My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Video Call


__ADS_3

"Kakakkkk KELUAR!" teriak Denisa seketika membalikkan badannya membelakangi Daniel. Malah memperlihatkan bagian belakang tubuhnya yang mulus membuat Daniel tak bisa berkedip.


Jika Denisa pikir Daniel menurut dan keluar, nyatanya TIDAK. Daniel malah masuk dan mengambil handuk yang tergeletak diatas kasur, dan langsung menutupi tubuh polos Denisa. Naluri lelakinya yang mendorong Daniel melakukan itu.


Bukannya ucapan terima kasih yang dia dapat, malah omelan yang dia dapat.


"Apa yang Kakak lakuin? Aku minta Kakak buat keluar." Teriak Denisa masih membelakangi, Daniel bergeming, membenahi handuk melilit tubuh Denisa. "Kakak KELUAR!" teriak Denisa lagi dengan kesal.


"Aku cuma bantuin kamu, Mami. Apa salahnya." ujarnya tanpa rasa bersalah. Denisa memejamkan mata menahan geram atas jawaban Daniel.


"Udah, sekarang udahkan? Kakak keluar."


"Kamu mau pake baju apa? Biar aku ambilin."


"Nggak PERLU!"


Lagi-lagi larangan Denisa seolah angin lalu bagi Daniel, dia membuka lemari Denisa, mencari pakaian rumahan untuk Denisa pakai. Asal tarik, Daniel mengambil daster tanpa lengan, dan langsung ingin mengalungkan dileher Denisa.


"Aku bisa sendiri." cegah Denisa dengan mata mendelik tajam.


"Aku ini bantuin kamu loh, Mi. Kamu kok bawel sih." Denisa menarik baju ditangan Daniel, langsung memakainya didepan Daniel, karena walau mengusirnya juga percuma, laki-laki itu tak akan mengindahkan peringatannya.


Setelah drama dikamar, keduanya memutuskan makan. Daniel dan Denisa makan dalam diam. Sesekali Daniel melirik Denisa yang mendiamkanya, wajah cantik Denisa terlihat tak bersahabat tapi menggemaskan. Hingga makan selesai, Denisa masih mendiami Daniel.


"Kamu kenapa diami aku, aku salah apa?" tanya Daniel sambil memasukkan bekas makan mereka kedalam plastik. Dia terlihat begitu santai dan tak menyadari kesalahannya.


Denisa masih diam, kesal, marah, malu, dan semuanya yang tak bisa terungkapkan oleh kata-kata membuat hatinya gondok.


Nih orang nyadar nggak sih sama kesalahannya.


Tak ingin berdebat lagi, karena merasa lelah dan mengantuk, Denisa beranjak ingin masuk kekamarnya. Tapi Daniel terlebih dahulu menarik tangan Denisa, membuat Denisa terduduk dipangkuanya, Daniel langsung mengunci tubuh Denisa agar tak bisa kabur.


"Lepas Kak, aku mau tidur, aku ngantuk." Denisa mencoba memberontak.


"Bilang apa salah aku, aku nggak mau kamu diami. Pernah dengarkan, kalau mau tidur itu hari harus bersih, nggak boleh ada rasa dendam sama orang, biar hari esoknya lancar, dan rejekinya juga lancar." Daniel beralasan agar bisa berduaan sebelum tidur.


"Kakak benar-benar nggak sadar apa kesalahan Kakak sama aku?" Daniel berpikir sejenak, kemudian menggeleng. Denisa mend3sah kesal.

__ADS_1


"Pertama, kesalahan Kakak bawa aku pulang sebelum tugas aku selesai."


"Kedua, Kakak nggak cerita kalau sudah menceraikan dokter Amanda."


"Dan yang ketiga, yang tadi." urai Denisa kesalahan Daniel yang membuatnya mendiami Daniel.


"Kamu mau aku jelasin yang mana dulu?"


"Terserah."


