
Diruang tamu yang tidak terlalu luas ini.
Ricko duduk berseberangan dengan papanya dan Dina.
Ricko melipat tangan di dada, diam, menatap tak percaya wanita yang dibawa papanya. Diluar dugaanya, ia pikir bidadari yang membuat papanya akhir-akhir ini berubah adalah wanita muda berusia 20 tahunan atau tiga puluh tahunan seusianya seperti yang marak terjadi belakangan ini, ternyata dugaanya salah.
Dia adalah ibu dari laki-laki yang pernah menjadi rivalnya.
"Sudah puas memandangi bidadari cantik, Papa?" tanyanya mengagetkan Ricko.
"Papa membawa bidadari cantik Papa bukan untuk kau pandangi dengan tatapan mengintimidasi seperti itu hei anak muda. Papa hanya ingin memperkenalkan saja, jika dia yang akan menemani hari-hari Papa kedepanya. Kau carilah wanita yang akan menemani hidup mu. Tapi jika kau lebih betah sendiri, Papa juga tidak akan memaksa, mungkin kau akan lebih senang berpasangan dengan pohon pisang."
Mata Ricko membola tak percaya.
Apa? ... Kenapa jadi aku yang dipermalukan? Orang tua macam apa ini? Papa lain diluar sana pasti akan membaik-baiki anaknya jika membawa wanita yang ingin dinikahinya, kenapa papa malah sebaliknya? Apa papaku sekarang sedang terkena syndrome obsessive love disorder? Lebih membela kekasihnya dibanding anaknya sendiri?
Oh tidak! Ricko mendengus. "Aku hanya tidak menyangka dari 133,54 juta jumlah perempuan yang ada di Indonesia, dan entah berapa banyak jumlah janda dan perawanya, Papa jatuh cinta dengan," Ricko melirik Dina," ... Ah sudahlah," Ricko tak dapat melanjutkan kalimatnya.
Ricko menarik nafas dalam. "Apa Papa tidak memikirkan perasaan ku?"
"Kenapa Papa harus memikirkan perasaan mu, kamu bukan mantan atau pacar Papa. Kamu anak Papa, sudah pasti kamu akan setuju dan tidak akan menolak atau sakit hati atas pilihan Papa, demi kebahagiaan Papa, kecuali kamu pacar Papa atau mantan Papa, yang sakit hati." Jawab Rudi sekenanya, dia terlihat begitu santai, dan itu membuat Ricko dan Dina melongok tak percaya.
Mantan yang sakit hati? Apa itu ditujukan untuk aku? Aku bahkan belum menjalin hubungan tapi sudah ditolak.
"Ric, dengarkan Papa, seminggu lagi Papa akan menikahi tante Dina."
Duarrr
Belum selesai dari keterkejutanya, kini Ricko kembali dikejutkan dengan kabar pernikahan papanya yang akan digelar seminggu lagi, seminggu lagi.
Ricko bagai tersambar petir disiang bolong.
"Biasa saja, kamu jangan terkejut seperti itu, Papa mengenal Dina sejak menjemput kamu dari Sabù, Raijua waktu itu. Dan berlanjut intens saat pernikahan Denisa dan Daniel," didepan mata Ricko, papanya menggenggam tangan Dina mesra, itu membuat Ricko terlihat seperti jones alias jomblo ngenes, melihat wajah Dina yang merona tersipu malu.
Dasar abege tua, ternyata bukan hanya ada pada lagu saja. Rutuk Ricko melihat adegan mesra didepanya.
"Jadi bukan waktu yang sebentar sebenarnya untuk kami saling mengenal, banyak juga pertemuan tak terduga kami, yang membuat kami semakin dekat, Dina menemani Papa di klinik, kami menjemput Dara pulang sekolah bersama, sarapan bubur dipinggir jalan dengan secangkir teh tawar hangat yang kami bagi berdua."
Pelit itu namanya, mau-mau saja teh tawar dibagi dua, dasar bucinta (budak cinta tua)
Lihatlah Papa menceritakan kisah cintanya yang manis dengan wajah berseri penuh cinta, sangat terlihat jika dia dan Dina saling mencintai, Ricko menjadi iri.
Dia selama ini disibukkan menghibur Amanda, sampai tak sadar jika papanya dekat dengan ibu dari mantan rivalnya ini.
Sungguh ini ujian yang sangat berat untuk Ricko.
"Usia Papa bukan usia muda untuk terlalu lama pendekatan, kalau terlalu lama atau takut-takut, nanti keburu diambil orang," lanjut Rudi seperti menyindir anaknya dengan wajah berseri, lalu mencium punggung tangan Dina didepan Ricko, kembali Ricko harus melihat pemandangan romantis dua sejoli yang tak muda ini.
"Kenapa harus menyindir?" dengus Ricko.
