My Own Path : Red Phoenix

My Own Path : Red Phoenix
Ch 29 – Pelatihan Di Mulai


__ADS_3

“Kau ...!! kau ...!! hah ...” pada akhirnya Geroge menyerah mengejar masalah ini dengan Tanhill.


George sudah terlalu hafal dengan prilaku Tanhill yang terlihat dipermukaan seperti seorang pemalas akut yang ceroboh namun dalam kenyataannya Tanhill selalu memperhitungkan setiap tindakannya, hal tersebut lah yang membuat George sangat mempercayai Tanhill.


“Yah, jika orang itu berbicara seperti itu, aku akan melanjutkan pekerjaanku saja, dan mari kita lihat apa yang akan dikatakannya esok hari” George akhirnya mengambil keputusan untuk tidak ambil pusing mengenai keberadaan Goblin dan memilih melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Malam yang panjang untuk sebagian orang pun kini telah berganti dengan sinar matahari yang mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur.


Dipagi hari tersebut, para masyarakat Behemoth City memulai rutinitas harian mereka, tetapi tidak dengan para tokoh berpengaruh Behemoth City, mereka masih terlelap dalam tidur mereka.


Hal ini wajar karena mereka semua baru selesai melakukan pekerjaan mereka sekitar dini hari untuk kemudian mulai beristirahat.


Sama seperti masyarakat lainnya, di kediaman Tanhill juga terlihat seorang anak muda yang sudah bangun dan sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya pula, dengan tatapan bersemangat ia terus saja melihat kearah pintu gerbang rumahnya menunggu kedatangan seseorang.


“Tanpa kau tunggu pun dia nanti akan datang, hua ... mengapa kau tidak pergi dan mengambil sarapan kita dari bibi Wad?” terdengar suara malas Tanhill yang baru saja keluar dari kamarnya sedang meluruskan tangan dan punggungnya.


“Aku sudah mengambilnya paman, sudah kusiapkan pula sarapan di ruangan tengah” jawab Claude tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari pintu masuk.


“Tumben sekali hari ini kau begitu cekatan?” Tanhill mulai mencibir.


“Kata siapa, setiap hari juga aku selalu seperti ini, paman saja yang tidurnya kaya kerbau selalu bangun siang hari” merasa terganggu Claude memalingkan wajahnya kearah Tanhill.


“Ya ... ya ... setidaknya aku berhasil mendidikmu menjadi budak rumah yang handal, aku tidak merasa sia – sia membesarkanmu selama ini” Tanhill terkekeh.


“Ya ... ya ... setidaknya aku juga harus membalas budi pada paman malas dan bodoh ini, atas kehidupan yang telah ia berikan kepadaku” Claude juga tidak mau kalah.


Mendengar ucapan Claude, sudut mulut Tanhill berkedut, “Kau ... kau berani menghinaku?”


“Siapa juga yang pertama mulai, aku hanya membicarakan kebenaran kenapa paman mesti tersinggung?”


“Kau ... Ok sepertinya sudah lama sejak aku mendidikmu dengan benar ya” Tanhill menggertakan buku – buku jarinya sembari berjalan kearah Claude.


“He he paman, aku tadi Cuma bercanda, tidak usahlah kau seserius ini he he” melihat pamannya berjalan mendekat, Claude mundur teratur sembari mengangkat kedua tangannya.


Bersamaan dengan itu terdengar suara deritan pintu gerbang rumah Tanhill berbunyi, tanda seseorang datang berkunjung.


Secara otomatis pasangan paman dan keponakan ini menolehkan kepala mereka melihat siapa yang datang ke kediamannya, yang ternyata adalah Ashura.


Melihat kedatangan Ashura, Claude segera berlari menghampirinya, “Selamat datang paman”


“Uh ya, Selamat pagi tuan” Ashura menyapa Tanhill.


“Hah ...” Tanhill menghela nafas “Kali ini kau selamat nak, untuk selanjutnya aku akan mendisiplinkanmu” Tanhill mengarahkan pandangannya terhadap Claude.


“Iya paman” Claude menundukan kepalanya.


