My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Lupa Mengabari


__ADS_3

Dihalaman depan rumahnya, Delia mengajak ketiga anaknya, dan juga Dara menggambar. Hal ini sering dia lakukan untuk mempererat hubungannya dengan para anak-anaknya, dan juga untuk meningkatkan kecerdasan kognitif anaknya.


Dengan sabar dan telaten Delia mengajari cara mewarnai yang rapi.


Angkasa dan Awan sedang mewarnai gambar pesawat pastinya, selain menjadi kesukaan keduanya, karena itu juga merupakan profesi sang ayah yang menjadi idola mereka. Aira sendiri mewarnai gambar kartun elsa.


"Ma, warnain Aira jelek, warnanya abstrak." Adu Awan pada Delia.


"Nggak papa sayang, adek Aira kan masih kecil, nanti juga rapih, ya nak. Kasih tau donk adiknya mewarnai yang rapih," ujar Delia pada Awan. Awan termasuk anak yang suka bicara, berbeda dengan Angkasa yang sedikit bicara.


Kini Delia berpindah melihat hasil warna Dara, Dara bukan sedang mewarnai, tapi sedang melukis sesuatu. Delia melipat keningnya melihat hasil lukisan Dara itu, dia sampai mendekatkan wajahnya untuk melihat dengan jelas apa yang digambar Dara.


"Dara lagi gambar apa sayang?" tanya Delia.


Dara menoleh sambil tersenyum. "Tante nggak tau?" Delia menggeleng, "berarti lukisan Dara jelek donk, tante?" Bahu Dara terlihat melemah.


Delia tersenyum, mengacak rambut Dara. "Ini cantik sayang, tapi tante mau dijelasin aja, lucu soalnya." Delia kembali melihat lukisan seperti tiga orang yang sedang bergandeng tangan itu.


Mendengar pujian dari Delia, Dara kembali sumringah. "Ini gambar papi, Dara, dan mami," jelas bocah cantik itu menunjukkan satu persatu tokoh yang ia gambar, "Dara lagi kangen sama mami dan papi. Kapan ya tante mami, dan papi jemput Dara?"


Delia menarik kembali tubuhnya, menatap lirih penuh haru sang keponakan. Semakin hari dia baru memahami apa yang selama ini dijalani Denisa dan Dara. Tak pernah ia bayangkan bagaimana hidup keduanya saat di Batam, jauh Dara sanak saudara, tapi dari sini Delia semakin memuji adiknya, Denisa menjadi wanita yang kuat serta ibu yang hebat. Jika dia diposisi Denisa, belum tentu dia bisa menjalani hidup seperti yang Denisa rasakan.


Ada rasa bersalah dalam dirinya, menjadi egois membuat adiknya jauh dari keluarga, hanya bertujuan menyembunyikan Denisa dari Daniel yang mencarinya, dia lupa jika kuasa ilahi yang membuat mereka bisa bertemu kembali, sejauh apapun dia menyembunyikan adiknya, tanpa dia sadari justru hal itu membuatnya jauh dari sang adik, tanpa tahu apa yang telah dilewati Denisa.


"Mamiii!." teriakan Dara tiba-tiba, membuyarkan lamunan Delia, dia membalikkan badan melihat arah lari Dara, bocah itu sudah dalam gendongan seorang wanita cantik yang wajahnya mirip dengannya, Delia terkejut dengan kedatangan adiknya.


"Mami, bener ini Mami kan?" Dara memeluk posesif leher Denisa. "Mami beneran udah pulang?" tanya bocah itu lagi, rasa-rasa masih tak percaya. "Mami baru aja Dara gambar mami sama papi." Adunya langsung memberi tahu.


"Oh ya? Mami mau lihat," ujar Denisa antusias, "Mami kangen sama anak Mami yang bawel, makanya Mami pulang cepat." Denisa menjawil hidung Dara, lalu memberikan banyak kecupan diwajahnya, Dara tertawa kegelihan sekaligus senang.


