My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Cinta Itu Universal


__ADS_3

Setelah sebulan lebih hidup sebagai sepasang suami istri, Denisa selalu kalah dengan Daniel saat bangun pagi, kali ini dia tak mau kalah. Kembalinya Daniel bekerja bersama Abian, dan juga harus mengurus bisnisnya sendiri di Batam yang kini dijalankan oleh Wahyu, membuat Daniel harus bangun lebih awal.


Lari pagi dan olahraga tak pernah Daniel tinggalkan, ia harus tetap menjalankan kebiasaan hidup sehat walau sudah beristri, tak ingin perutnya buncit, atau badannya tak ideal lagi, Daniel tak ingin Denisa terpikat laki-laki yang memiliki tubuh kekar diluaran sana.


"Kamu masak apa, Mi?" Daniel muncul dari taman belakang, mengelap wajahnya dengan handuk kecil. "Princess Papi mandi gih sama nenek, Papi antar ke sekolah," perintahnya pada Dara. Dara ia ajarkan hidup disiplin sejak dini.


"Oke, sip Pi." jawab Dara mengacungkan jempol, lalu berlari menuju kamar Dina. Daniel tersenyum, senang setiap hari berolahraga bersama putri kecilnya, lalu melihat kegiatan sang istri didapur.


"Abis ini mandi bareng ya?" Daniel mendekati Denisa yang sedang sibuk mengaduk ayam rica-rica, melingkarkan tangannya keperut Denisa. "Dari wanginya aku udah yakin, ini enak banget pasti rasanya."


Mencium bau keringat sang suami, perut Denisa kembali bergejolak, dia mencoba menahannya.


"Kakak bilang sama aku lagi ya, mau dimasakin apa besok?"


"Emang kamu nggak capek?" tanyanya seraya menyusuri leher Denisa yang terekpos karena Denisa menggulung rambutnya keatas.


Denisa kegelian, dan disaat itu juga dia mencium bau keringat Daniel. Sekuat tenaga Denisa menahan rasa mual yang tiba-tiba datang, dia takut Daniel tersinggung. Ia heran, sejak kemarin dia tak bisa mencium bau tubuh Daniel, meski suaminya habis mandi, dan memakai parfum.


Semalam saja saat Daniel ingin tidur sambil memeluknya, Denisa menolak dengan alasan dia ingin membaca buku terlebih dahulu. Hingga Daniel tidur dipangkuanya, Denisa baru memindahkan Daniel, dan ia baru tidur.


"Kak, aku ke kamar mandi dulu," Denisa mematikan kompornya, melepaskan tangan Daniel dan berlari menuju kamar mandi sambil menutup mulut.


Howekkk


Howekkk


"Sayang." Daniel ikut menyusul masuk kamar mandi, melihat keadaan istrinya. "Ya ampun, muntah lagi? Kita berobat ya?" ujarnya penuh ke khawatiran.


Denisa menggeleng. "Aku udah minum obat semalam. Ini biasa, nanti juga akan sembuh sendiri."


"Kamu yakin?" Denisa mengangguk.


"Denisa kenapa, Nil?" Suara Dina terdengar dari belakang tubuhnya, Daniel berbalik.


"Kayaknya masuk angin, Ma." menuntun Denisa ke kursi makan, menarikkan kursi untuk Denisa, dan mendudukkannya.


"Mau Mama kerokin?"


"Nggak usah, Ma. Ini paling cuma masuk angin biasa, nanti siang minum obat juga sembuh." Denisa yang menjawab.


"Oh yasudah. Kalau tidak enak badan mending nggak usah ke klinik, istirahat saja dirumah. Mama temani, kamu pasti kecapean itu. Sejak habis nikah nggak istirahat-istirahat, bulan madu, terus langsung pembukaan klinik, belum lagi kamu harus lembur sampai malam."


Denisa bersemu malu mendengar sendiran Dina.


"Iya, nanti mau ke klinik sebentar saja. Setelah itu pulang."


"Aku temani!" tawar Daniel, sambil memijit-minit tangan Denisa.


"Nggak usah. Kakak kerja aja, aku nggak Papa."


* * *


Sesampainya di klinik, Denisa hanya diam didalam ruangannya, tadi dia sudah menghubungi dokter lain untuk mengganti jadwalnya, dia ingin memastikan sesuatu, tapi belum ingin diketahui oleh Daniel dan Dina.


