
Amanda berdiri di lobby hotel sambil memegang clutch mahal miliknya, ia menunduk sambil memainkan kakinya yang memakai heels pemberian laki-laki yang akan menjadi patner kencanya malam ini, dia begitu gugup. Jujur saja, Amanda ragu untuk melakukan kencan gila ini, dia tak tahu bagaimana reaksi Ricko jika mengetahui ternyata jika dia melakukan hal yang dilarang Ricko, persetan dengan masalah, hidupnya sudah terlalu banyak masalah.
Mata Amanda menangkap sebuah mobil berhenti tepat didepannya, Amanda mendongak, degup jantungnya berpacu lima kali lipat lebih cepat saat mengetahui ternyata sebuah sedan mewah yang hanya dipakai golongan orang-orang tertentu.
Kaca jendela depan terbuka. "Nona Dahlia?"
Amanda menunduk untuk bisa melihat wajah dibalik kemudi tersebut. "I-iya."
"Saya Johan, asisten pribadi tuan Johan." Amanda mengernyit, sedikit dibuat bingung, jadi nama tuanya sama dengan nama ajudanya? Amanda terdiam. "Silahkan masuk Nona, nama kami memang sama, tapi bukan saya Johan itu." jelasnya tahu diamnya Amanda.
Amanda tersenyum, mengangguk kecil. "Oh, oke."
Dengan tangan bergetar, Amanda membuka pintu belakang mobil itu, setelah masuk Amanda dibuat tercengang dengan kemewahan interior mobil itu, Amanda sampai dibuat menelan ludah. Sepertinya benar, jika patner kencanya bukan dari golongan orang biasa.
Tak lama mobil itu berhenti di sebuah hotel mewah. Amanda mendongak, menatap ketinggian hotel itu, hotel mewah yang kisaran harga semalamnya bisa mencapai puluhan juta, dia tahu itu.
"Kita sudah sampai Nona," suara Johan mengagetkan Amanda. "Ini kartu akses anda," Johan memberikan kartu akses kamar, "hotel ini milik tuan saya, anda nanti akan diantar oleh seorang wanita yang sudah menunggu anda." Amanda melihat arah yang ditunjuk asisten Johan. Didepan lobby berdiri wanita muda cantik, wanita itu tersenyum.
Apa? Jadi aku akan berkencan dengan pemilik hotel ini? Apa aku akan berkencan dengan suami orang? Tidak mungkin kan laki-laki kaya tidak memiliki pasangan? Amanda menjadi ragu.
"Em Pak, maaf jika pertanyaan ku sedikit lancang." ucap Amanda ragu-ragu.
"Iya Nona."
"Apa tuan mu sudah beristri?"
Laki-laki itu tersenyum. "Tenang saja Nona, meski tuan saya sudah berumur, tapi dia masih single."
Pria berumur? Amanda membuka ponselnya, mengecek usia laki-laki yang menjadi teman kencanya.
Amanda terbelalak, 47 tahun? Aku sudah gìla? Aku akan berkencan dengan pria tua dewasa yang terpaut usia 20 tahun dengan ku? Astaga, kenapa aku tidak teliti? Apa benar kata-kata ku dulu ingin menikah dengan duda itu terkabul?
"Mari Nona, ikuti saya." ujar wanita menyambut kedatangan Amanda dengan suara yang terdengar sangat lembut.
Sumpah demi apapun, meski Amanda berasal dari keluarga yang cukup berada, seumur hidupnya Amanda tak pernah menggunakan fasilitas mewah apapun, uang yang ia dapatkan, akan diputar lagi untuk usahanya, apalagi papa Amanda yang selalu mengajarkan hidup sederhana, dan untuk selalu berbuat baik demi kebahagiaan orang lain, dengan memberikan pengobatan gratis pada pasien yang kurang mampu.
Ting
Pintu lift terbuka, berhenti tepat dilantai tetaras atas hotel tersebut.
"Saya hanya mengantar anda sampai disini, Nona." wanita itu menundukkan badanya.
"Kau tidak mengantarku?" Dia menggeleng. "Kalian bukan kawanan mafia kan?" Amanda jadi curiga.
Wanita itu tersenyum. "Anda bisa menekan tombol merah yang ada didepan pintu kamar jika terjadi sesuatu."
"Kalian itu komplotan, apa ucapan mu bisa dipercaya?"
"Silahkan Nona, jangan sampai membuat tuan kami menunggu lama."
Amanda berjalan menuju kamar yang ditunjuk, dilantai ini hanya terdapat satu kamar, kamar yang digunakan Amanda berkencan. Amanda menggigit bibirnya, jantungnya semakin berdebar cepat, tanganya sudah terangkat ingin menempelkan karti akses itu, namun dia ragu, dia menarik lagi kartu tersebut.
