My Own Path : Red Phoenix

My Own Path : Red Phoenix
Ch 19 – Persiapan Untuk?


__ADS_3

Besok paginya Claude seperti biasa mengerjakan pekerjaan sehari – harinya, membersihkan rumah, menyapu halaman, membakar rumput kering dan mengambil sarapan, serta menunggu Tanhill bangun dari tidurnya.


Bersamaan dengan Claude selesai menyiapkan makanan Tanhill keluar dari kamarnya.


“Oh, sarapan sudah siap ternyata” Tanhill segera bergabung dengan Claude dan mulai menyantap sarapannya.


“Bagaimana kondisi mu sekarang nak? Apa yang kau rasakan?”


“Kondisiku baik – baik saja paman, malah aku merasa bertambah kuat dan aku tidak sabar ingin segera kembali ke hutan dan mencoba menggunakan kekuatanku” Claude menjawab dengan wajah yang bersemangat.


“Tapi sayangnya hari ini, kau tidak kuizinkan untuk pergi ke hutan”


“Hah kenapa paman? Baru saja kemarin kau mengizinkanku mengapa sekarang kau melarangku lagi” Claude menggerutu tidak terima ucapan pamannya.


“Ini juga akibat perbuatanmu kemarin lusa, lihat sekalinya kau di bebaskan, kau banyak sekali berulah, pergi menantang Poison Stinger apa kau tidak sayang nyawamu? Masih untung kau masih bisa pulang kerumah” jawab sengit Tanhill.


“Maafkan aku paman” Claude menunduk “Baiklah, aku tidak akan banyak berulah, aku janji akan pulang ketika sore tiba, dan tidak akan pergi terlalu jauh kedalam hutam, dan tidak akan mencari masalah lagi, jadi kumohon izinkan aku untuk pergi ke hutan ya paman” Claude mengiba.


“Tidak, sekali ku katakan tidak ya tidak” jawab Tanhill tegas “Hari ini kau akan menemaniku berjalan – jalan di kota, kita harus menjual beberapa pill untuk beberapa keping uang”


“Ya paman” jawab Claude lesu.


Claude tidak mendebat pamannya lagi, karena ia tahu jika Tanhilll sudah mengeluarkan ekspresi seperti ini, maka keputusannya tidak bisa dirubah.


Claude tidak mengerti mengapa paman Tanhill melarangnya pergi ke hutan, meskipun Claude mengaku salah atas kejadian kemarin lusa tetapi ia juga mendapat panen yang sangat bagus, yang setara dengan apa yang telah Claude pertaruhkan.


Claude tahu bahwa dirinya telah menaikan ranah nya sendiri, dan sebuah keharusan bagi orang yang menaikan ranahnya, untuk mencoba mengeluarkan segenap kemampuannya, untuk mengukur sampai mana batas kekuatan dari kenaikan ranah tersebut.


Namun sekarang Claude yang sedang semangat – semangatnya ingin mencoba batasnya, malah disuruh menemani pamannya berjalan – jalan di kota.


“Tapi paman, jalan – jalan dikota ...”


“Ssst diam !!!” Tanhill segera memotong ucapan Claude.


Claude diam.


Mengantar Tanhill ke kota bukan yang pertama kalinya bagi Claude, malahan sudah terlalu sering Claude diajak Tanhill. Oleh karena itu Claude tahu apa yang akan terjadi nantinya di kota.


Sebuah adegan tawar menawar yang ketat muncul dalam benak Claude. Adalah pamannya sendiri Tanhill dan seorang saudagar toko obat, mereka mendiskusikan kesepakatan harga untuk pil – pil yang dibuat Tanhill, dan selama proses itu berlangsung Claude selalu diterpa kebosanan tingkat dewa dimana dia hanya duduk di sudut ruangan tidak mengerti apa yang para orang tua itu bicarakan.


Sampai beberapa waktu kemudian Claude melihat keduanya berjabatan tangan, paman Tanhill memberikan beberapa puluh botol giok berisi pill buatanya, sedangkan saudagar itu memberikan sekantung koin emas.


Di Grand Middle Earth proses jual beli antara pedagang dan pembeli dilakukan dengan menggunakan tiga jenis mata uang yakni koin perunggu, perak dan terakhir emas.


