
“Apa yang sudah kau lakukan?” Tan Qiang kebingungan melihat banyaknya cairan abu – abu menggenang di tanah, namun tidak terlihat bekas pertarungan hebat di area sekitarnya.
“Yah tidak banyak, aku hanya membersihkan hama penyakit yang tidak berguna, kau juga tahu Soul Eater itu makhluk yang tidak berguna bukan?” Tanhill mengangkat bahunya seolah kematian Wen Qi tidak terlalu berarti untuknya.
“Kau membunuh Wen Qi?!!” Tan Qiang berseru lantang tidak percaya dengan pemikirannya sendiri “Berani sekali kau membunuh rekanku, kau pasti tidak mengetahui identitas kami bukan, kami adalah bangsawan kekai...”
“Bangsawan ... bangsawan ... heh kalian pelayan Desolate, sudahlah hentikan sandiwara kalian dihadapanku, itu semua tidak berguna” Tanhill memotong ucapan Tan Qiang.
“Kau ... bagaimana kau bisa tahu?” sebuah jejak kengerian muncul di dalam benaknya, sebodoh – bodohnya Tan Qiang ia tahu tidak akan bisa mengalahkan pria dihadapannya yang kemungkinan telah membunuh membunuh Wen Qi dengan mudah, dan kini pria tersebut mengetahui identitas asli mereka, Tan Qiang harus segera melaporkan informasi ini kepada Lim.
Tan Qiang segera menyuntikkan energi kehidupannya pada Storage Ring, mengambil Sound Stone kemudian digenggamnya, namun disaat Tan Qiang akan menghubungi Lim, terdengat suara pria didepannya.
“Pemikiran yang tepat, tetapi sayangnya kau berhadapan dengan orang yang salah, Leaf Incision” kembali Tanhill menggerakan jari telunjuknya langsung mengarahkannya ke tangan Tan Qiang yang memegang Sound Stone.
Setelah itu seketika puluhan dedaunan dari pohon yang berada dibelakang Tanhill lepas dari pohonnya, dedaunan tersebut seketika berubah menjadi pisau – pisau kecil yang kemudian melesat cepat dan tajam kearah Tan Qiang.
-srashh-
Pada detik berikutnya pergelangan tangan Tan Qiang sudah terlepas, terpotong rapi meninggalkan lengannya.
Serangan Tanhill terlalu cepat, bahkan Tan Qiang gagal untuk bereaksi, Tan Qiang baru sadar ketika dilihatnya darah menyembur keluar dari tangannya.
“Argggghhhhhh” Tan Qiang segera menutup aliran darah pada lengannya. Namun, tubuh Tan Qiang yang sudah lemah setelah bertarung dengan Coda, semakin melemah akibat serangan dari pria yang tidak diketahuinya.
“Kau masih belum menyadari, sedang berhadapan dengan siapa kau sekarang?” Tanhill kembali berrtanya.
“Siapa kau sebenarnya?” Tan Qiang masih tidak mengetahui identitas Tanhill.
“Yah karena kau lebih bodoh dari Soul Eater disana, tidak akan ada hal menarik yang bisa kugali darimu, Leaf Incision” Tanhill kembali menggunakan skill nya, bedanya sekarang Tanhill mengarahkannya langsung kearah kepala Tan Qiang.
Sepeti halnya tangan Tan Qiang, kepalanya juga terpenggal rapi, kemudian Tan Qiang meninggal seketika dengan wajah dipenuhi rasa kaget.
“Mengajak seorang High Elf bertarung dihutan, kalian pasti bercanda” Tanhill mencibir, kemudian bergerak kearah Claude.
“Hari ini aku membunuh dua orang pelayan Desolate demi dirimu, yah meskipun aku tidak perlu bertanggung jawab atas nyawa mereka, tetap saja aku membunuh sekutu ku sendiri, kuharap kelak dimasa depan kau bisa membalasnya lebih dari apa yang ku harapkan” Tanhill mengelus kepala Claude, kemudian menggendongnya dan mulai berjalan mencari keberadaan Ashura.