"Dok, dokter kandungan sudah datang." Sisi memberi tahu. "Aku ikut ya, Dok. Pengen lihat ponakan kedua."

__ADS_1


"Ini kan baru dugaan lu saja, Si. Belum tentu bener."


Denisa membaringkan tubuhnya diatas ranjang sambil melihat larat yang tergantung didepannya, sebagai seorang dokter dia pasti cepat tanggap apa yang terjadi pada dirinya, dia bukanlah orang yang pura-pura polos, tak tahu gejala-gejala yang ia rasakan, apalagi dia menyadari jika sudah seminggu lebih tidak kedatangan tamu bulananya setelah menikah.


"Selamat ya Dokter Nisa, usia kandunganya sudah memasuki enam minggu." Suara dokter kandungan itu mengagetkan Denisa dari lamunannya.


"Enam minggu, Dok?"


"Iya. Semua sehat, janinya juga terletak didalam rahim." Dokter itu memberikan obat dan vitamin untuk Denisa.


"Yeay selamat ya Dok. Ih ikut seneng, Dokter Nisa langsung dikasih kepercayaan, mama pasti seneng dengar kabar ini." ucap Sisi antusias, membantu Denisa bangun.


"Makasih, Si. Dok, Si, tapi jangan kasih tau suami aku dulu, ya."


"Lah? Kenapa?" ujar Sisi dan dokter itu bersamaan.


"Nggak papa, dia lagi sibuk bolak-balik Batam Jakarta, aku nggak mau mengganggu pekerjaannya aja, apalagi aku yang mengalami morning sickness." Bohongnya, padahal ada sesuatu yang Denisa khawatirkan.


Denisa merebahkan tubuhnya ditempat tidur, jika berjauhan dengan Daniel, dia tak mengalami mual, tapi dia rindu, ingin dipeluk, tapi jika berdekatan, dia tak mau mencium bau badan suaminya, padahal badan Daniel tak bau sama sekali. Rumah sepi, Dina dan Dara belum pulang, kepalanya terasa pusing, badanya pun terasa lemas, dan dia tiba-tiba menjadi sangat malas melakukan sesuatu.


"Denisa, kamu ada dikamar?" Dina mengetuk pintu kamarnya. "Denisa." panggil Dina lagi.


Ceklek.


Dina memberanikan diri membuka pintu, dilihatnya Denisa sedang tidur sangat nyenyak. Terlihat jika Denisa sangat kelelahan.


"Mami ada, Nek?"


"Ada sayang, tapi Mami lagi bobok. Kita turun aja yuk."


Dina mengangguk dan tersenyum, terharu atas perhatian yang Dara berikan untuk Denisa. Lagi pula, setelah Denisa menikah lagi dengan Daniel, Dara lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya ketimbang Denisa.


"Dara mau tidur sambil meluk Mami ah. Dulu waktu Dara sakit, Mami pekuk Dara, kata Mami, biar sakitnya pindah ke Mami. Sekarang Dara yang mau peluk Mami, biar sakit Mami pindah ke Dara," ucap Dara meletakkan tangannya di perut maminya, Denisa tak terusik sedikitpun.


"Anak pinter," Dina mengusap rambut cucunya, " yaudah, Dara jagain Mami, Nenek mau bikinin makan untuk Mami."


Dina menyusut air matanya saat telah menutup pintu. Anak yang dulu tak mendapat kasih sayang yang utuh dari seoarang ayah seperti Dara, memiliki sifat yang lebih peka dan mandiri.


* * *


Dikantornya, Daniel mondar mandir didepan meja kerjanya sambil meletakkan gadget ditelinganya, entah sudah yang kebera kali Daniel menghubungi Denisa, namun tak juga diangkat oleh istrinya itu. Merasa khawatir, Daniel menghubungi Sisi, namun kata Sisi, Denisa sudah pulang sejak tadi.


Daniel berganti menelepon mamanya.


"Ma, Mama lagi dimana?"


"Dirumah."


"Apa Denisa ada di rumah?"


"Iya, dia lagi tidur dikamarnya, kayaknya dia sakit beneran. Nanti kalau kamu pulang, ajak dia kerumah sakit, Mama ada feeling sesuatu."


"Feeling apa, Ma?" Daniel jadi risau.


