My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Time with Sisters


__ADS_3

"Siapa kamu?" bertanya dengan nada keras seperti anggota militer.


"Siti Aisyah, umur 24 tahun, berat badan 75kg, tinggi 159cm," menjawab dengan nada yang sama.


"Apa visi misi mu?"


"Turunkan berat badan menjadi 45kg dalam waktu satu tahun."


"Terlalu lama."


"11 bulan."


"Kurangi."


"Sepuluh bulan."


"Lagi!"


"Sembilan bulan."


"Kamu hamil?"


"Terus berapa dong? bisa 'ngek' saya kalau enam bulan," ucap Sisi seraya memeragakan tangannya memotong lehernya, menurunkan nada bicaranya.


"Oke sembilan bulan, tapi tidak sampai melahirkan," jawab instruktur itu lagi dengan nada yang masih keras dan tegas, seorang laki-laki yang dipercaya Sisi untuk membantunya menurunkan berat badannya itu lagi dengan nada yang masih keras dan tegas,


Sudah tiga hari ini Sisi rajin mendatangi tempat kebugaran tubuh, entah apa yang mendasarinya datang kesini, dia mampu mengabaikan ejekan orang-orang terhadapnya yang mengatainya gentong, gendut, gembrot, tapi panggilan Wahyu yang memanggilnya drum air membuat Sisi datang kesini, dia risih setiap mulut lemes laki-laki seperti emak-emak kompleks itu memanggilnya demikian.


Dengan semangat 45, Sisi mulai melakukan pemanasan, mengikuti gerakan sang instruktur, sebelum memulai menggunakan beberapa alat treadmill dan alat lain yang akan membakar lemak-lemak dalam tubuhnya.


Tiga puluh menit berlalu, keringat sebesar jangung sudah membasahi keningnya, dan baju olahraga yang ia kenakanpun sudah terdapat beberapa bulatan besar dan kecil yang mengecap. Nafas yang tersengal, tangan dipinggang, Sisi membungkuk mengatur nafasnya yang hampir putus.


"Baru tiga puluh menit, masih ada tiga puluh menit lagi yang harus diselesaikan."


"Pelan-pelan aja sih coach, ini saya nahan kaki saya yang sakit loh, bukan cuma kaki, tapi seluruh tubuh saya kerasa pegel semua," sahutnya dengan suara putus-putus karena kelelahan, tangannya kini berpindah ke lutut dengan tubuh membungkuk.


"Ayo semangat, itu karena kamu belum terbiasa, nanti kalau sudah terbiasa, tidak akan terasa lagi."


Ngomong mah gampang, tapi aku yang ngerasainya ini udah kayak mau metong. Gerutu Sisi dalam hati.


Apa aku ambil jalan pintas aja ya? sedot lemak gitu? sumpah ini tuh nyiksa banget, udah harus ngurangi jatah makan lagi. Tapi kalo sedot lemak aku harus nabung berapa tahun lagi? Ini aja udah nganggur sebulan.


Sisi mengangkat lengannya yang bak seorang binaragawati, lalu menunduk melihat perutnya yang memang seperti wanita hamil tujuh bulan.


Hah, membayangkan tak punya banyak uang membuat Sisi kembali semangat melakukan olahraganya.


Diluar sana, laki-laki yang membuatnya melakukan olahraga ini sedang menunggunya hingga selesai, sesekali laki-laki itu mengangkat arloji ditanganya, melihat waktu.


Melihat wanita didalam sana yang begitu semangat melakukan olahraganya, dia sabar menunggu tanpa mengganggunya, padahal bisa saja dia menerobos masuk dan mengatakan yang sebenarnya tujuannya kesini.


"Hargai usahanya," ucap laki-laki itu terkekeh, tak yakin usaha wanita itu bisa berhasil, "gue tawarin bakso juga dia nggak bakal nolak." senyum smirk pun muncul diwajahnya.


Saat orang yang ditunggunya itu sudah selesai, barulah laki-laki itu masuk. Sisi yang sedang duduk melantai menghapus keringat dengan handuk kecilnya mendongak, saat seseorang mengulurkan botol air mineral didepan wajahnya.


"Anggap aja selasa berkah dari gue," ujarnya "nih ambil, abis olahraga itu bagus minum air putih, tapi yang nggak dingin, baru bisa jadi kulkas tiga pintu." Hahaha tapi tawanya menggema. Sisi mendengkus kesal sekaligus malu karena merasa diejek. Sial, bagaimana bisa dia tahu aku ada disini?


"Nggak perlu, masih bisa kebeli air sendiri, walau saya pengangguran."


