sama kamu, Mi." Alihkan Daniel, tak ingin Denisa menjadi banyak pikiran, dia hanya ingin Denisa tau beres, tak terlibat apapun.
Denisa tersenyum, setiap Daniel menyebut panggilan Mami untuknya, serasa ada yang bergetar didalam dirinya, dan dia selalu menyukai panggilan itu. Apalagi dia merasa Daniel begitu ingin melindunginya.
"Aku juga pasti kangen sama Kakak. Kakak jaga kesehatan."
"Dokter Nisaaa." Seruan dari Sisi membuat keduanya menoleh. Sisi datang bersama bu Nani dan Wahyu.
"Si." Denisa melepas pelukanya dari Daniel, membalas pelukan Sisi, kemudian berpindah memeluk bu Nani. "Bu."
"Aku udah diceritakan Mama sama Pak Wahyu, kalau Dokter Nisa mantan istrinya pak Daniel. Jahat, aku sendiri yang nggak tahu."
Denisa tertawa. "Emang harus banget kamu tahu?"
Sisi pura-pura menangis. "Ya ampun, keberadaan ku benar-benar nggak dianggap."
"Nak Nisa, hati-hati ya dijalan, salam untuk keluarga di Jakarta. Jangan lupa sering-sering kabari Ibu juga."
"Iya Bu. Ibu jaga kesehatan ya, anaknya jangan sering ditinggal, soalnya sekarang kayaknya udah ada yang sering buntutin." lirik Denisa, Sisi dan Wahyu bergantian.
"Eh, ini maksudnya saya?" tunjuk Wahyu dirinya, sadar jika dia yang dimaksud, "maaf ya Dokter cantik," Wahyu mengadu karena mendapat tendangan dari Daniel, lupa jika tak boleh ada yang memuji Denisa, selain dia. "Iya maaf," Wahyu mengelus kakinya bekas tendangan Daniel.
"Ini terpaksa, saya ibarat membajak sawah kalau giring dia."
"Eh maksud pak Wahyu saya kerbau gitu?" saut Sisi.
__ADS_1
"Bukan saya yang ngomong ya, kamu sendiri. Iya kan Bu?" Wahyu memegang kedua pundak Nani. Nani tersenyum memegang tangan Wahyu di pundaknya.
"Iya deh terserah Pak Wahyu, puas-puasin deh ngeledek saya. Awas nanti kalo saya udah glow up jadi bucin sama saya. Pak Wahyu mohon-mohon juga nggak akan saya terima."
"Amiin." Denisa mengaminkan.
"Amit-amit bucin sama drum air, boros-borosin pengeluaran."
"Maaa." Rengek Sisi menghentakkan kakinya, mengharap pembelaan pada Nani.
"Ahhh udah, kenapa kalian jadi pada ribut? Nanti aja di paud kalau mau ribut." Daniel menengahi. Sisi dan Wahyu sama-sama mengepalkan tangan ke udara, hal itu mendapat gelengan dari Nani.
Kembali Denisa berpelukan bersama Nani dan Sisi sebelum dia melakukan chek-in.
Tangan Daniel tak lepas menggenggam jemari Denisa sampai di pemeriksaan terakhir, berat rasanya berpisah dari Denisa, tapi masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.
"Andai aku bisa ikut sekarang, Mi."
"Selesaikan dulu masalah, Kakak."
"Jangan lupa matikan ponselnya, ya. Nyalakan setelah sampai." pesanya, seperti memberi tahu anak kecil. Denisa hanya tersenyum kacil dan mengangguk, kembali Daniel menarik keningnya untuk ia kecup, cukup lama Daniel melakukannya.
Daniel langsung merasakan kekosongan hatinya, baru hitungan detik, hidupnya tanpa Denisa benar terasa hampa.
*
*
*
Tidak langsung kembali keapartemenya, ternyata Daniel menunggu kedatangan Dina di bandara, hanya berselang sepuluh menit, pesawat yang ditumpangi Dina sudah mendarat. Wahyu terlebih dahulu pulang mengantarkan Sisi dan Nani pulang kerumahnya.
Wajah Dina sudah tak sedap dipandang saat melihat wajah putranya, seakan semua rasa marah dan kesal ingin ia luapkan saat ini juga. Tapi ia tahan, karena ini ditempat umum, namun Daniel tetap mengulurkan tanganya bentuk hormatnya pada sang mama. Sampai didalam mobil pun, tak ada kata sepatah kata pun keluar dari bibir Dina.
Barulah saat sudah ke apartemen, Dina meletakkan tasnya di sofa, berkacak pinggang menatap Daniel yang wajahnya seperti anak kecil yang sadar melakukan kesalahan.