"Siapa yang menyindir? Papa bicara sesuai fakta, kita itu kalau sudah sreg harus sat, set, sat, set. Jangan kelamaan, wanita itu butuh kepastian, jangan tarik ulur. Kalau sudah suka sama suka, tunggu apalagi, iya kan cantik?" Rudi menjawil ujung hidung Dina. Lagi-lagi Dina tersipu malu.
Ricko sampai menggeleng dibuatnya, kelakuan dua pasangan tak muda lagi ini membuatnya sakit asma mendadak.
"Ya, ya, ya. Papa sudah memperkenalkan bidadari Papa pada Ricko, dan sepertinya restu Ricko juga tidak penting, apapun yang Ricko katakan juga tidak akan ada gunanya. Baiklah, aku sangat lelah, aku harus istirahat." Ricko berdiri, demi menjaga kesehatan jantungnya, dia lebih baik memilih masuk ke kamarnya, membaca buku, menambah ilmu akan lebih baik.
"Iya, kami juga akan menjemput Dara pulang sekolah, mengajaknya ke toko mainan, lalu kita bertiga akan nongkrong di cafe."
Ricko masih mendengar suara papanya seperti sengaja memanasinya.
"Terserah, terserah papa sajalah, lakukan apa yang papa mau, panasi-panasi saja aku yang sedang merana ini, biar terbakar, gosong dan menjadi abu. Papa tinggal mengkremasi saja nanti jasad anak laki-laki Papa yang masih suci. Papa sudah ada keluarga baru yang membuat Papa lebih bahagia."
__ADS_1
"Bermain lah dengan Dara, wanita single biasanya suka dengan laki-laki yang membawa anak perempuan bermain keluar, itu terlihat seksi dimata mereka."
"Yang benar saja, aku harus jalan dengan anak si sombong itu," gumam Ricko tak lagi menyahut ocehan papanya yang membuatnya sakit kepala.
Akhhh Ricko jadi kasihan pada dirinya.
* * *
Berbeda dengan Ricko, Daniel yang memang sudah tahu kedekatan antara keduanya sudah tak terkejut lagi saat Dina membawa Papa Ricko kerumah.
Hanya saja dia tak menyangka jika mereka berdua memutuskan untuk menikah secepat ini.
"Jadi, bagaimana menurut mu jika kami menikah seminggu lagi?" tanya Papa Ricko, berbeda dengan anaknya tadi, kepada Daniel dia lebih lembut meminta restu secara baik-baik.
"Daniel pasti setuju-setuju saja, yang menjalankan kita, jadi apapun yang menjadi keputusan kita, dia pasti mendukung." Dina yang menjawab.
"Begitukah cantik?" Daniel sampai menelan ludah, kedua orangntua ini sudah tak malu lagi menunjukkan kemesraan mereka dihadapanya, untung tidak ada Dara, lihatlah tangan mereka dari datang hingga sekarang tak lepas saling bertaut, melebihi dia dan Denisa dulu.
Apa mereka tidak sadar umur?
Astaga, apakah selama ini mereka seperti ini didepan Dara?
"Tolong, kalau bisa kemesraan kalian ini jangan lakukan didepan Dara, dia masih terlalu lugu untuk melihat adegan dewasa ini." Daniel tak bisa untuk tak mengatakanya secara langsung.
"Kamu pikir Mama akan membuat hancur masa depan cucu kesayangan Mama?"
"Ya, aku tidak tahu kan, apa yang kalian lakukan diluar sana?"
"Kami cukup punya etika dalam berpacran." ketus Dina.
Daniel menarik nafas. Disini dia seperti seorang ayah yang ingin mengizinkan anaknya menikah.
"Apa dia masih muntah-muntah?" Dina jadi panik.
"Ia, tadi Daniel sudah hubungi dokter kandungan Denisa, tadi juga Denisa sudah diinfus karena Denisa hampir kehabisan cairan. Denisa juga tidak bisa makan apa-apa."
"Kalau begitu izinkan kami menjenguk Denisa, dia anak kesayangan ku," ujar papa Ricko.
"Eh, maaf. Apa maksud anak kesayangan yang anda maksud?" Daniel meminta penjelasan.
Papa Ricko terkekeh. "Denisa dulu lama bertugas diklinik kami, dan juga kegiatan amal lainnya. Dia anak yang rajin walau harus mengorbankan waktunya bersama Dara, Denisa termasuk petugas kesehatan yang disukai banyak pasien, bukan karena kecantikanya, tapi keramahan dan kesabarannya melayani pasien, Denisa menjadi dokter favorit di tim kami. Dia sudah aku anggap sebagai anakku sendiri."
Jelas papa Ricko, membuat Daniel menjadi lega.
* * *
Lima hari berlalu.
Daniel semakin tersiksa karena tak bisa berdekatan dengan sang istri, sudah lima hari ini dia tidur si sofa, Denisa benar-benar tak ingin didekati.
Setiap pagi juga Denisa mengalami morning sickness yang cukup parah, Denisa tak bisa mengkonsumsi nasi, setiap diisi makanan apa saja pasti keluar lagi. Hanya saja Denisa tetap memaksakan memakan apapun walau pada akhirnya harus dikeluarkan lagi, demi buah hatinya.
