
Dina gadis 28 tahun bekerja sebagai penjaga toko aksesoris,
ia mulai bekerja dari jam 7:30 wib dan pulang pada pukul 17:00Wib.Dina pun saat ini numpang ke pada bibi nya di lampung, Akan tetapi ia di di perlakukan tidak baik oleh bibi nya.
Sampai pada suatu hari. Dina yang baru habis pulang dari kerja, langsung di suruh bibinya mencuci pakaian dan membersihkan rumah serta membuat sarapan untuk makan nanti malam.
"Kamu gimana sih lama benar ngerjainnya.Pokoknya,jam 8 nanti makanan harus sudah siap".Bibi Puspa pun langsung pergi menuju ruang keluarga.
"Ya ampun gimana mau cepat selesai coba, pekerjaan sebanyak ini aku aja yang ngerjain,kalau enggak beres nanti kena marah sama enggak di kasih makan",gumam Dina.
Jam 7:40 semua makanan sudah selesai di buat dan selesai di hidangkan,mereka makan dengan dengan lahap tanpa memperdulikan Dina yang belum makan sedari tadi, dan yang tersisa hanya sambel dan timun.Dina sudah biasa di perlakukan begitu oleh keluarga bibi nya.
Akhirnya Dina pun makan hanya dengan sambel dan timun,sungguh malang nasib nya.Orang tua nya di kampung tidak tau apa yang di alami Dina di sini karena Dina tidak pernah mau cerita, takut jadi pikiran orang tua nya di kampung. Dia hanya bisa menangis setiap malam ketika akan tidur meratapi nasib nya yang malang, mau ngontrak sendiri enggak akan cukup gaji dari jaga toko aja semua nya di ambil bibinya, paling di kasih setengah itu aja mau di kirim di kampung.Jadi dengan terpaksa ia bertahan di rumah bibinya itu.
Bibi Puspa itu adalah adik dari bapak Rozak, bapak nya Dina.Sementara bibi Puspa adalah anak ketiga dari 4 bersaudara."Dina ngapain kamu ngelamun kerjaan udah beres semua apa?" malah asing ngelamun dasar pemalas,omel bibi Puspa tersenyum sinis.
Pagi hari Dina sudah siap untuk berangkat kerja,Dina pun berjalan ke depan pagar untuk menunggu angkot lewat.Tak butuh lama angkot yang di tunggu pun datang,setelah 10 menit Dina sampai di depan toko tempat nya bekerja.Hari ini Dina berkerja dengan penuh semangat, ia pun mengeluarkan mainan yang besar seperti sepeda mobil-mobil dan masih banyak lagi.
"Tumben udah dateng aja Din", sapa Aril kepada Dina karena merasa heran enggak biasa nya Dina datang lebih awal.Aril yang teman nya Dina bekerja sampai di buat heran.
__ADS_1
"Enggak papa Ril, soal nya tadi enggak ada kerjaan lagi di rumah, loh tau sendiri kan gimana di rumah bibi gue", ucap Dina. Iya Aril sahabat Dian dari kecil sudah tau gimana kehidupan Dina,dia kadang kasihan dengan nasib Dina yang tinggal di rumah keluarga tapi di perlakukan kayak pembantu aja.
Mereka pun mulai pekerjaan masing-masing, hari ini cukup ramai pengunjung soal nya udah mau ajaran baru jadi semua sibuk pada cari buku-buku dan alat sekolah lain nya.
Sampai ada seorang anak kecik yang kesusahan mengambil buku di rak paling atas.Melihat anak kecil itu kesusahan akhirnya Dina pun menghampirinya dan mengambilkan buku itu dan memberikan nya kepada anak kecil tadi.
"Terima kasih tante", ucap anak kecik itu tersenyum manis.
Dan pergi ke arah papa nya yang sedang menerima telpon.
"Iya sama² dek", balas Dina tersenyum dan merapikan buku² yang lain nya.
"Udah dong pa, tadi di bantu tante² cantik ngambil nya soal nya Naila enggak nyampe, tantenya baik loh pa cantik lagi jadi ingat mama', celoteh Naila yang seketika raut wajah nya berubah sedih.
"Ya udah jangan sedih lagi,mama udah tenang di alam sana,yuk kita ke kasir bayar dulu", ajak Dion mengalihkan obrolan supaya Naila enggak sedih lagi.
Sampai di parkiran enggak sengaja Dina menabrak seseorang karena buru²,dan bruk Dina pun terjatuh. " Maaf pak saya enggak sengaja", kata Dina dengan amat merasa bersalah.
"Enggak papa kok,saya yang harus nya minta maaf karena gak lihat", jawab Dion merasa tidak enak.
__ADS_1
"Eh tante kan yang bantuin Naila ngambil buku tadi kan", kata Naila senang.
Setelah lama berbincang Dina pun pamit pergi,karena masih banyak pekerjaan.
Dion dan Naila pun berjalan menaiki mobil mereka yang sudah di tunggu oleh seorang supir pribadi."Langsung pulang pak, setelah itu antar saya ke kantor ada urusan penting di kantor",ucap Dion kepada supir.
"Baik pak", jawab supir sopan.
Di perjalanan pulang Dion selalu ingat dengan Dina,dan entah kenapa setelah melihat raut sedih Naila tadi yang merindukan sosok seorang mama,seketika terlintas di pikiran nya untuk menjadikan Dina seorang istri,dilihat dari cara Dina tadi Dion yakin kalau Dina adalah wanita baik² penyayang dan apa adanya." Kenapa jadi kepikiran dia terus ya" tanpa sengaja Dion teriak sendiri di bangku belakang sampai sang sopir dan Naila pun terkejut di buatnya.
"Papa kenapa sih teriak-teriak", ucap Naila yang kebingungan dengan sang papa.Dion yang baru sadar pun langsung salah tingkah.
"Papa enggak kenapa-napa kok", ucap Dion aneh.
Setelah beberapa jam menempuh membelah jalanan sampai lah mereka di depan rumah yang mewah berlantai dua,dengan taman yang luas di samping.Dion pun mengantar Naila dulu ke rumah sebelum berangkat ke kantor.Keadaan rumah saat ini sepi mungkin mama Tika lagi keluar,ketemu sama teman² arisan nya.Dan papa Lusi sedang di kantor,setelah Naila sudah ke kamar Dion pun pamit kepada sang putri untuk pergi sebentar ke kantor dan tanpa bantahan sang putri pun mengerti dan mengizinkan Dion pergi dengan catatan ketika pulang nanti jangan lupa membawa coklat,karena Naila paling suka dengan coklat.
Akhirnya Dion pun pergi ke kantor di antar sopir,sampai di kantor para karyawan dan staf memberi hormat dan menyapa sang bos pemilik perusahaan terkaya di jakarta.Dion hanya membalas sapaan karyawan nya dengan senyuman nan manis yang mampu memikat siapa saja yang melihat nya.Dion seperti manusia yang sangat sempurna tanpa ada celah sedikit pun bagaimana tidak,ia yang memiliki tubuh six pick,dengan badan tegap hidung mancung bibir tebal alis tebal bulu mata panjang dan tidak lupa dengan bola mata berwarna biru yang terkesan gagah serta tidak lupa dengan tatapan elang maut nya.
Sampai di ruangan nya Dion langsung di sambut dengan tumpukan berkas² yang harus di tanda tangani olah nya yang akan di perlukan untuk pokok pembahasan pertemuan dengan perusahaan lain besok.
__ADS_1