"Ric, andai kami tahu kegilaan ku malam ini?" Amanda mentertawakan kebodohanya. "Apa aku harus telepon kamu lagi Ric? Kalo kamu tahu kamu pasti akan segera menyusul ku kesini."
Amanda menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya yakin, dia tak akan menyesali perbuatannya malam ini.
Klik.
Setelah menempelkan kartu, pintu kamar langsung terbuka. Jantung Amanda semakin berdegup saat melihat tubuh laki-laki tinggi semampai yang membelakanginya, Amanda sampai menahan nafas sepersekian detik, dari belakang saja dia sudah terlihat sangat tampan, apalagi ketika melihat wajahnya dari depan, Amanda bersumpah, kali ini dia tidak akan menyesal.
Namun keduanya sama-sama terkejut, saat laki-laki itu membalikkan badan.
"Kamu!" tunjuk Amanda laki-laki didepanya. Amanda membuang nafas. "Oh ****, dunia begitu sempit, kenapa harus kamu?" teriak Amanda menyugar rambut kebelakang, dia menjadi frustasi.
Laki-laki itu hanya mengernyit atas reaksi Amanda.
"Laki-laki tua berumur, itu kau? Oh my ghos! maaf aku rasa aku tidak bisa melanjutkan kencan kita."
Sebuah penghinaan bagi Thomas, belum berkenalan saja dia sudah ditinggalkan. Wanita dihadapanya inilah yang menjadi alasan Thomas memulai kencan melalui aplikasi perjodohan, maka dari itu dia mengirim gaun seksi san mahal, agar siapapun yang menjadi pasangan kencanya, bisa membuatnya bergetar, namun siapa tahu, ternyata wanita yang menjadi teman kencanya, ternyata gadis yang telah membuat hati bergetar, sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan.
__ADS_1
"Aku tidak mengizinkan kamu keluar selangkah pun dari sini tanpa izin ku." potongan Thomas.
Amanda yang sudah berbalik hendak keluar menghentikan langkahnya. Memutar tubuh menatap Thomas tajam.
"Kecuali kau melepas semua yang ada ditubuh mu, bukankah itu pemberian dari ku?" Thomas menyeringai. Wanita licik harus dibalas dengan cara licik, ujarnya dalam hati.
"Kau sengaja menjebakku?"
"Kita bahkan tidak saling bertukar live foto bukan? Mana aku tahu siapa dibalik foto kucing itu."
Amanda mendengkus, dia menunduk melepaskan heels yang dikenakanya, dan itu membuat belahan dada Amanda yang hanya menggunakan gaun malam bertali kecil terlihat, memang tidak mòntok, tapi cukup membuat jiwa kelakian Thomas kelabakan.
Thomas sampai memutar tubuhnya, dia yang menggunakan aplikasi sial, ini sebab penasaran terhadap reaksi tubuhnya yang bergetar saat disentuh Amanda beberapa hari lalu.
Thomas mengaduh saat Amanda melempar hels dan mengenai tulang keringnya.
"Itu, ambil hels murahan mu itu dan berikan pada wanita yang ingin kau kencani, dan juga," Amanda menurunkan tali gaunya, namun seketika dia tersadar. "Aku akan mengembalikanya melalui kurir saat aku sampai dipenginapan ku."
"Aku sudah bilang, bukan? kalau aku tidak mengizinkan mu jika kau tidak melepas semua yang ada ditubuh mu."
"Oh begitu, silahkan. Aku tidak masalah jika kau mau mencicipi tubuhku, aku sudah biasa melakukannya dengan laki-laki yang aku kenali lewat aplikasi s*x ini, dan kau bukan yang pertama."
"Memang seharusnya itu tujuannya, bukan?" jawab Thomas dingin, membuat Amanda bergidik ngeri, sungguh dia spontan saja mengatakan itu.
Amanda jadi menantang, dia maju mendekati Thomas dan berhenti tepat dihadapan Thomas. Sengaja Amanda menempelkan dadanya di dada bidang Thomas dengan wajah mendongak menantang.
Thomas ingin mundur, tapi tidak mungkin, tapi ini juga tidak benar, wanita ini memancing singa yang sudah lama tertidur, dia takut dia khilaf dan melakukan hal yang telah lama ia jauhi dan sudah ia kubur dalam-dalam, Thomas menelan salivanya, membuat jakunya terlihat bergerak naik turun.
