My Own Path : Red Phoenix

My Own Path : Red Phoenix
Ch 35 – Latihan Berlanjut


__ADS_3

Dengan perjuangan yang amat sangat keras, akhirnya Claude bisa memanggang daging Grey Wolf, meskipun gerakannya lambat sebisa mungkin Claude memanggang dengan benar.


Tidak butuh waktu lama, bau khas daging panggang memenuhi penciuman Claude, dengan bumbu seadanya Claude mulai menghidangkan daging yang sudah matang.


Daging panggang sudah siap dimakan tidak lama kemudian Ashura datang menghampiri.


“Oh kau sudah selesai, tidak buruk kau membiasakan dirimu dengan cepat” Ashura terkekeh.


Ashura kemudian duduk, bersiap menyantap daging yang sudah disajikan, sebelum kemudian Claude menyela.


“Eh paman, itu adalah jatahku, jatahmu adalah yang sebelahnya lagi” Claude berusaha secepat mungkin untuk segera mengambil daging panggang yang berada di depan Ashura.


“Heh anak kecil, jika kau ingin membalasku setidaknya kau harus mengingat kondisimu sendiri” Ashura segera mengambil daging yang terlihat lezat tersebut dan pergi menjauh.


Memang daging yang dimasak Claude dipisahkan dalam dua wadah berbeda, daging di wadah yang pertama Claude masak dengan hati – hati ditambah dengan bumbu yang pas, Claude yakin rasanya sangat nikmat tentu saja wadah pertama khusus jatah bagian dirinya.


Sedangkan daging di wadah kedua adalah jatah dari Ashura, yang secara sengaja Claude masak agak gosong, dengan bumbu seadaanya saja, Claude berniat membalas perbuatan Ashura dengan memberinya makanan tidak enak.


Namun apa daya sebelum Claude selesai menyiapkan seluruh makanan, Ashura sudah datang dan mengambil daging di wadah pertama, sialnya lagi karena gerakannya yang sangat lambat, Claude harus merelakan dagingnya diambil tepat di depan matanya.


“Dagingku !!”


Ashura tidak mempedulikan Claude, ia asyik menikmati daging panggang yang dirasanya merupakan daging panggang terenak yang pernah Ashura makan “Nak kau sungguh berbakat menjadi seorang koki, bahkan dengan keterbatasanmu kau masih bisa memanggang daging yang enak” Ashura mengangkat jempol nya kearah Claude.


“Persetan!!” Claude mencibir lirih ‘Awas saja suatu saat nanti aku akan membalasmu paman’ ditengah – tengah pemikirannya Claude berusaha memasukan daging panggang ‘tidak enak’ kedalam mulutnya.


Setelah drama makan siang berakhir, Claude menghampiri Ashura.


“Paman ini Soul Kristal dari tubuh Grey Wolf tadi” Claude memberikan tiga buah Soul kristal level dua dari tubuh Grey Wolf.


“Oh ok” Ashura menerima Soul Kristal tersebut tanpa basa – basi, “Sekarang kita lanjutkan latihanmu, sekarang kau akan mempelajari gerakan – gerakan dasar Assassin, ikuti aku” Ashura kemudian berjalan meninggalkan Claude.


Sedangkan Claude ia tertangkap tidak siap dengan sikap Ashura, dalam pikiran Claude ia menduga respon Ashura akan sama dengan pamannya, yang akan memberikan Soul Kristal kepadanya, karena ia sendiri yang mengalahkan para Grey Wolf.


Tetapi paman Ashura bahkan tidak berkedip ketika ia mengambil Soul Kristal dari tangan Claude.


“Apa yang kau lakukan, ayo ikuti aku” setelah beberapa saat Ashura menyadari Claude tidak datang menyusulnya.


“Ah iya paman, aku akan segera datang” Claude kemudian berjalan kearah Ashura, tentu saja Claude bergerak sangat lambat, ‘Yah aku harus terbiasa, dia bukan paman Ashura, jelas bahwa sifatnya juga pasti berbeda’ Claude berusaha memahami situasinya.


“Ok disini saja” Ashura menentukan tempat latihan dan kemudian Claude datang menyusul.


