My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Maaf


__ADS_3

Tidak pulangnya Denisa dan Dara tentu saja membuat geger seisi rumah Delia, jika tadi siang dia bisa mengelabui Ricko jika Denisa sedang kerumah sakit karena dapat panggilan, tapi tidak malam ini.


"Delia mending kamu jujur, adik kamu pergi kemana sebenarnya?" tanya mama mulai tak tenang, sebagai seorang ibu, berbagai macam pikiran sudah muncul dikepalanya.


"Sekarang itu banyak sekali mayat ditemukan dalam karung, dalam kresek. Ya Allah, jangan sampai terjadi apa-apa pada anak dan cucuku," ucap mama ngawur, deraian air mata pun sudah membasahi pipinya, sejak siang tadi pun dia tidak nafsu makan.


"Mama pikirannya jauh banget," ucap Delia mengusap pundak mama mencoba menenangkan. "Berdoa aja Denisa sama Dara nggak kenapa-napa."


"Mama takut Delia, takut sekali, kamu pernah nonton berita nggak sih? Sekarang banyak banget kasus-kasus mengerikan, mama takut itu-" mama tak bisa melanjutkan kata-katanya, dia tidak sanggup membayangkan jika hal-hal mengerikan terjadi pada Denisa.


Delia dan Abian saling pandang, Delia menghela nafas.


Ya Allah Denisa, kamu pulang nggak sih malam ini?


Delia masih berharap Denisa pulang malam ini, agar adiknya itu tidak terkena masalah lagi, Delia melihat jam dinding tempel pada tembok ruang tengah yang berada tepat diatas televisi, jam menunjukkan pukul 22.00.


Jika sampai lewat jam dua dini hari Denisa masih belum kembali, dia akan mengatakan yang sejujurnya, dan tentang cctv juga. Karena menurutnya, Denisa harus diberi pelajaran jika sampai menginap dan melakukan kesalahan sampai dua kali dan dengan laki-laki yang sama.


Delia kembali menghubungi nomor Denisa, tapi masih saja tidak aktif.


"Apa masih nggak aktif, Delia?" tanya mama. Delia menggeleng lemah, tak tega melihat wajah khawatir mama sebenarnya, tapi dia juga ingin menjaga nama baik adiknya.


"Abian, apa kita sebaiknya kita lapor polisi saja?" tanya mama pada anak menantunya, dia sudah begitu khawatir.


"Denisa pergi belum 1×24 jam, Ma. Laporan kita tidak akan diterima," jawab Abian apa adanya.


"Terus kita harus diam disini saja, santai aja gitu? nunggu kabar tiba-tiba adik kamu ditemukan di tol, kalian tidak mengkhawatirkan Denisa dan Dara? bagaimana kalau sekarang mereka butuh bantuan kita? Kalau kita cepat bertindak, kita tidak akan menyesal." Malah Abian dan Delia yang jadi sasaran amarah mama.


"Bukan begitu, Ma." jawab Abian sanksi, dia juga bingung harus mulai mencari dari mana?


Denisa izinya ke mini market, tapi saat Ricko datang ingin bertemu dengannya, tapi istrinya mengatakan jika Denisa pergi karena dapat panggilan dari rumah sakit. Mama memang tidak menyadari keganjilan jawaban Delia, karena menurutnya, Delia tidaklah pernah berbohong, tapi Abian sang suami yang lebih peka, dia susah menaruh kecurigaan pada istrinya itu.


Jawaban mana yang benar?


"Sayang, ikut aku kekamar." Abian beranjak dari sofa ruang keluarga, mengajak Delia kekamar, ingin menginterogasi istrinya, "Mama tunggu disini sebentar, aku berdiskusi dulu dengan Delia akan mencari kemana terlebih dahulu," titahnya pada mama mertuanya. Mama mengangguk seraya membuang cairan bening dari hidung menggunakan tissu.


Saat sudah dikamar, Abian mengunci pintu, dan bertolak pinggang.


"Kemana Denisa? Kamu jujur sekarang atau aku cek cctv," ucapnya tegas pada Delia, "jangan kamu tutup-tutupi kesalahan adik kamu, apa kamu nggak kasihan sama mama? lihat mukanya udah sedih begitu."


Sebagai seorang istri yang sangat menghormati suaminya, Delia menundukkan pandangannya jika Abian sedang marah, sebenarnya dia bukan niat menutupi, hanya saja sebagai kakak, dia tetap menjaga nama baik keluarganya dari Abian, dan tak ingin Denisa kembali di cap sebagai pembawa onar.


"Aku bukan menutupi Denisa, tapi aku masih kasih dia kesempatan mungkin aja dia akan cepat pulang."


"Berarti kamu tahu dia kemana dan sama siapa?"


"Ini cuma dugaanku, Bi. Aku juga khawatir sama keselamatan Denisa, apalagi dia bawa Dara."

__ADS_1


"Kamu cuma menduga tapi kamu bisa setenang ini, Delia," Abian menyugar rambutnya gusar, rahangnya sudah mengetat gemas dengan istrinya. "Bagaimana kalau dugaan kamu salah? Sejak tadi siang jawaban kamu ngalor-ngidul kalo ditanya mama. Oke mama sudah tua, nggak terlalu memperhatikan jawaban kamu yang jelas-jelas kamu menutupi Denisa, kemana dia? Apa yang sekarang terlintas dikepala aku Denisa pergi bersama laki-laki itu."


Tanpa bertanya siapa yang ada dikepala Abian, Delia mengangguk dengan wajah yang tertunduk. Abian langsung keluar, dan mengatakan dengan siapa Denisa pergi.