“Yah, karena kau sudah berada disini, mau sarapan bersama,? mumpung sarapannya sudah disiapkan” Tanhill berbalik kearah Ashura dengan senyum khasnya.


“Ah tidak, terima kasih tuan” Ashura menolak secara halus, “Aku datang kesini untuk menjemput anak ini, bagaimana apa kamu sudah siap?” Ashura mengalihkan pandangannya kepada Claude.

__ADS_1


“Anak itu dari tadi sudah menunggu kedatanganmu, tentu saja dia sudah bersiap”


“Iya paman shura aku sudah siap”


“Baguslah, kalau begitu segera ambil barang bawaanmu, kita akan segera berangkat”


“Iya paman,” dengan segera Claude masuk ke rumah dan mengambil perlengkapan yang telah ia siapkan.


“Bagaimana apa kau sudah melaporkan semua informasi tersebut” sepeninggalnya Claude, Tanhill bertanya kepada Ashura.


“Iya tuan, dan aku mendapatkan informasi bahwa sarang mereka dekat dengan Behemoth City ini”


Tanhill menunjukan ekspresi terkejutnya sebelum kemudian menjadi tenang kembali “Sepertinya pertempuran hebat akan segera terjadi di Behemoth City”


“Ya sepertinya begitu tuan” Ashura menimpali ucapan Tanhill.


“Aku sudah siap paman” ditengah helaan nafas kedua orang tua ini, Claude telah kembali dengan kerangjang herbal yang kini terisi penuh oleh baju dan perlengkapannya.


“Bagus, kalau begitu saya pergi dulu tuan, jika ada sesuatu terjadi, kami berada disekitar hutan barat tuan” Ashura menundukan kepalanya berpamitan dengan Tanhill.


“Aku pergi dulu paman”


“Hey nak tunggu sebentar” Tanhill menghentikan Claude.


“Iya paman”


“Cincin apa ini paman?, aku bukan seorang perempuan yang akan tersipu jika kau beri cincin, kenapa kau memberiku sebuah cincin?” Claude masih tidak tahu cincin apa yang ada dihadapannya.


“Hey bocah tengik, yang sekarang kau pegang adalah Storage Ring, coba kau masukan sedikit energi spiritmu kedalam cincin dan kau akan mengerti apa kegunaan dari cincin itu” Tanhill hampir meledak kembali mendengar ocehan Claude.


“Hmm ...” Claude segera melakukan perintah Tanhill dan kemudian Claude mengetahui ada sebuah ruangan besar didalam cincin tersebut.


Melihat senyum mengerti Claude, Tanhill segera memberikan instruksi selanjutnya “Sekarang kau masukan keranjang yang ada di punggungmu beserta semua hal yang ada disakumu itu, tinggalkan saja hanya Dagger itu dan sisanya masukan kedalam Storage Ring”


“Iya paman” Claude segera melakukan perintah pamannya.


“Terima kasih paman telah memberiku cincin yang bagus, kalau begitu aku pergi dulu ya paman, jangan merindukanku aku tidak akan pergi terlalu lama hahah” Claude berterima kasih dan kemudian berjalan kedepan. Meninggalkan Ashura dibelakanya.


“Dasar bocah tengik, kuharap kau mengajarinya sesuatu yang berguna, yang bisa mengubah sifatnya yang seperti ini” Tanhill menoleh kearah Ashura.


Ashura hanya terkekeh melihat tingkah laku paman dan keponakan ini “Saya akan berusaha” Ashura mulai berjalan menyusul Claude.


Beberapa jam kemudian Ashura dan Claude tiba di area hutan bagian barat, berbeda dengan hutan bagian timur, hutan bagian barat ini relatif aman karena merupakan akses utama menuju kerajaan dan beberapa kota di dekat Behemoth City.


Jadi dari semua pihak dari kota maupun kerajaan banyak membuat keamanan untuk jalan jalan utama mereka.


Namun Green Lantern Forest tetap mempunyai misterinya sendiri, bahkan untuk bagian barat yang tidak berbatasan dengan dunia luar pun, Green Lantern Forest tetap mempunyai beberapa tempat misterius yang sukar untuk di jelajahi.


