My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Ijab Kabul


__ADS_3

Pagi hari, Denisa sudah sampai di hotel, saat ini dia sedang dirias oleh MUA yang dikirim oleh Dina. Awalnya Denisa pasrah, jika pilihan Dina tidak sesuai keinginannya, dia menghargai mama mertuanya itu, namun begitu, walau tanpa berkomunikasi, Dina tahu apa yang diinginkannya, yaitu mengenakan adat sunda seperti Delia dan Dania.


Denisa tak menyangka jika Dina menyiapkan semuanya begitu sempurna, dia tinggal terima beres, tak boleh capek ataupun pusing memikirkan persiapan pernikahannya.


"Kata mertua teteh, calon mantunya itu dari keluarga sunda, jadi dia milihin adat sunda. Siganamah (sepertinya) bu Dina sayang pisan sama teteh," ucap sang perias, Denisa melongok tak percaya, "katanya juga, si teteh ini pernah jadi mantunya, nyak?" Denisa mengangguk malu.


"Itu namanya jodoh teh, mau sejauh apa kita pergi, kalo jodoh tetap bertemu." Denisa hanya diam dan tersenyum menanggapinya, apa sebenarnya Dina ceritakan pada MUA ini?.


"Punten ya teh, mau masangin kembang goyangnya, bilang ya kalo sakit,"


"Iya," jawab Denisa.


"Kembang goyang ini, memiliki makna rezeki dan sari-sari kebaikan untuk kedua mempelai. Lima kembang disematkan mengarah kedepan, dan dua buah lainnya mengarah kebelakang, hal ini menyimbolkan bahwa kecantikan perempuan harus terlihat dari arah depan dan belakang." ucap si MUA menjelaskan makna dari kembang goyang, sambil memasangkan kembang goyang terakhirnya dikepala Denisa.


"Semoga rumah tangga teteh dan si mas-nya langgeng ya. Cantik maksud disini, bukan hanya dari fisik, tapi juga hati."


"Terima kasih, mba."


Tok tok tok


Pintu kamarnya diketuk dari luar, salah satu teman MUA membukakan pintu.


"Siapa?" tanyanya membuka sedikit daun pintu, sebab tak sembarangan yang boleh masuk, sebelum mereka selesai merias.


"Punten teh, saya Pupu, sepupunya teh Denisa, mau antar Dara, katanya mau maminya."


"Oh, masuk." Setelah tahu yang datang perempuan, asisten perias itu mempersilahkan masuk.


"Teteh meunih geulis pisan teh," puji Pupu saat melihat Denisa, Pupu merupakan sepupu Denisa, anak dari kakak mamanya.


"Nuhun, Pu." sahut Denisa tersenyum malu, "teteh jadi isin."


"Ih geulis begini, kunaon isin? Deg-degan nggak teh?" tanya Pupu.


"Em, kamu nanti juga ngerasain, Pu. Rasanya campur aduk."


"Kan ini yang kedua, rasanya beda nggak teh?" Pupu kembali bertanya.

__ADS_1


"Ih aunty nanya terus, kan Dara yang mau ngomong sama Mami, kenapa Aunty jadi nanya Mami terus." protes Dara pada tantenya.


Pupu tertawa. "Iya Dara, ya ampun aunty lupa kalau kesini sama Dara." Dara mengerucutkan bibirnya, "Dara ra minta dianterken, pengen ketemu mami ceunah." Pupu memberi tahu tujuannya kesini.


"Mami nggak kasih tau Dara, kenapa kita semua ke hotel, Mami sama Dara juga di dandanin cantik seperti ini, memang mau ada apa Mi?" protes Dara langsung sedikit kesal, melipat tangan didepan dada, karena Denisa tak menjelaskan apa-apa padanya, sejak kemarin dia ingin bertanya, namun maminya terlihat sibuk kesana kemari.


Denisa yang mendapat pertanyaan dari putrinya cukup terkejut, dia dan Daniel sampai melewatkan izin dari Dara saking sibuknya dan banyaknya masalah. Dara tak pernah menanyakan perihal mereka yang tak pernah tinggal satu rumah, membuatnya lupa menjelaskan pada Dara, hal yang terkesan sepele tapi sangat penting.


Dara anak yang cukup cerdas, bukan dia tak ingin bertanya, tapi dia tak mau membuat maminya menangis jika dia banyak bertanya. Papinya sudah turun dari surga saja dia senang.


Denisa dan Pupu saling pandang.


"Tadi Dara sudah dijelasin sama teh Delia, tapi dia tetap minta kesini, minta maminya yang jelasin." Pupu memberi tahu Denisa.


Denisa tersenyum, melihat Dara, dia memegang kedua pundak anaknya, mengarahkan untuk berdiri menghadapnya.


"Maafin Mami ya sayang. Maaf Mami lupa menjelaskan ini sama Dara," ucap Denisa penuh sesal, "Mami sama papi mau nikah lagi, biar kita bisa tinggal bersama, Dara papi, dan mami, Dara maukan kita tinggal sama-sama, boleh nggak Mami nikah sama papi lagi."