Wahyu kembali tergelak atas jawaban Sis.


"Iya, yang paling pengangguran," ucapnya bernada mengejek, Sisi meliriknya tajam, "udah ambil, nggak baik nolak rejeki," sedikit memaksa, sudut hatinya kesal jika Sisi tak menerima pemberiannya.


Dengan terpaksa Sisi mengambil botol air mineral yang masih tersegel itu, saat akan membukanya Sisi merasa kesulitan sebab pangkal lenganya benar-benar masih terasa sakit dan pegal, memutar tutup botol yang terkesan simple pun dia tak bisa.


"Minta bantuan nggak bayar kok," Wahyu menarik botol dari tangan Sisi tanpa izin, "emang orang badan gede itu tenaganya nggak ada, beda sama orang yang badanya kecil."

__ADS_1


"Bisa nggak kalau mau bantu nggak perlu menghina? ini karena saya awal-awal olahraga, jadi tangan saya sakit," jawab Sisi ketus, mengambil botol yang baru dibukakan Wahyu tanpa mengucapkan terima kasih, menenggaknya hingga setengah.


"Kalau saya sudah sembuh, hati-hati aja Bapak, saya bisa mencincang tubuh Bapak buat makanan buaya."


"Hiiii takut." Wahyu menggidikkan badan pura-pura takut. "Jangan panggil gue Bapak ya, tua banget kesanya gua, lagian kapan gue kawin sama nyokap lo? mending gue cari janda kembang ketahuan masih rapet."


"Aduuh." Wahyu mengadu mengangkat kakinya yang baru saja tulang keringnya dihantam kaki besar Sisi.


"Jaga omongan Bapak." Wahyu tak bisa menjawab, dia meringis menahan sakit yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mau menangis rasanya malu.


"Ngomong-ngomong, ngapain Bapak kesini? Kok tahu saya disini?" tanya Sisi kemudian.


Wahyu belum bisa menjawab, masih menetralkan rasa sakitnya, setelah rasa sakitnya mulai mereda, Wahyu menepuk jidatnya, mengejek Sisi membuat ia lupa tujuannya. "Gue disuruh jemput lo sama nyokap lo buat ke Jakarta sekarang, besok pernikahan Daniel sama dokter Denisa. Ayo cepat, pesawat kita berangkat tiga jam lagi."


"Pruffffttttt! Apaaa?" Sisi yang sedang minum menyemburkan air mengenai wajah Wahyu. Wahyu memejam, menahan kesal.


Sisi meringis takut. "Maaf Pak, abisnya saya kaget."


Wahyu mengusap wajahnya yang basah. "Gue maafin, gue tunggu lima menit, kalo nggak gue tinggal, terserah mau kasih surprise ke dokter Denisa atau tidak." Wahyu berlalu keluar, menahan malu karena banyak yang melihatnya basah.


Sisi bergegas berdiri, menopang tubuhnya menggunakan tangan dengan perlahan, karena kakinya masih sakit membuatnya kesulitan untuk berdiri.


"Tunggu Pak, saya nggak bisa jalan cepat." Teriak Sisi, Wahyu mendengar jelas teriakan Sisi, tapi pura-pura menulikan telinganya. Namun tetap dia tak tega, dan akan menunggu didepan mobil.


* * *


"Ric, apa kita harus melakukan sesuatu untuk membatalkan pernikahan mereka?" tanya Amanda pada Ricko, keduanya kembali bertemu dicafe setelah tahu, sama-sama tak mendapat undangan dari Daniel dan Denisa.


Dilema pernah mencintai seseorang dan menjadi orang terdekat, rasa kecewa dan marah saat mereka akan mengikat hubungan mereka secara sah dimata hukum dan agama, namun tak menjadi bagian dari kebahagiaan mereka.


"Dokter Jenny, Evan, dan Anita akan ke Jakarta," Amanda mendengkus, "bahkan mereka yang jauh diundang."


"Aku juga bingung, Man. Papa juga mendapat undangan, entah dari Daniel atau Denisa, aku tak tahu." Ricko mengangkat kedua bahunya, "aku kecewa, sangat kecewa, padahal aku biasa saja pada Nisa, tidak apa-apa dia menolak ku, tapi kenapa dia malah tidak mengundangku?"


"Tante Dina juga, aku heran dia tidak mengundangku, takut sekali acara anaknya kacau jika mengundangku. Padahal dari awal dia juga ikut menentang hubungan keduanya, tiba-tiba berubah mendukung dengan alasan demi kebahagiaan Dara."


"Jadi, apa rencana kamu, Ric?" tanyanya ulang, sangat tidak rela jika Daniel dan Denisa bersatu.