"Oke, berdasarkan urutan saja ya. Yang pertama, aku membawa mu kesini, karena aku ingin melindungi mu dari kesalahan ku. Apa yang aku lakukan pada Amanda membuatnya dendam sana kamu. Aku minta maaf." lirih Daniel tak menyangka jika akan berakibat fatal seperti ini, dan berakibat Denisa dan Dara yang menjadi korban.


"Kedua, karena aku ingin mengabulkan keinginannya pada mu. Dia ingin berada diposisi seperti kamu 'kan? Aku sudah mengabulkanya."


"Tunggu-tunggu, maksud Kakak mengabulkan keinginan dia bagaimana?" potong Denisa penjelasan Daniel.


Daniel menyelipkan rambut Denisa kebelakang telinga. "Maaf, aku masih menyadap alat telekomunikasi kamu sayang. Jadi aku tahu Amanda mengancam mu, dan memohon padamu agar kamu bisa membuat kami menikah. Aku mempermudah permintaannya padamu, agar kamu tidak mengalami kesulitan."


Denisa menelan ludah, tak tahu harus menaggapi apa. Daniel melakukan semua demi dirinya. "Sebenarnya Citra Medika Healt belum bisa melakukan misi rumah sakit apung, karena terkendala dana, tapi aku melakukannya, agar saat pengumuman pernikahan kami, kamu tidak merasa kecewa dan sedih, jadi sengaja aku melakukannya." Aku Daniel menatap dalam mata Denisa yang mengharu.


"Memang untuk apa aku bersedih, itu hak kalian?Kalian kan bertunangan," sahut Denisa membalas tatapan mata Daniel.


Denisa mengusap hidungnya. "Terlalu percaya diri," cibirnya.


Daniel tersenyum. "Maaf atas semua yang aku lakukan, besok kembalilah ke Jakarta, temui Dara, jangan meninggalkannya terlalu lama, aku akan menyusul kalian, aku akan menjemput kamu dan Dara, meminta restu dari Abian sekalipun."


"Kak ...." Denisa jadi bingung. "Bagaimana dokter Amanda? Aku merasa bersalah."


"Jangan pikirkan orang lain, pikirkan kebahagiaan kamu dan Dara, aku sudah meminta tim ahli untuk membantu menyembuhkan Amanda, aku tidak lepas tanggung jawab begitu saja."


Denisa menunduk, Amanda pasti merasa dunia tak adil padanya, dia telah menyelamatkanya dari kesusahan tapi malah merebut tunangannya.


"Hei, ada apa?" tarik Daniel dagu Denisa. Mata Denisa seketika basah oleh air mata.


"Aku merasa jadi wanita jahat buat dokter Amanda, Kak. Wanita yang tidak tahu berterima kasih."


"Aku juga punya hutang budi pada papanya sayang. Tapi kita tidak bisa memaksakan kehendak, aku tidak mencintainya, dan ini semua harus berakhir, aku yakin Amanda pasti mendapatkan laki-laki yang baik. Jika bukan kita yang bisa membalas jasa mereka, aku yakin ada orang lain yang membalas kebaikan mereka. Dan ini hanya masalah waktu, Amanda wanita yang pintar, dia pasti bisa menerima semua ini."

__ADS_1


"Kak, apa yang membuat Kakak mau kembali lagi sama aku, aku jauh dari kata sempurna, aku tidak memiliki keahlian apapun. Jika dibandingkan dengan kak Delia ataupun dokter Amanda, aku merasa tidak sepadan." Denisa menghapus air matanya.


Hati Daniel seakan diremas oleh penuturan Denisa, dulu dia begitu jahat mengatakan itu pada Denisa.


"Kamu istimewa, dan aku mencintai kekurangan mu, akan aku sempurnakan dengan kelebihan ku. Maaf atas semua dosaku padamu dulu Denisa, maaf." Daniel menubrukkan keningnya dengan kening Denisa, membuatnya saling menempel. Keduanya saling memejam, meresapi keadaan.


"Aku ingin menjawab yang ketiga Mami. Kamu marah yang aku lakukan tadi, tapi aku akan mengulangnya, membuat keadaan kamu seperti dikamar tadi."