“Sekarang aku akan mengajarkanmu gerakan sayatan yang dimiliki Assassin, gerakan ini memiliki banyak variasi, tergantung dari seberapa cepat kau memainkan pergelangan tanganmu sebanyak itulah variasi serangan yang bisa kau lakukan contohnya seperti ini”


Kemudian Ashura mendekati sebuah pohon dan melakukan satu gerakan ayunan tangan dengan beberapa kali sayatan dengan Daggernya.


“Sayatan ini juga tergantung dengan posisi badan kita, entah itu berdiri, jongkok, berbaring, ataupun berlari seorang Assassin bisa melakukan variasi sayatan yang lain”

__ADS_1


“Namun ketika menyerang juga tidak boleh asal serang saja, tetap kita sebagai Assassin dituntut untuk menyerang secara presisi, memojokkan target, bahkan menghabisi target secepat mungkin”


“Kau mengerti maksudku”


“Ya” Claude mengangguk – anggukan kepalanya “Paman, mengapa kita harus belajar teknik dasar jika ada teknik kemampuan (Skill), bukankah aku tinggal mempelajari skill saja untuk menjadi seorang Assassin hebat?”


“Sekarang pertanyaanmu kubalik, untuk apa kau belajar teknik dasar memanah?”


Claude merenung sejenak, “Hmm, untuk belajar pondasi sebuah keterampilan menggunakan senjata” Claude bergumam lirih, “Aku mengerti paman!” Claude menangkap maksud pertanyaan Ashura.


“Bagus jika kau mengerti, seperti katamu tadi, teknik dasar ada untuk membangun pondasi, semakin tinggi penguasaanmu terhadap teknik dasar, semakin bagus juga pondasi yang kau buat, dan ketika kau mempelajari sebuah skill kau akan cepat mengerti bahkan tidak mustahil juga jika kau bisa menciptakan skill unikmu sendiri”


“Ohh ... ok paman”


“Bagus, ada pertanyaan lagi”


“Ada paman” Claude menjawab dengan cepat.


“Apa lagi?”


“Aku ingin bertanya, apa fungsi dari Armor yang kupakai ini, apa manfaatnya aku memakai Armor yang menyiksa ini” Claude masih tidak terima dengan penipuan yang dilakukan Ashura terhadapnya.


Sekarang setidaknya Claude harus tahu apa kegunaan dari Armor yang melekat ditubuhnya.


“Kau masih memikirkannya ternyata, baiklah akan keberitahu, seperti yang kau rasakan Armor ini memiliki berat yang membebani tubuhmu, dengan berat ini mau tidak mau tubuhmu dipaksa untuk beradaptasi bukan?”


“Selama proses adaptasi itu, otot – otot dalam tubuhmu akan berkembang pesat, tentu saja kekuatan yang akan didapat nantinya juga akan berlipat dengan waktu yang singkat, ditambah ketika kau bisa melepaskan Armornya, kau bisa membayangkan seberapa ringan dan cepatnya kau akan bergerak bukan?”


Mendengar penjelasan Ashura, Claude terdiam, membayangkan apa yang diucapkan Ashura, Claude mau tidak mau mengakuinya, kini setelah ia sedikit menurunkan amarahnya, Claude berhasil memahami implikasi dari memakai Mendelth set Armor ini.


“Tambahan, Armor ini memiliki tingkatan sendiri dalam beratnya, semua itu disesuaikan dengan ranah yang dimiliki penggunanya, jadi Armor ini akan memaksa si pengguna untuk dengan cepat mencapai puncak ranah yang dimilikinya sebelum kemudian si pengguna bisa melampaui ranahnya”


“Singkatnya, jika kau bisa sampai bergerak bebas menggunakan Armor ini, berarti kau sudah siap menerobos keranah selanjutnya, pada saat itu juga kau bisa melepaskan Mendelth Set Armor ini”


“Tetapi jika kau ingin terus memakainya, kau bisa menyuntikan kembali Martial Spirit milikmu seperti tadi, dan Mendelth set Armor akan kembali menjadi berat”


“Adapun ranah maksimal yang bisa di dapat adalah ranah Master Puncak, lebih dari itu, Armor ini tidak berguna” Ashura kali ini menjelaskan secara mendetail mengenai Mendelth set Armor, berharap Claude dapat mengerti.


“Oh, terima kasih paman” ucap Claude singkat dan segera bergerak menjauh dan mulai berlatih sayatan.


