
"Denisa, Mama ikut pulang ke Subang ya?" Mama berpamitan pada Denisa ikut masuk kedalam kamar Denisa.
Denisa yang baru saja duduk di sofa ujung ranjang terkejut.
"Mama kenapa buru-buru sekali? Mama nggak tinggal disini sama aku dan Dara?" Denisa tidak setuju dengan keputusan mamanya yang memilih ikut pulang ke Subang selepas acara resepsinya.
"Mama sudah terlalu lama meninggalkan ayah, kasihan ayah jarang Mama tengokin. Anak Dania sudah besar," Mama ikut duduk di sebelah Denisa. "Mama lihat kamu sudah bahagia sama Daniel, semoga rumah tangga kalian langgeng ya, jaga Dara, jaga rumah tangga kalian. Walau nanti kamu bekerja, prioritaskan kebutuhan suami kamu."
Denisa memeluk mamanya, dia menangis dalam dekapan sang mama, bahu yang selalu menjadi tempat ternyamannya bersandar.
"Mama tinggal sama Denisa aja, Denisa masih butuh Mama." Denisa mengeratkan pelukanya, meminta berharap mama mau mengubah keputusannya.
"Nggak bisa sayang, kamu sudah berkeluarga, lagian sebenarnya Mama nggak betah tinggal di Jakarta, Mama lebih betah di Subang. Mama bisa mengerjakan apa saja dirumah, Mama akan datang lagi kalau kamu sudah melahirkan." Mama mengusap rambut Denisa lembut dan penuh kasih sayang, "bahagia selalu, Nak. Mama doakan keluarga kamu langgeng dan bahagia sampai maut memisahkan."
"Tapi Mama sendirian disana, Ma. Kalo Mama sakit, siapa yang ngerawat Mama."
"Kamu kan dokter, kamu yang datang ya?" canda mama seraya tersenyum, beberapa hari ini mendiami Denisa membuatnya cukup tersiksa juga.
"Kalau Mama kasih tau, sejauh apapun Denisa pasti akan datang, Ma." Denisa melepaskan pelukanya. "Mama nggak mau tinggal sama Denisa, apa karena Mama masih benci Denisa sama kak Daniel, Ma?"
Mama menggeleng. "Nanti kamu juga merasakan Denisa, saat sudah tua, tempat ternyaman untuk kami ya, rumah kami sendiri, biarpun rumah itu reot dan mau roboh."
Denisa tak dapat lagi membantah, memang benar kata orang, orang tua tidak akan betah tinggal dirumah anak mereka sendiri, semegah apapun rumah anak mereka. Mereka lebih memilih tinggal digubuk mereka yang penuh memori bersama pasangan dan anak-anak mereka ketika masih kecil.
"Kak Delia dan Dania udah tau?"
"Mereka sudah tau keinginan Mama seperti apa?"
"Aku pangilin kak Daniel sama Dara dulu." Denisa mencari nomor Daniel, mencoba menghubunginya.
* * *
"Mama yang mengundang papa dokter itu?"
Dina diam saat Daniel menanyakan itu, dia hanya mengangkat bahu acuh. Daniel menarik nafas panjang.
"Mama tertarik sama laki-laki itu?" Daniel langsung bertanya keintinya, dia tak bisa berbasa-basi, dan tak bisa menahan rasa penasaranya. Mereka duduk berdua di meja bundar resepsi, tempat itu sudah sepi, tersisa para pekerja wo yang sedang membersihkan tempat itu, semua tamu sudah pulang, hanya tersisa keluarga besar yang kini masuk ke kamar hotel masing-masing.
Kecuali keluarga Denisa dari Subang yang sedang bersiap untuk pulang.
"Siapa bilang? Mama cuma memperbanyak teman saja." Dina menyangkal, lagi pula, mana mungkin dia menjawab jujur, ketahuan Daniel seperti ini saja dia sangat malu.
Lagipula Dina belum yakin jika papa Ricko juga tertarik padanya, dia takut salah mengartikan tatapan dan perilaku papa Ricko.
Daniel menghela nafas. "Aku nggak masalah Mama memiliki hubungan dengan laki-laki itu, asal Mama bahagia, aku tidak akan melarang, Ma."
Daniel memancing reaksi mamanya saat bertanya itu, dan benar saja, Dina nampak tersipu. Melihat itu Daniel menggeleng, dia akan membebaskan kebahagiaan untuk mamanya, dia tak masalah Dina menjalin hubungan dengan papa Ricko, dia belajar dari Abian, yang mau berdamai dengan mantan rival, dia sudah menikah, mamanya membutuhkan pendamping hidup yang akan menemaninya di akhir sisa hidupnya, yang tak bisa ia penuhi sebagai seorang anak.
