
Sambil mengendarai kendaraannya menuju bandara Daniel mencari penerbangan yang lebih cepat, dan keberuntungan sedang berpihak padanya, dia mendapatkan jadwal penerbangan terakhir. Daniel menambah laju kendaraannya, agar bisa sampai bandara lebih cepat, tak boleh tertinggal pesawat, karena pesawat akan terbang dalam satu setengah jam lagi.
Tapi keberuntungan terkadang berdampingan dengan kesialan diwaktu yang bersamaan. Saat ditengah semangatnya Daniel mengendarai mobilnya, salah satu roda bulat hitam miliknya ada yang tiba-tiba meletus.
Dorrrrr
Wusshh
Wusshh
Mobil Daniel menjadi oleng kekanan dan ke kiri, beruntung dia berasa dijalan yang sedikit lengang sehingga tidak membahayakanya atau pengendara lain. Setelah berhasil menepikan mobilnya, segera Daniel keluar dari mobilnya dan melihat roda bagian belakangnya yang sudah robek. Daniel pun menekuk lutut untuk melihat bagian yang sudah robek itu.
"Astaga," Daniel menyugar rambutnya frustasi. "Ada-ada aja."
Tak ada manusia lain yang bisa ia hubungi, Wahyulah makhluk yang selalu menjadi korbanya.
"Halo, Wahyu. Cepat kesini naik taksi, ban ku tiba-tiba meletus. Aku nggak bisa nunggu cepat ambil ya, aku mau naik ojol ke bandara. Aku kirim lokasinya."
Diseberang sana tampak Wahyu mengumpat kesal, belum sempat dia membuka mulut, panggilan sudah dimatikan sepihak. Pekerjaan masalah armada yang terbakar saja belum selesai, dia sudah mendapat perintah baru.
"Ada hal gawat apa sih sebenarnya?" tanya Wahyu pada dirinya sendiri.
"Enak ya buat orang yang punya uang mah, bebas seenak jidat gitu merintah-rintah. Nyuruh ini, nyuruh itu, hassss." Walau kesal Wahyu pun menuruti perintah paduka raja yang perintahnya tak bisa dibantah.
"Andai aku bisa terlahir kembali, aku mau buat perjanjian sama Tuhan buat lahir jadi crazy rich, bukan jadi crazy aja." Wahyu masih terus ngedumel. Lalu dia memanggil orang yang ia perintahkan untuk mengganti pekerjaannya dulu.
Dibandara.
Setelah membayar ojol, Daniel langsung turun dan berlari menuju chec-in counter, dia bahkan sampai menabrak orang yang lewat didepannya, saat akan tiba di pemeriksaan diapun dihentikan oleh securyty check.
"Maaf Pak. Helmnya bisa ditinggal saja." Daniel refleks meraba kepalanya.
"Astaga." Dia sampai lupa melepaskan helm milik ojol tadi. Mau tak mau dia harus memutar badan untuk mengembalikan helm yang dia gunakan.
"Bapak kenapa diam aja sih Pak?" kesalnya marah pada supir ojol.
"Lah bapak saya teriakin nyelonong aja."
Setelah mengembalikan helm, Daniel berlari untuk melakukan chek-in pesawat, dia melihat pada waktu dipergelangan tangannya. Masih ada waktu 20 menit lagi, artinya dia tidak tertinggal pesawat.
Huftt perjuangan mengejar waktu, jangan sampai dia terlambat, Daniel begitu takut jika benar sampai Denisa bertemu laki-laki yang ia ceritakan. Keringat sudah membasahi kemeja berwarna mint yang ia pakai, hingga menimbulkan gradasi kulitnya yang menembus, namun hal itu tak mengurangi kadar ketampanan Daniel yang sudah didapat dari lahir, wangi musk khas miliknya pun masih sopan masuk ke indera penciuman meski sudah bercampur keringat.
Saat sudah masuk ke pesawat, Daniel menyandarkan kepalanya lega. Diapun mengatur nafasnya yang tersengal akibat bertarung waktu, kemudian kembali melihat pada ponselnya, pesan ancaman yang ia kirim hanya dibaca oleh Denisa tanpa ada balasan sedikitpun.
"Baiklah Denisa, jika benar kamu bertemu dengan laki-laki itu, jangan salahkan aku kalau sampai kakinya tak bisa digunakan untuk berdiri lagi," ujarnya, Daniel pun segera mematikan ponselnya, bagaimanapun dia harus tetap hidup, tak boleh ada yang menggantikan posisinya menjadi papi, Dara.
__ADS_1
Kurang lebih dua jam Daniel pun sudah mendarat di bandara Soeta. Tak ingin membuang waktu, jam pun kini sudah menunjukkan pukul 20.00. Daniel pun segera menaiki taksi Bandara. Lima tahun mencari informasi tentang Denisa, membuat Daniel hapal betul alamat rumah Abian, diapun menyebutkan alamat itu pada sang supir.
Tak ada kata lelah, membayangkan Denisa berbincang sambil tertawa dengan laki-laki lain di cafe anak muda jaman sekarang, membuat Daniel tak sabar ingin memergoki laki-laki yang berani mendekati Denisa, dan tak sabar ingin mematahkan kaki dan tangannya.
Merogoh saku celananya, Daniel menyalakan ponselnya. Dia mèndesah kesal, lagi-lagi tak ada pesan dari Denisa, diapun segera menghubungi nomor wanita yang sudah menghilangkan akal sehatnya itu.
Lagi-lagi Denisa tak mengangkat panggilannya, tapi Daniel terus berusaha menghubungi nomor Denisa. Dipanggilan kedua ini barulah panggilannya diterima.