Tempat – tempat itu berisikan kelompok – kelompok Wild Beast yang meskipun sudah berkali – kali diburu, para Wild Beast ini bermunculan kembali.

__ADS_1


Seperti itulah Green Lantern Forest yang tercipta untuk membantu perkembangan umat manusia.


Bukan hanya para Wild Beast saja, tempat – tempat  misterius ini juga kerap kali dijadikan markas oleh para bandit, buronan kota, dan sebagainya. Pokoknya setiap kali seseorang melakukan kejahatan dan tidak punya tempat untuk kembali, mereka akan bergabung dengan kelompok bandit tersebut.


“Ok nak, kita sudah sampai, tempat ini cukup bagus tidak terlalu jauh dari perbatasan dengan area misterius”


Ashura dan Claude tiba di tempat yang sudah ditentukan Ashura sebelumnya, tempat yang bagus untuk menetap dengan sepetak tanah kecil berumput hijau dengan semak belukar dan pepohonan melingkar mengelilinginya.


“Ok paman, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Claude mengangguk.


“Sebelumnya aku akan mengingatkanmu sesuatu, ketika kau berlatih disini kau harus selalu waspada dengan keberadaan tanda seperti ini dipohon pohon sekitar” Kemudian Ashura mendekati sebuah pohon dan mulai menggoreskan Dagger nya membuat sebuah tanda.


“Jika kau menemukan tanda seperti ini, segera mundur dan menjauh”


“Tanda apa itu paman?” mendengar ucapan Ashura membuat Claude penasaran.


“Itu tanda wilayah para bandit, kecuali kau ingin bergabung dengan kelompok mereka, kusarankan kau untuk menjauhinya, tidak pernah ada hal yang bagus ketika kau membuat masalah dengan mereka” Ashura menjelaskan.


“Iya paman” Claude kembali mengangguk – anggukan kepalanya.


“Kau tampaknya sudah mengerti, bagus” Ashura puas dengan daya tangkap dari anak berusia delapan tahun ini.


“Ok, sebelum kita masuk pada menu latihanmu, aku harus mengetahui dulu sejauh mana kemampuanmu, kau cukup handal bermain panahan kan? Coba kau tunjukan kepadaku seberapa hebat panahanmu”


“Baik paman” Claude mengeluarkan busur beserta anak panahnya dari Storage Ring miliknya.


Kemudian Ashura mulai menyuruh Claude untuk menargetkan beberapa pohon yang ada disekitarnya, dimulai dari yang terdekat hingga yang terjauh.


Ashura menentukan titik yang harus ditargetkan Claude dengan panahnya, kemudian Claude melepaskan anak panahnya, dengan penguasaan Claude yang tinggi, Claude mampu mengenai target dengan tepat sasaran.


“Tidak buruk” Ashura berpikir dengan jarak terjauh dari seorang Archer anak ini mampu mencapai target dengan tepat sasaran, jelas bahwa anak ini memang mempunyai bakat.


“Sekarang, ulangi gerakan yang barusan tetapi tambah jumlah anak panahnya, dengan tiga anak panah untuk setiap target, juga jeda setiap pelepasan tidak boleh lebih dari dua helaan nafas” Ashura mulai menaikan level evaluasinya.


“Tapi paman, aku ...” Claude mulai mengeluh, namun dengan cepat ucapannya dipotong oleh Ashura.


“Apa? Kau tidak bisa melakukannya?!” Ashura mengerutkan kening.


“A ... Aku akan mencobanya paman” Claude meneguk air liurnya, dan mulai berkonsentrasi kembali.


Putaran diselesaikan dengan Claude tertunduk, kecewa dengan hasil yang dia peroleh.


Seperti yang dipikirkan Claude, kecuali anak panah pertama, kedua anak panah lainnya melenceng jauh dari sasaran, dan beberapa kali juga Claude mengalami kesusahan untuk mengambil anak panah dari sarung di punggunnya.


“Hmm ....” Dengan kedua tangan bersilang di dadanya, Ashura tidak menunjukan ekspresi apapun.


----------


jangan lupa tombol like di tekan ya teman - teman, terima kasih :)

__ADS_1


__ADS_2