"Bukan apa-apa, ini cuma feeling Mama aja, coba nanti kamu bawa Denisa ke rumah sakit, buat mastiin feeling Mama nggak salah."

__ADS_1


"Mama bikin aku tambah khawatir aja,"


"Yaudah ya, Mama lagi mau masakin yang seger-seger buat istri kamu." Dina mematikan panggilannya, dia tersenyum, Daniel pasti akan segera pulang untuk memastikan kesehatan Denisa.


Dina naik keatas untuk melihat cucu dan menantunya, ternyata Denisa sudah bangun.


"Udah enakan sayang?" Dina mengulas senyum, mengambil kursi rias, duduk menghadap Denisa, dilihatnya Dara yang masih tidur pulas sambil memeluk perut Denisa.


"Mendingan Ma. Cuma pusing sedikit, sama bawaannya ngantuk terus, maaf ya Ma. Denisa nggak tau Mama sama Dara udah pulang." Denisa merasa tak enak, padahal tadi dia cuma mau rebahan, ternyata malah kebablasan.


"Nggak papa, biasa saja, kamu ini pasti kecapean, sini Mama pijitin."


"Jangan, Ma." Denisa yang sedang selonjoran refleks menarik kakinya.


"Udah, nggak papa. Biasa saja sama Mama." Dina memajukan duduknya, mengambil paksa kaki Denisa, membuat Denisa sungkan.


"Denisa, Mama ini nggak punya anak perempuan, anak Mama cuma satu, tapi ya kamu tahu sendiri, Daniel sibuk kerja, jadi Mama nggak ada teman cerita." Dina mulai bercerita, mengambil perhatian Denisa.


"Mama harap, antara kamu dan Mama tak ada batasan apapun. Jika kamu butuh sesuatu kasih tahu Mama," ujarnya lagi, Denisa mendengarkan dengan serius, dia baru tahu, dibalik sikap cuek Dina, dia kesepian. "Maafin sikap Mama yang dulu-dulu ya, Mama merasa bersalah."


Dina mengingat awal pernikahan Denisa dan Daniel dulu, dia mengabaikan Denisa, apapun yang dimasak Denisa tak ia makan. Ya memang itu hanya beberapa bulan, setelahnya dia memaksakan untuk menerima Denisa, namun, setelah hatinya melunak atas usaha Denisa, Daniel malah menceraikannya.


"Padahal Mama juga perempuan, seharusnya Mama tidak memperlakukan kamu seperti itu, Denisa."


"Nggak papa Ma. Denisa sudah melupakannya."


Dina tersenyum samar. "Mama tahu, kamu memang anak yang baik, Mama jadi merasa malu," Dina menarik nafas, masih memijit kaki Denisa lembut.


"Denisa, Mama boleh nanya nggak?" tanya Dina ragu.


"Tanya apa, Ma?"


"Emm, menurut kamu, cinta itu apa sih untuk perempuan seusia Mama?"


"Maksud Mama?" tanya Denisa tak paham ucapan Dina.


"Ehem, begini. Menurut kamu, apa Mama masih pantas untuk merasakan jatuh cinta?"


Denisa senyum, baru paham maksud pertanyaan Dina.


"Cinta itu universal, Ma. Bisa dirasakan oleh siapa saja, tua ataupun muda. Cinta terhadap pasangan, cinta terhadap orang tua, kepada anak, sahabat, atau siapapun. Jadi menurut Denisa, Mama pantas merasakan jatuh cinta. Karena jatuh cinta itu anugerah, tak mengenal batasan usia."


Dina menghentikan pijatan tangannya, menatap serius menantunya. "Begitu ya, Denisa?" Denisa mengangguk, "jadi nggak ada masalah lah ya, kalau Mama jatuh cinta lagi?"


"Ya-ya nggak masalah, Ma." jawab Denisa sedikit ragu.


Seketika Dina melipat bibirnya malu, tapi tak ayal dia kembali bertanya.


"Denisa."


"Iya, Ma."


"Kalau ... Mama menikah lagi, itu malu-maluin gak?" Dina menutup bibir sedikit menundukkan kepala malu.


"Sayang, kamu nggak papa?" baru saja Denisa mau menjawab pertanyaan Dina, Daniel muncul dan menerobos masuk kamar.

__ADS_1


__ADS_2