My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Nikmat Kasih Sayang


__ADS_3

Bagi Denisa berumah tangga dengan Daniel tidaklah membosankan, Daniel sosok suami yang menyenangkan, selalu berusaha membuatnya tertawa dan bahagia. Dan laki-laki itu selalu ingin terlihat sempurna dimatanya, dan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuknya.


Banyak juga hal yang Denisa baru ketahui tentang Daniel setelah pernikahan, Daniel yang selalu bangun lebih awal darinya, rajin berolahraga setiap pagi, menyiapkan sarapan untuknya, lelaki yang tekun bekerja, dan satu lagi, Daniel sosok ayah yang sangat bertanggung jawab kepada Dara, sesibuk apapun dia, selalu menyempatkan diri untuk mengantar jemput Dara sekolah, karena setelah Dina menikah, ibu mertuanya tentu saja tinggal bersama suami barunya.


Tak ada kata lelah baginya untuk selalu ada untuk keluarganya. Itulah kata Daniel.


Kini usia kandungan Denisa sudah memasuki trimester ketiga, ngidamnya sudah berakhir, diapun sudah kembali beraktivitas seperti semula. Meski tak seaktif dulu, tapi Denisa menyempatkan diri untuk datang ke klinik setiap hari.


Sisi ia percayakan untuk mengurusi segala keperluan yang ada di klinik.


Hal yang baru Denisa ketahui juga, jika ternyata rumah sakit yang tak jadi di bangun yang berada tak jauh dari kliniknya itu adalah milik Amanda.


Denisa berdiri sambil memasukkan tangannya kedalam kantong jas dokternya, menatap sayang bangunan yang sudah 15 persen dibangun itu.


"Menurut kamu, kenapa ya Si, dokter Amanda tidak jadi membangun rumah sakit disini?" Denisa melihat Sisi yang berdiri disampingnya.


"Karena niat awalnya nggak bagus, Dok. Makanya akhirnya terbengkalai."


"Maksud kamu?"


"Dia ingin menyaingi klinik kita, dokter Amanda tetap merasa dia yang paling hebat dari dokter Nisa."


Denisa menghembuskan nafas. "Dimana dokter Amanda sekarang ya, Si? Sebenarnya aku rindu dokter Amanda, aku nggak pernah menyimpan dendam kepadanya, justru sebenarnya aku ingin minta maaf atas kesalahan ku, dia seperti itu karena aku. Dokter Amanda tetaplah kakak terbaik bagiku, Si. Dia yang menyelamatkan aku, banyak membantuku dari kesusahan."


"Aku juga tidak dengar kabarnya Dok. Apa mungkin dokter Amanda kembali ke Batam?"


Mereka kembali lagi ke klinik.


"Dok, ada titipan rujak dari penjual rujak diseberang gang," resepsionis klinik Denisa masuk ke ruanganya, memberikan kotak sterofoam putih pada Denisa.


"Sampaikan terima kasih ku padanya ya."


Ingin rasanya Denisa menolak pemberian para pasien yang berobat kepadanya, namun mereka memaksa untuk Denisa atau rekanya menerima apapun yang mereka bawa. Denisa ikhlas membantu, dan mereka ikhlas memberi apa yang mereka miliki.


Terkadang mereka membawa beras, sejumput hasil panen mereka, saat mereka datang ke klinik Denisa, padahal Denisa tidak meminta, tapi itulah orang-orang baik yang Denisa tolong, tak ingin menerima cuma-cuma, mereka juga ingin berbagi apa yang mereka miliki, berharap mendapat keberkahan atas sedikit rejeki yang didapat.


Sore ini turun hujan sangat lebat, jam sudah menunjukkan pukul empat sore, waktunya Denisa pulang, dia menunggu Daniel menjemputnya di ruang tunggu, jika menunggu diruangannya, dia merasa suntuk.


"Sisi kemana, kok nggak kelihatan?" tanyanya pada salah satu perawatnya yang berjaga.


"Barusan dijemput pacarnya Dok."


"Hujan-hujan gini, naik apa?"


"Pacarnya kan bermobil, Dok."


"Siapa pacarnya?" Kol Sisi nggak izin aku dulu pulang.


"Dokter Nisa pasti tau orangnya."