"Ayo lakukan! Kenapa kau diam? Ini tujuan orang berkencan bukan? untuk bersenang-senang, lalu melupakan apa yang sudah terjadi." Tantang Amanda lagi karena Thomas hanya diam.
Sudut bibir Thomas terangkat, semakin wanita didepannya ini banyak bicara, semakin menunjukkan jika ini yang pertama untuknya. Thomas masih memilih diam, dia hanya menatap wajah cantik Amanda sambil menahan gejolak didalam dirinya yang sedang diuji, entah siapa wanita ini? kenapa kehadirannya mampu membangkitkan sesuatu yang tak akan ia lakukan lagi.
"Ayo, tidak berani kan? Lelaki tua berumur seusia mu aku yakin kau menderita penyakit impoten, itulah mengapa kau tidak menikah diusia yang seharusnya sudah memiliki cucu."
Ucapan Amanda membuat Thomas marah dan tersinggung, dadanya bergemuruh atas penghinaan yang Amanda lakukan padanya.
"Kau menantang ku? Kau begitu, ayo kita buktikan." Tanpa aba-aba Thomas mendorong tubuh Amanda hingga terhempas keatas tempat tidur berukuran king size miliknya. Amanda tersentak, dia tak menyangka jika ucapannya akan menjadi boomerang untuk dirinya.
"A-a."
Untuk menutupi kegugupanya Amanda terlebih dahulu menempelkan bibirnya ke bibir Thomas, kini giliran Thomas yang terkejut, dadanya berdebar hebat, baru disentuh sedikit saja bibirnya oleh Amanda, tapi sekujur tubuhnya sudah menegang, bahkan sesuatu dibawah sana yang ia puasakan selama dua puluh tahun itu sudah mulai mengeras.
Mereka saling tatap dalam diam untuk beberapa saat, dengan bibir yang saling menempel. Detak jantung mereka sama-sama berdebar cepat, dan bagi Amanda, ini kali pertama dia dengan posisi seintim ini dengan lawan jenis.
Tapi sejurus kemudian Thomas bangkit dan itu membuat Amanda mengernyit heran. Amanda mengangkat setengah tubuhnya untuk melihat apa yang Thomas lakukan, laki-laki itu berjalan menuju lemari, dan kembali lagi membawa sesuatu yang entah apa itu, Amanda tidak tahu.
"Kau harus merasakan bagaimana laki-laki impoten ini menghabisi mu, Nona sombong." Thomas mengambil tangan kanan Amanda dan mengikatnya diatas sisi kanan rànjang.
"Apa yang kau lakukan? lepaskan" Amanda meronta.
Tapi Thomas tak menghiraukan. "Membuat kenang-kenangan terindah yang tidak akan pernah kau lupakan." Thomas berhasil mengikat kedua tangan Amanda, kemudian kedua kakinya.
"Kau ingin memperkòsà ku?"
Amanda bergidik ngeri melihat Thomas telah menanggalkan kemejanya, pria yang sempat ia puji tampan itu kini terlihat seperti iblis yang menakutkan. Sungguh, sebagus apa bentuk tubuh atheltis Thomas atau Johan yang Amanda kenal tak membuat Amanda terpesona.
Sreeeet
Sreeeet
Thomas merobek gaun Amanda tanpa ampun, menyisahkan dalamanya saja, Amanda menggeleng, dia takut ini terjadi.
Tidak! Jangan! Seseorang tolonglah aku!
Namun terlambat, kini Johan sudah melepaskan seluruh kain yang menutupi inti tubuhnya, laki-laki itu melucuti setiap inci kulit Amanda yang lembut dan halus dengan lidahnya, Amanda menolak, namun juga menikmati setiap yang dilakukan Johan atau Thomas. Air mata tak bisa lagi terelakkan saat laki-laki itu membuka lebar kakinya, dan ...
Denisa, apakah ini karma untuk ku? Aku pernah menghinamu, tapi aku merasa kini aku tak jauh berbeda dari mu, akankah aku memilki nasib yang sama beruntung dengan mu, laki-laki ini, laki-laki yang sekarang ingin merenggut mahkota ku apakah dia juga akan mencintaiku seperti Daniel yang sangat mencintai mu?
.
__ADS_1
.
.
Sinar matahari menyinari, masuk melalui celah gorden kamar ditempati Amanda. Wanita cantik yang tak menggunakan apa-apa itu perlahan membuka matanya, dengan cepat ingatan kejadian semalam berputar dikepalanya.
Amanda sontak duduk, melihat pergelangan tanganya yang memerah bekas jeratan semalam, masih menyisakan nyeri, tanpa terasa air matanya jatuh. Lalu Amanda melihat sekeliling, sepi, tak ada siapapun, dimana lelaki itu? Apa dia sudah pergi?
