My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Hujan Kejutan


__ADS_3

Denisa dan Daniel menjejakkan kakinya di bandara Soeta setelah beberapa hari melakukan perjalanan bulan madu mereka. Hari sudah gelap saat mereka sampai di tanah air.


Menaiki mobil jemputan, baru sepuluh menit mereka masuk ke mobil, Denisa dan Dara sudah tepejam karena kelelahan akibat perjalanan panjang yang mereka tempuh. Ini merupakan perjalanan panjang pertama mereka, Denisa dan Dara tak pernah bepergian jauh, selain Jakarta-Batam, tak pernah mereka melakukan perjalanan panjang sebelumnya.


Daniel melihat disamping kirinya, Dara telah tertidur pulas berbantalkan pahanya, disebelah kanannya, Denisa menyandar dibahunya dengan mata yang sudah terpejam, mulut sedikit terbuka, dengan nafas yang teratur. Daniel mengulas senyum, hatinya tiba-tiba menghangat melihat pemandangan ini, ini yang dia mau.


Hidup bersama anak dan istrinya.


Dikecupnya kening Denisa dari samping seraya satu tanganya mengusap lengan istrinya, lalu mengusap kepala Dara penuh dengan sayang.


Satu jam perjalanan dari bandara, mereka tiba dirumah. Tak tega membangunkan keduanya, Daniel membopong anak dan istrinya masuk ke rumah.


Keesokan pagi.


Suara alarm membangunkan Denisa dari tidurnya, dia menggeliat, matanya terbuka.


"Morning, my beautyful wife." sapa Daniel menopang satu tanganya di kepala, menghadap Denisa, lalu mengusap pipi Denisa yang lembut selembut kulit bayi itu.


"Pagi, Kak." balas Denisa tersenyum, sejurus kemudian dia terduduk.


"Kenapa?" tanya Daniel panik, dia ikut duduk.


"Udah pagi, Kak?"


"Iya, kenapa?" Daniel semakin panik.


"Astaga, aku ketiduran sampai pagi, Kak?" Denisa mengingat dia baru sampai bandara, dan naik mobil.


"Iya, ada apa, sayang?"


"Kenapa Kakak nggak bangunin aku pas sampai?"


"Aku nggak tega harus bangunin kamu sayang, kamu semalam kelihatan lelap banget tidurnya." Daniel merapikan anak rambut Denisa.


"Aku jadi nggak enak sama Kakak."


Daniel menangkup wajah Denisa dengan kedua pipinya. "Kenapa harus nggak enak, itu udah tugas aku."


Denisa menunduk, melihat pakaiannya sudah berganti, pakaian dinas. Wajah Denisa memanas melihat tubuhnya yang hanya tertutupi kain menerawang, sampai memperlihatkan ujung gunung miliknya.


Denisa menggigit bibir bawahnya, ragu ingin bertanya.


"Emm, Kakak kenapa gantiin baju aku, yang begini?" lirihnya malu, Daniel tersenyum melihat wajah menggemaskan Denisa, sumpah dia menahan untuk tak menyentuh istrinya dari semalam.


"Aku suka lihat yang begini, seksi." tubuh Denisa merinding mendengar ucapan Daniel.


"Aku ... makin nggak enak sama, Kakak."


"Dibikin enak aja, kayak gini."


Daniel mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya ke bibir Denisa, melùmatnya lembut, kemudian menggigit kecil bibir bawah Denisa.


Denisa memejam, merasakan lembut dan hangatnya sapuan bibir Daniel dipermukaan bibirnya. Lembut sekali Daniel melakukannya membuat Denisa terlena, dan membiatnya membuka mulut membiarkan lidah Daniel masuk menelusup kedalam mulutnya, lidah mereka saling membelit didalam sana.


Bau naga bangun tidurpun seolah terasa nikmat walau belum sikat gigi, seakan menambah cita rasa manis didalamnya.


Suara lenguhan merdupun keluar begitu saja dari mulut Denisa, meningkatkan hormon testoteron dan estrogen Daniel di pagi hari nan syahdu menjadi sepuluh kali lipat.


Tangan Daniel begitu cekatan menarik keluar baju Denisa dari lehernya, langsung menampilkan pemandangan gunung sahara dipagi hari milik istrinya yang tak tertutupi kabut, terlihat begitu indah, sampai-sampai Daniel tak kuat menahan untuk merasakan puncak gunung milik Denisa.