Satu koin perak bernilai seratus koin perunggu, serta satu koin emas bernilai seratus koin perak.


Sebagai contoh kedai makanan punya bibi Wad biasa menjual makanannya seharga 10 koin perunggu, sedangkan untuk restoran di kota biasanya mereka akan menjual makanan mereka antara 20 sampai dengan 50 koin perunggu, dan khusus untuk daging Wild Beast terkadang bisa mencapai beberapa koin emas tergantung kualitasnya.


Sedangkan untuk penginapan, Behemoth City menyediakan beberapa penginapan dengan biaya termurah adalah 50 koin perunggu bergantung kualitas penginapannya, harga sewanya juga semakin tinggi.

__ADS_1


Jadi jika dipukul rata biaya hidup di Behemoth City ini minimal membutuhkan 1 koin perak perharinya. Itu berlaku untuk para pedagang atau petualang yang datang ke Behemoth City, sedangkan untuk para pribumi tentunya tidak sampai setinggi itu.


Sedangkan untuk komoditas pill dan senjata, mereka memiliki harga nya sendiri, yang bisa dibilang sangat mahal, pill biasanya dijual dalam batch atau satu botol giok dengan harga termurah mencapai 10 koin perak.


Sedangkan untuk senjata jika senjata itu terbuat dari bahan besi biasa, biasanya berkisar antara 1 – 2 perak tetapi jika bahan senjata terbuat dari Wild Beast biasanya harga termurahnya bisa mencapai 50 koin perak.


“Terima kasih atas makanannya, nah nak ayo bersiap kita berangkat sekarang”


“Iya sabar dulu paman, aku harus membereskan mangkuk – mangkuk ini terlebih dahulu”


Claude segera membereskan mangkuk – mangkuk nya.


Beberapa saat kemudian kedua pasang paman dan keponakan ini tengah berada di sebuah toko pill tempat biasa Tanhill menjual pill – pill nya.


“Ayolah saudagar Fang, kita sudah bertransaksi begitu lama, mengapa kau tidak mau sama sekali menaikan sedikit bayaranya” Tanhill berusaha bernegosiasi.


“Aiya, bukan oe tidak mau menaikan harga barang kamu punya, tetapi kualitasnya segitu – segitu saja, sudah untung oe tidak potong harganya, kalau kamu ingin harga naik, kualitasnya juga harus dinaikan” saudagar Fang menjawab dengan logat yang khas.


“Ayolah saudagar Fang, kau juga tahu sendiri, pill buatanku ini cepat habis terjual sudah menunjukan bahwa kualitas pill – pill ku ini sangat bagus”


Kemudian seperti biasanya kedua orang tua ini berdebat, namun kali ini sedikit agak cepat, Saudagar Fang dengan cepat menyepakati permintaan Tanhill


“Huh, jika bukan karena anakku memerlukan beberapa pill buatanmu, oe tidak akan sebaik hari ini, beruntunglah dirimu” ucap saudagar Fang menyerahkan sekantong koin emas.


“Terima kasih saudagar Fang, nak ayo kita berangkat lagi” Tanhill dengan segera menyudahi percakapannya dan mengajak Claude untuk pergi ketempat selanjutnya.


“Kau juga akan tahu sebentar lagi”


Setelah melalui beberapa belokan, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah rumah dengan asap membumbung tinggi dari cerobongnya, tanda bahwa si pemilik rumah sedang bekerja dengan perapiannya, bukan hal yang aneh karena tulisan di depan rumahnya bertuliskan Blacksmith.


“Untuk apa kita datang kesini paman?”


“Untuk membuat senjata lah”


“Untuk siapa?”


“Untukmu”


“Untukku? Tapi aku tidak memerlukan senjata apa – apa paman, mengapa aku aku harus membuat senjata” jawab Claude bingung.


“Nak kau banyak sekali bicara, bisa tidak kau ikuti saja pamanmu ini, dan tutup mulut baumu itu” Tanhill mulai gusar.


“Aku tidak bisa menutup mulutku begitu saja paman, jelas bahwa senjata ini untuk ku gunakan, jadi aku harus tahu apa ... Adawwww” Claude berteriak memegangi kepalanya yang baru saja terkena kepalan tangan Tanhill.