"Daniel, astaga. Kepala Mama hampir pecah. Apa yang sebenarnya kamu lakukan? Sebagai ibu Mama benar-benar gagal mendidik kamu menjadi anak laki-laki yang bertanggung jawab, Mama malu, Daniel."
"Mama nggak mau minum dulu? Mama habis perjalanan panjang," ucapnya enteng.
"Jangan mengalihkan," Dina sudah naik darah, "Daniel, bagaimana keadaan Amanda? Kenapa kamu tega melakukan itu? Mama ini juga wanita Daniel. Dan kamu tahu sendiri betapa hancurnya Mama saat tahu papa kamu memiliki wanita lain? Dan kamu juga melakukannya pada Amanda?"
__ADS_1
Daniel menarik nafas dalam, tidak ingin terjadi kesalah pahaman yang panjang, kemudian dia menjelaskan permasalahan yang terjadi antara Denisa dan Amanda.
"Tapi apa harus menikahi Amanda? Seharusnya kamu tidak melakukan itu. Kenapa kamu menjadi tidak bijak? Ingat Daniel, agama kita tidak membenarkan pernikahan dijadikan mainan."
"Iya Ma, Daniel minta maaf. Daniel tahu itu, tapi kan sudah terjadi, sekarang izinkan Daniel kembali menikahi Denisa," ujarnya langsung tanpa beban. Dina memijit kepalanya yang berdenyut, mudah sekali bagi anaknya mengucap kata menikah dan cerai.
"Pikirkan lagi baik-baik, jangan menikah-cerai, menikah-cerai, menikah-cerai lagi. Mama izinkan setelah Amanda sudah iklas dan ridho."
"Untuk apa? Kami tidak memiliki hubungan apa-apa."
"Tapi kamu sudah membuatnya hancur, dan wanita sebaik dia bisa berubah karena ulah mu."
"Amanda akan baik-baik aja, Ma. Berlian tidak akan berubah walau dicampur didalam lumpur sekalipun, tapi jika Amanda sampai berubah, itu memang sudah sifatnya."
Daniel mengingat saat dia memutuskan menceraikan Denisa, tak ada tuntutan apapun dari Denisa, karena gadis itu menyadari jika dia salah.
Dina hanya dapat menarik nafas dalam, sebagai wanita dan seorang ibu, Dina tak ingin Daniel terus melangkah dijalan yang salah, dan diapun harus berbesar hati menerima keputusan Daniel. Hatinya mulai tersentuh dengan benda berharga yang dimilikinya, mata Dina kembali melihat bros pemberian cucunya yang ia kenakan di kancing baju teratasnya, tangan Dina terangkat mengusap bros itu, tanpa Daniel menyadarinya.
*
*
*
Dikamar yang dulu ditempati Daniel. Amanda menatap kosong pada kaca dihadapanya, yang memperlihatkan langsung kegiatan para dokter yang bertugas melayani pasien yang berdatangan. Suara pintu terbuka pun tak mengganggu lamunannya, hingga sosok yang masuk itu telah duduk disampingnya.
Amanda tak tergoda untuk menoleh, dia baru saja bertemu dengan dokter Anita, dokter psikolog yang ditunjuk untuk menemaninya.
"Terkadang hidup itu tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Tapi kita tidak boleh kalah, jangan sampai setitik noda tinta membuat kotor semua kertas putih yang kita miliki."
"Lihatlah senyum bahagia orang-orang yang telah kamu tolong. Mereka sangat bahagia, karena merasa beban mereka terangkat karena pertolongan mu."
Itu hanya sebagian ucapan-ucapan kecil yang dokter Nita katakan padanya.
"Sepertinya pemandangan di luar sangat menarik di banding aku." Sudah pasti Amanda hapal betul siapa pemilik suara disebelahnya, diapun tersenyum tanpa menoleh.
"Sebenarnya, serugi apa sih hidup ku Ric? Aku yang sudah membuat banyak orang bahagia, atau memang mereka yang tidak mensyukuri kebaikan ku?"
Siapa yang tidak mensyukuri itu, Ricko tahu siapa yang dimaksud Amanda. "Itu hanya ujian buat kamu yang begitu baik, Man. Mungkin mereka hanya sebagian kecil dari ribuan kebaikan yang kamu tebarkan, untuk menggoreskan kesempurnaan yang kamu miliki, karena memang kesempurnaan bukan milik manusia."
Amanda menoleh, keduanya tersenyum secara bersamaan, sedikit sentuhan dokter Anita sudah mampu menyembuhkan Amanda, semua sudah dicegah sebelum terluka terlalu parah.
__ADS_1