"Benar ya Mi, kita tinggal satu rumah?" Denisa mengangguk. "Kalau begitu boleh deh Mami nikah lagi sama Papi, tapi kalau sama yang lain, ndak bollleh." Dara menebalkan kata terakhirnya.


"Makasih ya sayang, anak Mami cantik banget," Denisa mengusap pipi Dara yang lembut, "Mami sayang Dara." Denisa memeluk putrinya.


* * *


Dikamar Daniel yang bersebelahan dengan kamar Denisa. Daniel sudah beberapa kali bolak balik kamar mandi, dia merasakan tak tenang, debar jantungnya tak menentu, dia begitu gugup, kini Daniel sudah rapih dengan setelah beskapnya berjalan mondar-mandir seperti setrikaan laundry.


"Eh kecoa, bisa diem nggak sih, bikin kepala pusing tahu nggak lihatnya." tegur Abian, dia kesal, Delia sedang kerepotan, dia malah disuruh menemani Daniel, laki-laki itu beralasan minta diajarkan cara pelafalan ijab kabul yang benar.


"Aku gugup a', tahukan orang mau ijab kabul iti gugup."


"An****, aku udah bilang ganti nama panggilannya, panggil nama aja, kam***."


"Itu nggak sopan, a'," Daniel tak mau mengganti nama panggilannya pada Abian sekarang, "lo harusnya bangga punya adik ipar yang sangat menghormati kakaknya, lagian nama panggilan aa' bagus sih. Si Rafathar aja dipanggil aa nggak masalah, padahal dia msih kecil."


"Kalian dari tadi ribut mulu, udah kayak kecoa sama semut tau nggak?" ucap Wahyu yang sejak tadi diam mendengarkan pertengkaran keduanya.


"Sejak kapan kecoa sama semut suka ribut?" Abian dan Daniel bertanya kompak.

__ADS_1


"Sejak barusan lah," jawab Wahyu diplomatis. "Kan aku sebutnya barusan."


Dina masuk kedalam kamar Daniel tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ya ampun tan, tante bisa dituntut loh masuk kamar tanpa izin," Wahyu berkelakar.


"Apa sih Yu tantat-tuntut, lagi pada nggak telan jang kan?" tanya Dina, "udah pada siapkan, yuk turun, tadi Mama tanya Denisa juga sudah siap." perintah Dina langsung.


* * *


Pintu Aula hotel dibuka lebar, Dara dan Denisa berjalan bergandengan tangan, didepanya ada Awan dan Angkasa anak Abian sebagai penggiring pengantin, Denisa berjalan dengan begitu anggun menuju meja ijab kabul, riasan diatas kepala ikut bergoyang mengikuti langkah kaki Denisa, dibelakangnya diiringi bridesmaid yang merupakan sepupu-sepupu Denisa.


Seharusnya Sisi juga ikut dalam barisan bridesmaid tersebut, namun baju yang disiapkan para wo tak ada yang muat dipakainya, jadilah dia duduk di kursi sebagai tamu undangan, Denisa belum menyadari keberadaannya.


Daniel menitikkan air mata melihat kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya berjalan bersama menuju kearahnya, dia mengingat kenangan lima tahun lalu, dia tak menyiapkan apa-apa untuk pernikahannya dengan Denisa.


Tak ada rasa bergetar dihatinya seperti hari ini, namun hari ini dia begitu merasakan gugup yang luar biasa. Darahnya berdesir hebat melihat Denisa yang begitu cantik dengan kebaya putihnya, mata Daniel rasanya enggan berkedip sedikitpun dari Denisa, sangat rugi jika dia sampai melewatkan kecantikan calon istrinya tersebut.


Daniel dan Denisa dipersilahkan duduk berdampingan pada kursi yang dibalut dengan sarung kursi berwarna putih, dan berpitakan warna pink.


"Sudah siap semuakan?" tanya penghulu saat Denisa sudah duduk didepannya, semua kompak mengangguk. "Mari kita mulai acaranya."


Dan pelafalan ijab kabul pun dibacakan, Daniel sudah menjabat tangan paman Denisa, entah faktor gugup atau apa, Daniel tak bisa menyebut nama ayah Denisa dengan benar, hingga dia harus mengulang kembali.


"Yang tenang, jangan gugup." ucap penghulu, "coba latihan sebentar."


Daniel pun menurut, dia tak berani melihat kearah Denisa, dia malu telah membuat Denisa malu dihadapan para tamu undangan, Abian yang duduk diantara keluarga yang lain ingin sekali melempar kepala Daniel dengan kursi pernikahan agar otak laki-laki itu bisa berpikir jernih.


Ucapan yang kedua kali, Daniel kembali gagal mengucapkan jumlah mahar perkawinannya. Sungguh dia kesal sekali, padahal dia sudah latihan dari kemarin.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung dulu deh, biar bang Daniel latihan lagi. Hehehe semangat bang Daniel, minta ajarin lagi sama Aa Abian.


__ADS_2