
Saru bulan berlalu.
Kehadiran Danish Reifansyah Danuarta membuat rumah Daniel dan Denisa semakin ramai, Danish termasuk bayi yang suka menangis, disaat dia ngompol bayi itu menangis, disaat haus, diapun menangis, bahkan disaat dia mengantuk pun bayi itu melengkingkan suara yang cukup keras.
Denisa sangat menikmati momen seperti ini, tak ada kata lelah, sebab dia menikah dengan laki-laki yang tepat. Sepulang bekerja, Daniel tak segan bergantian menjaga anak laki-laki mereka, menggantikan popok, menghangatkan asi yang sudah ditampung didalam botol.
Setiap pagi juga, Daniel rajin menjemur bayi mereka, sembari ia melakukan olahraga pagi, setelah itu, ia memandikan sekaligus memakaikan pakaian juga.
"Ya ampun, yang mandi siapa yang basah siapa?" Denisa yang baru selesai menyiapkan sarapan mereka datang, ia sampai menggelengkan kepalanya melihat pakaian Daniel yang basah, suaminya itu hanya nyengir.
"Emmm anak Papi sudah ganteng dan wangi." Diangkatnya tinggi-tinggi putranya yang sudah ia kenakan jumsuit bayi berwarna orange berkarakter jerapah itu.
Denisa mencium semerbak wangi khas minyak telon dan bedak bayi.
"Papi kalau pakein bedak, udah kayak manusia silver ya Dek." Denisa ikut menciumi baby Danish yang masih digendong Daniel, merapikan bedak yanh dinilainya terlalu tebal.
"Dara mana?" Daniel melihat kearah pintu kamar Dara yang kini disatukan dengan kamar Danish. Kamar anak mereka dengan kamar mereka saling terkoneksi.
Bukan hanya Danish yang berlimpah kasih sayang dari papinya, Dara pun merasakan yang sama, bahkan ia mendapat kasih sayang yang lebih. Daniel juga yang setiap pagi memandikan Dara, ia juga sesekali mengajarkan Dara untuk mandiri, dengan Dara mandi sendiri, tahun depan Dara sudah mau memasuki sekolah dasar.
Daniel tak membiarkan Denisa lelah mengurus anak mereka seorang diri,meskipun ia lelah sepulang kerja, tapi selalu menyempatkan waktu untuk anak-anaknya, Daniel tak mau anak-anaknya dekat dengan pengasuh, ia harus membiasakan diri disaat nanti Denisa sudah kembali aktif ke klinik.
"Ikut Mama dan dokter Rudi nge-teh di depan." Denisa lebih nyaman memanggil papa Ricko dengan seperti itu, Daniel pun sama, dan beruntungnya papa Ricko tak mempermasalahkan itu, asalkan mereka dekat, dia senang. "Sini kita enèn duyu, dedek biasanya kalau abis mandi, udah seger, kenyang, bobok deh."
"Tadi udah aku kasih susu dari botol, dia udah kenyang. Kita titipin ke mama dulu ya sebentar, mumpung mama disini."
Iya, mama Dina dan papa Ricko tinggal terpisah dengan mereka, dan saat ini mereka sedang menginap dirumah Daniel jika papa Ricko sedang tidak tugas.
"Kenapa dititipin ke mama?"
"Anak-anak udah dimandiin, sekarang giliran maminya."
"Kak, ini belum genap empat puluh hari loh." Denisa melotot.
"Cuma mandi bareng, gak akan terjadi apa-apa."
"Aku nggak percaya."
"Nggak boleh percaya juga," Daniel tersenyum nakal, "kamu tunggu disini, aku kasih Danish ke mama, biar mereka ada kesibukan." Diapun segera menghilang dari pintu kamar.
"Dasar, ambil kesempatan didalam kesempitan." cebik Denisa tertawa geli.
* * *
Jam delapan malam Daniel pulang.