"Siapa sih, pake rahasia-rahasiaan." Denisa kesal karena penasaran.


"Tapi suster Sisi yang bilang, jangan kasih tau Dokter Nisa dulu. Nanti kasih taunya kalau mau nyebar undangan. Selama Dokter Nisa cuti juga, pacar suster Sisi sering jemput."


Denisa yang penasaran, ingin kembali keruangannya untuk mengecek cctv, Sisi coba-coba ingin main kucing-kucingan denganya. Namun saat dia akan melangkah, terdengar dentuman keras dari luar.


Brugghhh brugghhh brugghhh


Sroottttttt


Chitttttt


Denisa membalikkan badan, ternyata diluar sana terjadi kecelakaan hebat.


"Astagfirullah."


"Ya Allah."


"Ya ampun."


"Innalillahi."


"Ya Tuhan."


Beberapa orang yang berada di klinik mengucapkan istighfar.


"Kecelakaan Dok." ujar salah satu rekan Denisa.


"Cepat tolong, jangan sampai terlambat." teriak Denisa. Dan orang-orang Denisa berhamburan keluar menolong orang yang kecelakaan tersebut.


"Kecelakaan tunggal Dok, sepertinya parah." lapor salah satu perawat.


"Langsung bawa ke rumah sakit besar saja, siapkan ambulans." perintah Denisa.

__ADS_1


"Baik Dok."


Keputusan Denisa membawa pasien kecelakaan itu kerumah sakit besar bukan keputusan yang salah, walau dikliniknya tersedia peralatan yang lengkap, ia tak menjamin bisa menangani pasienya dengan baik. Selama diperjalanan Denisa memberikan infus dan suntikan untuk menghentikan keluarnya dàrah lebih parah, Denisa juga membersihkan luka pada pasien itu.


Denisa menatap wajah cantik wanita yang kecelakaan itu, dia masih sangat muda, cantik, Denisa melihat sudut matanya masih mengeluarkan air mata, sepertinya dia sedang dalam masalah besar, alangkah kasihannya dia.


Sesampainya di rumah sakit, gadis itu langsung ditangani, satu jam lebih berada di ruang operasi, dokter yang menangani wanita itu keluar.


"Keluarga pasien mana, Dok?" tanya dokter laki-laki yang merupakan kenalan Denisa.


"Keluarganya sedang dalam perjalanan, Dok. Tadi saya sudah menghubunginya." jawab Denisa. "Dok, saya mau pulang, bisa titip tas dan ponselnya?"


"Oh iya, iya terima kasih Doter sedang hamil besar mau mengantar pasien kesini."


"Naluri manusiawi." jawab Denisa tersenyum. "Oh ya Dok, tadi saya juga menemukan cincin dalam genggaman tangannya, tolong Dokter berikan padanya saat dia sadar nanti."


"Iya, nanti saya sampaikan ketika pasien sadar. Terima kasih Dokter Denisa, untung Dokter cepat membawa kesini, pasien kehilangan banyak darah. Benturan keras di bagian belakang kepalanya mengenai saraf mata, menyebabkan dia harus kehilangan ... " Doktet itu menunduk sedih. "Dia tak dapat lagi melihat indahnya dunia."


Denisa terkesiap. "Apa Dok? Maksudnya?" Denisa membekap mulut tak percaya.


Dokter itu mengangguk. "Semoga ada yang mau mendonorkan mata untuknya agar dia bisa melihat kembali warna-warni dunia."


"Tolong jaga dan temani dia sampai dia bisa mendapatkan kembali penglihatannya ya Dok. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadi dia. Hatinya pasti sangat sakit menerima kenyataan ini saat sadar nanti." Denisa berkata sambil mengelus perutnya.


"Iya, Dok. Aku akan menjaganya."


Tak lama Daniel datang bersana Dara. Obrolan Denisa bersama teman sejawatnya itu harus terhenti. Tadi Denisa sudah mengabari Daniel jika dia kerumah sakit mengantar pasienya yang kecelakaan.


Sepanjang perjalanan Denisa hanya diam.


"Kenapa sayang? Ada yang lagi kamu pikirin?" Daniel mengambil tangan Denisa, menggenggamnya.


"Pasien tadi, Kak."


"Kenapa?"