Tak memberi kesempatan untuk Denisa berpikir, Daniel langsung menyerang bibir Denisa, keduanya saling membalas gigitan kecil di bibir masing-masing, hingga ciuman itu menjadi sangat panas. Lidah keduanya saling membelit dan bertukar saliva. Tangan Daniel pun tak tinggal diam, sudah bermain kemana-mana, berlabuh ke sisi paling sensitif milik Denisa, gundukan kenyal daging yang sempat ia lihat tadi menjadi sasarannya, membuat Denisa mengeluarkan suara merdu yang memacu adrenalin Daniel semakin memanas.


Entah siapa yang memulai, kini Denisa sudah tiduran di sofa panjang yang mereka duduki, dengan Daniel yang sudah mengungkung tubuhnya. Suhu tubuh keduanya semakin panas. Tangan Daniel dengan lihai menarik daster Denisa hingga lolos begitu saja dari tubuh Denisa. Daniel kembali menunduk, meraup ujung kecoklatan berbingkai pink milik Denisa.


Tangan Denisa menelusup, meremas rambut lebat Daniel menghalau sejuta rasa aneh yang membuatnya mabuk kepayang, apakah malam ini akan menjadi malam lima tahun silam, jawabanya adalah ponsel Denisa yang tak henti berdering diatas meja, nama Dara memenuhi layar ponsel Denisa.


Merasa terganggu, Denisa mengangkat kepala Daniel untuk menghentikan aksinya. "Kak, udah. Ada telepon." Daniel ingin mematikan panggilan itu, tapi saat dia melihat siapa yang menghubungi, diapun cepat menggulir tombol hijau itu keatas.


"Kakakkkk." Denisa menepis ponselnya begitu saja dari tangan Daniel.


"Miiii, kok gelap?"


*


*


*


Jika dipikir menangani Amanda begitu mudah, namun tidak pada kenyataannya, Amanda tak terima Denisa pergi bersama Daniel. Hatinya hancur, apalagi saat dokter psikolog datang, dia menjadi bertambah murka.


"Kenapa kamu memanggil dia untuk ku Ric? Aku tidak gila, kenapa kalian melakukan itu padaku? Mereka berdua penghianat, mereka berdua yang sudah membuat hidup ku hancur. Kenapa mereka harus hadir dalam hidup ku jika pada akhirnya mereka akan menjerumuskan ku kedalam jurang. Kenapa Ric?" tangis Amanda pecah, dia begitu merasa hancur dan dikhianati.


"Tenangkan dirimu Amanda, kamu tidak boleh begini, jika menurut mu mereka penghianat, biarkan saja, kamu jauh lebih baik dan hebat dari mereka. Jangan biarkan kehancuran menguasai kamu Amanda, beruntung tuhan menjauhkan mereka dari hidup mu, ini belum terlambat. Banyak yang lebih menyayangi mu Amanda."


Tenangkan Ricko Amanda, dia begitu iba melihat keadaan Amanda saat ini, mereka sudah bersama sejak kecil, tak pernah ia melihat Amanda sehancur ini.


"Ini semua juga salah kamu Ric, kalau kamu bergerak cepat, Daniel tidak akan kembali bersama mantan istrinya yang murahan itu." Amanda memukuli dada Ricko. Sudah seharian ini sejak mengetahui Daniel dan Denisa pergi, Amanda tak henti mengamuk, dia bahkan dibawa keruangan yang merupakan kamar Daniel dulu agar tak diketahui banyak orang. Ricko mengangguk pada dokter psikolog yang bersama mereka untuk memberikan obat penenang untuk Amanda.


Amanda pun terjatuh di dekapan Ricko, Ricko langsung membawanya ke tempat tidur. Ditatapnya wajah Amanda yang kelelahan karena menangis.

__ADS_1


"Lihatlah akibat keegoisan mu Daniel, wanita baik-baik ini menjadi hancur." geram Ricko.


__ADS_2