
Mobil Daniel telah sampai pada sebuah villa yang ada di Bandung. Mobilnya berhenti tepat didepan villa dua lantai berpilar batu alam, dan berdinding kaca, terlihat dari luar hordeng pitih
"Villa Dara," baca Denisa tulisan saat sampai didepan villa itu. Sejak diperjalanan dia bertanya pada Daniel mereka akan kemana, Daniel menjawab jika ini surprise.
Apa ini surprise yang dimaksud Kak Daniel?
"Tunggu, aku yang bukain," cegah Daniel saat Denisa ingin membuka pintu mobil. Setelah mematikan mesin mobil, dia bergegas turun dan sedikit berlari kecil memutar mobil, membukakan pintu untuk Denisa dan juga Dara.
"Kakak ngapain repot-repot? aku kan bisa buka sendiri," ucap Denisa. Walau mengatakan demikian, tetapi dalam hatinya merasa begitu senang.
Wanita memang seperti itu.
"Karena kamu spesial buat aku, jadi aku harus meratukan kamu."
"Gombal." Denisa mencebikkan bibirnya.
"Gombal sama kamu nggak papa Mi, asal jangan gombal sama cewek lain." Daniel mengerlingkan matanya.
"Dasar duda genit."
"Pi, ini kita dimana?" tanya Dara saat turun dari mobil, "ini rumah siapa?"
"Coba Dara baca tulisan itu," Daniel jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Dara, memutar badan Dara, menunjukkan sebuah tulisan dari kayu mahoni berbentuk bulat berlambang ukiran hutuf D.
"D, villa Dara," baca Dara cukup lancar. "Dara nama aku, Pi?" tunjuk Dara dirinya sendiri, Daniel mengangguk.
"Ini hadiah dari Papi untuk Dara, karena Dara sudah jadi anak yang pintar dan nurut sama Mami," Daniel mengacak rambut Dara dan mencium pipinya sayang. "Terima kasih sudah tumbuh menjadi anak baik selama Papi disurga."
Mendengar ucapan Daniel, Denisa mendongakkan wajahnya menghalau matanya yang sudah berembun, dia tidak suka Daniel yang berkata manis seperti ini, dia lebih suka Daniel yang bicara absurt, aneh saja rasanya.
Tak ingin berlama-lama, Daniel berdiri menggandeng Dara dan Denisa untuk masuk kedalam villa itu. Kedatangan mereka disambut oleh penjaga villa yang ia tugaskan menjaga dan membersihkan villa.
Setelah memberikan kunci villa, penjaga itu langsung pulang kerumahnya yang tak jauh dari sana.
"Kakak beneran beli ini untuk Dara?" tanya Denisa saat sudah masuk kedalam dan melihat isi villa yang cukup mewah.
__ADS_1
Daniel yang berjalan dibelakang dan membawa semua keperluan mereka yang sudah ia persiapkan sendiri memeluk pinggang Denisa. "Iya, kamu kurang suka sama interiornya, bisa kamu ganti," mata keduanya tertuju pada Dara yang sudah lebih dulu masuk kedalam kamar.
"Kapan?" Denisa menautkan kedua alisnya menghadap Daniel.
"Kamu itu mau tau aja, Ma-mi." Daniel menarik pipi Denisa gemas, membuat bibir Denisa tertarik dan fokus Daniel berpindah. Jika tak ada Dara sudah pasti dia akan menyambar bibir merah muda milik Denisa dan membuatnya sebengkak mungkin melebihi disengat tawon.
"Dara suka villanya?" tanya Daniel pada Dara yang sudah lompat-lompat diatas tempat tidur.
"Suka, Pi. Terima kasih ya Pi. Akhirnya Dara seperti teman-teman Dara, jalan-jalan, nginep di villa, sama Papi dan Mami," ucapnya turun dari tempat tidur. "Dara boleh lihat tempat yang lainnya, Pi?"
"Boleh, nanti kita akan sering kesini, tapi Dara harus bilang sama om Abian dan nenek, kalau Dara maunya Papi Daniel. Jangan lupa kasih tahu juga, Papi Daniel sudah belikan Dara villa, sekaligus buatin adik untuk Dara," ucap Daniel asal dan mendapat pelototan dari Denisa.
"Kakak ngomong apaan sih? ngajarin yang nggak benar sama Dara."
"Adik, buat Dara?" tanya Dara.
