My Own Path : Red Phoenix

My Own Path : Red Phoenix
Ch 30 – Evaluasi


__ADS_3

Dibalik ekspresi datarnya Ashura memikirkan sesuatu ‘Hmm, aku menemukan kelemahannya, anak ini jelas tidak terbiasa ketika melepaskan anak panah secara beruntun, tapi setiap anak panah pertamanya ia selalu tepat sasaran, dapat kusimpulkan bahwa anak ini selalu berlatih dengan satu anak panah, dan ketika berburu, anak ini menghabisi mangsanya dengan satu panah’


‘Jika apa yang kusimpulkan benar, tidak salah anak ini memang memiliki potensi, jika terus diasah bukan tidak mungkin dimasa depan dia akan menjadi seorang Archer yang sangat ditakuti’ memikirkan potensi dari anak yang sedang tertunduk lesu di depannya, badan Ashura bergidik ngeri.


‘Yah potensi hanya sebatas potensi untuk saat ini, pemikiranku bisa terjadi jika dia terus berusaha, berlatih, dan mengasah tekniknya, tetapi untuknya yang sekarang ketika anak ini menghadapi lawan yang lebih kuat, jelas anak ini tidak akan bisa bertahan’


“Ok, aku sudah melihat teknik panahanmu, tidak perlu untuk melanjutkannya lagi, sekarang kita lihat sejauh mana kau bisa menggunakan Dagger”


“Tapi paman aku belum pernah berlatih menggunakan Dagger”


“Ya aku tahu, coba sekarang kau gunakan Daggermu, sebisamu saja, dan coba kau serang aku” Ashura tetap ingin menguji Claude.


“Baik paman”


Kemudian Claude meletakkan busurnya dan mengambil Dagger yang sudah tersarung dipinggangnya.


“Aku akan mulai paman” Claude langsung berlari menerjang kearah Ashura dan mulai mengayunkan tangannya, dengan teknik yang kaku dan gerakan yang terbatas Claude masih mampu melancarkan beberapa ayunan tangan yang tentu saja semua serangannya bisa Ashura tangkis dengan mudah.


“Teruskan” Ashura kembali mengerutkan keningnya, sedikit tertarik dengan gerakan Claude, Ashura ingin lebih memastikan lagi apakah pemikirannya benar.


Dan benar saja, gerakan demi gerakan yang dieksekusi oleh Claude merujuk pada satu keterampilan, walaupun terlihat masih kasar namun dengan melihat gerakan – gerakan dasarnya Ashura dapat melihat keseluruhan keterampilan tersebut. keterampilan tersebut adalah keterampilan berpedang yang dimiliki oleh pasukan pertahanan kota.


“Ok cukup” Ashura mengakhiri pertarungan dengan mengetuk pergelangan Claude, sehingga Claude kehilangan genggaman pada Daggernya.


“Sekarang duduk aku akan memberikan evaluasi mengenai keterampilanmu”


“Ya paman” Claude mengangguk saja.


“keterampilan memanahmu, tidak terlalu buruk, kau dapat mengenai target dengan tepat sasaran, tetapi masih banyak kekurangan yang kau miliki, apakah kau tahu apa itu?” Ashura mengajukan pertanyaannya ingin melihat sejauh mana pemahaman Claude dengan teknik memanah.


“Yang aku tahu, aku tidak bisa melepaskan beberapa anak panah dengan interval yang singkat, dan ketika aku ingin mengambil anak panah pun gerakanku tidak terasa nyaman paman sehingga fokus konsentrasi ku terbagi” Claude menjawab apa yang ia rasakan dan simpulkan.


“Ya kau benar, tetapi bukan hanya itu saja, teknik memanah bukan sekedar memanah satu target ditempat. Kau harus bisa menguasai panahan sampai pada tingkat kau dapat memanah mangsamu dalam kondisi sama – sama sedang berlari, saat kau bisa melakukannya, kau akan mengerti apa itu teknik dasar memanah”


Mendengar ucapan Ashura, Claude tertunduk lesu sadar bahwa teknik yang ia miliki sekarang masih jauh bahkan dari teknik dasar nya saja.


“Tidak perlu berkecil hati nak, pencapaianmu yang sekarang sudah jauh lebih baik daripada anak – anak seusiamu”


“Tapi tetap saja, fakta bahwa pemahaman dan teknikku masih kurang tidak terelakkan paman” Claude berseru menatap Ashura “Apa yang harus ku lakukan paman?”


