My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Sorgum


__ADS_3

Didalam hidup, tidak ada yang lebih menyenangkan ketika melihat senyum bahagia dari orang lain.


Dan sebaik-baiknya hidup adalah bisa bermanfaat untuk orang lain.


* * *


Setelah beristirahat semalam, pagi ini para dokter relawan rumah sakit Citra Medika Healt mulai bersiap dengan tugas mereka. Tak terkecuali Denisa, dia baru saja selesai melakukan panggilan video bersama Dara, walau hanya sebentar karena terkendala jaringan, itu sudah cukup untuk mengobati rasa rindunya.


Denisa berdiri didepan ponsel yang ia letakkan di atas kasur, yang belakangnya disanggah dengan bantal, bukan selfie, tapi Denisa sedang mematut penampilannya melalui layar ponselnya yang menggelap, tak kaca kaca besar atau meja rias disini. Ahh.... nikmatnya bertugas di pulau terluar, walau semua serba terbatas, dan jaringan sedikit sulit, ini akan menjadi pengalaman paling indah untuk Denisa.


Sebelum keluar kamar, terlebih dahulu Denisa mengetikkan pesan untuk Amanda, Denisa mendudukkan pantattnya diujung kasur single miliknya, jemarinya mulai bergoyang merangkai huruf-huruf yang akan ia kirim untuk Amanda.


"Selamat pagi Dok. Latar belakang laut ini adalah ucapan terima kasih ku yang tiada terkira, seperti luas samudra yang tak terukur bentanganya. Sungguh senang bisa bertugas disini, dan menjadi bagian dari relawan. Ini adalah pengalaman pertama yang akan aku ingat sampai nanti, aku bahagia bisa menjadi bagian relawan rumah sakit Citra Medika Healt."


"Selamat berbulan madu, Dok. Aku pasti akan mendoakan kebahagiaan selalu, untuk dokter Amanda dan pak Daniel. Dara pasti senang memiliki ibu sambung yang luar biasa seperti anda." Send, Dokter Amanda, centang satu, mungkin jaringan sedang buruk, pikir Denisa dalam hati.


Denisa memejam, meletakkan posel didadanya, ini adalah ucapan tulus darinya kebaikanmenghirup udara sebanyak mungkin, menahanannya sejenak, kemudian menghembuskan, meletakkan posel didadanya, ini adalah ucapan tulus darinya, kebaikan Amanda tidak bisa tergantikan dengan apapun. Denisa jadi heran sendiri, jika dikatakan sudah iklas, apa yang harus diikhlaskan? Jatuhnya Daniel kedalam pelukan Amanda bukanlah


dia sudah memikirkan hadiah apa yang akan ia berikan sebagai kado pernikahan


Dirasa sudah siap dan rapi, Denisa memgambil tas yang berisi segala perlengkapannya, segera keluar dari kamarnya.


"Selamat pagi," senyum merekah Ricko membuatnya terkejut.


"Mas Ricko, udah dari tadi disini?" Tanya Denisa dengan mata terbelalak.


"Emm," Ricko terlihat seperti berpikir, "kurang lebih tiga puluh menit."


"Apa?"


Ricko terkekeh melihat wajah terkejut Denisa. "Baru Nis, ampe syok begitu, yuk kumpul bareng yang lain, mereka sudah menunggu di aula."


"Kita telat ya?"

__ADS_1


"Nggak kok." tangan Ricko sudah terayun ingin menggandeng tangan Denisa, tapi Denisa terlebih dahulu memasukkan tangannya kedalam kantong celananya dan berjalan mendahului Ricko. Ricko hanya tersenyum tipis.


"Ciee dijemput pangeran berjas putih." Goda Sisi yang baru keluar dari kamarnya.


"Kuda putih kali ah Si," sahut Denisa yang langsung menggamit tangan Sisi, menyeretnya menuju aula.


"Gimana nih Dok, Dokter yang jemput aku yang digandeng, padahal lagi nggak nyebrang."Ricko menggaruk tengkuknya menaggapi godaan Sisi.


Di aula lantai tiga inilah, para staf, perawat, abk, dokter umum dan dokter spesialis berkumpul, mereka sarapan bersama, kemudian melakukan brefeing dan pembagian jadwal, karena para relawan akan melakukan pelayanan 24 jam.


Denisa dan Sisi kembali mendapat jadwal tugas bersama, dan mendapat jadwal pagi, begitu juga dengan Ricko.


Ternyata warga S4bu cukup antusias menyambut adanya rumah sakit apung ini, mereka berbondong-bondong datang untuk berobat, ada yang cek kehamilan, cek kesehatan, dan dihari pertama ini diadakan pendataan yang ingin melakukan operasi mata katarak, dan itu membuat para relawan sangat senang.


Jika kita menghabiskan waktu yang menyenangkan, bersama dengan orang-orang yang juga menyenangkan, walau dalam keadaan sedih sekalipun tidak akan terasa, dan itu yang dirasakan oleh Denisa, tanpa terasa jam tugasnya telah habis.


"Habis ini mau kemana Nis?" Ricko melepaskan sarung tangan medisnya, kemudian mencuci tangan di tempat yang sudah disediakan disana.


"Emangnya mau kemana lagi Dok? ya paling ke aula, tiduran dikamar, atau nggak bantuin yang masak." tutur Denisa. Sisi hanya menyimak saja obrolan keduanya.


"Jadi yang diajakin Dokter Nisa doang, nih? aku nggak diajakin?" Sisi yang sejak tadi merasa terabaikan keberadaannya, buka suara.