Dalam perjalanannya Tanhill menemukan mayat Coda yang terbaring kering kerontang hanya menyisakan tulang berbalut kulit saja pada mayatnya, “Kemampuan yang mengerikan, dan aku apresiasi kegigihan dan keberanianmu” Tanhill jelas mengetahui ciri – ciri dari skill Knight Will yang dilepaskan Coda.
Sementara itu, tidak seperti pertarungan antara Tan Qiang melawan Coda yang saling mempertaruhkan nyawa, pertarungan diantara Ashura dan Vargas berjalan alot, karena kedua pihak saling menunggu dan memperhatikan, Ashura tidak mengeluarkan semuanya karena ia ingin melepaskan diri dari Vargas dan segera mengejar Claude.
__ADS_1
Sedangkan Vargas menahan diri karena ia sedang mencari celah dalam pertahanan Ashura, karena Vargas tahu lawannya kali ini tidak mudah untuk di kalahkan, jika Vargas salah mengambil momentum atau timing bisa saja keadaan berbalik dan tidak menguntungkannya.
“Haha aku yakin anak itu sekarang sudah terbunuh, aku ingatkan sekali lagi, dua orang yang berlari mengejar anak itu, memiliki kekuatan yang hampir sama sepertiku”
“Membunuh dua anak kecil bagi mereka seperti permainan anak kecil, sekarang kau menyerah saja dan tinggalkan tempat ini, tidak ada lagi harapan bahkan jika kau pergi menyusul mereka” Vargas ingin menggoyahkan pemikiran Ashura.
“Aku tahu kemampuan muridku sendiri, dia lebih dari mampu membuat sebuah keajaiban” meskipun Ashura membela Claude, tetapi dalam hatinya ia tidak benar – benar mempercayai kata – katanya sendiri.
“Oh jadi anak itu adalah muridmu, sayang sekali bukan aku yang membunuh anak itu, jika saja aku yang membunuhnya aku akan sangat puas hahah” Vargas masih belum menghilangkan amarahnya jika mengingat anak kecil yang berani menghina dirinya.
“Sebelum kau berbicara omong kosong, sebaiknya kau perhatikan pertahananmu sendiri” Ashura melihat sebuah celah yang langsung dilanjutinya dengan serangan Dagger, meskipun luka yang dihasilkan dangkal, tetapi dua serangan beruntun berhasil melukai pinggang dari Vargas.
“Hahahah, silahkan saja kau serang aku sepuasmu, bagiku semua serangan payahmu tidak berguna sama sekali hahah”
Seperti yang diucapkan Vargas, serangan biasa Ashura memang tidak berefek terhadapnya, karena setiap serangan Ashura masuk dan menyayat kulit Vargas, seketika juga luka nya berangsur menutup dan sembuh dengan sendirinya.
‘Sial mengapa disaat seperti ini aku tidak memiliki racun yang bisa melumpuhkannya’ Ashura menggerutu dalam pikirannya ‘Dan bagaimana bisa aku menyelamatkan anak itu jika aku tidak bisa melumpuhkan atau kabur dari orang ini’.
Jika saja Ashura memiliki salah satu jenis Poison penghambat regenerasi, maka sudah sedari tadi Vargas tumbang, tanpa perlu berlama – lama bertarung dengannya.
Namun sayangnya Ashura lupa batch terakhir Poisonnya telah ia gunakan ketika berburu di Red Flower City, dan karena ia disibukan dengan gerakan para Goblin membuat Ashura lupa tidak mengisi persediaannya di Behemoth City.
Hanya orang – orang seperti Vargas yang percaya diri terhadap kekuatannya sendiri yang berani tidak membawa atau memakai Poison, karena selama Vargas dapat menggores atau memberikan luka terhadap lawannya, maka Blood Rage yang mengerikan bisa ia aktifkan.
Seperti itulah pertarungan antar keduannya tidak terlihat seperti pertarungan sesungguhnya, malah lebih terlihat seperti aku menyerang dan kau bertahan, kemudian aku menyerang dan kau menghindar.
“Kau tidak sedang bersungguh – sungguh bukan, dimana kekuatanmu,? dimana Poison mu,?” lagi – lagi Vargas berusaha memprovokasi Ashura.
