
Jika bukan karena sang istri, mana tau Daniel yang namanya buah kesemek. Bentuk dan rupanya saja dia baru melihatnya sekarang, karena ngidamnya sang istri. Saat pertama mencoba, ia ketagihan dengan rasa buah tersebut yang memiliki rasa menyerupai sawo, tapi ada rasa-rasa pepayanya juga.
"Enak juga." pujinya sambil mengunyah buah tersebut.
"Makanlah yang banyak, Denisa waktu kecil senang makan buah ini," ujar Mama Denisa.
Kedatangannya kerumah sang mertua juga disambut hangat oleh mama Denisa, Daniel pikir jika mama Denisa masih marah padanya, ternyata itu hanya bentuk kekecewaan seorang ibu terhadap putrinya. Iya, hal yang wajar yang dilakukan mama Denisa jika dia marah pada anaknya tidak bisa menjaga marwah sebagai seorang perempuan, membayangkan Dara besar nanti berpacaran saja, Daniel belum sanggup, apalagi sampai Dara dihamili lebih dulu oleh laki-laki.
Rasanya kata maaf tak akan bisa menebus kesalahannya yang telah berbohong demi mendapatkan Denisa. Tapi dengan mudah dan entengnya mama Denisa mengatakan jika dia telah melupakan itu, dan berterima kasih padanya karena telah mau menjaga Denisa dan Dara dengan baik, jauh-jauh dari Jakarta ke Subang hanya demi memenuhi ngidamnya Denisa.
Pulang dengan membawa sekarung buah kesemek untuk dibagikan pada Delia dan Dania, bukan hanya buah kesemek, tapi juga sekarung beras hasil panen paman Denisa, juga setandan buah pisang.
Sungguh rejeki yang sangat luar biasa untuk Daniel, kehangatan dan keharmonisan seperti ini tak pernah ia rasakan. Di kota, yang dia tahu, satu saudara bisa saja tak akur hanya demi memperebutkan perusahaan atau harta warisan, tanpa mau berusaha sendiri, sungguh ironis.
Antara satu keluarga dengan keluarga lain bisa tidak saling bertegur sapa, bahkan putus hubungan hanya karena pembagian hasil waris yang tidak adil. Tapi yang ia lihat dikeluarga Denisa, harmonis, mereka saling mengasihi satu sama lain, bahkan dengan keluarga ayahnya masih berhubungan baik, walaupun ayahnya telah lama tiada. Dia saja, tak tahu lagi dimana dan siapa saja kerabat papanya.
Dan yang paling mengejutkan, Abian dan Mahesa begitu cepat datang saat ia memberi tahu jika ada oleh-oleh dari mama Denisa, padahal bukan sesuatu yang mewah, tapi mengapa mereka begitu antusias?
Padahal jangankan sekarung beras, membeli sawahnya saja Abian dan Mahesa mampu, tapi ini? Sungguh di luar dugaan, diapun jadi ikutan berebut saat merasa pembagiannya tak sama rata, bahkan setandan pisang nangka pun, Abian sampai mengukur mana yang paling besar, itu jatah dia, arogan sekali kakap iparnya itu.
Padahal seharusnya itu jatah dia, dia yang membawa jauh-jauh, belum lagi bensinya. Dan oh, Daniel baru menyadari, inilah nikmat yang sesungguhnya, dia tak pernah merasakan hal ini, memiliki saudara ipar Abian dan Mahesa, Daniel merasakan bagaimana rasa persaudaraan yang sesungguhnya itu.
"Sayang, aku datang ... "
Daniel masuk membawa sepiring buah kesemek pesanan istrinya.
Denisa masih terbaring dengan wajah pucatnya.
"Kakak udah pulang."
"Yuk bangun, aku suapin." meletakkan buah kesemek diatas meja, membantu istrinya bangun, menyusun bantal untuk dijadikan senderan Denisa.
"Kakak udah cobain?" tanyanya dengan suara yang sangat lirih, hati Daniel terasa teriris mendengarnya.
"Udah, enak." Daniel menarik kursi, duduk disisi Denisa .
"Tapi aku udah nggak pengen." Denisa melampirkan wajah tak enaknya.
"Apa?"
"Maaf."
Bahu Daniel merosot. "Sayang, apa kamu tidak mau cobain sedikit aja, aku ambil ini dari jauh loh, penuh perjuangan."
Denisa menutup mulutnya. "Tapi aku beneran nggak mau, liatnya aja udah enek."
"Sepotong aja sayang, ini beneran enak loh." Denisa menggeleng cepat seraya menutup mulut.
Menghembuskan nafas, Daniel meletakkan kembali buah itu diatas nakas, kalau sudah begini dia tak bisa memaksa.
