My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Permintaan Sisi


__ADS_3

Ricko sedang mengetik diruang kerjanya, waktu menunjukkan pukul 20.00. Matanya serius menatap pada yang menyala dihadapanya, lampu ruangan itu ia padamkan, sehingga hanya cahaya yang i-mac yang menerangi ruangan dan memantulkan diwajah Ricko.


Deru mobil masuk ke garasi membuat Ricko bangkit dari duduknya dan menyibak hordeng, mengintip sang papa yang keluar dari mobil dengan wajah yang berseri.


Akhir-akhir ini papanya sering keluar, dan cukup lama. Papanya juga tak mau diajak pulang ke Batam, dan malah membuka klinik baru, sering sarapan di luar, dan Ricko menemukan struk cafe dalam jumlah yang banyak sekali, dan itu hampir setiap hari jika melihat dari tanggalnya.


Tentu Ricko bingung dengan apa yang terjadi dengan papanya, terlebih dia tak pernah bertanya dan merasa curiga sedikitpun atas perubahan sikap sang papa yang berubah seratus delapan puluh derajat.


"Papa dari mana?" kali ini Ricko memilih keluar dan bertanya langsung.


"Astagfirullah, Astagfirullah." Papa mengelus dada terkejut, saking terkejutnya, hampir saja jantung papa lepas dari penyanggahnya, dan dia jadi menutup pintu cukup keras.


"Kamu mengagetkan papa saja, gimana kalau tangan Papa kejepit pintu, itukan sakit rasanya."


Ricko memasukkan kedua tangan kedalam saku celana rumahanya. "Papa keluar dari jam delapan pagi, dan sekarang, jam delapan malam baru pulang. Papa praktek diklinik baru cuma lima jam, sisa sebelas jamnya, kemana Pa?" Tanya Ricko dengan tatapan menyelidik, dia persis seperti seorang ayah yang sedang memergoki anak smp yang sedang dimarahi ayahnya karena main keluar tak ingat waktu.


"Ada urusan penting yang pasti, ahh sudah Papa mau mandi, badan Papa rasanya lengket sekali."


Semwiring wangi parfum papa sangat terendus saat papa berjalan melewati Ricko, Ricko sampai hampir tersedak karena wanginya yang tajam, Ricko menduga satu hal, jika laki-laki yang biasanya tak memakai wewangian, jadi seperti mandi parfum, artinya dia tengah jatuh cinta, pandangan Ricko berpindah pada rambut papa yang memiliki kombinasi warna putih dan hitam terlihat klimis, berarti benar dugaan Ricko.


* * *


Keesokan harinya, setelah mendapat banyak kejutan, saatnya gunting pita dan peresmian 'Klinik Dokter Denisa' dilakukan.


Jam delapan pagi, Denisa bersama keluarga kecilnya tiba, berbagai ucapan karangan bunga sudah berjejer terpajang didepan klinik, baik dari perusahaan kolega Daniel sebagai donatur, rumah sakit maupun klinik lain, pejabat pemerintah setempat, serta dari saudara dan para sahabat Denisa.


Turun dari bersama suami, anak dan mertua, Denisa melangkah masuk ke klinik, dengan melewati dua undakan anak tangga


Tak perlu berlama, setelah melakukan kata sambutan, baik dari Daniel maupun Denisa, acara gunting pita pun dilakukan.


Mengenakan kemeja ketat berwarna navy, senyum tulus yang mengembang, semakin menambah ketampanannya, Daniel memberikan gunting kepada sang istri, memberikan kesempatan untuk istri tercinta menggunting pita sebagai telah resmi dibukanya 'Klinik Dokter Denisa'


Denisa mengambil gunting dari tangan sang suami, memejamkan mata sambil memanjatkan doa, menghirup nafas dalam, lalu menghembuskan nafas perlahan seraya membuka kembali matanya, melihat wajah berseri orang-orang yang tulus menyayanginya, dan mendukungnya hingga kini yang berada disekelilingnya, menatap sang suami yang sejak tadi setia berdiri disampingnya, dan sang suami memberi anggukan halus, Denisa menggunting pita yang tesimpul diantara dua tiang penyangga yang besar nan kokoh yang berada di pintu masuk klinik.


Tepuk tangan dan sorak gembira diberikan, Denisa tersenyum senang, Daniel mendekat, merangkul pundak sang istri, tak lupa mendaratkan kecupan sayang dikening, usapan lembut dibahu tak lupa ia berikan sebagai pertanda, jika dia akan selalu bersama-sama baik suka maupun duka.


"Selamat ya, Mi. Semoga dengan adanya klinik ini, Mami bisa memberikan banyak manfaat untuk orang banyak."