Claude terlalu malu dengan sumpah serapah yang telah dikeluhkannya tadi, karena telah menyadari bahwa apa yang dilakukan Ashura adalah yang terbaik bagi dirinya, dan penjelasan dari Ashura pun juga cukup masuk akal dan diterima oleh logika Claude.


Jadi sekarang yang bisa Claude lakukan adalah berlatih dengan keras, membulatkan tekadnya kembali.


Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, siang berganti sore, dan malam pun menjelang, di sudut hutan Claude masih berusaha mengayunkan Daggernya, posturnya sudah goyah sedari tadi, bahkan keringat pun mangalir membasahi sekujur tubuhnya.


“Apa yang kau lakukan, berdiri dengan tegak!!”

__ADS_1


“Mana kuda – kuda kuatmu, jika begini saja kau akan cepat dibunuh musuhmu” Ashura mengetuk – ngetuk kaki Claude sehingga Claude kehilangan keseimbangannya dan terjatuh


“Cepat bangun!!” kembali Ashura berteriak kepada Claude.


Ashura jelas memperketat latihan Claude, Ashura ingin melihat sejauh mana anak pecicilan dan sering mengeluh ini mampu bertahan ketika latihannya lebih ditekan.


Claude juga merasakan hal yang serupa, ia tahu Ashura tengah meningkatkan intensitas latihannya, dan Claude juga menerima hal tersebut tanpa banyak keluhan, karena Claude tahu itulah yang terbaik untuknya, dan yang paling ia butuhkan saat ini.


Melihat Claude tidak protes ataupun mengeluh, dan menerima saja semua perlakuannya, Ashura tersenyum ‘Baguslah, ternyata mentalnya sudah pada tahap ini, ia bisa membedakan dimana waktu mengeluh dan dimana waktu untuk serius’


“Mana ayunanmu!!”


“Tambah lagi kecepatannya!!”


“Kau itu seorang Assassin, bukan seorang tukang masak”


“Tambah lagi tenaganya, kau tidak akan melukai apapun dengan ayunan seperti itu!!”


“Kau bermain Dagger bukan pedang, mana pergelangan tanganmu!!”


“Apa segini saja tenagamu, apa kau sudah cape”


Ashura terus memberikan masukan dan arahan, setiap kali Claude melakukan gerakan yang salah, segera Ashura tegur.


Dari serangkaian latihan ini, Ashura kagum melihat Claude yang bisa mengembalikan lagi dan lagi konsentrasinya yang sempat melemah, terbukti dengan arahan yang diucapkan Ashura, Claude akan segera memperbaiki gerakannya.


Sedangkan kehilangan konsentrasinya juga berada dalam harapan Ashura, dengan tingkat kelelahan seperti itu, sudah ajaib bagi Claude yang bisa mengikuti semua arahan Ashura.


“Ok nak cukup, latihan hari ini berakhir disini, kita lanjutkan lagi esok hari” Ashura melihat langit yang mulai menggelap lantas Ashura mengakhiri sesi latihan hari ini.


Mendengar perintah Ashura, Claude segera menghempaskan tubuhnya ketanah, dengan nafas yang tidak teratur Claude mengistirahatkan badannya.


“Untuk sekarang, kau istirahatkan tubuhmu, dan nanti malam kau lanjutkan latihanmu dengan menyerap Soul Kristal ini” Ashura melemparkan satu buah Soul Kristal level dua, yang tidak lain Soul Kristal milik Grey Wolf.


Claude menerima Soul Kristal dan kemudian menggenggamnya, Claude terlalu lelah untuk bangkit.


Beberapa saat kemudian Claude mulai menyadari ada bau menyengat yang berasal dari tubuhnya, akhirnya Claude sadar, bahwa tubuhnya sekarang di penuhi keringatnya sendiri.


Claude lega untuk beberapa saat, namun Claude segera mengerutkan keningnya, “Paman kau masih disana bukan?” Claude segera memanggil Ashura.


“Hmm ada apa?”


“Paman bagaimana caranya aku mandi?” Claude berusaha duduk dan menghadap kearah Ashura.


“He he” Ashura tidak menjawab hanya tersenyum jahil.


----------

__ADS_1


jangan lupa tombol like di tekan ya teman - teman, terima kasih :)


__ADS_2