Melihat tatapan penuh tekad dari Claude, Ashura menganggukkan kepalanya, “Untuk saat ini kau pelajari dulu teknik Quick Draw ini,” Ashura memberikan sebuah gulungan yang berisikan teknik dasar Quick Draw yang biasa dimiliki dan dikuasai setiap siswa Archery.

__ADS_1


Claude langsung menerimanya, ia ingin segera memeriksa teknik tersebut namun Ashura segera menghentikannya.


“Kau dapat memeriksanya nanti, sekarang kita pindah pada permainan Dagger mu tadi, penguasaanmu masih nol, yah itu tidak aneh karena kau belum pernah memainkan Dagger, tapi ada beberapa hal yang mengganggu pikiranku”


“Apa kau sebelumnya bermain pedang?”


“Tidak paman, bahkan aku belum pernah memegang pedang sekalipun”


Mendengar jawaban Claude, Ashura semakin bingung jelas bahwa teknik yang dilakukan Claude mengacu pada teknik – teknik berpedang, tapi bahkan anak itu saja belum pernah memegang pedang, apa yang sebenarnya terjadi?.


“Hmm paman, tapi aku beberapa kali melihat para pasukan kota berlatih pedang dan mencoba menirukannya ketika berada dirumah, apakah itu menjadi masalah?” Claude berkata dengan wajah polosnya.


“Ah ...” mendengarnya ucapan Claude, Ashura jatuh pada kebingungan yang lain, “Bagaimana caranya kau dapat melihat para pasukan kota berlatih ilmu pedang?”


Ashura heran dengan ucapan Claude, karena ia tahu setiap pasukan kota berlatih mereka tidak akan mengungkapkannya kepada publik, karena ditakutkan ada beberapa kelompok yang akan memanfaatkan informasi pelatihan mereka, oleh karenanya pihak yang terkait amat sangat menjaga metode pelatihannya,  bahkan untuk kota sekecil Behemoth City pun tidak akan mengabaikan peraturan tersebut.


“Aku hanya naik keatas pohon, dan melihat mereka berlatih itu saja paman”


-gubrak-


Perasaan dejavu melanda Ashura.


Terlanjur penasaran Ashura sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan, tetapi setelah mendengar jawaban Claude tubuhnya jatuh kedepan, Ashura terlalu kaget dengan kepolosan Claude.


“Apa mereka tidak melarang atau mengusirmu?” Ashura kembali bertanya setelah ia duduk kembali.


“Tidak paman, mereka semua mengabaikan keberadaanku, begitu saja, apa salahnya melihat mereka berlatih?” Claude tidak mengerti letak kesalahannya.


Kemudian Ashura menjelaskan aturan barak pasukan yang sudah umum diketahui publik, mendengar penjelasan Ashura, Claude kaget karena dia telah melakukan suatu kejahatan, untung saja para prajurit ini tidak pernah memperhatikannya.


Yang tidak disadari Claude adalah setiap kali ia melihat pasukan berlatih, Claude selalu menggunakan Shadow Lost nya sehingga para prajurit pun tidak mengetahui keberadaannya.


“Sudahlah kita lupakan hal ini, kita fokus kembali padamu, apa Dagger itu terlalu berat untuk kau pegang?”


“Tidak paman, Dagger ini ringan – ringan saja” kemudian Claude memutar - mutar Dagger dalam genggamannya menggunakan pergelangan tangan.


“Lalu kenapa kau hanya menggunakan satu Dagger saja, padahal dipinggangmu ada dua Dagger”


“Hah ...” Claude menoleh kesisi samping, “Oh iya, ada satu lagi ternyata, maaf paman aku lupa, hehe” jawab Claude canggung.


Ashura tidak bisa berkomentar, ia sudah kehabisan kata – kata mendengar jawaban – jawaban dari anak bernama Claude ini.