Ponsel Daniel yang ia letakkan diatas meja bergetar, nama my wife muncul disana.
Dina ikut melirik, dia senang, itu berarti dia terbebas dari pertanyaan Daniel yang ingin tahu tentang perasaannya terhadap papa Ricko.
"Ma, kita kedepan, keluarga Denisa mau pulang, mamanya juga ikut pulang."
__ADS_1
"Loh, mamanya nggak tinggal di disini?"
"Aku nggak tahu, Ma. Ayo kita kedepan sekarang."
* * *
Segala rayu Daniel keluarkan agar mama Denisa mau tinggal bersama mereka, namun tetap tak bisa mengubah keputusan mama, tak apa mama tak tinggal bersama mereka, setidaknya jika mama masih belum menyetujui sepenuhnya pernikahan mereka, mama tinggal di tempat Dania atau Delia. Tetap mama tak mau.
Daniel juga menawarkan tempat tinggal untuk mama sendiri, mama pun tak mau, bagi mama, gubuk lama mereka tempat ternyamannya.
Mereka hanya bisa melihat bis yang menjauh, dengan hati yang terasa pilu.
"Dara." Dina memanggil Dara yang bersama Denisa.
"Nenek." merasa dipanggil, Dara langsung menghampiri Dina.
"Kamu malam ini tidur sama nenek ya?" tawaran berupa ajakan sebenarnya, mengerti pasti malam ini mami papinya akan sibuk. Dara melihat Denisa dan Daniel minta persetujuan.
Abian berdehem. "Maaf Bu, malam ini Dara tidur sama kami dulu, sebab anak-anak saya, Awan dan Angkasa begitu dekat dengan Dara, boleh?" Abian merasa tak enak mengatakan itu pada Dina, Delia yang mendengar itu mengerutkan keningnya, heran.
"Ya, saya sih, bagaimana mami, papinya saja." Jawab Dina menutupi kecewa.
"Nggak papa Ma, besok-besok Dara baru tidur sama Mama." Daniel menjawab, bertujuan Dara anteng bersama Abian, sebab Dara belum terbiasa dengan Dina, takutnya malam ini segala rangkaian acara yang telah disusunnya akan gagal.
Abian tersenyum simpul, dia segera membawa Dara ke kamarnya sebelum Dara berubah pikiran.
* * *
Memasuki kamar mereka, Denisa menjadi gugup, entah mengapa bisa begini? coba saja tadi dia bisa mencegah Dara untuk tidur bersama mereka saja, pasti malam ini tidak akan terjadi apa-apa.
Tapi ... kalau aku minta buat jangan ngelakuinnya malam ini, kira-kira Kak Daniel mau nggak ya?
Waktu kemaren-kemaren biasa aja, kok sekarang jadi gugup gini sih*?
Denisa sibuk dengan pikirannya sendiri, meninang apa yang akan mereka lakukan malam ini, masih duduk diatas tempat tidur tanpa melepas gaunya.
"Kamu nggak mau ganti baju, Mi?"
Denisa terlonjak mendengar suara Daniel, ternyata suaminya itu sudah terlihat segar, dan baru keluar dari kamar mandi, hah? Berapa lama dia melamun?
Denisa melihat Daniel hanya mengenakan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya, Denisa menalan salivanya susah payah, mencoba membasahi tenggorokan yang tiba-tiba kering. Daniel yang ditatap dengan tatapan mendamba terkekeh, berjalan menghampiri Denisa.
"Iler kamu, Mi." godanya. Denisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memanas.
Memalukan.
"Nggak usah dibayangin, aku bukan tipe suami pelit, kok. Aku kasih kamu buat rabà, èlus, bèlay, atau apa yang kamu mau, gratis," Denisa tak sempat menjawab perkataan suaminya, sebab Daniel sudah mengambil tangannya, dan mengarahkan ke perutnya yang kotak-kotak dan keras.
Jemari Denisa mèraba pelan perut sixpack yang biasa ia lihat di drama-drama korea. Tatapanya tak bisa berpaling sedikitpun, ini sangat indah, tak mungkin dilewatkan begitu saja, mumpung sang pemilik lahan sedang tak pelit, dan membiarkannya menikmatinya secara gratis.
Eh,mungkin nggak sih gratis?