"Eh, ada Suster Sisi?" canda Ricko pura-pura tak melihat.


"Bukan Dok, tapi patung gajah," jawab Sisi kesal.


Ricko terkekeh, "sekalian, Dokter Jenny mau ikut nggak?" Dokter Jenny yang baru masuk ruang UGD terdiam sesaat.


"Eh, ikut kemana?"


"Jalan-jalan ke kota S4bu."


* * *

__ADS_1


"Dok, sorgum ini memiliki kandungan protein tinggi, dan rendah gula, aman ya kalau di konsumsi penderita diabetes?" Tanya Denisa pada dokter Evan, dokter ahli gizi yang juga menjadi relawan.


Saat ini mereka sedang menyantap makan malam di aula, selesai dari bertugas, dan diganti dengan tim dokter lain. Menu makan mereka malam ini, mengganti nasi dengan sorgum. Mereka duduk mengelilingi meja panjang didepan mereka, tanpa terasa sudah dua minggu mereka berada di S4bu.


"Iya, sangat aman untuk penderita penyakit diabetes, sebenarnya ini rekomen juga bagi penderita sakit gula." Jawab dokter Evan menatap Denisa.


"Kenapa kita tidak membudidayakan secara besar-besaran saja sorgum ini sebagai pengganti beras? Ditengah negara kita ketergantungan terhadap import pangan, rakyat sejahtera, pangam kita aman." Dokter Jenny, ikut berkomentar.


"Iya ya? seharusnya seperti itu, lumayan kan untuk penghasilan masyarakat S4bu Raijua sendiri," Ricko menunjukkan ponsel miliknya. "Aku barusan mencari tahu tentang sorgum lewat mbah gugel saat kalian membahas sorgum, aku jadi tertarik. Sorgum ini tumbuh subur ditanah tandus, sangat cocok sekali di tanah S4bu Raijua. Wah kalau diproduksi secara nasional, ini akan sangat menguntungkan." Ricko begitu bersemangat, dia seperti baru menemukan harta karun, dan seketika obrolan mereka menjadi sangat serius.


"Batang sorgum bisa diolah menjadi gula, tuak dan etanol, pabrik gula bisa produksi terus karena umur tanamnya cuma tiga bulan, ini bisa menjadi alternatif pengganti tebu yang masa tanamnya satu tahun. Sayang sekali masyarakat Raijua hanya panen satu tahun sekali, dan tidak diperjual belikan, tapi disimpan sendiri sebagai pengganti beras yang sulit didapat disini." Jelas Ricko.


"Sisa ampasnya bermanfaat juga loh untuk pakaian hewan, karena tidak sekeras ampas tebu." Wahyu, yang ikut bergabung dengan para dokter, tidak ingin ketinggalan, biar tidak kelihatan bodoh-bodoh amat katanya walau bergabung dengan para dokter. Sudah pasti dia ngintilin Denisa, atas perintah tuan rajanya.


"Berarti, sorgum ini bisa dikatakan tanaman seribu manfaat ya, bijinya bisa jadi pengganti nasi, batangnya bisa dijadikan gula, sisa ampasnya, bisa untuk pakan hewan." Denisa menyimpulkan dari pembahasan mereka.


"Dan satu lagi, jika ditanam disekitar sawah, bisa dijadikan jebakan hama padi." dokter Evan menambahi. "Sebenarnya di daerah demak juga sudah ada petani yang membudidayakan sorgum ini secara besar-besaran, saya pernah dengar sekitar 80 hektar-an. Ya, memang masyarakat kita belum banyak yang mengenal nama tanaman ini, dan masih sangat awam. Nanti setelah pak Daniel sampai sini, gubernur juga akan datang, kita bisa menyampaikan apresiasi kita." Saran dokter Evan yang diangguki para dokter lainnya.


"Kita berharap saja, pemerintah setempat mau membantu membudidayakannya."


Obrolan mereka berlanjut sampai malam, dan berganti obrolan santai.


"Perasaan dari tadi mba yang itu nggak ikut memberi masukan atau apa gitu? asik makan aja dari tadi, gimana nggak badanya melebihi induk gajah, orang diskusi dia masih ngunyah aja itu mulut." ujar Wahyu menunjuk suster Sisi.


Para dokter lain langsung menatap Sisi yang memang sedang mengemil. Sisi yang ditatap sedemikian rupa dari para temanya, menghentikan kunyahanya, dan berpindah langsung menatap tajam Wahyu, sangat tak terima, tatapannya pun seolah bisa mengoyakkan bibir Wahyu yang tidak bisa dikontrol.


Wahyu jadi menciut.


"Saya itu tidak ikut makan, saya biasa makan nasi, mana bisa saya makan sorgum-sorgum itu." Jawab Sisi ketus, dia langsung berdiri, dan bergegas masuk ke kamarnya, dia marah, merasa dipermalukan oleh Wahyu.


Denisa ikut menyusul Sisi, sebelumnya, berpamitan terlebih dahulu. Setelah memastikan keadaan Sisi baik-baik saja, Denisa berpindah kekamarnya.


Lelah membuat Denisa langsung tertidur. Baru saja Denisa merasa memejamkan mata, Denisa dibuat terbangun oleh wangi parfum yang sangat dikenalnya, Denisa langsung menyibakkan selimut, dan menciumi wangi selimut yang dikenakannya, jantung Denisa dibuat berdetak tak karuan, dia tahu parfum ini, hanya satu orang yang memakainya.

__ADS_1


"Astaga, ini tidak mungkin?"


__ADS_2