My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Simulasi Keluarga Bahagia


__ADS_3

Bukan hanya mama Delia yang kecewa dengan anaknya, begitu juga Dina. Daniel tidak pulang kerumah, dia sudah menduga jika Daniel pergi bersama Denisa, sebab kemarin Daniel bercerita, jika dia akan mengejar Denisa apapun yang terjadi.


"Tante," seruan dari seseorang dan sentuhan ditanganya membuyarkan lamunannya, Dina duduk seorang diri di meja makan dengan segelas teh hangat tanpa kudapan apapun yang terlihat diatas meja sana.


"Amanda!"


"Maaf Amanda main masuk aja, abisnya Amanda panggil-panggil nggak ada sahutan, tapi hordengnya kebuka, Manda buka aja pintunya, eh nggak taunya nggak dikunci. Tante lagi ngelamunin apa sih, Tan?" cerosos Amanda, langsung mengambil duduk disebelah Dina.


"Nggak papa, kamu sendirian? Kenapa nggak ngabarin mau kesini." Dina merasa senang atas kedatangan Amanda.


"Mau sama siapa sih tan?" padahal Dina berharap Amanda datang bersama Ricko dan papanya, "kalo kabari dulu, nggak surprise donk, Tan. Eh kok sepi, Daniel udah pergi?" tanyanya seraya meyapu seluruh ruangan, terutama lantai atas letak kamar Daniel berada.


Dina tersenyum masam, kalau dia jujur, Amanda pasti akan merasa sangat kecewa. "Iya, ada urusan katanya."


"Masih ngejar mantan istrinya?" tanya Amanda langsung. Tanpa ada rasa canggung dia menanyakan itu. Semakin hari Amanda semakin frontal, menunjukkan ketidak sukaanya terhadap Denisa.


"Entahlah Amanda, tante malas membahas itu. Daniel sudah besar, dia tahu mana yang baik dan buruk untuknya. Maaf jika dia telah menorehkan luka dihati kamu. Kamu mau memaafkan kesalahan dia kan? Kalau kalian masih berjodoh, apapun yang terjadi, kalian akan kembali, tapi kalau kalian tidak berjodoh, tante harap kamu bisa mengiklaskan dia." Dina memegang lengan Amanda dengan tatapan mengiba.


Amanda menanggapi dengan senyuman kecewa, tidak semudah itu ikhlas, apalagi dia dan papanya sudah banyak membantu Daniel.


"Apa tante masih mau punya menantu seperti wanita murahan itu lagi?" tanyanya agar Dina juga tidak menyetujui hubungan Daniel dan Denisa. "Aku tahu dulu Daniel menikah dengan wanita itu karena dijebak, tan. Orang tidak akan berubah menjadi baik dengan secepat itu."


Sebenarnya kemarin Amanda menyelidiki tentang keluarga Denisa, dia baru tahu sedetailnya tentang keluarga Denisa, jika Denisa berasal dari keluarga kalangan menengah kebawah, mereka bisa menjadi orang yang bisa diperhitungkan, berawal dari kakak Denisa yang menikah dengan keluarga Philips Hamzah, kemudian adiknya Dania, juga menikah dengan pengusaha sukses juga.


Dari sini Amanda baru paham, dan dia menyimpulkan jika Denisa mendekati Daniel memiliki tujuan tertentu, yaitu agar bisa menguasai harta Daniel seperti saudaranya yang lain, mendapat suami dari kalangan pengusaha sukses.


"Tante sadar nggak sih, Tan? Tujuan dia dekati Daniel itu apa? Kayaknya dia sengaja menanam benih bibit unggul milik Daniel, supaya bisa mendapat warisan dari Daniel," Dina menggeleng. "Dia itu sampai menolak Ricko. Ricko sama Daniel itu sama-sama kaya sebenarnya menurut Amanda, tapi ya namanya cewek matre, dia pasti sudah tahu antara Ricko sama Daniel lebih kaya mana?" ucap Amanda menggebu. Sungguh Amanda bukan lagi wanita berhati malaikat seperti dulu.


Percuma baik, jika tidak dipandang dan dihargai, malah dimanfaatkan orang lain atas kebaikannya, lebih baik jahat sekalian, itulah yang sekarang tertanam dihati Amanda. Karena kebaikannya justru dibalas kejahatan, dan penghianatan.


Amanda lebih memendam sakit hati saat Daniel menugaskan dokter Anita untuk menanganinya, seolah dirinya orang dengan gangguan kejiwaan, tega sekali Daniel melakukan itu.


"Amanda, kita jalan-jalan ke supermarket aja yuk, temani tente, kebetulan stok sayuran di kulkas tante habis. Dari pada kita memikirkan sesuatu yang membuat kita semakin kesal. Lebih baik senang-senang, sudah lama juga tante tidak memanjakan diri, kita ke salon yuk."


Amanda mendesah kecewa, dia sudah menggebu-gebu menjelekkan Denisa, tapi Dina seakan mengalihkan topik pembicaraan. Apa Dina berubah pikiran dan sekarang sudah mendukung hubungan keduanya?


* * *

__ADS_1


"Dara itu yakin anak Daniel, Tan? Udah pernah tes DNA?" Amanda masih bertanya saat mereka telah sampai di supermarket, sebelumnya juga mereka telah kesalon terlebih dahulu, sejak tadi Amanda menahan diri untuk tidak bertanya perihal itu karena salon dalam keadaan ramai.


Kini dia tengah menemani Dina memilih-milih daging dalam freezer.


"Kamu bisa lihat dari wajah Dara saja, Man. Wajah Dara itu persis wajah Daniel kecil." jawab Dina sesuai penglihatannya.