Denisa lalu menatap sang kakak yang masih keheranan dan terkejut atas kedatangannya, sudah pasti Delia terheran dan banyak tanda tanya dikepalanya.


Denisa menghampiri Delia sambil menggendong Dara.


"Apa kabar, Kak?" Denisa tersenyum jail melihat wajah Delia yang sangat terkejut dengan kehadirannya.

__ADS_1


"Kamu kok sudah pulang, Dokter Denisa?" Delia pun berjalan menghampiri sang adik, dan langsung memeluknya, "apa ada masalah?" tanyanya lagi.


Denisa melerai pelukanya menatap sang kakak, Denisa hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan kakaknya, Denisa menurunkan Dara, menyapa keponakan-keponakannya.


"Hay keponakan aunty yang ganteng-ganteng dan cantik." Sapanya pada Angkasa, Awan dan Aira, kemudahan menciumi pucuk kepala keponakannya itu.


"Hai Aunty Dokter," balas Angkasa dan Awan bersamaan, Aira sendiri berlari menghampiri sang mama, minta digendong. "Aunty mau jemput Dara?" tanya Awan langsung tanpa basa-basi.


"Iya, kenapa? nggak papa kan Daranya dijemput, Aunty kesepian nggak ada Dara?" tanya Denisa menggoda, menjawil pipi Awan, ingin tahu jawaban Awan.


"Kok dijemput Aunty? Dara biar disini aja sekolah bareng kami, enak kalau ada Dara, kami ada yang bela kalau ada teman yang nakal," ujarnya polos.


Denisa dan Delia saling pandang, mengerutkan kening atas ucapan Awan, tapi saat mereka kembali melihat Awan, Angkasa sudah membekap mulut Awan, Denisa dan Delia sontak memicingkan mata, seperti ada yang anak-anak mereka sembunyikan, dan saat itu Dara meletakkan telunjuknya didepan bibir mengarah pada dua sepupunya itu.


Delia menghela nafas. "Sudah-sudah yuk, Aunty mungkin kecapean baru sampai, nanti saja kita ngobrolnya. Sudah masuk jam makan siang juga." Ajak Delia, mengulurkan tangan mengajak anak-anaknya masuk.


"Tapi Mami harus lihat gambaran Dara dulu," rengek Dara ingin gambaranya dilihat sang mami.


"Oh iya, mana sayang?" Dara menyeret tangan Denisa berjalan menunjukkan lukisanya tadi. Dan langsung menjelaskan tokoh yang ia gambar. Denisa terenyuh, perasaan Dara dan Daniel bertemu hanya beberapa kali, tapi ikatan batin keduanya terlihat sangat erat. "Gambaran Dara cantik banget sayang, maksih ya." Denisa mengusap rambut panjang anaknya sayang, kemudian mengecup pipi Dara.


"Mami kok dateng sendiri, nggak sama papi?"


"Aunty kok nggak bawa oleh-oleh?" tanya Awan tak melihat Denisa membawa tentengan apa-apa.


Denisa tertawa terbahak. "Aunty pulangnya dadakan sayang, nanti kita belanja mainan disini aja ya?"


"Aunty nggak asik, kalau disini Awan bisa minta belikan ayah."


"Anak mu, Kak. Sama kayak ayahnya." Denisa menggeleng dengan kepolosan Awan.


Di meja makan dengan menu sederhana, namun tercipta suasana hangat, dimana Denisa dan Delia sudah memiliki anak, makan siang bersama seperti ini adalah hal yang jarang sekali Delia dan Denisa lakukan, semua terjadi semenjak Delia lulus sekolah dan memutuskan jadi prammugari, Delia dengan segala kesibukan jam terbangnya, dan mendapat jodoh, lalu banyak masalah yang terjadi diantara mereka hingga membuat hubungan mereka sempat merenggang.


"Dara selama disini nakal nggak sayang?" tanya Delia disela makanya.