"Terima kasih, Kak. Semua berkat Kakak."


Kembali Daniel mendaratkan kecupan dikeningnya. "Because, i love you." Denisa menatap dalam mata suaminya yang memancarkan penuh rasa cinta.


Bukan hanya acara gunting pita yang dilakukan, tapi juga potong tumpeng, dan pembagian nasi kotak kepada sekitar yang kurang mampu.


Jam sepuluh pagi acara pembukaan selesai, semua tempat telah dibersihkan, Delia, Abian , Dania dan Mahesa kembali kerumah masing-masing.

__ADS_1


Tanpa mengulur waktu, praktek pun segera dibuka, sebab sudah banyak pasien yang berdatangan. Semua bekerja sesuai tugas mereka masing-masing, walau baru, namun fasilitas yang Daniel siapkan cukup lengkap.


Ada poli gigi, ruang persalinan dengan dokter spesialisnya, semua tersedia dengan alat yang memadai.


"Si!" panggil Denisa pada perawatnya. Ini jam istirahat mereka, setelah melayani banyak pasien, jam tiga sore, mereka baru sempat makan siang.


Melihat banyaknya antusias pasien yang datang, ia ingin bertanya pada Sisi, kapan mereka melakukan persiapan ini semua.


Sejak tadi Daniel pergi mengajak Dara ke minimarket, tapi belum kembali, istrinya begitu sibuk, dari pada bingung tak tahu harus membantu apa, dia memutuskan keluar saja, ngedate berdua bersama putri cantiknya.


"Iya Dokter Nisa yang cantik." jawab Sisi berlebihan sambil mengunyah makanannya.


Denisa mencebik "Sejak kapan kamu lebay begini?"


"Sejak diajak gabung disini." Sisi nyengir menunjukkan deretan gigi putihnya. "Sekarang saya harus jadi penjilat dong Dok, biar cepet naik jabatan, kerjaan saya panjang." Akunya jujur.


"Kamu mau coba cari muka ke aku, Si?"


"Hadeh Dokter Nisa yang cantik, CEO klinik Dokter Denisa, Nyonya Danuarta. Apalagi yang kurang?" Sisi berpikir, kalimat apalagi yang harus dia gunakan untuk menyanjung Denisa setinggi mungkin. Denisa menggeleng heran.


"Kerja sekarang itu harus cari muka, kalo gak? Kapan saya naik gaji atau naik jabatan dengan cepat? Hidup itu penuh kompetitif, apalagi kalau sampai pak Daniel tahu saya buat Dokter Nisa selalu bahagia, banyak tersenyum, melindungi Dokter Nisa, saya pasti dikasih bonus, jadi mulai sekarang, Dokter Nisa harus terbiasa dengan kelebaian saya muji Dokter, ya. Demi kesejahteraan hidup saya."


Denisa tertawa, menepuk pundak Sisi. "Tapi mana ada penjilat ngaku kayak kamu."


"Terus aku dapat apa?"


"Pahala, udah itu cukup Dok. Apalagi yang Dokter cari, semua udah Dokter dapatkan."


"Kamu bisa aja ya, Si."


"Namanya juga usaha Dok, Dokter nggak tahu aja, dari kemaren saya dekat sama saudara-saudara dokter Nisa waktu persiapan pembukaan klinik ini. Sumpah, saya jadi minder sendiri. Pada cantik-cantik, gak ada yang burik, mulus-mulus dan langsing kayak Shancai, pantes pada dapet cogan dan mapan. Saya pengen juga Dok. Cantik dan langsingkan butuh biaya Dok. Jadi, bisalah ya kerja sama biar saya dapat cuan lebih buat biaya perawatan. Jujur ya Dok, selama nganggur saya tuh olahraga, tapi langsingnya lama, capek saya Dok. Nahan nafsu makan itu lebih berat dari pada menahan rindu. Percaya deh."


"Berarti kamu manfaatin aku donk!"


"Bukan manfaatin sih, lebih tepatnya kerja sama." Hihihi Sisi terkikik sendiri. "Sumpah ya Dok, saya baru tahu, kalau pak Daniel itu sayang banget sama dokter. Bayangin, kita waktu persiapan ini, dibayar profesional, bukan cuma-cuma, kecuali saudara-saudara Dokter Nisa, ya mereka gretong." Secara tidak langsung Sisi menjawab rasa penasaran Denisa mengenai kapan mereka mempersiapkan ini semua.


Sedang seingkatnya, waktu dia terakhir datang ke sini, tempat ini masih bentuk rumah Daniel dua lantai, tapi dalam waktu sekejap, sudah berubah menjadi klinik dengan fasilitas setara dengan rumah sakit.


"Kapan kalian mempersiapkannya?" Denisa mengorek mencari tahu.