Denisa semakin nenegang tak kala lidah Daniel menyapu ujung tombak pertahanannya yang begitu sensitif oleh sentuhan apapun, apalagi ini suaminya yang penuh pengalaman mendaki gunung, membuat Denisa tak kuasa menahan gejolak didalam dirinya untuk tak meracau.


Kurang lebih dua puluh menit mereka melakukan pemanasan, dirasa cukup untuk melakukan eksekusi, Daniel merebahkan tubuh Denisa, sudah terhitung satu minggu lebih mereka menikah, dan Daniel sangat suka melihat tubuh Denisa dari atas, tubuh mulus nan indah yang dulu pernah ia tolak itu, kini menjadi candu baginya.


Tak mengalami kesulitan seperti diawal malam pertama kemarin, kini Daniel begitu mudah memasuki diri istrinya, tapi tetap terasa seperti malam pertama, nikmat.


"Kamu harus siap-siap olahraga tiap pagi, Mi." ujarnya sambil memompa tubuh Denisa naik turun.


Denisa hanya mengangguk, tak kuasa untuk menjawab.


"Menurut ilmu kedokteran, apa kelebihan melakukannya di pagi hari?" tanyanya sambil terus menggerakkan pinggulnya.


Denisa membuka matanya, dia tak bisa berkonsetrasi, apa iya harus dijawab saat melakukannya? Suaminya ini kadang-kadang tak bisa melihat sikon jika bertanya.


"Jawab, Mi."


Astaga.


"Aku nggak tahu." jawab Denisa, sebab dia tak bisa berpikir, jujur saja, jika sedang melakukan ini, otaknya seakan tumpul.

__ADS_1


"Coba ingat," masih memaksa, sambil terus memompa, padahal nafasnya sudah putus-putus dan keringat yang bercucuran.


Astagfirullah.


Jadi istighfar kan.


"Menghilangkan stress, memperlambat ejakulasi dini bagi pria, bagus untuk kesehatan otak, membakar 150 kalori jika melakukannya selama tiga puluh menit." Denisa menjawab dengan begitu cepat, seperti seseorang dalam tekanan desakan.


"Mari kita lakukan selama satu jam, agar kita semakin sehat dan bugar."


Bisa dibayangkan, kalian sedang berhubungan suami istri, tapi suami mu seperti sedang melucu, rasa yang sudah hampir meledak diubun-ubun terasa anjlok kedasar bumi.


Tapi beruntungnya, eh kok beruntung? Entahlah harus apa, yang pasti Denisa sedikit beruntung mempersuami mantan cassanova, Daniel yang memang sengaja melakukan itu untuk memperlama durasi bercinta mereka, dia mampu membuat istrinya kembali on, dan tegangan listrik dalam tubuh Denisa kembali naik.


Hingga benar yang dikatakan Denisa, Daniel mampu melakukan itu selama hampir satu jam, dan mereka bisa mencapai indahnya surga dunia yang halal tanpa terburu-buru.


"Terima kasih sayang, ilmunya bisa langsung aku terapkan." Mengecup dahi istrinya, dan langsung membopong tubuh Denisa ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Andai dulu kita tidak berpisah, mungkin kemesraan seperti ini tidak akan pernah terjadi. Dan kisah manis ini tak akan kita rasakan, terasa datar saja.


* * *


"Dara dimana, Kak?" tanya Denisa, baru teringat anaknya setelah dia mandi dan rapih.


"Tidur sama Mama." Daniel mengambil hairdry ditangan Denisa, "biar aku yang melakukannya." mulai mengeringkan rambut sang istri, Denisa mengulum senyum senang.


Dia menyadari ada yang berbeda dari kamar yang mereka tempati. "Kak, ini rumah Kakak 'kan?"


"Rumah kamu."


"Aku serius."


"Aku juga serius, Mi."


"Perasaan, waktu kita rapihin, cat dan posisinya nggak seperti ini."


Kamar yang mereka tempati lebih luas dan rapih, semua perabotannya seperti nampak baru. Dari lemari, tempat tidur, dan bahkan tadi Denisa merasa jika pakaian yang ada dilemari, semua baru, bukan bajunya yang lama.


"Jawabannya, kita turun, yuk."


