
"Lo g1la sih Dan, ngapain coba ngelakuin itu sama Denisa, kasian tau nggak?" Wahyu menggelengkan kepalanya, tak tega melihat wajah panik Denisa saat dia memergoki keduanya tengah berduaan, apalagi tadi saat jatuh diatas sofa, posisi keduanya terlihat sangat intim.
"Apa yang lo lakuin itu berbahaya banget sih Dan, gimana kalau yang lihat orang lain, sengaja tadi gue keatas, gue deg-degan," aku Wahyu jujur, "gue nggak mau nama kalian tercemar atas kecerobohan lo," ungkapnya lagi. "Ngomong-ngomong, kok lo kesini nggak sama Amanda, kalian kan udah jadi suami-istri, dan proyek ini proyek kalian berdua." Wahyu mengudarakan asap rokoknya membentuk bulatan huruf O.
Keduanya saat ini tengah berada dihaluan kapal, ditemani secangkir kopi yang mereka bagi berdua, bukan irit, karena ini sudah terbiasa mereka lakukan, lebih nikmat saja rasanya jika secangkir berdua. Kapal yang mereka tempati terpisah dengan kapal tongkang yang dijadikan rumah sakit.
"Aku udah cerai sama Amanda, setelah papanya meninggal." Hampir saja Wahyu menyemburkan kopi yang diminumnya mendengar pengakuan Daniel.
"Apa?" tanyanya dengan mata yang membulat sempurna. Daniel mengangguk. "G1la lo," umpat Wahyu lagi, "lo bener-bener penjahat wanita, itu Amanda aman-aman aja, kan dia juga habis kehilangan bokapnya?" Daniel hanya mengendikkan bahu santai, "ck, kok lo bisa sesantai itu sih? Gimana kalau terjadi sesuatu sama Amanda, sebenarnya tujuan lo nikahin Amanda apa sih Dan? Terus Denisa udah tau ini?" cecar Wahyu, dia benar-benar ingin tahu.
"Denisa belum tahu, nanti saja aku kasih tau dia, suka aja liat wajah panik Denisa kayak tadi." Daniel tersenyum, mengurut alisnya menggunakan jari telunjuk, Daniel membayangkan kejadian beberapa menit yang lalu, dia merasakan ser-seran hebat saat menggenggam tangan dingin Denisa yang gemetar, saat ia paksa membuka kancing kemejanya, bahkan sosis bakarnya kini masih terasa keras, sedahsyat itu Denisa kini bagi Daniel.
Wahyu tak bisa berkata apa-apa, setelah Daniel menjelaskan alasannya menikahi Amanda, hanya untuk mengabulkan keinginan Amanda yang ingin merasakan diposisi Denisa. Agar Denisa tak terbebani dengan hutang budi yang Amanda berikan pada Denisa.
"Bukan cuma itu sih Yu, aku juga merasa berhutang budi sama papa Amanda, dia yang udah buat aku sembuh dari trauma berat dengan yang namanya rumah sakit karena rasa bersalah gue yang begitu besar terhadap Denisa. Lo tahu sendirilah gimana dulu gue nggak bisa lihat yang namanya rumah sakit, yang ada dalam bayangan gue itu, perjuangan Denisa melahirkan anak gue sendirian." Daniel menunduk, matanya memanas mengingat itu.
Wahyu menghela nafas, dia sangat tahu perjuangan Daniel sembuh dari rasa trauma itu dulu, belum lagi Daniel yang sering bermimpi suara anak kecil yang terus memanggilnya.
"Menurut lo, apa yang gue lakuin itu salah?"
"Gue nggak tau deh Dan, agak ruet juga, kalo gue diposisi lo, gue nggak tahu harus berbuat apa? "
"Gue cuma nggak mau Denisa terbebani sendiri karena ancaman Amanda, Amanda menggunakan semua kebaikan papanya dan kebaikannya sama Denisa, agar Denisa bisa membuat Dara jauh dari gue, Amanda juga mengancam buat ngeluarin Denisa dari rumah sakit, kalau Denisa nggak bisa jauhi Dara dari gue, gue nggak bisa membiarkan Denisa menderita sendiri."
"Amanda ngelakuin itu sama Denisa? Lo tau dari mana semua itu?"
Daniel tersenyum kecil. "Hape Denisa udah gue sadap, jadi apapun yang masuk ke hapenya, gue tahu," ujarnya menaik turunkan alisnya.
Kembali mata Wahyu dibuat membola. "Dasar t0xic."
__ADS_1
"Terserah, aku cuma nggak mau Denisa ku dimiliki orang lain, itu aja sih. Dia harus jadi milik aku selamanya, nggak rela Dara dan Denisa jatuh ke laki-laki lain walaupun dia lebih baik dari aku."
Daniel pun menceritakan kejadian pagi itu, dimana Abian membawa Dara. Daniel pura-pura tidak tahu, agar Denisa merasa berhasil mengelabiunya, dia tak ingin bertengkar dengan Denisa, keputusan Denisa menitipkan Dara pada kakaknya sudah tepat, karena dia akan bertugas jauh dan cukup lama.