Denisa, Dina dan papa Ricko sedang berkumpul diruang keluarga, papa Ricko menggendong Danish sambil menemani Dara belajar.
"Sayang, Papi pulang." semua menoleh kearah suara Daniel. Dara langsung berdiri dan berlari menghampiri papinya.
__ADS_1
"Yeayyy Papi pulang," sorak Dara kegirangan, matanya celingukan mencari sesuatu dibelakang papinya. "Papi nggak bawa apa-apa?"
"Memang Papi harus bawa apa?" Dara mengerucutkan bibirnya. Denisa yang menyusul dibelakang terkekeh.
"Ih, Papi nyebelin, kan Dara nitip kotak berhadiah."
"Nitip emang ngasih uang?" tanyanya menggoda. Dara semakin merajuk lucu, membuat Daniel tertawa.
"Salim dulu donk." Daniel mengulurkan tangannya, Dara menyambut dengan wajah cemberut. "Senyumnya mana? Papi rindu deh seharian nggak ketemu, Dara nggak kangen Papi?"
Daniel menunduk agar Dara bisa mencium pipinya. Setelah Dara mencium pipinya, baru Daniel mengeluarkan paper bag coklat merek mini market yang berisi kotak berhadiah pesanan Dara, bukan hanya kotak berhadiah yang Dara mau, tapi juga banyak jajanan, anaknya itu suka sekali ngemil. Senyum Dara seketika terbit dengan sempurna setelah melihat banyaknya isi didalam peper bag yang Daniel berikan.
"Terima kasih, Pi. Papi emang yang terrbaaik." menirukan jargon kartun yang sering ia tonton. Lalu Dara berlari, kembali ke ruang keluarga menunjukkan pada Dina dan Rudi.
"Dasar ya, sebenarnya kalau Papi pulang, yang ditungguin Papi apa oleh-olehnya sih?" Daniel menggelengkan kepalanya.
"Dua-duanya." Denisa menjawab sambil menyalami tangan suaminya. "Belum nanti kalau Danish udah besar, Pi." Denisa melambaikan tangan Danish.
"Pi mobil-mobilanya mana?" Keduanya tergelak, masuk kerumah dengan Daniel merangkul pundak Denisa.
"Aku tunggu momen itu." bisik Daniel ditelinga Denisa, membuat Denisa kegelian.
"Turuti saja apa yang mereka minta selama itu tidak berlebihan, momen seperti ini hanya sebentar. Mereka akan bosan dengan sendirinya, lagi pula itu sudah rejeki mereka, kalau kita menolak permintaan mereka, sama saja kita menghilangkan yang sudah menjadi hak mereka." Rudi berkata sambil membukakan bungkus plastik snack Dara.
Denisa dan Daniel mengiyakan dengan anggukan, kemudian mereka naik keatas untuk Daniel membersihkan diri, sebelumnya Denisa menitipkan Danish pada Dina.
Setelah menenani Daniel makan malam, Denisa mengajak anak-anaknya ke kamar. Daniel masih dibawah memastikan semua pintu terkunci, saat akan menutup pintu depan, ada mobil yang tak asing baginya memasuki pagar rumah mereka.
"Hai, Dan. Selamat malam." sapa Ricko tersenyum tulus pada Daniel.
"Hem." Daniel hanya bergumam.
"Aku mengantarkan buku papa yang tertinggal." Ricko menunjukkan buku besar milik papanya. Sangat terpaksa sebenarnya Ricko mengantar buku papanya yang tertinggal di klinik, dia juga malas bertemu Daniel yang masih cuek dan dingin padanya, padahal Denisa sudah menjadi miliknya, namun aura persaingan masih terlihat di wajah Daniel.
"Aku panggilkan." Daniel berbalik menuju kamar mamanya.
Ricko menunggu di ruang tamu.
Tak lama Daniel kembali lagi menemuinya.