Sekujur tubuh Daniel berdesir sampai ke nadi-nadinya karena sentuhan kulit lembut jemari Denisa yang kini sudah mulai turun kebawah. Daniel menahan nafas, memejamkan matanya menikmati dan membayangkan yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Semoga Denisa berani dan agresif seperti dulu. Entah seperti apa dulu, sebab ia tak ingat apapun. Dia mabuk.
"Kak."
"Hem." tak mampu menjawab, sumpah dia seperti terkena setruman listrik tegangan tinggi.
"Selain aku, siapa yang sudah merasakan kesempurnaan roti sobek Kakak?"
Mata Daniel yang terpejam terpaksa terbuka, perkataan Denisa mengganggu konsentrasinya.
"Nggak ada."
"Bener?" Denisa ngeyel.
"Jangan mencari jawaban yang akan membuat kamu sakit sendiri, cukup percaya yang aku katakan, percaya bahwa suami kamu bukan lelaki murahan." Daniel menjauhkan perutnya dari tangan Denisa, membuat Denisa kecewa, dia masih ingin merasakan kerasnya roti sobek itu.
"Kamu nggak mau buka baju kamu, maunya aku yang bukain, kan?"
Denisa mencebik. "Sok tau."
Daniel terkekeh. "Sekarang aku sudah jadi suami kamu, jangan malu meminta bantuan apapun." Daniel menarik kebawah reseleting gaun Denisa. "Kamu nggak tahu kepala ku pusing sejak tadi."
"Pusing kenapa? Sekarang masih pusing" Denisa khawatir. Daniel senang melihat wajah khawatir Denisa.
"Masih."
"Kakak mau aku carikan obat?"
"Mau cari kemana? obatnya tertutup gaun ini," tanpa izin Daniel menurunkan gaun Denisa dari pundaknya. Separuh pundak mulus dan putih Denisa terlihat, Daniel mengecupnya. "Obat sakit kepala ku ada disini," Daniel mengecup tulang selangka Denisa, "disini." naik ke leher, tangannya kembali menurunkan gaun itu semakin turun, "dan disini." mengecup tepat ditengah antara kedua bukit pemersatu bangsa.
Tubuh Denisa meremang dan menegang.
"Jujur aku nggak rela pundak kamu terekpos seperti ini, tapi, ini momen pertama sekali seumur hidup, jadi aku izinin kamu memakainya." ujar Daniel seraya menurunkan longtorso, kain penutup kedua gunung milik istrinya yang membuatnya ingin sekali merasakan ujung gunung yang sejak kemarin ia bayangkan.
Daniel menunduk, matanya menatap tak kedip ujung gunung yang dikelilingi lingkaran berwarna pink kecoklatan itu.
"Boleh ya, Mi. Abis minum obat minum susu?" tanyanya menatap wajah Denisa yang sudah merah seperti kepiting rebus, padahal ia tak perlu minta izin. Denisa tak mengangguk, dua bingung harus apa?
Bibir Daniel sudah terbuka ingin merasainya, namun tiba-tiba bel kamar mereka berbunyi.
Daniel memejam menahan kesal. "Siapa sih?" ujarnya marah, ganggu tutorial dia minum obat sakit kepala aja.
"Kamu tunggu disini aja, aku yang bukain." Daniel menutup tubuh Denisa dengan selimut putih. Kemudian menyambar kaos miliknya sudah disiapkan dibandaran sofa, mengenakanya sambil berjalan menuju pintu.
"K*****t," umpatnya saat tahu yang berdiri didepan kamarnya adalah Abian. Abian melambaikan tangan, seolah tahu siapa yang ada dibalik pintu itu.
"Ngapain sih?" ucap Daniel kesal membuka pintu, tak menyadari ada Dara didepannya.
"Anak gue dibawa nyokap gue semua, Dara nggak mau tidur sama kita." nyengir menunjukkan deretan giginya yang putih.
Daniel menunduk, benar ada Dara. "Pi, aku udah ngantuk." Dara menerobos masuk dengan mata tinggal lima watt.
"Ditunda dulu nggak papa, masih ada malam besok-besok." Tanpa dosa, kakak iparnya ini menepuk pundaknya, kemudian berlalu meninggalkan Daniel yang terpaku ditengah pintu.
__ADS_1
"Duhhh, enak nih nggak ada pengganggu, bisa belah duren, bikin anak ketiga ahh." sengaja Abian berteriak kencang sebelum menghilang masuk kedalam lift.