"Waktu Dokter honeymoon. Kita bagi tugas, saudara Dokter Nisa yang pilot itu, membantu mencari dokter yang mau tugas disini, aku sebarin brosur, adik dokter yang bontot itu, bantu cari pegawai untuk administrasi, dan apoteker, sama izin-izin segala macem. Emang bener ya Dok, ada cuan, semu licin." Jawaban Sisi membuat Denisa terenyuh, Daniel mengeluarkan biaya yang tak sedikit pastinya.


Denisa menunduk, tak menyangka jika Daniel diam-diam menyiapkan ini semua, wajahnya memanas akibat rasa bahagia yang sudah tak tertampung lagi, dia ingin segera pulang, mengucapkan ribuan banyak terima kasih pada Daniel, dan melayani suaminya dengan servis memuaskan.


"Dokter Nisa."

__ADS_1


"Hem, iya." Denisa mengangkat kepalanya menatap Sisi, sudut bibirya terus melengkungkan senyum bahagia.


"Makasih loh, Dokter sudah mengurangi populasi pengangguran, sudah sebulan lebih saya nganggur, dan nggak tau harus melamar kemana? Semoga Dokter Nisa cepat dikasih momongan ya, yang ganteng, dan cantik, juga soleh-solehah." Terselip niat terselubung dalam setiap pujian Sisi.


Denisa mengangguk. "Iya." Tak dapat berkata-kata lagi, dia terlampau bahagia.


"Dok."


"Iya."


"Kalau ada teman pak Daniel yang ganteng, kenalin donk, biar bisa kayak Dokter Nisa. Dapat suami tampan dan mapan. Tapi nanti kalau saya udah langsing dan cantik, saya juga mau suntik vitamin dan botòx dulu, biar cantik kayak Dokter Nisa and the sister." ucap Sisi penuh permohonan. Denisa diam, sedikit berpikir.


"Oh, ada, entar aku kenalin ya."


"Janji ya Dok."


Denisa mengangguk. "Iya." jawabnya tersenyum, dia tahu laki-laki mana yang akan ia jodohku dengan Sisi, tak perlu menunggu gadis itu langsing, dia ingin laki-laki yang menjadi pasangan Sisi, laki-laki yang mau menerima Sisi apa adanya.


* * *


Disisi lain.


Mobil Amanda baru saja meninggalkan lokasi baru yang akan dijadikan rumah sakit untuknya, dia bersama Ricko, baru saja mobilnya melaju 500 meter dari lokasi, tak sengaja Ricko melihat klinik yang cukup ramai, ucapan karangan bunga masih nampak segar, berarti klinik itu baru dibuka.


Penasaran, otomatis matanya mencari nama klinik tersebut, dia tertawa sumbang dalam hati setelah membaca nama klinik itu. Dia menoleh pada Amanda yang serius mengendarai mobilnya.


"Kamu rela kehilangan uang banyak, dan pindah lokasi, padahal tempat kemarin cukup strategis menurut ku, Man. Letaknya ditengah-tengah pasar, apa yang membuat kamu memilih lokasi yang dekat dari pemukiman kumuh? Itu jauh dari target sih, mereka kayaknya nggak terlalu perduli dengan kesehatan."


"Otak kamu nggak akan nyampe sama yang aku pikirin sih, Ric. Kamu terlalu lugu untuk memikirkan bisnis. Udah, tugas kamu cuma temani aku aja, dukung apa yang aku lakuin."


Ricko menarik nafas, Amanda akan membuat penyakit hatinya menjadi semakin menumpuk dan melumpuhkan otaknya, jika dia tidak bisa berdamai dengan kegagalannya. Benar sebenarnya Daniel mengirim dokter Anita waktu itu, tapi sayangnya Amanda menolak ditemani hingga sembuh.


Dia juga galau tak berjodoh dengan Denisa, sakit, dan kecewa, tapi apa mau dikata? keberuntungan tak berpihak padanya. Perlahan tapi pasti, dia terbiasa tanpa Denisa lagi


Tapi Amanda? sampai kapan sahabatnya bisa lepas dari bayang-bayang sakit hatinya jika dia terus menuruti egonya, dan tak mau tersaingi, masih merasa jika dia yang pantas menjadi pasangan untuk Daniel.


"Kita mampir ke rumah makan dulu ya Ric, aku lapar."


"Hem."


Mobil Amanda yang akan memasuki restoran, lupa untuk menyalakan lampu sen, dia memutar stirnya tajam, menyebabkan kendaraan dibelakangnya menabrak badan bagian belakang mobilnya.


Amanda syok, mobil mewah yang ia sewa tergores.


"Oh my god, Ric."

__ADS_1


__ADS_2