Ya, sudah pasti dia sudah pergi, mereka hanya berkencan satu malam, dalam perjanjian tak ada pertemuan berikutnya, lalu apa yang dia harapkan dari laki-laki tua dewasa seperti Johan? Tidak, namanya bukan Johan, itu nama asisten pribadinya, semalam dia meminta Amanda menyebut namanya, Thomas.
Pintu hotel kamarnya terbuka, Amanda mengangkat kepalanya.
"Selamat pagi, Nona." sapa wanita berusia empat puluh tahunan itu, dia menundukkan badanya, "saya pelayan pribadi tuan Thomas, tuan berpesan untuk saya melayani apa yang Nona butuhkan, apa Nona ingin mandi? biar saya siapkan air hangatnya."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." jawab Amanda ketus, tak sudi jika dia menerima fasilitas mewah yang disediakan Thomas. Dia benci laki-laki itu, semalam laki-laki itu sangat puas mengerjainya, mentertawakannya, dan sekarang dia memberikan semua kemewahannya.
No, Amanda bukan wanita gampangan yang mudah luluh hanya dengan diberi iming-iming kemewahan.
Setelah membersihkan diri, Amanda mengambil satu pakaian yang ada didalam lemari, terpaksa memakainya, karena tak ada pilihan lain.
"Aku meminjam satu dress dan pakaian dalam, bilang pada tuan mu jika aku akan mengembalikanya." ucapnya pada pelayan yang masih setia menunggunya sejak tadi.
"Anda ingin sarapan dimana Nona, di restoran hotel, di kamar, atau-"
Amanda yang sudah diambang pintu sontak berhenti.
"Tidak perlu, kalian tidak perlu susah-susah menyiapkan apapun untuk ku, aku masih punya uang jika harus membayar sepuluh butir nasi di restoran kalian." Lalu Amanda keluar dan menutup pintu dengan keras sampai pelayan itu berjengit kaget.
"Tuan, Nona anda menolak semua pelayanan kita, dia hanya menggunakan satu dress, dan pakaian dalam tanpa menggunakan alas kaki."
"Hem, biarkan dia pergi." sahut Thomas dari sebrang, sepagi ini dia sudah sibuk, namun matanya tetap bisa mengawasi gerak-gerik Amanda melalui ponselnya yang kini berada didalam lift.
Sudut bibir Thomas terangkat kala Amanda menghentak-hentakkan kakinya di lantai. Lalu Amanda mendongak melihat kearah cctv, dai tahu dia diawasi, lalu Amanda mengacungkan tinjunya kearah cctv, *******-***** telapak tangannya seolah meremas Thomas.
Thomas hanya terkikik melihat tingkah Amanda, membuat Johan sang asisten keheranan.
"Kamu tidak akan pernah bisa lari dari ku lagi, my crazy girl."
Amanda keluar dari lift dengan perasaan kesal, dia tahu, laki-laki itu mengawasinya.
"Dasar pecùndang, pengècut, beraninya dengan wanita lemah."
"Amanda." Amanda terkejut mendengar suara orang yang memanggilnya.
"Tante." Amanda membeku, kenapa ada Dina disini, dan yang lebih mengejutkan lagi, Dina bersama dokter Rudi, Papa Ricko.
"Kamu nginep disini juga?" Dina melangkah mendekat.
"I-iya tante. Tante dan-" Amanda menatap Dina dan papa Ricko bergantian.
"Kami berbulan madu."
"Apa?"
Hehehe, Papa Ricko nyengir. "Kami duluan ya Amanda, maklum perut tua yang kelelahan, tak bisa menahan lapar." ucapnya random, lalu merangkul pinggang Dina dengan mesra,
Amanda sampai tak bisa berkata-kata, dia hampir saja oleng kebelakang atas kenyataan yang baru diketahuinya. Astaga, apalagi ini? Papa Ricko dan mamanya Daniel bersama?
Sejak kapan? Kenapa Ricko tidak memberitahunya, baiklah Ricko, aku juga tidak akan memberitahu mu apa yang terjadi padaku. Namun tanpa Amanda sadari jika melihat tanda merah dilehernya.
.
.
.
.
Say goodbye untuk Amanda. Gak tahu bakal rilis kapan? Bakal rilis atau enggak juga gak tahu, aku mau rehat sejenak dan mau fokusin Marsha yang lama terabaikan.
__ADS_1
Ternyata aku gak bisa nulis dua novel sekaligus.
Maafkan aku yang tidak bisa seperti yang kalian mau, kepada kalian semua. Love you all 😍 😍