Beres melakukan tugasnya, Daniel menggantungkan tangan di sisi pinggang. Denisa tersenyum, menggamit tangannya di tangan sang suami.


Sampai dilantai bawah, mereka sudah ditunggu Dara dan Dina di meja makan. Selesai makan, Denisa tak diizinkan menyentuh secuilpun pekerjaan rumah, ada tamu yang sudah menunggu.


"Sayang perkenalkan, ini Pak Sandi, beliau pengacara keluarga kita." Denisa menundukkan badan sebagai sapaan. Pak Sandi pun melakukan sama dengan yang Denisa lakukan.


Mereka duduk, Daniel dan Denisa duduk bersebelahan, dan Dina duduk disofa single memangku Dara. Pak Sandi duduk bersebrangan dengan Denisa dan Daniel.


"Langsung saja ya Pak, sepertinya jadwal Pak Daniel cukup sibuk hari ini." ucap pak Sandi mengeluarkan berkas-berkas dari dalam tasnya.


"Silahkan, nyonya Danuarta, tanda tangani sertifikat-sertifikat ini." Pak Sandi menyurungkan berkas-berkas itu dihadapan Denisa. Denisa menatap Daniel tak mengerti.


"Kamu baca dulu, Mi. Setelah paham, tanda tangani." Daniel mengambil lembaran-lembaran dokumen itu, dan memberikan pada Denisa.


Denisa mengambilnya tanpa melepaskan pandanganya dari Daniel, lalu menunduk, membaca satu persatu isi dalam sertifikat tersebut.


"Kak!" Denisa menatap Daniel dalam setelah membaca itu, meminta penjelasan pada Daniel.


"Ini sertifikat kantor aku yang di Jakarta, ini sertifikat rumah kita, yang kita tempati sekarang." kemudian Daniel membalik dokumen dibawahnya. "Ini sertifikat villa di Bali, Bandung, dan ini rumah milik mama, semua harus berpindah atas nama kamu."


Hati Denisa berdenyut mendengar itu, bibirnya keluh, tak bisa menjawab. Matanya mulai berembun.


"Kantor yang di batam itu, aku sewa, dan beberapa kapal masih belum lunas. Aku baru membuka usaha itu, jadi belum bisa atas nama kamu. Setahun lagi, mungkin, lima puluh persen saham perusahaan baru bisa menjadi atas nama kamu."


"Kak!" Air mata Denisa luruh tak bisa ditahan lagi.


"Mami kenapa menangis?" Dara menghampiri Denisa dan memeluknya.


Cepat Denisa menghapus air matanya. "Mami dapat hadiah yang besar, sayang, karena Mami hebat." Daniel yang menjawab, "sini." menepuk pahanya agar Dara duduk dipangkuanya. Dara pum menurut dan duduk dipangkuan Daniel.


"Tanda tangani, Denisa." Dina buka suara, karena Denisa masih diam, masih tak percaya dengan apa yang ada dihadapanya.


"Ini hadiah untuk kamu, Mama sudah tua, tak mungkin memiliki ini lagi, seharusnya ini menjadi milik Dara, tapi Dara belum cukup umur, dan lagi pula Dara pasti memiliki adik, jadi nggak mungkin semua atas nama dia." Daniel memerintah dengan dagunya, agar Denisa menandatangani semua sertifikat itu.


Dengan tangan gemetar, Denisa membubuhkan tanda tangannya di atas lembaran-lembaran dokumen tersebut.


"Selesai ya, Bu, Pak." ucap pak Sandi pada Dina dan Daniel. Dina mengangguk.


"Terima kasih nyonya Danuarta." ucapnya pada Denisa, pak Sandi merapikan dokumen tersebut, memisahkan apa yang harus dia pegang, dan meninggalkan apa yang sudah menjadi milik Denisa.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Pak Sandi berdiri, bersalaman pada Daniel dan Dina, lalu mengusak rambut Dara, dan menundukkan badan pada Denisa. Denisa masih diam mematung, tak mampu berkata-kata.


Dina pergi ke kamarnya, tak lama keluar lagi, membawa kotak berwarna keemasan. "Ini juga untuk kamu, Denisa. Mama bingung mau memberi hadiah apa, Mama harap kamu suka." Dian memberikan semua perhiasan yang ia miliki, dan beberapa yang baru dia beli untuk Denisa.