"Dia harus kehilangan penglihatannya, aku nggak tega." Denisa menunduk, menitikkan air mata.


"Semoga dia diberikan kekuatan, semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, kita doakan saja, ada kebahagiaan yang akan menantinya dikemudian hari."


"Tidak semua bencana itu baik, tapi ada kebaikan disetiap bencana."


"Kakak kenapa jadi bijak sih?"


Denisa hanya diam, menatap haru Daniel.


"Maaf aku pernah menjadi laki-laki egois, tidak berusaha untuk menerima dan mencintai kamu. Aku akan menebus semuanya sekarang."


"Kakak sudah menebusnya."


"Bagaimana anak kita, apa gerakanya lincah?"


"Ini sudah memasuki usia dia istirahat menjelang kelahirannya, jadi dia sedikit anteng." Denisa tersenyum mengusap perut besarnya.


"Anak pinter. Tar malam Papi tengokin ya?"


"Hemm bukanya udah tiap malem ya?"


Hehehe "Mumpung belum puasa empat puluh hari."


"Siapa bilang empat puluh hari."


"Terus berapa, 20 hari?"


Denisa mencebik. "90 hari."


"Kelamaan sayang." Daniel merengek, Denisa terkekeh, tapi kemudian Denisa diam.


"Kak." Daniel hanya menoleh.


"Dokter Amanda apa kabar ya?"


Wajah Daniel berubah tak suka. "Aku nggak tahu."


"Aku ingin bertemu dokter Amanda sebelum melahirkan."


"Hem, nanti aku tanya temanya itu."


"Dokter Ricko?" Daniel hanya mengendikkan bahunya. "Kalau bertanya dokter Ricko, mending aku tanya sendiri."


"Awas saja kalau kamu berani." ancmanya


"Hem, posesifnya keluar."

__ADS_1


"Karena aku cinta."


* * *


Menjelang kelahiran Denisa, Daniel telah mempersiapkan semuanya, mulai dari kamar, perlengkapan, serta persiapan menjelang kelahiran. Apa saja yang sekiranya dibutuhkan saat persalinan nanti, sudah Daniel siapkan didalam tas, jika tiba-tiba Denisa sakit perut, Daniel tinggal membawanya.


Tak hanya itu, Daniel juga sudah mempersiapkan diri mengurusi segalanya sendiri, dari memandikan Dara, memakaikan pakaian sekolah, menyuapi Dara makan, dan menyiapkan pakaianya sendiri tanpa bantuan Denisa lagi.


Saat menuruni tangga, Denisa meringis seraya menegangi perutnya.


"Kenapa sayang? Apa perutnya sakit?" Daniel yang sedang menyiapkan sarapan untuk Dara berlari menghampiri Denisa.


"Sedikit, Kak. Ini kayaknya kontraksi palsu."


"Apa dedek bayinya udah mau keluar, Mi?" Dara ikut menghampiri.


Daniel menuntun Denisa duduk di meja makan.


"Kamu mau makan apa?"


"Roti aja." Kembali Denisa meringis.


"Apa kita kerumah sakit saja."


"Nggak usah, belum ada tanda-tandanya juga."


"Memang tanda yang spesifik apa?"


"Keluar flek seperti mau datang bulan." Daniel mengangguk, walaupun sebenarnya dia khawatir dan panik, ini pengalaman pertama untuknya. Tapi jika Denisa sudah tau tanda-tandanya, dia mengikuti saja.


* * *


Sudah tiga hari Denisa merasakan perutnya mulas, sudah diperiksakan ke dokter, belum ada pembukaan, bayinya sehat dan baik-baik saja, air ketubanya juga cukup. Tapi belum ada tanda mau melahirkan seperti yang Denisa sebutkan.


Daniel menawarkan untuk operasi tapi Denisa tak mau, dia berusaha untuk melahirkan secara normal.


Mama Denisa pun sudah datang dirumahnya. Saat ini, Denisa dan mamanya tengah mengobrol berdua, mama mengusap punggung Denisa yang terasa panas.


"Ma, maafin Denisa ya, Denisa banyak salah sama Mama. Sudah menyakiti hati Mama." Denisa meminta maaf pada mamanya, dia juga sudah meminta maaf pada Dina.