"Dara mau nggak?" tanya Daniel lagi melirik Denisa yang wajahnya sudah terlihat akan marah, tapi dia tak perduli itu.
"Mau-mau, kayak Awan dan Angkasa punya adik bayi lucu."
Daniel jongkok dihadapan Dara. "Bagus, nanti pas pulang bilang sama om Abian dan nenek ya, kalau mereka tanya Dara dari mana, jawab aja Dara temani Papi sama Mami bikin adek buat Dara." Dara mengangguk patuh, lalu berlari menuju pintu taman belakang.
Biasanya anak kecil akan menangis jika langsung diceburkan begitu, tapi berbeda dengan Dara, dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan dan tertawa senang.
* * *
Kebahagiaan yang dirasakan Denisa dan Dara berbanding terbalik dengan keadaan dirumah kakaknya.
Delia sedang mondar-mandir gelisah menekan layar ponselnya saat mendapati pesan dari Denisa yang mengatakan dia ingin menginap ditempat temanya, dia tahu Denisa tidak memiliki teman dijakarta, lalu kemana adiknya itu pergi?
Bukan hanya itu, tadi setelah Denisa pergi, kedua satpam rumahnya juga memberitahu jika semalam ada orang menyelinap masuk kerumah mereka, dan menceritakan kronologis yang terjadi.
Bak diberi hadiah luar biasa oleh adiknya, Delia begitu terkejut saat mengetahui jika itu Daniel. Dan terjawab sudah kemana adiknya itu sekarang, dia pasti pergi bersama Daniel.
"Berarti semalam aku nggak salah dengar, Denisa memang sedang mengobrol dengan orang lain, dan itu Daniel. Astaga Denisa," geram Delia, "udah punya anak masih nakal aja, Daniel benar-benar membawa pengaruh buruk dalam hidup Denisa."
__ADS_1
Delia memijit kepalanya pusing sekali rasanya, dia malu pada Abian karena Denisa mengabaikan perintah Abian yang tak suka pada Daniel, selain Abian tahu betapa bobrroknya Daniel, perbuatan Daniel pada Delia juga belum seratus persen Abian memaafkan laki-laki itu.
Sekarang laki-laki mana yang mau memiliki ipar seseorang yang ingin melecehkan istrinya?
Pintu kamarnya dibuka, mama masuk menggendong Aira yang sudah tidur.
"Delia, kenapa? kamu kelihatan gelisah begitu?" tanya Mama meletakkan Aira dikeranjang tidurnya.
"Nggak papa, Ma." jawabnya bohong, dia belum mau mamanya tahu jika Denisa pergi bersama Daniel. "Aira bobok Ma?" Delia berjalan menuju keranjang Aira.
"Iya nih, abis main tidur sendiri di ruang tamu tadi." jelas mama, "Mama nggak lihat Dara sama Denisa, kemana mereka?"
"Lagi ke mini market depan sebentar." Lagi-lagi Delia harus berbohong, sungguh dia dibuat kesal oleh kelakuan Denisa. p⁹
Nekat sekali adiknya itu, sudah dilarang Abian dan mamanya, tapi masih saja berhubungan dengan Daniel, dia takut keduanya memilih jalan pintas agar mendapat restu.
"Denisa kamu benar-benar cari gara-gara," geram Delia meremas ponselnya kesal nomor Denisa sudah tidak bisa dihubungi lagi.
Tak berselang lama, terdengar suara Abian berseru memanggil namanya.
"Sayanggg, aku pulang," Suara Abian menaiki anak tangga begitu menggema. Dada Delia berdebar, bagaimana dia akan menjelaskan kenakalan adiknya pada sang suami.
"Abian sudah pulang?" tanya Mama.
"Kayaknya, Ma. Aku samperin dulu, ganggu Aira tidur suaranya." Delia membuka pintu kamar, ternyata suaminya itu sudah ada didepan pintu seraya merentangkan kedua tanganya. Delia memberikan hadiah pelukan, lalu berjinjit mengecup rahang dan bibir Abian.
"Aku pulang bawa seseorang, kamu pasti kaget siapa?"
"Emang siapa?" tanya Delia mendongak.
"Coba tebak, siapa?"
"Siapa sih?" Delia mulai penasaran, sedikit melupakan adiknya.
"Eh Mama adakan?" Delia menganguk.
__ADS_1
"Ada."
"Aku juga mau kenalin dia ke mama, mama pasti senang aku bawakan seseorang."