__ADS_1


“Hah ... sekarang kita masuk pada intinya, seranganmu tadi tidak terlihat seperti permainan Dagger, seranganmu lebih seperti permainan pedang, kau harus mengingat ini, teknik menebas menggunakan pedang itu berbeda dengan teknik sayatan menggunakan Dagger walaupun sama – sama mengayunkan tangan”


“Jika menebas menggunakan pedang itu kaku maka ketika kau menggunakan Dagger kau harus lebih fleksibel, ingat menebas memiliki tujuan melukai satu target sedalam mungkin, sedangkan sayatan memiliki tujuan melukai satu target sebanyak mungkin”


“Oleh karena itu kecepatan adalah nomer satu untuk para Assassin, sedangkan sedalam apa sayatan yang kau dapatkan itu hanya bonus saja, aku akan memberikanmu contoh, sekarang berdiri” Ashura kemudian mengambil dua batang ranting dan memposisikannya seperti memakai Dagger.


“Sekarang siapkan kuda - kudamu”


Setelah Claude siap, Ashura kemudian bergerak cepat, dengan satu helaan nafas, Ashura telah berhasil memberikan empat serangan beruntun kearah badan Claude menggunakan batang ranting tadi.


“Kau bisa melihatnya?” Ashura mundur beberapa langkah.


“Hmm ... aku tidak yakin paman” Claude masih tercengang dengan apa yang baru saja terjadi, jelas bahwa dirinya sedang dalam posisi siap, tetapi satu nafas berikutnya, badannya mengalami sedikit nyeri di empat bagian yang berbeda, jelas bahwa Ashura telah menggoreskan batang ranting ditubuhnya tapi Claude gagal bereaksi.


“Baiklah kalau begitu aku akan mengulanginya kembali dan memperlambat gerakannya, kau diam saja” Ashura kemudian mengulangi kembali gerakannya menjelaskan kembali beberapa detail dari serangannya, Claude hanya bisa mengangguk – anggukan kepalanya.


“Nah sekarang kau mengertikan mengapa para Assassin sangat ditakuti” Ashura sedikit membanggakan Jobnya.


“Iya paman aku mengerti, apa nenti juga aku bisa seperti paman?”


“Itu akan terserah pada dirimu sendiri nak, apakah kau mau dan mampu menjalani latihan kerasnya, ya itu semua kembali pada kerja kerasmu, namun satu yang kuyakini, hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha yang kau lakukan, nikmati saja prosesnya”


“Baik paman, kebetulan yang kupunya adalah tekad sekeras baja yang tidak akan bengkok walaupun terkena kerasnya palu kenyataan” jawab Claude dengan mata berbinar.


“Mari kita lihat sendiri”


“Baik untuk sekarang, kau pelajari dulu gulungan teknik Quick Draw, kemudian nanti setelah makan siang aku akan memberikan beberapa gerakan dasar untuk seorang Assassin, sorenya kau akan berlatih fisik untuk meningkatkan kekuatan dan kecepatanmu, serta malam harinya kau akan bermeditasi”


“Ingat ketika kau mempelajari sebuah teknik, bukan kecepatan menguasai yang harus kau kejar, tetapi pemahaman mendalam tentang teknik tersebut, itulah yang harus kau capai”


“Baik paman” Claude kemudian membuka gulungan tersebut, dan mulai membaca setiap detail dan petunjuk serta memperhatikan setiap gambar yang ada di dalam gulungan tersebut, sesekali Claude juga memeragakan beberapa gerakan yang ada.


Beberapa jam kemudian setelah berpuluh – puluh kali mencoba akhirnya Claude mampu mengeksekusi teknik Quick Draw selancar seorang ahli, kini Claude mampu melepaskan tiga anak panah sekaligus tanpa mengurangi konsentrasinya terhadap sasaran target.


Melihat perkembangan Claude, Ashura jelas kaget, dalam pikirannya mungkin butuh sekitar satu minggu bagi Claude untuk menguasai teknik tersebut, karena faktanya bahwa setiap siswa yang berlatih panahan paling cepat membutuhkan waktu satu minggu untuk dapat mengeksekusinya.


Sedangkan untuk anak ini, ia hanya butuh beberapa jam untuk memahami kemudian mengeksekusinya.


‘Bukankah aku sudah bilang tadi untuk mempelajarinya dengan tidak tergesa – gesa, Apa memang daya tangkap anak ini diatas rata – rata?’


‘Hmm sepertinya aku harus menaikan level pelatihanku’ Ashura menyeringai.

__ADS_1


----------


jangan lupa tombol like di tekan ya teman - teman, terima kasih :)


__ADS_2