Amanda terdiam, dan berhenti sejenak, dia tidak bisa memungkiri itu, saat-saat awal dia bertemu Daniel, dia juga sempat berpikir, Daniel seperti mirip seseorang, tapi siapa? tidak menyangka jika Daniel mirip Dara, dan dia baru menyadari sekarang, ternyata wajah Daniel mirip Dara.


"Yasudah deh, Tan. Amanda ke toilet dulu, tante milih-milih sendiri dulu ya."


"Iya, jangan lama-lama ya." Amanda mengangguk sebelum berlalu, hatinya terlampau kecewa pada Dina.


Setelah kepergian Amanda, Dina menuju stand buah, Dina memasukkan anggur, pir, mangga kedalam keranjangnya, namun saat akan mengambil buah apel, tanpa sengaja disaat bersamaan dia dan seseorang ingin mengambil apel yang sama, tangan mereka saling bersentuhan, kemudian keduanya saling pandang diam.


Duphh.


Duphh.


Dupph.


Jantung keduanya saling bersahutan, Dina menarik tanganya seketika, seraya menunduk, menyembunyikan wajahnya sambil tersenyum gugup.


"Si-silahkan, ladies first," ujar papa Ricko gugup, tangannya bergerak mempersilahkan untuk Dina mengambilnya terlebih dahulu sambil melirik Dina.


Dia cantik sekali hari ini.


Dina mesem-mesem, semakin menundukkan wajahnya. "Anda saja, Pak, eh mas, aduh apa ya?" Dina semakin salah tingkah, menggaruk keningnya yang tak gatal.


Papa Ricko menurut, mengambil buah apel tersebut, tapi bukan untuk dimasukkan kedalam keranjangnya, tapi dimasukkan kedalam keranjang belanjaaan Dina.


Dina memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap papa Ricko. Dia terkesima dengan penampilan papa Ricko hari ini, walau rambutnya sudah dipenuhi dengan warna putih, dan misai tipis terawat miliknya juga berwarna putih, tak melunturkan pesona papa Ricko.


"Ehem," suara Ricko memutus tatapan keduanya, keduanya sama-sama salah tingkah, Dina menyelipkan rambutnya kebelakang, memutar badan menjauh dari Ricko dan papanya.


Sedang papa Ricko hanya bisa menatap sedih kepergian Dina tanpa berniat mengejar Dina.


"Ampe segitunya liatinya, Ricko ganggu ya ,Pa?" tanya Ricko pura-pura bòdoh. Papa hanya berdecih sebal, Ricko mengganggu saja.

__ADS_1


"Sesi pandang-pandanganya lain hari aja, kita sudah kesiangan kerumah Denisa-nya." papa hanya berdehem menjawab perkataan Ricko. Berjalan melewati Ricko menuju meja kasir, Ricko memggaruk alisnya saat didiami oleh papanya.


"Mama Denisa juga janda, Pa. Awas ya kalau nanti juga terpesona sama kecantikan mama Denisa. Ricko sunat papa untuk kedua kalinya." ujar Ricko menggoda sang papa, papa bergeming, tak mempedulikan perkataan Ricko.


* * *


Menempuh perjalanan hampir tiga jam lebih, mobil Daniel sudah memasuki perumahan Abian. Jantung Denisa berdetak semakin takut, tangannya saling meremas dan basah.


Daniel menyadari itu, diambilnya tangan Denisa untuk ia genggaman, meyalipkan jemarinya menyalurkan kekuatan, dia kembali melirik spion dalam, Dara masih tertidur.


"Semua akan baik-baik saja, percaya sama aku." Denisa mengangguk tanpa bersuara, dia tidak pulang, tidak memberi kabar, sudah pasti keluarganya akan marah. "Apapun yang terjadi, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi." Dibawanya tangan Denisa untuk dia kecup, sumpah Daniel begitu takut kehilangan Denisa.


Cara gìla apapun akan ia lakukan demi bisa bersatu bersama Denisa dan Dara.


Mobil Daniel berhenti tepat didepan pagar rumah Abian, Daniel membuka kaca mobilnya, penjaga rumah Abian itu segera membukakan pintu mengetahui Denisa berada dalam mobil itu.


"Makasih, ya Pak." ucap Denisa. Sang penjaga mengangguk.


"Sama laki-laki yang masuk malam kemarin?" tanya temanya.


"Iya," dia bergidik ngeri, "saya takut ada perang saudara."


"Nggak akan terjadi, pak Abian orang baik, saya yakin itu."


Daniel memberhentikan mobilnya disamping mobil Abian, dia turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Denisa, lalu menggendong Dara, mata bocah itu langsung terbuka saat sudah dalam gendongan Daniel.


"Kita sudah sampai, Pi?"


"Iyaa sayang, kamu sudah bangun?" Daniel mencium pipi Dara, hati Dara begitu senang, anak sekecil dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya, tapi dia senang bisa bersama Daniel seperti ini, bisa merasakan kebahagiaan keluarga yang utuh, dengan posesif Dara melingkarkan tangannya dileher Daniel sebagai ungkapan rasa bahagianya.


"Sudah tahu kan jawabannya kalau ditanya om Abian dan nenek?" tanya Daniel menuju pintu rumah Abian, tangannya tak lepas menggandeng Denisa.


"Simulasi keluarga bahagia, biar cepet punya adik bayi." jawab Dara lancar seperti sudah menghapalnya.


"Anak pinter."


Tak ada sambutan dari siapa pun, saat pembantu rumah Abian membukakan pintu.

__ADS_1


"Aku mau bertemu dengan Abian dan mama Denisa, ada?" tanya Daniel langsung pada sang art.


__ADS_2