"Tidak ada, biarlah mereka bahagia, aku iklas jika Denisa dan Dara bahagia. Aku sadar pendekatan ku terhadap mereka juga kurang karena kurangnya waktu ku. Hanya saja kecewa Denisa seolah menjauh dan menghindariku, padahal kami masih bisa berteman walau tidak bersama."


"Jadi kamu ngajak aku ketemu lagi-lagi hanya mendengarkan curhatan kamu Ric?" ucap Amanda marah. "Aku pikir kita akan merencanakan sesuatu, kamu memang laki-laki payah." Amanda berdiri, menyambar tasnya diatas meja, meninggalkan Ricko dengan perasaan penuh kemarahan.


Saking marahnya terhadap Ricko, Amanda sampai tak melihat orang didepannya yang akan masuk kedalam cafe. Diapun menabrak tubuh laki-laki itu.


"Punya mata tidak sih? makannya kalau jalan lihat pakai mata, bukan pakai mata kaki." ucapnya menunduk mengambil tasnya yang terjatuh, kemudian berlalu keluar cafe.


Laki-laki tampan berusia empat puluh tahunan lebih, bersetelan jas rapih itu hanya diam, padahal dia yang menjadi korban, tapi dia yang dimarahi.


Ricko yang duduk membelakangi pintu masuk cafe memutar tubuhnya mendengar teriakan marah Amanda. Dia menggeleng saat tahu Amanda ternyata menabrak seseorang.


* * *


Malam ini, Delia, Denisa dan Dania berkumpul bertiga, duduk berurutan, dengan Denisa berada ditengah-tengah kakak dan adiknya.


Mereka duduk di tepian kolam belakang rumah Delia, sama-sama mendongak, dengan kaki yang dimasukkan kedalam kolam, menatap bulan yang sedang menampakkan cahayanya sempurna, seoalah menyiratkan kesempurnaan hidup mereka, wajah ketiganya semakin terlihat semakin cantik dibawah pantulan sinar cahaya bulan.


Anak-anak mereka dibuat tidur lebih awal, sengaja, ketiganya ingin me time bertiga, sebelum nanti akan kembali disibukkan ke dunia masing-masing.


"Ciee, yang balikan sama mantan, apa masih deg-degan Kak?" Dania menyenggol lengan Denisa dengan tubuhnya, menggoda kakak keduanya.


Denisa melihat adik bungsunya sekilas. Lalu mematap pantulan bulan di air yang bergoyang akibat pergerakan kaki mereka.


"Aku jelasin juga kamu nggak bakal tahu, Dek. Pokoknya, rasanya campur aduk, seneng, ahhh nggak bisa di ungkapin sama kata-kata." jawabnya.


Delia dan Dania mencebik. "Lebay." ucapnya bersamaan.

__ADS_1


"Kalau Kakak jahat, Kakak nggak izinin kamu balikan lagi sama papinya Dara, kamu gimana?" tanya Delia, tetap tak akan menyebut nama Daniel, memang tak ada rasa benci atau trauma terhadap Daniel, dia tahu Daniel laki-laki yang baik, terbiasa saja, suaminya melarangnya menyebut nama calon suami adiknya, yang besok akan resmi menjadi adik iparnya.


"Kawin lari." jawab Denisa enteng. Hahaha. Delia dan Dania mendorong tubuhnya.


"Nggak nyangka ya, kita udah sold out semua, andai ayah masih hidup, ayah pasti ikut senang." Delia memajukan tubuhnya, agar bisa melihat wajah kedua adiknya.


"Papa pasti ikut senang juga kok, Kak. Apalagi lihat kita akur-akur terus, tetap sama-sama membahagiakan Mama, semua cita-cita kita tercapai. Hanya saja kita nggak tahu, papa ikut ngobrol sama kita juga, duduk diantara kita. Mama kan selalu bilang, nggak ada yang membuat orang tua bahagia, kecuali melihat anak-anak mereka akur, selain lihat anak-anaknya nikah sama orang kaya." Hahaha Dania tertawa menutupi rasa sedihnya, anak mana yang tidak sedih, orang yang begitu berarti dalam hidup mereka, tak ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan.


Inilah alasan mengapa mereka tak mengajak mamanya mengobrol, selain antara mama dan Denisa masih bersih tegang, mereka tak mau Mama mendengar obrolan sensitif mereka.


Denisa menunduk, menyadari, diantara mereka bertiga, hanya dia yang selalu membuat kecewa mamanya. Apa ayahnya bahagia juga, dan tak kecewa? Sudah pasti ayahnya kecewa diatas sana, pasti sedih dengan perbuatannya. Banyak rasa sesal dalam dirinya, menjauh dari Daniel bukannya memperbaiki diri, malah kembali membuat kecewa keluarga.