"Halo, siapa ini?" Suara cempreng khas anak kecil yang menjawab.
"Dara, ini kamu?"
"Iya, ini siapa?"
"Ini Papi, sayang."
"Papi!"
"Iya, kok kamu yang angkat? Mami mana?"
"Mami udah bobo dari tadi."
"Apa sayang?" Entah harus senang atau kesal mendapat jawaban dari Dara, tapi jauh dilubuk hatinya kini dia bisa bernafas lega. "Mami nggak kemana-mana dari tadi?" tanyanya lagi memastikan, anak kecil tidak akan berbohong.
Dara menggeleng walau tak terlihat oleh Daniel. "Enggak Pi, Mami dari sampe enggak kemana-mana, cuma dirumah temenin aku sama Awan, dan Angkasa main. Papi kapan jemput Dara? Katanya mau jemput Dara, kok Mami pulangnya sendiri."
Lihatlah apa yang ia lakukan, kini dia benar-benar dibuat tak waras, bisa-bisanya dia tidak berpikir, jika memang Denisa melakukan itu, tidak mungkin Denisa memberitahunya.
"Oke baiklah sayang, kalau Papi datang, Dara mau dibawakan apa?"
"Coklat kindel loy, yang banyak ya, Pi. Soalnya biar bisa di bagi sama Angkasa dan Awan."
"Cuma itu, sayang?"
"Es krim yang banyak." jawab Dara lagi.
Daniel mengulas senyum, begini rasanya jika diminta buah tangan oleh anak, permintaan sederhana tapi dia begitu merasa senang, dan ingin memberikan apa saja yang ia punya.
Tuhan tolong maafkan aku, atas segala apapun yang telah aku perbuat. Izinkanlah aku menebus semuanya disisa hidup ku, untuk membahagiakan mereka.
Tahu panggilan itu telah terputus, Dara bersorak senang, diapun melompat dari atas tempat tidur ingin memberi tahu Awan dan Angkasa, jika papinya akan datang dan membawakan makanan untuknya. Hal itu membuat Denisa terjaga.
"Dara, mau kemana?" Denisa mengucek mata, menyesuaikan dengan cahaya lampu kamar.
"Ke kamar Awan dan Angkasa, Mi. Papi sebentar lagi sampe, bawain Dara jajanan."
__ADS_1
Denisa berkerut dahi mendengar ucapan Dara. "Papi siapa?"
"Ya Papi Daniel," jawabnya, "kan kata Mami, Papi aku papi Daniel, tadi papi telepon, katanya sebentar lagi sampai."
Dengan kepala sedikit pusing, Denisa memeriksa ponselnya, ada jejak panggilan masuk dari Daniel. Denisa merapikan rambutnya tidak percaya, Daniel datang? Apa iya? untuk apa?
Denisa segera menghubungi kembali nomor Daniel.
"Apa sayang? Apa anak kita sudah memberi tahu kalau aku akan sampai?"
"Kakak ada dimana?"
"Aku? Kamu mau tahu aku sedang dimana?" Daniel menyeringai, membayangkan wajah bangun tidur Denisa yang kebingungan, "aku sedang dalam perjalanan, ingin menemui gadis yang akan berkencan dengan laki-laki yang baru dikenalnya, tapi ternyata itu hanya lewat mimpi. Aku ingin menghukumnya karena sudah berani membohongi ku."
"Kak, aku serius, Kakak ada dimana? Jangan membohongi Dara."
"Sebentar lagi aku sampai sayang, siap-siap akan hukuman yang harus kamu terima."
Denisa menutup mulut, rasa tak percaya Daniel benar datang? Kenapa laki-laki itu datang? Apa karena ucapannya yang mengatakan ingin bertemu laki-laki yang baru dikenalnya? Daniel melakukan semua karena cemburu?
Segera Denisa menurunkan kakinya mengejar Dara, jangan sampai Abian tahu jika Daniel datang, obrolan mereka siang tadi, cukup membuat Denisa tahu, jika Abian belum bisa menerima Daniel.
"Kamu itu cinta apa bodòh Denisa? Pikir-pikir lagi, Daniel itu siapa? Dia dulu pernah ingin berbuat yang tidak baik sama kakak kamu. Mama juga sudah tahu itu, kakak tidak yakin mama akan kasih izin."
*
*
*
Ditempat lain.
"Dokter Anita tidak perlu datang lagi, Dok." Ucap Amanda pada dokter Anita yang baru masuk kekamarnya.
"Aku cuma mau menemani kamu, Amanda." Dokter Anita berangsur duduk disebelah Amanda.
"Terima kasih," ucapnya tanpa melihat dokter Anita, "setelah aku pikir-pikir, aku merasa seperti wanita dengan gangguan kejiwaan didampingi Dokter. Apa dokter tidak pernah merasakan jatuh cinta?"
Dokter Anita tersenyum, sudah pasti dia tahu yang dimaksud Amanda.
"Aku pernah jatuh cinta dan pernah merasa sakit hati Dokter Amanda."
"Itu hal wajar yang umum dirasakan orang, 'kan? Aku juga sama, Dok. Ada rasa kesal dan sakit hati jika dikhianati oleh orang terdekat kita, jadi apa yang terjadi sama aku. Hal wajar dan normal. Aku tidak akan sampai mèmbunuh seseorang hanya karena sakit hati."
"Tapi kami menyayangi kamu, Dokter. Kami tidak ingin ada skandal antara kamu dan dokter Denisa. Yang akan menghancurkan nama baik, kamu."
__ADS_1
Amanda menarik nafas. "Tapi rasa benci ku kepada mereka tidak akan hilang sampai kapanpun. Mereka hanyalah orang-orang payah yang tidak tahu cara berterima kasih."