"Yasudah nggak papa, nanti kalau kamu pengen apalagi, bilang ya." Denisa mengangguk lemah.
"Selama aku tinggal, kamu nggak papa, kan?" Denisa hanya menjawab dengan anggukan.
Daniel mengusap perut Denisa yang masih rata. "Kamu kuat kan ngidamnya begini?" Denisa mengangguk. "Tapi aku yang nggak kuat jauh lama dari kamu, aku pengen tidur sambil peluk kamu, cium kamu, pokoknya berdua sama kamu." rengeknya manja seperti anak kecil.
Denisa tersenyum, mengusap rambut lebat suaminya.
"Hai anak Papi, jangan buat Mami tersiksa donk, makan apa saja ya, jangan seperti ini. Kasihan Mami tidak bisa makan," ujarnya mengajak anak yang ada didalam kandungan Denisa bicara, mencium perut Denisa, seakan dia juga mencium anaknya.
"Besok hari pernikahan Mama. Aku nggak enak nggak bisa bantu mama apa-apa, Kak. Aku juga nggak bisa jagain Dara, hari ini mama pasti kereporan."
"Mama pasti ngerti keadaan kamu kok sayang. Kamu jangan pikir yang macam-macam, yang terpenting jaga kesehatan kamu dan anak kita. Aku sudah menyuruh orang untuk bantu-bantu mama." Dikecupnya kening Denisa dengan penuh sayang.
"I love you, Mi." Daniel mengusap-usap kening Denisa, membuat Denisa memejam menikmati usapanya.
* * *
__ADS_1
Hari ini merupakan hari pernikahan Dina dan papa Ricko.
Sedang terjadi sedikit drama dikamar Denisa.
Sambil berkacak pinggang, Daniel menarik nafas memperhatikan penampilan Denisa yang terlihat sangat cantik duduk dikursi roda, kaftan berwarna army yang ia kenakan, membuat Denisa semakin cantik.
"Baju couple kita nggak ada yang lain, Mi?"
"Ini couple pertama yang kita punya. Memangnya kenapa? Aku nggak cocok ya?" tanyanya melampirkan wajah sedih, couple yang mereka pakai ini Denisa pesan beberapa hari lalu melalui online.
"Kamu terlalu cantik, aku nggak rela nanti Ricko melihat kecantikan kamu."
Denisa menahan senyum, dia senang dicemburui suaminya. "Kakak masih cemburu aja, dia sudah mau jadi saudara Kakak, loh."
"Terserah," jawabnya ketus, lalu berjalan menjauh, Daniel menarik tissu diatas nakas. Kembali lagi menghampiri Denisa.
"Kakak mau apa?" Denisa menahan dada Daniel yang memegangi kepalanya.
"Lipstik kamu terlalu merah, nggak cocok dipakai kamu," Daniel menghapus bibir Denisa dengan tissue basah, ingin sekali ia mengapus lipstik Denisa dengan bibirnya, tapi takut membuat Denisa kembali mual.
"Kamu lebih cocok tanpa lipstik," ujarnya setelah menghapus habis lipstik Denisa, menyisakan bibir merah muda alami yang membuat Daniel makin terpesona, sungguh dia tak bisa mengendalikan dirinya lagi, Daniel berdiri, memegangi dadanya yang berdebar cepat.
Jangan sampai dia hilang kontrol dan menerjang Denisa saat ini juga.
Kini dia dibuat pusing sendiri, Denisa semakin terlihat cantik dengan sisa lipstik yang masih menempel. "Kamu nggak usah ikut kebawah, Mi. Hanya sekedar acara akad." putusnya.
"Tapi aku nggak enak sama mama, Kak. Masa aku nggak ikut menyaksikan hari bahagia mama."
"Mama pasti ngertiin keadaan kamu, sayang."
"Kakak cemburunya berlebihan, ini pertama kita pakai couple bertiga, Dara pake baju yang sama kayak aku."
"Kalau gitu kamu pakai daster yang biasa kamu pakai aja, nggak akan ada yang mempermasalahkan."
Tok tok tok.
"Denisa mana?"
"Denisa nggak ikut," jawabnya datar.
"Kenapa?"
"Badan Denisa lemah, Ma. Aku takut Denisa pingsan jika melihat banyak orang."
"Terus yang temani Mama siapa?"
Daniel melirik Dara yang digandeng Dina.
"Daniel sama Dara." Daniel merendahkan tubuhnya mengecup pipi Dara. "Maukan Princess Papi temani Nenek?"
"Memang Mami nggak bisa, Pi?" tanya Dara. Daniel mengangguk, dia berbohong. "Padahal Dara seneng pakai baju samaan kayak Mami."
"Dara suka bajunya?" tanya Daniel.