"Kak Denisa nggak usah sedih, nggak ada keluarga yang sempurna, justru dengan kekurangan Kakak, membuat kita menjadi keluarga yang sempurna, kita tidak saling membenci dan meninggalkan satu sama lain, walau Kakak menyebalkan." ucap Dania kembali tergelak, menyindir dengan candaan, tapi Denisa menyadari itu, dia tidak tersinggung, itu membuatnya sadar.


Tanpa terasa, waktu semakin larut, Denisa dan Dania terus mengajak Denisa mengobrol, kalau bisa malam ini mereka tak akan membiarkan Denisa terpejam. Dari obrolan serius, sampai obrolan yang tak penting sekalipun.


"Sadar nggak sih? kalau omongan kita waktu kecil dulu terkabul semua. Aku sempat jadi pramugari walau sekarang jadi ibu rumah tangga, Denisa jadi dokter, dan kamu Dek," tunjuknya Dania.


"Dulu kamu yang paling nggak punya cita-cita, kalau ditanya mau jadi ibu rumah tangga aja. Eh benaran abis kuliah langsung nikah, untung dapat suami kaya kamu, nggak kerja dulu." Ucap Delia mengenang obrolan mereka saat kecil.


"Kalau dipikir-pikir bukan cuma aku loh yang bikin kecewa, kamu juga Dek. Kamu nggak sempat kerja dulu, kasih mama uang dari hasil kerja kamu." tuding Denisa pada adik bungsunya.


"Eh aku kan kerja di cafe suami aku dulu sambil kuliah, walau gaji aku kecil, tiap bulan aku bisa kasih uang ke mama loh, walau cuma bisa buat beli sabun mandi, kan mama udah dapet jatah gede dari kalian berdua." Sahutnya tak mau disalahkan.


Denisa dan Delia saling pandang, keduanya tersenyum menyadari isi kepala mereka sama. Denisa dan Delia berdiri, Dania tak mencurigai gelagat kedua kakaknya.


Byurrrrrrrr


Kedua kakak tak ada akhlak itu tertawa setelah mendorong adik bungsu mereka ke dalam kolam. Untung Dania jago berenang, dia segera menepi ingin menarik kedua kakaknya yang sudah membuatnya mandi ditengah malam itu.


Denisa dan Delia yang menyadari itu segera masuk, menutup pintu belakang, berencana mengunci adiknya dari dalam, namun ponsel Denisa berdering, menampilkan nama 'my handsome lup' disana.


Delia memutar bola malas. "Besok mau akad, nggak boleh ada komunikasi." ujarnya setelah berhasil merampas ponsel Denisa. Delia berlari masuk ke kamarnya, disana suaminya sedang duduk memyandar di kepala ranjang sambil mengerjakan pekerjaanya.


"Ada apa sayang?" tanyanya mendongak melihat sang istri, "time with sisters-nya udah selesai?"


"Ada telepon penting." Delia menyerahkan ponsel Denisa pada suaminya, sebelumnya dia sudah mendorong tombol hijau itu keatas. Kemudian dia kembali keluar menemui Denisa.


"Hape aku mana, Kak?" Denisa sudah menunggunya didepan pintu saat Delia keluar.


"Nggak ada hape-hapean." jawab Denisa menarik tangan adiknya untuk turun menemui si bungsu.


Didalam kamar yang Delia tinggal.


"Mi, kangen," rengek Daniel diseberang sana, menampilkan wajah manja yang dibuat-buat melalui panggilan videonya, belum menyadari wajah siapa yang ada dihadapanya. "Aku nggak sabar buat-"


"Buat apa? Heh!"


Daniel terbelalak, bukan wajah Denisa yang ia lihat, justru wajah calon kakak iparnya, yang juga merupakan mantan rivalnya.


"Loh, A'? Kok Aa yang angkat teleponnya?"


.


.


.


.


Eh, kira-kira siapa ya yang ditabrak Amanda? Cowok umur 40 tahunan, tapi masih single. Apa ini jodoh Amanda, apa Amanda bakal berjodoh sama Ricko? Hmmm siapa ya kira"?


Terus siapa sih disini yang inget sama omongan kita waktu kecil dulu, cita-cita kita mau apa? tanpa sadar ucapan atau cita-cita kita dulu terkabul. Saya salah satunya saya. hehehe.


Dari pekerjaan, dan pengen dapet jodoh yang jauh juga terkabul. Dan kita baru menyadarinya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2