“Oke sekarang kita akan masuk kedalam” Tanhill memimpin jalan sedangkan Claude dengan ekspresi meringisnya mengekor dibelakang Tanhill.


Rumah ini terlihat biasa saja, pekarangan kumuh ruangan depan penuh debu yang kelihatannya tidak pernah dibersihkan sama sekali, bahkan di ruangan tengah pun tidak ada apa – apa selain satu meja dan beberapa kursi. Benar – benar ruangan yang sunyi sepi.


-Clang clang-

__ADS_1


Namun berbeda dari ruangan depan, ruang belakang tampak hidup, terlihat dari beberapa percikan api dan pancaran hawa panas dari pintu penghubung yang terbuka lebar.


Tanhill dan Claude segera menuju ruangan belakang. Dan dilihatnya seorang pria paruh baya sedang memukul – mukul sebuah besi panas di atas peronnya dengan sikap yang penuh konsentrasi takut sebuah kesalahan terjadi.


Dan harus Claude akui ia kagum dengan sikap dan konsentrasi yang diperlihatkan pria ini.


“Nak kita tunggu sebentar, tunggu dia menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu baru kita menyapa dia, ingat pelankan suaramu jangan ganggu konsentrasinya” Tanhill setengah berbisik memperingatkan Claude.


“Tanpa kau jelaskan pun aku mengerti paman” jawab Claude lirih.


Kemudian keduanya duduk menunggu sambil memperhatikan pekerjaan pandai besi tua itu.


Beberapa saat kemudian, pria itu memukul besi itu untuk terakhir kalinya, mengamati mata pedang yang baru saja ia buat, kemudian tersenyum puas atas hasil dari pekerjaannya.


“Oh ternyata kau datang berkunjung, ada apa ... ada apa, maaf menunggu lama aku terlalu berkonsentrasi dengan pekerjaanku” pria itu sadar bahwa Tanhill sudah duduk di sudut ruangan.


“Tak apa George, aku sudah terbiasa dengan pekerjaanmu, yah sudah lama saja aku tidak berkunjung kemari dan memeriksa keadaanmu, apa kau baik – baik saja George, tidakkah kau mau menemaniku dengan segelas dua gelas minuman” Tanhill menjawab sapaan pria pandai besi yang bernama George.


“Heh Tan tua, aku tahu tabiatmu, kau tidak akan datang kesini jika kau tidak mempunyai maksud tertentu, segera nyatakan kau juga tahu aku tidak suka berbasa - basi”


“Cih kau harusnya mulai merubah kebiasaanmu itu, basa – basi itu penting, menyelamatkan kita dari pekerjaan yang merepotkan, kau tahu hanya dengan ucapan saja kita bisa mendapatkan apa saja, tanpa harus mengeluarkan tenaga”


“Yah itu kan sudah menjadi tugasmu, tugasku hanyalah bermain dengan palu dan nyala api, aku tidak terlalu tertarik dengan apa yang kau maksud” ucap George sinis


“Di moment inilah aku benci berteman denganmu” jawab Tanhill tidak kalah sinis.


“Hoy hoy, kalau begitu jangan berharap dapat senjata gratis lagi dariku, terakhir kali kau mendapatkan sebuah busur kecil dariku dan aku tidak meminta bayarannya ...”


“Ya aku tahu” Tanhill memotong ucapan George, ia kemudian menyodorkan dua buah taring Poison Stinger yang telah Tanhill keluarkan dari Storage ringnya “Bagaimana menurutmu?”


“Wow bahan yang bagus, mau kau jadikan apa kedua taring ini?”


“Dagger, bagaimana?”


“Bisa – bisa saja” George merenung “Ya kedua taring ini memang sangat cocok dijadikan Dagger, tapi untuk siapa?”


“Anak itu” Tanhill menunjuk Claude yang duduk dibelakangnya.


“Ouh kau benar – benar mempersiapkannya dengan baik” George tersenyum kearah Claude.


“Yah hanya itu yang bisa kulakukan” Tanhill juga tersenyum lemah.


Sementara itu Claude kebingungan dengan percakapan dua orang tua ini.


“Mempersiapkan ... mempersiapkan untuk apa?”


----------


jangan lupa tombol like di tekan ya teman - teman, terima kasih :)

__ADS_1


__ADS_2