"Tidak ada jawaban, mungkin mereka sudah tidur." Daniel berkata langsung, malas berbasa basi, dalam hati dia mengumpat papa tirinya.
Ricko mengangguk dan berdiri. "Tolong berikan ini pada papa. Dan maaf, aku baru bisa memberikan ini untuk anak kalian, selamat atas kelahiran putra kalian."
Daniel melihat paperbag yang diberikan Ricko. "Apa itu?" tanyanya mengangkat kedua alisnya.
"Hanya hadiah kecil."
"Oke, akan aku berikan pada Danish. Biar dia berterima kasih sendiri saat besar nanti."
__ADS_1
Ricko tertawa kecil mendengar ucapan Daniel.
Suasana hening sejenak.
"Kau tidak mau pulang? Maaf, ini sudah malam, aku tidak bisa memanggilkan istri ku, dia sudah lelah seharian ini, lagi pula kami tidak bisa menerima tamu lama-lama, gula dan kopi dirumah habis, jadi kami tidak bisa menyuguhkan untuk kamu jamuan apapun. Para pekerja disini sedang pulang kampung jamaah."
Ricko tertawa sambil mengangguk, saat dia akan berpamitan, papanya keluar.
"Ricko, anak papa?"
Ricko dan Daniel berbalik melihat kedatangan Rudi.
"Wah kamu sudah datang? Kenapa tidak memanggil Papa?" Daniel dan Ricko saling lirik.
"Aku pikir Papa sudah tidur."
"Ini baru jam sembilan, masa papa sudah tidur. Ayo mumpung ada kamu, kita ngopi sejenak." Rudi duduk di sofa, diikuti Ricko, Daniel masih berdiri menahan kesal.
Papa Ricko memanggil asisten rumah tangga mereka untuk membuatkan mereka kopi. "Sudah malam, papa masih ngopi?" Tanya Ricko.
"Sesekali, saat dibutuhkan bergadang. Daniel, tidak mau duduk? Sofa masih luas."
"Aku harus segera naik, istriku sudah menunggu. Kalian mengobrol lah."
"Ayolah, sebentar lagi mama juga keluar, kita ngobrol bareng." Dan Dina pun muncul membawa kotak kecil berwarna merah.
"Hai, sudah pada kumpul rupanya." Dina terlihat sangat senang, membuat Daniel curiga.
Dina duduk disamping suaminya. "Kita ada hadiah spesial untuk kalian," Dina meletakkan kotak yang dibawanya tadi diatas meja. "Bukalah." Perintahnya melihat Daniel dan Ricko bergantian.
Rudi merangkul bahu Dina saling melempar senyum.
Perasaan Daniel dan Ricko sudah tak enak. Mereka saling lirik.
Akhirnya Ricko mengulurkan badan, mengambil kotak itu, dan membukanya. Daniel was-was menunggu isinya dibuka. Ricko diam setelah melihat apa yang ada didalam kotak itu.
Dia menarik nafas. "Ini milik kalian?" Ditatapnya Papanya dan Dina. Keduanya mengangguk.
"Papa kira Kinan Jayadi."
"Kirain aman, ternyata jadi."
Tidak perlu melihat, tidak perlu juga dijelaskan, Daniel sudah tahu apa itu.
"Ma, bukankah waktu itu aku sudah memberikan untuk kalian? Kenapa bisa-" Daniel tak bisa melanjutkan ucapannya, dia mengusap dahinya frustasi.
"Kan sudah diberi tahu, Kinan Jayadi."
"Sudah lama juga mama tidak kedatangan tamu bulana, makanya Mama kira aman."
__ADS_1
Ricko yang pembawaanya selalu tenang seketika berdiri. "Oke, sudah malam, aku juga tidak tahu harus mengucapkan selamat atau apa? Jaga kesehatan kalian selalu, jangan sering-sering begadang, dan mulai sekarang jangan boros, kumpulkan harta waris yang banyak. Aku permisi."