"Nggak donk, Mi. Aku nurut, kan tante?" lihatnya pada Delia.

__ADS_1


Delia tersenyum dan mengangguk. "Tapi tante masih penasaran sama apa yang tadi Awan bilang, kalian punya hutang penjelasan ya, sama tante." tunjuk Delia satu-satu ketiganya.


Awan nyengir, tubuhnya menciut bersembunyi dibalik meja makan, mendapat tatapan intimidasi dari Dara dan Angkasa yang penuh ancaman. Denisa dan Delia terkekeh melihat tingkah ketiganya, entah kerja sama apa yang sedang mereka lakukan.


Selesai makan, Delia dan Denisa bersama-sama membersihkan piring bekas makan mereka, mengulang yang dulu pernah mereka lakukan saat masih bersama, Delia mencuci piringnya, Denisa yang membilas sambil mengobrol ringan. Memang ada asisten rumah tangga dirumah Delia, tapi jika itu masih Delia kerjakan sendiri, dia akan mengerjakannya.


Setelah itu mereka mengajak anak-anaknya untuk tidur siang.


"Ada masalah apa Dek? Kok kamu tiba-tiba pulang?" Delia bertanya setelah memastikan anak-anak mereka tertidur pulas. Tidur siang kali ini, anak-anaknya memilih tidur diruang keluarga, beralaskan kasur tipis. Keempatnya tidur berjejeran, hanya saja dipisah dengan guling kecil agar tidak saling menendang. "Tugas kamu tiga bulan kan di Raijua?"


Delia menatap Dara yang sudah terpejam. "Kak Daniel ajak aku sama-sama lagi, Kak," jujurnya, "memang sedikit ada masalah, makanya kak Daniel suruh aku pulang lebih dulu."


Delia menyentak nafas kasar. "Kamu mau?" Denisa diam, tatapannya tertuju pada Dara, dan itu menjadi jawaban bagi Delia. "Nanti kita bicarakan sama mama, juga Dania. Memang semua sudah menjadi keputusan kamu, tapi ... semua harus persetujuan mama juga."


* * *


Ditempat lain, Daniel baru saja menerima telepon dari dokter Anita. Dokter Anita berujar bagus Daniel segera mengantisipasi secepat itu kemungkinan yang akan terjadi, sehingga tidak akan menimbulkan huru hara di lingkungan kerja Amanda.


Denisa tidak dicap pelakor, dan kini, walau Amanda masih bersikap dingin, setidaknya Amanda tidak mengamuk dan merusak nama baiknya sendiri. Daniel sudah bersiap akan pergi mengurusi permasalahannya, sebelum pergi, dia melihat ponselnya, tak ada kabar dari Denisa, sudah sampai atau belum.


Daniel menghela nafas, kemudian menekan tombol mencari nama 'mami' di kontaknya. Daniel berdecak, nomor Denisa belum juga aktif.


Daniel memutuskan untuk mengirim pesan saja.


"Kamu lupa mengabari ku, Mi?"


"*Sudah landing belum?"


"Sudah sampai rumah Abian belum?"


"Kamu sedang apa, Mi?"


"Bagaimana Dara, apa dia sehat? Kirim video Dara, ya*!"


"*Mi, kalau kamu sudah mandi, kirim foto kamu ya, aku kangen."

__ADS_1


"Eh, enggak, kalau nomor kamu sudah aktif, kasih tahu, biar aku yang telepon kamu*."


Rentetan pesan itu Daniel kirim pada Denisa, rasa kesal dab khawatir bercampur menjadi satu, karena Denisa tidak memberi tahunya langsung, dia sudah sampai apa belum, dari perhitungan Daniel, seharusnya Denisa sudah mendarat sejak tadi, dan sudah sampai dirumah Abian. Tapi jika Denisa tidak mengabarinya juga dalam waktu satu jam lagi, maka dia akan menghubungi Abian, menanyakanya pada Abian, tak perduli Abian akan marah padanya.


__ADS_2