Sebenarnya Daniel tak ingin menceritakan ini pada orang lain, tapi dia manusia biasa yang juga membutuhkan teman untuk berbagi, dan Wahyu orang yang bisa ia percaya, walaupun terkadang Wahyu berlain arah dalam berpendapat.
Lama mereka bercerita, dan hampir menghabiskan satu bungkus rokok, kemudian keduanya beranjak, menemui Kapten kapal mereka di anjungan (bridge).
"Semua aman?" tanya Daniel pada nahkoda mereka.
"Aman pak Daniel, sesuai perintah anda, kami memeriksa mesin dan semua bagian kapal setiap hari."
"Bagus, jangan sampai kapal kita bermasalah." Kapten kapal mengangguk. Daniel melihat sekeliling, tak ada orang lain selain mereka, sedang Wahyu tadi berbelok ke ruang akomodasi (ruang kru kapal/abk).
"Ini bonus untuk mu, karena telah memberi kamar khusus untuk wanitaku." Daniel memberikan amplop putih kepada sang nahkoda.
"Kan kemarin sudah di transfer Pak."
Karena malam ini Daniel kembali menyelinap masuk ke kamar Denisa, ino sudah malam keriga, dan Denisa tidak memiliki bukti untuk menuduh Daniel telah menyelinap ke kamarnya, karena saat dia mengecek pintu kamarnya, masih dalam keadaan terkunci dari dalam.
Denisa tak tahu, jika kamarnya sudah didesain bisa dimasuki Daniel kapanpun lelaki itu mau, karena dia memiliki kunci sendiri untuk bisa masuk ke kamarnya.
Keuntungan seorang laki-laki yang memiliki uang banyak, dan hanya didalam novel, mereka bisa melakukan semua yang mereka mau, sesuka hati. Dan walaupun Ricko dua hari ini berusaha membuat Denisa selalu berada disampingnya, agar Daniel tak bisa mendekati Denisa, karena Ricko sudah bersumpah, akan melindungi Denisa dari makhluk bernama Daniel itu.
Namun ia ternyata gagal menjaga Denisa saat Denisa telah berada dikamarnya, tempat itu bukan tempat yang aman untuk Denisa, justru tempat yang berbahaya bagi Denisa.
Denisa yang sudah terlelap karena kelelahan seharian ini membantu pasien yang akan melahirkan, dan juga membantu dokter mata yang melakukan operasi katarak, mulai merasakan gerah dan pegal ditubuhnya.
Denisa terkejut, saat ada tangan yang melingkar diperutnya. Diapun berbalik dan ingin berteriak, namun mulutnya langsung dibungkam oleh tangan Daniel.
__ADS_1
"Sstttt ... Mami jangan teriak, nanti kita ketahuan." ujar Daniel dengan suara pelan, dan berbisik.
Denisa menyingkirkan tangan Daniel dari mulutnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Denisa dengan suara tertahan.
"Tidur." jawab Daniel santai, dia tersenyum.
"Kenapa tidur disini? KELUAR, nanti ada yang liat, aku dituduh jadi pelakor." Denisa masih menahan suaranya agar tak sampai keluar. Sumpah demi apapun Denisa begitu takut, jantungnya berdebar hebat saking takutnya.
"Aku nggak kebagian kamar Mi, cuma kamar kamu yang tersisa sendiri, yang lainnya kan udah penuh, dan mereka bertiga, cuma kamu yang sendirian."
"Jangan bohong, pasti ada kamar yang tersisa, dan, dari mana kamu bisa masuk?"
Daniel mengangkat kunci cadangan yang dimilikinya, menunjukkan pada Denisa.
"Kenapa kamu bisa punya kunci kamar aku?"
"Ya bisalah Mi, kan kota suami istri."
"Daniel jangan gila, kenapa sih kamu selalu buat aku dalam bahaya." Daniel tak mempedulikan ketakutan Denisa, dia memajukan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan.
"Enak tau Mami ngumpet-ngumpet begini, selingkuh itu menantang, aku suka tantangan seperti ini, kamu pasti juga suka kan Mi? Apalagi kalau kita melakukan itu, memacu adrenalin." Bisik Daniel tepat didepan wajah Denisa.
Mulut Denisa sudah terbuka ingin kembali memarahi Daniel, namun Daniel terlebih dahulu meletakkan kepalanya didada Denisa, sambil memeluk erat tubuh Denisa. Denisa dibuat mematung tak bergerak.
"Aku rindu kamu Mi, sangat rindu," Daniel mengeratkan pelukanya, "Nggak papa ya setiap malam aku tidur disini, aku nyaman dengan kamar ini. Tolong jangan usir aku." ucap Daniel sambil memejam, bibirnya membentuk lengkungan, dia yakin Denisa tak akan menolak.
Denisa juga sebenarnya merasakan nyaman, tapi dia sadar ini tak benar, dia tak boleh seperti ini.
__ADS_1
"Aku hanya izinkan malam ini, tapi untuk besok, jangan lagi, karena ini nggak benar. Aku tidak mau menyakiti perasaan istri kamu."
Daniel hanya menjawab dengan gumaman, karena tak lama dia sudah tenggelam dialam mimpi, tak mempedulikan wanita yang ia dekap dalam kesusahan.