"Mama juga, Mama minta maaf, Mama banyak salah sama kamu."


"Ma, doain Denisa ya, biar anak Denisa cepat lahir, ini semua pasti karena Denisa dan Kak Daniel sudah bohongi Mama."


Mama Denisa mengehal nafas. "Mama bukan penyebab kamu susah melahirkan Denisa. Mama sudah memaafkan kamu sejak lama. Kamu pernah dengar mengapa wanita hamil diluar nikah begitu mudah melahirkan?" Denisa mengangguk, "itu karena Allah cabut keberkahan jihadnya, melahirkan itu nikmat, pahalanya besar, makanya hasil di luar pernikahan itu mudah. Dia tidak mendapatkan pahala seperti wanita yang bersusah payah ketika hamil dari pernikahan sah."


"Tapi ada juga penyebab lainnya, itu karena dia menyembunyikan aibnya, rasa takut yang teramat juga menyebabkan dia menyembunyikan rasa sakitnya. Terus, setelah melahirkan tidak jarang ibu dan ayah si bayi tega membunuh anaknya, bahkan ada yang di buang. Kenapa begitu kejam? Karena perasaan kasih sayang juga telah dicabut darinya." Denisa bergidik ngeri mendengar penjelasan mamanya.


"Itulah mengapa Mama marah ketika kamu berbuat sejauh itu kepada Daniel, Denisa? Mama tidak mau, jika sampai Allah mencabut rasa kasih sayang yang kamu miliki. Akan kemana arah hidup kamu, jika rasa kasih sayang itu sudah tak lagi kamu miliki? Tidak menutup kemungkinan, jika kamu bisa berbuat diluar kendali kepada Dara."


Denisa bangun dari tidurnya, memeluk sang mama. "Maafin Denisa, Ma. Denisa nggak tahu jika itu alasan Mama."


"Jadikan pelajaran untuk kedepan, kamu dan Daniel memiliki anak perempuan yang harus kalian jaga."


"Makasih atas semua kasih sayang Mama buat Denisa, Ma. Denisa nggak tahu kalau Denisa nggak ada Mama, akan seperti apa hidup Denisa."


"Ya, jadilah orang tua yang baik untuk anak-anak kalian, menjadi orang tua yang baik tidak dengan mencukupi materi saja, tapi kasih sayang dan ilmu ketaatan itu yang utama."


Denisa makin mengeratkan pelukanya, air matanya semakin mengalir deras, sangat beruntung Denisa memiliki seorang ibu bijak seperti mamanya.


Diambang pintu, Daniel yang akan masuk mengurungkan niatnya, dia bersembunyi dibalik pintu mendengarkan obrolan Denisa dan mamanya. Setelah mendengar obrolan keduanya, Daniel pergi menghampiri Dara yang sedang bermain bersama Dina.


Daniel kemudian langsung memeluk Dara sambil menangis. Dia tak bisa membayangkan jika nikmat kasih sayang yang Denisa telah diambil. Apakah dia masih bisa melihat Dara? Apakah dia masih bisa memeluk Dara seperti ini?


Dina dan Rudi sampai saling lirik melihat Daniel, apa yang sedang terjadi pada anaknya ini?


"Ih, Papi. Dara nggak bisa nafas." Dara mendorong tubuh Daniel. "Ih Papi cengeng, udah gede nangis." Dara meledek papinya. Tapi hal itu justru membuat Daniel semakin tergugu, dia kembali memeluk Dara dengan air mata yang semakin deras.


"Sudah memasuki bulan desember, musim hujan, banjir bisa dimana-mana." Celetuk papa Ricko. Dina menyikut perut suaminya, dia melihat Daniel sedang tidak bercanda.


"Anakku sudah menjadi laki-laki yang hebat." Dina tersenyum bangga, yakin, Daniel akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak.


.


.


.


.


Maaf, ini bukan cerita agama. Jika salah boleh diperbaiki, cuma selingan di tengah cerita romantis.


Oh ya, sedikit memberi tahu, jika wanita yang kecelakaan diatas, itu sedikit spoiler salah satu cerita ku yang akan rilis, tapi bukan di waktu dekat ya, jangan ditungguin. Hehehe

__ADS_1


__ADS_2