My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Pulang


__ADS_3

Daniel langsung bertindak setelah mendapat penjelasan dari Ricko, dia menyesal dan marah pada diri sendiri, bukan dia yang menyelamatkan Denisa saat Denisa dalam bahaya dan membutuhkan bantuannya. Tapi kali ini, dia tak ingin kecolongan lagi.


Daniel tak ingin memberi peringatan atau marah pada Amanda, karena itu akan membuat Amanda semakin meng9ila lagi. Dia meminta Wahyu untuk membawa Denisa dan Sisi ke Kupang, memeriksa pasien darurat disana.


"Pak, kok kita ke bandara?" tanya Denisa dan Sisi bersamaan. Mereka baru turun dari taksi yang mengantar mereka.


"Ini tiket kalian, tolong mengertilah keadaan sekarang," Wahyu menatap Denisa, "Dokter Denisa, ini demi kebaikan anda, nanti akan ada yang menjemput anda setelah mendarat di Batam." Jelas Wahyu.


"Jadi anda membohongi kami?"


"Maaf, tapi ini demi kebaikan anda, Dokter."


"Kebaikan apa Wahyu? Aku tidak suka cara seperti ini," lempar Denisa tiket yang tadi Wahyu berikan. "Katakan siapa yang menyuruhmu? Apa dia?" Denisa tak bisa menyebutkan nama Daniel didepan Sisi, karena tak ingin Sisi berpikir yang tidak-tidak.


Sisi cukup heran atas keberanian Denisa melakukan itu pada Wahyu.


Dengan terpaksa Wahyu mengangguk. "Dia melakukan ini karena menyesal tidak menolong anda, Dok. Jadi ini bentuk perlindungannya terhadap anda."


Perlindungan?


Sisi dibuat bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


"Aku tidak butuh perlindungan apapun, aku bisa menjaga diri. Kalian terlalu berkuasa, dan memaksa, aku tidak akan melakukan ini." Denisa sudah menarik tangan Sisi untuk pergi, namun justru tangan lain yang ia pegang.


Denisa menyadari itu, dia langsung melihat tangan yang dipegangnya, lalu beralih menatap wajah orang tersebut. Siapa lagi jika bukan Daniel Danuarta, laki-laki itu tersenyum dengan tidak berdosanya, ia kemudian melepaskan kaca mata hitam miliknya.


"Hai." Sapanya mengerlingkan mata genit.


Denisa sontak mengehentak tangan Daniel. "Apa yang kamu lakukan?"


"Membawa kamu pergi sayang." Sisi terkejut dengan panggilan Daniel, matanya sampai membola, dan membuat Wahyu tertawa melihat reaksi Sisi.


Daniel mengambil tangan Denisa. "Lepas, aku harus kembali bertugas."


"Sayang Mami. Kalau kamu membantah aku akan mencium mu dan memakai mu disini, apa kamu mau?" Denisa mendengus, Daniel mengancamnya.


Daniel tersenyum, dan tanpa basa basi dia menarik tengkuk Denisa, menempelkan benda kenyal miliknya. Denisa terkejut dibuatnya. Apalagi Sisi, dia sampai menutup mulut tak percaya. Beruntung tubuh tinggi Wahyu menghalangi, jadi keduanya tidak menjadi pusat perhatian, dan secara kebetulan tak ada yang menyadari apa yang dilakukan Daniel, calon penumpang dan pengunjung disana, sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Hingga Daniel melepaskan ciumanya, dilihatnya Denisa yang terdiam, Daniel terkekeh lalu mengusap bibir Denisa yang memerah karena perbuatannya.


"Ayo, pesawat kita akan segera berangkat, nanti kita terlambat."


"Barang-barang ku?" tanya Denisa spontan, mengkhawatirkan barang pribadi miliknya.

__ADS_1


"Sudah ada yang mengurusi."


"Sisi?"


"Dia bersama Wahyu." Daniel menraik tangan Denisa untuk melakukan chek in. Denisa yang sudah ditarik tanganya oleh Daniel menoleh kebelakang untuk melihat Sisi yang masih syok dengan apa yang dilihatnya.


"Dokter Nisa pelakor?" gumamnya yang masih bisa didengar Wahyu.


"Bukan." Wahyu menjawab gumaman Sisi.


"Terus apa kalau bukan pelakor?" tanya Sisi, masih belum menyadari jika Denisa susah tak terlihat, sedang dia dan Wahyu masih stay didepan pintu kedatangan.


"Pikir aja sendiri." Wahyu berjalan meninggalkan Sisi yang berpikir keras menebak hubungan Denisa dan Daniel.


.


.


.


.

__ADS_1


Sedikit dulu ya, kepala sedang nggak kuat. Tadi soalnya ngejar ngetik Marsha.


__ADS_2