"Suka, Pi," jawab Dara sambil tersenyum lebar, "Dara seneng punya baju samaan sama Papi dan Mami, akhirnya Dara punya juga baju keluarga kayak teman-teman Dara pakai waktu lebaran sama kondangan." Lanjutnya.
Hal kecil yang sering luput dari perhatian orang dewasa, jika seorang anak menginginkan hal yang sama seperti temanya, hanya saja, anak kecil tak mengungkapkan keinginnanya secara gamblang, suatu keadaan memaksa mereka untuk memahami keadaan orang dewasa, dan akan berpikir jauh dari usianya.
Mampùs kan kamu, coba-coba mau bohongi mama. Bilang saja masih cemburu sama Ricko.
Akhirnya Daniel mengalah, mau tak mau mengizinkan Denisa turun.
Tak lama acara akad dimulai.
Acara akad ini berlangsung khidmat, hanya dihadiri kerabat terdekat dan tokoh masyarakat lingkungan tempat tinggal mereka.
Ricko dan Daniel tidak saling bertegur sapa, ini pertemuan pertama mereka setelah tahu jika orang tua mereka akan bersatu. Sebenarnya Ricko memberi senyum pada Daniel, hanya saja Daniel masih terbawa cemburu, karena sejak datang, Ricko masih mencuri-curi melirik Denisa, jadi dia enggan membalas senyum yang diberikan Ricko.
__ADS_1
Meski ini bukan pernikahan anak muda, tapi papa Ricko memberikan mahar pernikahan yang tak kalah mahar yang bernilai cukup fantastis.
Papa Ricko juga menghadiahi Dina sebuah mobil klasik idaman Dina.
Setelah acara akad selesai, mereka memberi jamuan sederhana untuk para tamu, Denisa memilih menyingkir, karena tak sanggup melihat makanan. Terlebih dahulu ia berpamitan pada Dina dan papa Ricko.
"Selamat Ma, Dokter Rudi atas pernikahannya, semoga langgeng sampai maut memisahkan." ucap Denisa pada mertuanya.
"Sayang, jangan sampai mendoakan mereka dapat momongan ya," bisik Daniel dibelakang kursi roda Denisa. Denisa tersenyum geli.
"Ehem. Apa kamu nggak mau kasih selamat ke kami, Ricko, Daniel?" tanya Papa Ricko.
"Ya, selamat atas pernikahan kalian," ucap Daniel sedikit terpaksa.
"Selamat." ujar Ricko juga sangat singkat.
"Kasih selamat jangan pelit-pelit, kalian hanya bermodal ucapan tanpa bayar atau dipotong pajak."
"Bukanya tadi Papa cuma nawarin buat kasih selamat? Kami sudah kasih ucapan selamat, kenapa malah nagih yang lebih?"
"Ah sudahlah, kalian jangan iri ya, dengan hadiah pernikahan yang Papa berikan, kalau kalian mau, belilah dengan uang kalian masing-masing. Kami ingin berbulan madu ke Bali selama sebulan."
"Apa?" Daniel dan Ricko kompak terkejut.
Papa Ricko dan Dina tersenyum, kedua anaknya kompak.
"Kalian kompak sekali ya, jadilah saudara yang akur."
Cih, najis.
Keduanya membatin.
"Daniel, Mama titip Dara, ya. Hanya sebulan saja."
Daniel sampai membuang nafas. Astaga, dia saja bersama Denisa hanya beberapa hari, kenapa yang lebih tua bulan madu lebih lama.
"Ingat Ma, jangan lupa konsumsi obat kb, aku tetap menjadi anak tunggal." pesan Daniel. "Dan tolong, berikan ini pada suami Mama, jangan lupa selalu gunakan ini." Daniel memberikan sebuah kotak kecil di telapak tangan Dina.
"Kami harus segera keatas, Denisa harus banyak istirahat, biar Dara bersama kami." Daniel pamit pada kedua orang tua barunya.
"Daniel." panggil Dina.
Daniel menoleh. "Kami akan ke Bali siang ini."
"Ya, hati-hati."
Dasar tidak sabaran.
"Aku juga sepertinya harus pulang, Pa. Papa hati-hati dijalan."
"Ya, terimakasih anak muda, tolong jangan terlalu lama dikamar, mangga akan matang jika disekep, kalau anak bujang sisekep, Papa tidak tahu akan jadi apa?"
"Ada pesan terakhir lagi? Mungkin ada yang lebih berfaedah?"
"Ahh, kami akan memberikan oleh-oleh untuk kalian."
"Pesan ku, Papa jangan lupa gunakan apa yang diberikan anak sambung Papa." Ricko berlalu pulang.
.
.
.
.
__ADS_1
Kira-kira, apa ya yang dikasih Daniel tadi?