"Mama kenapa melakukan ini?"


"Mama merasa banyak salah sama kamu, yang mama berikan tak seberapa dibanding perjuangan kamu membesarkan Dara menjadi anak yang pintar."


"Mama nggak perlu melakukan ini."


"Ah sudahlah Denisa, jangan dibahas. Mama lagi nggak mau yang melow-melow. Mama buru-buru ada janji, Mama izin ajak Dara, mau periksa kesehatan."


"Hah?"


"Mama sudah tua, tidak bisa ikut pada acara kalian selanjutnya, Mama ada keperluan penting." Dina berdiri, menyandang tas tangannya, dan mengulurkan tangan pada Dara.


"Salim sama Mami Papi, kita jalan-jalan." Dara berpamitan pada Daniel dan Denisa.


Didepan, sudah ada mobil yang menjemput mereka, Daniel mengintip lewat jendela. "Ck, dasar abege tua."


"Siapa Kak?"


"Mama dan papa Ricko."


"Hah! maksudnya?"


"Mama periksa kesehatan di klinik papa Ricko, dia membuka klinik baru."


"Yuk, kita ke acara selanjutnya." Daniel menggandeng tangan Denisa, tak memberi Denisa kesempatan untuk berpikir tentang mama mertuanya dengan papa Ricko. Mereka keluar setelah menyimpan semua sertifikat yang sudah menjadi milik Denisa.


* * *


Mobil Daniel menembus jalanan padat menuju tempat selanjutnya.


"Kita mau kemana, Kak?" tanya Denisa menoleh kearah Daniel yang yang duduk di depan kemudi.


"Surprise kedua."


"Apalagi?"


"Kita lihat saja nanti." Daniel tersenyum, melihat Denisa sekilas, kemudian kembali fokus ke jalanan.


Denisa masih mentapa wajah suaminya. "Kenapa Kakak memberikan semua milik Kakak?" akhirnya Denisa bisa bertanya, sebab tadi dia tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


"Apalagi? ini bentuk rasa sayang aku ke kamu." Daniel menoleh sekilas. Tanganya mengambil tangan kanan Denisa, mengcup punggung tangannya, lalu meletakkan dipipinya. "Ini juga agar aku tidak lagi menyakiti kamu, kalau semua sudah jadi milik kamu, aku berpikir seratus kali jika ingin berulah, antisipasi." tersenyum jenaka, memindahkan tangan Denisa diatas lututnya.


Mobil Daniel berhenti tepat didepan rumah lama Daniel, rumah itu sudah berubah, plang didepannya bertuliskan.


"Klinik Dokter Denisa. Melayani secara gratis bagi yang tidak mampu, buka 24 jam."


"Mari kita tingkatkan kualitas hidup, diawali dengan sehat. Tubuh sehat, hatipun sehat."


Denisa masih diam dengan mata yang sudah memanas, janji Daniel yang ingin membukakan klinik benar-benar diwujudkan. Daniel menuntun sang istri turun dari mobil.


"Surprise, welcome Dokter Denisa." pinata bertabur pita diledakkan, gliter berwarna-warni menghujani diatas kepala Denisa.


"Hadiah kedua untuk kamu, wanita terhebat ku."p


Denisa diam ditempat, tak tahu lagi harus berkata-kata apa, yang pasti dia menangis haru, disana ada kakak dan adiknya, serta sahabatnya Sisi, dan beberapa dokter dan perasaan yang di tugaskan Daniel membantu pekerjaan Denisa.


Dari jauh, seorang wanita cantik mengamati mereka, dia mencibir.


"Halah, klinik kecil begitu, sumbangan dari banyak orang lagi. Masih hebat aku, membangun rumah sakit dengan uang ku sendiri." Dia melajukan mobilnya seraya menghubungi seseorang.


"Halo, aku sudah dapat lokasi untuk pembangunan rumah sakit kita."


" ... "


"Yang lama di cancel, tidak masalah uang yang sudah masuk hangus."


.


.


.


.


Hai, terima kasih yang masih setia dengan double D, bosan nggak? Semoga nggak bosan ya! I love you yang masih selalu setia.

__ADS_1


Yang punya aplikasi pijjooo boleh mampir dan baca karya lu disana ya.


Judulnya "Badboy meet badgirl."


__ADS_2