“Aku tidak membutuhkan Poison untuk mengalahkanmu”
“Hahaha, kau tidak membutuhkannya, atau kau tidak mempunyainya, hahah kurasa kau tidak mempunyainya, untuk seorang Assassin tidak memiliki Poison bagaimana bisa kau mempermalukan job mu sendiri hahah”
“Hei Ashura, mau sampai kapan kau membiarkannya terus berbicara omong kosong seperti itu, apa kau tidak lelah mendengarnya” tiba – tiba terdengar suara seorang pria malas dari arah belakang Ashura.
Mendengar seseorang datang, membuat keduanya menghentikan pertarungan dan saling menjauh satu sama lain, mereka terlalu waspada tentang siapa membantu siapa atau siapa menipu siapa.
Kemudian Tanhill keluar masih dengan menggendong Claude di punggungnya.
“Tuan, sedang apa kau disini? Terus itu Claude, apa yang telah terjadi?” Ashura segera mengenali siapa yang datang, namun jejak kebingungan nampak terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
“Aku kebetulan saja datang kehutan ini untuk memberikan sesuatu untuk anak ini, tetapi ketika di perjalanan aku melihatnya sudah sekarat, namun tenang saja aku sudah mengobatinya, sekarang anak ini aman,”
“Lalu bagaimana dengan mereka yang bersama dan mengejar anak ini?”
“Maksudmu?” Tanhill pura – pura tidak mengerti.
“Anda tidak melihat apapun, bekas pertarungan atau apa” Ashura bergerak mendekat, sedangkan Vargas memilih diam dan mendengarkan sebelum nanti ia memutuskan harus melakukan apa.
“Oh iya aku melihat seorang mayat tuan Coda dan mayat seekor Golden Monkey beserta bekas pertarungan yang hebat, tapi itu semua tidak terlalu penting, sekarang apa yang sedang kau lakukan, tidakkah kau malu dengan gelarmu sendiri mengapa kau masih berputar – putar melawan seorang bandit gunung, mengapa kau tidak menyelesaikannya dengan cepat” Tanhill balik bertanya kepada Ashura.
“Aku terlalu mengkhawatirkan anak itu jadi aku tidak bisa dengan bebas menggunakan semua kemampuan dan skillku” Ashura menunjuk kearah Claude.
“Poison?”
“Aku lupa membelinya” Ashura tersenyum canggung.
“Kau ...” Tanhill sampai tidak bisa berkata – kata mendengar pengakuan Ashura.
“Sudahlah, sekarang anak ini sudah aman bersamaku, dan aku ingin kau mencoba memakai ini” Tanhill kemudian mengeluarkan sepasang Dagger yang masih tersarung rapi dari Storage Ringnya.
“Dagger? Tapi ...” Ashura menerima Dagger yang dilemparkan Ashura.
“Kau coba saja dulu, itu mainan yang kubeli untuk anak ini, kau coba dulu apa memang Dagger nya layak atau tidak”
“Nama Dagger nya adalah Cross Venom, kau coba alirkan energi kehidupanmu kemudian Dagger itu akan merespon, tips dariku, kau sebagai penggunanya juga harus berhati – hati jangan sampai terkena serangan Dagger itu” Tanhill memberikan penjelasan singkat mengenai Cross Venom.
Mendengar penjelasan Tanhill, Ashura segera mencabut Dagger tersebut dan mulai mengalirkan energi kehidupannya, pada saat itu juga bilah pada Dagger mengeluarkan aura hijau yang pekat.
‘Poison?’ Ashura terkejut merasakan energi samar yang keluar dari Dagger.
Sama halnya dengan Ashura, Vargas yang sedari tadi memperhatikan juga terkejut ketika dilihatnya aura poison keluar dari bilah Dagger, ‘Sial, aku harus segera kabur, firasatku tidak enak’ saat itu juga Vargas berbalik bersiap kabur.
Namun pergerakannya diketahui oleh Ashura, dan dengan sekejap Ashura sudah menghadang Vargas.
“Yo, kau mau pergi kemana? Pertarungan kita belum selesai”
----------
jangan lupa tombol like di tekan ya teman - teman, terima kasih :)
__ADS_1