Hampir semua video dari para food vlogger Daniel berikan pada Denisa demi menggugah selera makan istrinya, tapi tak ada yang berhasil.
Daniel menatap lirih tak tega melihat kondisi Denisa yang sangat lemah, sensitif terhadap sinar matahari, dan alergi terkena air, Daniel seperti sedang di uji atas kekuatan cintanya.
"Aku bau ya Kak, makanya Kakak nggak mau deket aku?" tanya Denisa merajuk sambil duduk menyandar di kepala ranjang, matanya sudah berkaca-kaca.
Astaga, istrinya ini tidak sadar apa kalau dia yang tidak mau didekati.
"Kakak pasti jijìk kan lihat aku?" sudah mulai menangis.
__ADS_1
"Bukan gitu, Mi? Bukanya kamu yang nggak mau aku deketin?"
"Kakak nggak mau tanya, apa yang aku mau? Aku kan sekarang lagi pengen di peluk." Hiks hiks.
Masih sangat pagi, tapi dia sudah membuat drama.
"Yakin kamu nggak nembak lagi? Aku cuma nggak tega kalau kamu sampai nembak lagi, sayang. Perut kamu kosong, tapi keluar terus, nanti kamu makin lemah."
Istrinya sudah bisa duduk menyender seperti ini saja Daniel sudah senang, biasanya, jangankan untuk duduk, mengangkat kepalanya saja Denisa sudah tak sanggup.
"Kakak nggak sayang kan sama aku? Ini yang aku takutin, Kakak nggak cinta lagi sama aku, aku sekarang jelek, jarang mandi, nggak pernah dandan."
Daniel yang memang menjaga jarak terpaksa harus memeluk istrinya, bukan sekali dua kali seperti ini, hampir setiap hari drama ini terjadi, Denisa meminta dipeluk, tapi setelah dipeluk dia kembali mengeluarkan isi perutnya.
Daniel jadi serba salah.
"Jangan lama-lama ya pelukanya, nanti kamu muntah lagi." Daniel melerai pelukanya, sebenarnya dia sangat rindu, bukan hanya ingin memeluk, tapi juga merasai manisnya bibir ranum sang istri.
"Bener kan aku bau, makanya Kakak nggak mau peluk lama-lama."
Astaga.
Sabar.
Kembali Daniel mendekap tubuh Denisa sambil berdiri, dan seperti biasa, belum sampai satu menit Denisa sudah mendorong tubuhnya untuk menjauh sambil menutup mulut.
"Bukan aku yang mau seperti ini, tapi anak Kakak." kini dia tersenyum tanpa berdosa, menjual nama anak sebagai alasan agar Daniel tak marah.
Ya, kalau sudah begini, bagaimana dia bisa marah, dia harus bersabar entah sampai kapan, kata orang-orang biasanya ngidam seperti ini sampai usia kandungan melewati trimester pertama.
Sangat lama.
"Kak, kayaknya aku pengen buah kesemek deh, yang dibelakang rumah mama di Subang, kata mama tadi lagi berbuah, dan udah mateng-mateng."
"Buah, kesemek? Buah apa itu?"
"Ih, Kakak tuh nggak tahu buah apa-apa? kemarin kecubùng nggak tahu, sekarang kesemek juga nggak tau." Denisa mencebikkan bibirnya, mengetikkan sesuatu diponselnya.
"Nih, kesemek. Nanti Kakak pasti ketagihan kalau sudah nyobain rasanya." Denisa menunjukkan ponselnya, memperlihatkan buah yang dia mau.
"Aku nggak pernah lihat buah ini. Ini adanya dimana? Di mall ada kan?"
"Nggak ada, itu biasanya hanya orang-orang kampung yang jual. Buah langkah itu, tapi aku mau Kakak ambilin yang ada di rumah mama." rengek Denisa.
"Ya ampun sayang, jadi aku harus ke Subang?" Denisa mengangguk. "Suruh supir aja ya, kalau aku pergi siapa yang jagain kamu?"
"Nggak papa aku sendiri, mama udah petikin buahnya, Kakak sampe sana pulang lagi."
Daniel diam sedang berpikir.
"Kakak nggak mau?"
"Ya mau donk sayang, masa nggak mau."
Daniel menghembuskan nafas berat, demi anak dan istri, dia harus jalani. Ini tak seberapa, dia tak begitu memperhatikan saat Denisa hamil Dara dulu, anggap saja ini penebus dosanya dimasa lalu.
Dara?
Apa yang anak itu mau saat dalam kandungan dulu? apa ada keinginan Denisa yang tak ia penuhi, mengingat dia tak pernah menanyakan apapun yang Denisa inginkan, selama enam bulan pernikahan, menegur pun ia tak pernah.
"Maafkan aku Denisa, maafkan Papi, Dara." didalam mobil, Daniel menghapus air matanya.
__ADS_1