Setelah tahu apa yang dikatakan, Abian. Mama dibuat tak percaya dengan apa yang terjadi, setahu dia, Denisa sudah memutuskan hubungannya dengan Daniel beberapa hari lalu. Mama merasakan kecewa yang sangat teramat, anak perempuannya pergi bersama laki-laki yang tak ia restui.


Sungguh Denisa telah membuatnya kecewa kedua kalinya jika melakukan kesalahan yang sama dengan laki-laki yang sama demi restunya, padahal masih banyak cara lain untuk mereka menyakinkannya.


Bukan dia tak sayang pada Denisa melarang hubungannya bersama, Daniel. Ibu mana yang tak ingin anaknya mendapatkan pendamping yang baik, dengan cara melarang mereka, dia berharap Daniel berusaha menyakinkannya jika dia pantas untuk kembali bersama Denisa, tapi cara yang Daniel lakukan telah melukai hatinya sebagai seorang ibu yang mendidik anaknya dengan akhlak sebaik mungkin.


Kini mama sudah kembali kekamarnya, sudah mengetahui keberadaan Denisa bukanya menjadi lega, tapi ada luka yang menganga yang tak bisa terungkapkan dengan kata-kata, menangis pun mama rasanya begitu sulit.


Mama memegangi dadanya yang terasa sesak, kenapa Denisa-nya melakukan ini padanya.


"Maaf kan Mama, Yah. Maaf Mama lalai mendidik anak kita."


* * *


Walaupun jiwaku pernah terluka


Hingga nyaris bunuh diri


Wanita mana yang sanggup hidup sendiri


Di dunia ini


Begitupun telingaku


Namun bila di kala cinta memanggilmu


Dengarlah ini


Walaupun dirimu tak bersayap


Ku akan percaya


Kau mampu terbang bawa diriku


Tanpa takut dan ragu


Walaupun mulutku pernah bersumpah


Sudi lagi jatuh cinta


Wanita seperti diriku pun ternyata


Mudah menyerah

__ADS_1


Walaupun kau bukan titisan dewa


Ku takkan kecewa


Karena kau jadikanku sang dewi


Dalam taman surgawi


Ho


Ho


Ho


Walaupun dirimu tak bersayap


Ku akan percaya


Kau mampu terbang bawa diriku


Tanpa takut dan ragu


Walaupun kau bukan titisan dewa


Ku takkan kecewa


Karena kau jadikanku sang dewi


Dalam taman surgawi


🎶 Sang Dewi 🎶


Denisa tersenyum dikala lagu itu diputar di mobil Daniel, mereka sedang dalam perjalanan pulang. Waktu menunjukkan jam delapan pagi, lagu itu seolah menggambarkan tentang dirinya yang dulu pernah bersumpah tidak akan jatuh cinta lagi pada Daniel, sengaja dia pergi jauh agar tak lagi bertemu kembali dengan laki-laki yang telah memberikannya seorang putri itu.


Tapi apa hendak dikata, walau ribuan kilo jarak membentang, mereka dipertemukan dengan cara yang tak terduga, dengan Daniel yang berbeda, sebisa mungkin dia membuang rasa itu, nayatanya hatinya tak bisa berkhianat, dia mencintai laki-laki yang pernah menyukai kakaknya, dan laki-laki yang pernah ingin berbuat tak baik dengan kakaknya.


Harusnya dia jijìk dengan hal itu, tapi seburuk apapun orang tersebut, jika hati sudah terpaut, keburukannya akan tetap tak kasat dimatanya.


"Kamu senyum-senyum aja dari tadi," tegur Daniel, dia sejak tadi memperhatikan Denisa yang sedang tersenyum sendiri. "Lagi mikirin apa, hem?" tanyanya, dia melirik Denisa sekilas yang duduk disebelahnya, kemudian kembali fokus pada jalanan pagi yang cukup ramai, padat merayap, tapi tidak sampai macet juga.


Daniel juga melirik Dara yang sudah tidur nyaman di jok belakang, karena dia sengaja membeli kasur mobil khusus untuk putrinya itu, sepertinya Daniel sudah mempersiapkan dengan matang perjalanan mereka, serta rencana agar hubungan mereka bisa disahkan sesegera mungkin.


"Maaf Denisa, jika langkah yang aku ambil ini adalah langkah yang salah." Tangan kanan Daniel ia biarkan memutar stir mobil, membawa mobil pada jalurnya, sedang tangan kirinya mengambil tangan Denisa, menyempatkan jarinya disela-sela jari Denisa, seolah mereka akan tetap bersama apapun yang terjadi, dan tak akan pernah terpisah, seperti jemari mereka yang saling terpaut begitu erat.


"Aku pasti akan dibanding-bandingin sama kak Delia dan Dania. Jalan mereka mendapat jodoh begitu bagus." lirih Denisa lemah, dia sudah yakin jika keluarganya akan kecewa padanya.


Daniel merapatkan bibirnya segaris, merasa bersalah atas yang dia lakukan.

__ADS_1


"Maaf, sekali lagi aku minta maaf. Aku membuat nama kamu menjadi buruk, tapi aku berusaha akan menjadi laki-laki baik dan bertanggung jawab, Denisa," ucapnya penuh penyesalan, "aku akan membuktikan pada orang-orang yang meragukan ku, jika aku pantas menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan Dara. Percayalah Denisa, yang aku lakukan karena aku tidak ingin kamu dimiliki laki-laki lain, aku takut kecolongan, lengah sedikit jodoh ku ditikung orang lain."


__ADS_2